Minggu, 04 Oktober 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

Menafsir Ulang “Tauhid” Ala Cak Nur di Tengah Krisis Ekologis

Khoirotun Nisak | Penulis

–

Dalam rangka memperingati session of creation yang dimulai pada 1 September – 4 Oktober 2026. Tepat pada hari nanti saya mendapat undangan dari Gerakan Laudato Si’ Indonesia untuk berbicara tentang ekoteologi dalam perspektif Islam.

Baca juga: Anggota DPD RI Lamek Dowansiba Gelar Sosialisasi Empat Pilar di Universitas Muhammadiyah Papua Barat

Session of Creation dalam tradisi Kristiani adalah perayaan ekumenis tahunan yang mengajak semua umat Kristiani di seluruh dunia untuk memperbarui hubungan dengan Tuhan, Sang Pencipta, dan seluruh ciptaan melalui doa, refleksi, dan aksi.

Jauh sebelum itu, tulisan saya yang tak kunjung terbit mencoba membaca teks-teks Cak Nur berkaitan dengan lingkungan dalam menemukan makna ekoteologisnya, sudah rampung digarap.

Undangan dari Gerakan Laudato Si’ Indonesia membawa saya pada refleksi yang lebih mendalam lagi, bagaimana relasi manusia yang beragama dalam melihat kekayaan ciptaan Tuhan yang lain.

Baca juga: Dari Biak ke Timika, Kami Bertemu Kembali di Rumah Sakit Mitra Masyarakat

Kesulitan melakukan pembacaan perubahan dan kerusakan yang terjadi terhadap alam terkadang memberikan kebuntuan secara intelektual bagi sebagian pemikir atau aktivis yang bergerak dalam menyuarakan krisis lingkungan dewasa ini.

Sebagian, mencoba menarasikan dan menjawab persoalan lingkungan dengan konsep-konsep ekologi mendalam atau deep ecoology yang dipromokan oleh filsuf seperti Arne Naaes. Sebagian lain menjawab dari konsep ekologi sosial dan lebih radikal dengan konsep ekologi politik seperti apa yang dibawa oleh Murray Bookchin.

Hampir semua pendekatan yang digunakan dalam menjawab tantangan ekologi hari ini mengalami kementakan belaka.

Ekologi sosial dan politik barangkali berhenti pada bagaimana masalah tatanan sosial dan struktur politik bangsa dapat teratasi. Konsep ini dianggap akan mampu memunculkan kebijakan yang berpihak pada manusia dan alam. Ini menjadi contoh, sebuah kritik dari banyaknya pendekatan yang mencoba menyelesaikan masalah krisis lingkungan.

Lalu, bagaimana dengan pendekatan ekoteologi? Jika pendekatan yang lebih rasional mentak, apalagi pendekatan yang mengarah pada masalah metafisis, dimensi ketuhanan dan spiritualitas manusia. Sebagian barangkali juga akan mengatakan, ini pendekatan yang omong kosong.

Artinya, Kementerian Agama RI dengan konsep ekoteologi juga dapat mungkin hanya omong kosong. Program ini diluncurkan seperti semata untuk memberi hiburan kepada masyarakat di tengah berbagai bencana alam dan kerusakan lingkungan yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini.

Tapi baiklah.

Mari kita kembali ke jaman 90-an, di masa pemikiran pembaharuan Islam mulai menemui kejayaan. Nurcholish Madjid alias Cak Nur, menjadi salah satu tokoh kunci pada zamannya.

Membaca ulang teks-teks Cak Nur tentang masalah lingkungan memberikan romantisme tersendiri bagi saya pribadi. Semacam penghiburan intelektual di tengah krisis yang sedang terjadi.

Salah satu konsep kunci pada Cak Nur adalah masalah tauhid. Konsep dasar tauhid yang merupakan doktrin metafisis sebenarnya cukup memberi dasar bagi pandangan dunia (Islam) untuk membentuk cara manusia memahami posisinya dalam kosmos.

Tauhid mengarahkan kita bagaimana cara membongkar pandangan manusia yang memutlakkan dirinya sendiri.

Pembongkaran akan egoisme manusia ini membentuk kesadaran manusia untuk memaknai dunia termasuk alam semesta sebagia bagian dari tatanan ilahi dan daya spiritual.

Dalam konteks ekologi, bagi Cak Nur, kerusakan ekologi hari ini dapat dibaca sebagai kegagalan tauhid dalam kehidupan modern. Permasalahannya bukan hanya tauhid yang tidak lagi relevan, tetapi pemaknaan tauhid yang barangkali direduksi menjadi hanya sekedar doktrin formal yang kehilangan implikasi kosmologisnya.

