Refleksi Kebudayaan Atas Festival Budaya Tanimbar 2026
–
Ada sejarah yang ditulis dengan tinta.
Ada sejarah yang dipahat pada batu.
Ada sejarah yang tersimpan dalam arsip pemerintahan.

Baca juga: BAYANG-BAYANG PENGGUSURAN
Tetapi ada pula sejarah yang tidak pernah ditulis dalam buku mana pun. Sejarah itu hidup dalam ingatan manusia, dalam cerita orang tua kepada anak, dalam nyanyian, dalam bahasa, dalam pakaian adat, dan dalam gerak tubuh ketika sebuah tarian diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Di Tanimbar, sejarah semacam itu menemukan rumahnya.
Ketika para penari memasuki arena Festival Budaya Tanimbar 2026, sesungguhnya yang hadir bukan hanya anak-anak muda dengan pakaian adat dan gerak tari yang indah. Di belakang mereka berdiri sebuah sejarah panjang masyarakat kepulauan.
Mereka membawa nama keluarga.
Mereka membawa nama soa.
Mereka membawa cerita kampung.
Mereka membawa ingatan tentang leluhur.
Dan yang paling penting, mereka membawa sebuah pesan kepada generasi yang belum lahir:
“Kami masih mengingat dari mana kami berasal.”
Itulah sebabnya kebudayaan tidak boleh dipandang sebagai masa lalu.
Kebudayaan adalah jembatan.
Ia menghubungkan mereka yang telah pergi dengan mereka yang sedang hidup dan mereka yang akan datang.
Tanimbar dan Filosofi Kebudayaan yang Hidup
Dalam perspektif Koentjaraningrat, kebudayaan merupakan keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia yang diperoleh melalui proses belajar dalam kehidupan masyarakat.

Pengertian tersebut memperlihatkan bahwa kebudayaan memiliki sifat dipelajari dan diwariskan.
Artinya, tidak seorang pun lahir langsung dengan seluruh pengetahuan kebudayaannya.
Seorang anak Tanimbar harus belajar bahasa.
Ia harus belajar menghormati orang tua.
Ia harus mengenal adat.
Ia harus memahami hubungan dengan keluarga dan komunitas.
Ia harus mengetahui cerita leluhur.
Ia belajar bagaimana berpakaian dalam konteks tertentu.
Ia belajar bagaimana menyambut tamu.
Ia belajar bagaimana menari.
Ia belajar bagaimana memainkan tifa.
Proses belajar itulah yang membuat sebuah masyarakat tetap menjadi dirinya sendiri.
Karena itu, ketika seorang anak muda Tanimbar menari dalam festival, ia sebenarnya sedang mengikuti sebuah proses pendidikan kebudayaan.
Pendidikan tidak selalu menggunakan papan tulis.
Tidak selalu menggunakan buku.
Tidak selalu berlangsung di dalam ruang kelas.
Kadang-kadang pendidikan berlangsung melalui satu hentakan kaki.
Kadang-kadang melalui satu pukulan tifa.
Kadang-kadang melalui sebuah lagu yang diwariskan nenek kepada cucunya.
Dan kadang-kadang melalui tatapan seorang tetua adat yang menyaksikan anak-anak muda kembali memainkan kesenian leluhur.
Festival sebagai Ruang Pertemuan Generasi
Salah satu kekuatan terbesar festival kebudayaan adalah kemampuannya mempertemukan generasi.

Generasi tua memiliki ingatan.
Generasi muda memiliki energi.
Festival mempertemukan keduanya.
Para tetua membawa pengetahuan yang diperoleh dari perjalanan hidup. Anak-anak muda membawa kreativitas dan keberanian untuk mengembangkan warisan tersebut.
Pertemuan inilah yang harus dijaga.
Sebab apabila generasi tua berhenti bercerita dan generasi muda berhenti bertanya, maka sebuah mata rantai kebudayaan dapat terputus.
Karena itu, festival semestinya tidak hanya memberi ruang kepada penari muda untuk tampil.
Festival juga harus memberi ruang kepada para tetua untuk bercerita.
Cerita tentang asal-usul.
Cerita tentang kampung.
Cerita tentang leluhur.
Cerita tentang perjuangan.
Cerita tentang bagaimana sebuah tarian dahulu dilakukan.
Cerita tentang mengapa sebuah simbol digunakan.
Cerita tentang mengapa tifa memiliki bunyi dan fungsi tertentu.
Sebab sebuah gerakan tanpa cerita dapat menjadi sekadar koreografi.
Tetapi sebuah gerakan yang memahami sejarah akan menjadi identitas.
Dari Tifa Menuju Dunia
Ada sesuatu yang menarik dalam perjalanan kebudayaan Tanimbar hari ini.
Tifa yang dahulu mungkin hanya terdengar di kampung-kampung dan dalam ruang-ruang adat, kini dapat berbicara kepada dunia.
Pakaian adat yang dahulu dikenakan dalam konteks komunitas kini dapat menjadi simbol identitas daerah.
Tarian yang dahulu diwariskan secara terbatas kini dapat dipentaskan di hadapan masyarakat yang lebih luas.
Di sinilah kebudayaan lokal memiliki peluang besar untuk menjadi diplomasi budaya.
Dan kehadiran Djauhari Oratmangun dalam momentum HUT ke-27 Kabupaten Kepulauan Tanimbar memberikan simbol yang sangat kuat.
Ia adalah seorang putra Tanimbar yang kemudian menjalani perjalanan panjang dalam diplomasi Republik Indonesia.
Ketika seorang anak daerah dapat berdiri di panggung internasional, sementara di tanah kelahirannya generasi muda sedang menari dengan pakaian adat dan iringan tifa, sebenarnya sedang terjadi sebuah perjumpaan yang menarik: akar bertemu dunia.
Tanimbar tidak harus memilih antara mempertahankan tradisi dan memasuki dunia global.
Justru identitas yang kuat dapat menjadi modal untuk berdialog dengan dunia.
Seorang diplomat yang berasal dari Tanimbar membawa pengalaman Tanimbar ke ruang internasional.
Sementara anak-anak muda yang menari membawa Tanimbar melalui bahasa kebudayaan.
Keduanya memiliki jalan yang berbeda.
Namun tujuannya dapat sama:
membawa nama Tanimbar lebih jauh tanpa kehilangan akar.
Sejarah Keluarga dan Sejarah Daerah
Kehadiran Djauhari juga mengingatkan kita bahwa sejarah sebuah daerah sering kali dibangun oleh manusia-manusia yang pada suatu masa berani memikirkan sesuatu yang lebih besar daripada kepentingan dirinya sendiri.
Generasi awal perjuangan pembentukan Kabupaten Maluku Tenggara Barat yang kemudian berubah nama menjadi Kabupaten Kepulauan Tanimbar, meninggalkan sebuah warisan sejarah pemerintahan kepada generasi berikutnya.
Di dalam sejarah itu terdapat nama Drs. Salomon Joseph Oratmangun, Pejuang dan Pendiri Kabupaten Maluku Bart Daya (MBD) yang kini dikenal dengan nama Kabupaten Kepulauan Tanimbar (KKT) yang kemudian menjadi Bupati pertama Kabupaten Maluku Tenggara Barat.
Maka perjalanan Djauhari Oratmangun sebagai putra daerah yang kemudian memasuki dunia diplomasi internasional dapat dibaca sebagai bagian dari sebuah kesinambungan generasi.
Ayahnya mengambil bagian dalam sejarah pembentukan pemerintahan daerah.
Anaknya membawa pengalaman dan identitas Tanimbar ke panggung diplomasi Republik Indonesia.
Di antara keduanya terdapat satu benang merah: Pengabdian.
Inilah pesan penting yang dapat diwariskan kepada generasi muda Tanimbar.
Bahwa keberhasilan seseorang tidak harus membuatnya meninggalkan identitas.
Justru semakin jauh seseorang berjalan, semakin penting baginya mengetahui dari mana ia berasal.