Pembacaan terhadap tauhid dalam hal relasi manusia dan alam harus dapat dipahami bukan hanya sebagai prinsip keimanan personal, tetapi sebagai kesadaran kosmik yang menuntut relasi etis antara manusia dan alam.

Tauhid juga dapat dijadikan sebagai jawaban atas egosentrisme masyarakat terhadap alam hari ini.

Pada pemahaman tauhid yang lebih jauh, Cak Nur menekankan bahwa tauhid dapat dijadikan sebagai dasar penolakan terhadap segala bentuk kesyirikan – termasuk kecenderungan manusia yang menganggap dirinya sebagai penguasa mutlak atas alam. Persisi dari situ, tauhid telah kehilangan makna pada dirinya sendiri.

Ia menegaskan bahwa alam semesta tercipta sebagai penanda atau penegasan adanya sang maha pencipta, Tuhan Yang Maha Esa. Karena demikian, maka alam juga merupakan ayat-ayat yang menjadi sumber pelajaran dan ajaran bagi manusia.

Penegasan ini tercermin dalam kitab suci Al-Qur’an yang terdiri dari teks tertulis (ayat qauliyah) dan alam semesta (ayat kauniyah).

Susunan kedua unsur dalam Al-Qur’an ini bagi Cak Nur memberikan makna kosmis bahwa kosmos adalah medium teofani yang memantulkan kehadiran Tuhan. Artinya, alam ini memiliki nilai intrinsik yang berfungsi sebagai tanda keberadaan-Nya, bukan sekedar sebagai sumber daya.

Implikasi dari pemahaman bahwa alam semesta adalah ayat Tuhan, menuntut sikap rasa hormat, tanggung jawab, dan kerendahan hati dari manusia.

Dengan mengutip Q.S. Al-An’am: 30, Q.S. Al-Isra’: 44, dan Q.S. Ar-Ra’d: 13, Cak Nur menegaskan bahwa seluruh alam ini tunduk dan patuh (islam) kepada Tuhan.

Maka hendaknya manusia menumbuhkan sikap apresiatif terhadap alam. Sikap apresiatif manusia terhadap alam demikian dapat membuat alam secara sukarela akan memberi manfaat material kepada manusia. Alam juga dapat menjadi sumber penghayatan kerohanian yang lebih tinggi, karena kita dapat melihat alam sebagai khazanah rahasia dan tanda kebesaran-Nya.

Kesadaran tauhid ini mendorong manusia untuk bersikap rendah hati di hadapan kosmos, karena meyakini bahwa hanya Tuhan yang Maha Absolut.

Ketika manusia memiliki kesadaran akan segala keterbatasannya (baik rasional maupun teknologis), maka kesadaran ini dapat mendorong etika dan tanggung jawab antargenerasi dalam merawat ciptaan.

Meskipun kebanyakan teks-teks Cak Nur tentang masalah lingkungan lahir pada era 90-an, barangkali hal ini dapat memberi penghiburan bagi kita atas kebuntuan dalam masalah lingkungan. Cak Nur membawa kita pada pertanggungjawaban etis sebagai makhluk hidup.

Bagaimana kita sebagai makhluk beragama, dapat mendayagunakan keunggulannya dibanding makhluk lain. Kita tahu persis, letak keunggulan manusia dari pada makhluk lain adalah kemampuan rasional, berakal budi, dan kesadarannya dalam memahami realitas.

Dari realitas ekologis yang terjadi hari ini, sebagai iman Islam tentu ini menjadi tawaran menarik sebagai alternatif dari krisis ekologis. Menyadarkan kita bahwa kembali ke akar Islam atau doktrin tauhid sama dengan membuka ruang bagi pembacaan atas tatanan dunia baru.

Sekalipun pandangan di atas bagi sebagian orang merupakan pandangan yang juga dapat mungkin menjumpai kebuntuan, tetapi menghayati semua pendekatan itu sebagai strategi penghiburan diri terhadap kerusakan lingkungan adalah solusi terbaik bagi saya, sebagai seorang muslim hari ini.

Akhirnya, tulisan ini menjadi refleksi mendalam untuk saya dan barangkali kita memikirkan ulang kekayaan spiritual dari Islam dalam melihat relasi manusia dan alam hari ini.

 

Kategori:
Tags:

Terkini