Anak Tanimbar dan Dunia yang Semakin Terbuka
Generasi muda Tanimbar hari ini hidup dalam dunia yang berbeda dari generasi sebelumnya.
Mereka mengenal internet.
Mereka mengenal media sosial.
Mereka dapat berbicara dengan orang dari berbagai negara hanya melalui sebuah telepon genggam.
Mereka dapat belajar dari berbagai sumber pengetahuan.
Dunia menjadi semakin terbuka.
Tetapi keterbukaan dunia membawa sebuah pertanyaan:
Apakah semakin terbukanya dunia akan membuat anak-anak Tanimbar semakin mengenal dirinya, atau justru semakin jauh dari identitasnya sendiri?
Jawabannya sangat bergantung pada pendidikan kebudayaan.
Karena itu, Festival Budaya Tanimbar harus dilihat sebagai bagian dari strategi membangun manusia Tanimbar.
Bukan hanya manusia yang cerdas secara akademik.
Tetapi manusia yang memiliki akar.
Manusia yang mengetahui sejarah.
Manusia yang menghargai leluhur.
Manusia yang mampu berdiri sejajar dengan masyarakat dunia tanpa merasa rendah diri terhadap identitasnya sendiri.
Inilah yang disebut sebagai manusia yang memiliki kesadaran kebudayaan.
Terdapat satu hal yang perlu menjadi perhatian.
Jangan sampai festival budaya berhenti sebagai agenda seremonial tahunan.
Jika setelah panggung dibongkar tifa kembali disimpan, pakaian adat kembali dimasukkan ke lemari, dan anak-anak muda kembali melupakan apa yang mereka tampilkan, maka festival hanya menghasilkan kemeriahan sesaat.
Festival harus meninggalkan warisan.
Warisan berupa dokumentasi.
Warisan berupa pendidikan.
Warisan berupa sanggar.
Warisan berupa arsip digital.
Warisan berupa penelitian.
Warisan berupa buku.
Warisan berupa film dokumenter.
Warisan berupa kurikulum muatan lokal.
Dan yang paling penting, warisan berupa generasi muda yang merasa bangga menjadi orang Tanimbar.
Karena tujuan akhir pelestarian budaya bukanlah membuat generasi muda hidup persis seperti leluhurnya.
Tujuannya adalah memastikan bahwa ketika mereka bergerak menuju masa depan, mereka tidak kehilangan kompas identitas.
Kebudayaan sebagai Modal Pembangunan
Dalam konteks pembangunan daerah, kebudayaan juga tidak boleh dipisahkan dari ekonomi, pendidikan dan pariwisata.
Kebudayaan dapat menjadi sumber ekonomi kreatif.
Tarian dapat menjadi pertunjukan budaya.
Tenun dapat berkembang menjadi industri kreatif.
Kuliner tradisional dapat menjadi identitas gastronomi daerah.
Cerita rakyat dapat dikembangkan menjadi buku dan film.
Musik tradisional dapat bertemu dengan musik modern.
Festival dapat menjadi daya tarik wisata.
Namun semuanya harus dilakukan dengan prinsip bahwa masyarakat lokal tetap menjadi pemilik utama kebudayaannya.
Jangan sampai kebudayaan hanya menjadi objek konsumsi wisatawan.
Masyarakat Tanimbar harus menjadi subjek.
Mereka yang bercerita.
Mereka yang mencipta.
Mereka yang memperoleh manfaat.
Mereka yang menjaga nilai.
Dan mereka pula yang menentukan bagaimana budaya mereka diperkenalkan kepada dunia.
Dari HUT ke-27 Menuju Tanimbar Masa Depan
HUT ke-27 Kabupaten Kepulauan Tanimbar seharusnya tidak hanya menjadi perayaan tentang usia sebuah pemerintahan.
Ia dapat menjadi momentum untuk bertanya:
Tanimbar seperti apa yang hendak diwariskan kepada anak cucu?
Apakah Tanimbar yang hanya memiliki infrastruktur tetapi kehilangan identitas?
Apakah Tanimbar yang maju secara ekonomi tetapi lupa pada sejarah?
Ataukah Tanimbar yang mampu membangun modernitas dengan tetap berdiri kokoh di atas akar kebudayaannya?
Pertanyaan pertanyaan ini penting karena pembangunan sejatinya bukan hanya tentang jalan, gedung, pelabuhan, sekolah, rumah sakit atau pertumbuhan ekonomi.
Pembangunan juga tentang manusia yang memiliki martabat dan identitas.
Dan kebudayaan adalah salah satu sumber utama martabat itu.
Sebuah Pesan dari Tanimbar
Mungkin itulah sebabnya kalimat Edda Ratuarat layak menjadi salah satu refleksi utama Festival Budaya Tanimbar 2026.
“Ketika mulut diam, tubuh ini menari untuk menceritakan sejarah, hormat dan cinta kita kepada leluhur dan tanah kelak.”
Kalimat di atas mengandung sebuah pesan sederhana namun dalam:
jangan biarkan sejarah berhenti berbicara.
Biarkan anak-anak muda menari.
Biarkan mereka bertanya.
Biarkan mereka belajar.
Biarkan mereka menciptakan sesuatu yang baru.
Tetapi jangan putuskan hubungan mereka dengan akar.
Sebab seorang anak yang mengetahui akar budayanya tidak akan mudah kehilangan arah ketika dunia membawanya pergi jauh.
Ia dapat pergi ke Jakarta.
Ia dapat pergi ke Papua.
Ia dapat pergi ke Maluku.
Ia dapat pergi ke Eropa.
Ia dapat pergi ke Beijing.
Ia dapat menjadi guru.
Ia dapat menjadi dokter.
Ia dapat menjadi birokrat.
Ia dapat menjadi diplomat.
Ia dapat menjadi pengusaha.
Ia dapat menjadi seniman.
Tetapi di mana pun ia berada, ia tetap membawa satu pertanyaan yang selalu menjadi bagian dari dirinya:
“Dari tanah mana saya berasal?”
Dan jawabannya adalah Tanimbar.
Tanah yang mengajarkan bahwa laut bukan pemisah, melainkan penghubung.
Tanah yang mengajarkan bahwa leluhur adalah sumber nilai.
Tanah yang mengajarkan bahwa identitas bukan sesuatu yang harus disembunyikan ketika seseorang memasuki dunia.
Justru identitas adalah sesuatu yang harus dibawa dengan bangga.
Tifa yang Tidak Boleh Berhenti Berbunyi
Pada akhirnya, Festival Budaya Tanimbar 2026 bukan hanya sebuah peristiwa kebudayaan.
Ia adalah peristiwa ingatan.
Ia mengingatkan masyarakat Tanimbar bahwa perjalanan 27 tahun kabupaten merupakan perjalanan manusia, keluarga, komunitas, dan generasi.
Ia mengingatkan bahwa di balik sebuah nama kabupaten terdapat sejarah panjang perjuangan.
Dan ia mengingatkan generasi muda bahwa masa depan tidak pernah benar-benar terpisah dari masa lalu.
Ketika tifa dipukul, biarkan anak-anak muda mengetahui mengapa bunyi itu penting.
Ketika kaki menghentak, biarkan mereka memahami cerita di balik gerakan.
Ketika pakaian adat dikenakan, biarkan mereka mengetahui makna yang dikandungnya.
Ketika lagu dinyanyikan, biarkan mereka memahami kepada siapa dan tentang apa lagu itu berbicara.
Dan ketika festival selesai, jangan biarkan semuanya berakhir.
Sebab festival boleh selesai.
Panggung boleh dibongkar.
Lampu boleh dipadamkan.
Tetapi kebudayaan harus terus hidup.
Tifa harus tetap berbunyi.
Tarian harus terus diwariskan.
Cerita harus terus diceritakan.
Dan generasi muda harus terus belajar.
Sebab selama mereka masih menari, selama mereka masih menyebut nama leluhur dengan hormat, selama mereka masih mencintai tanah kelahirannya, maka satu hal tidak akan pernah hilang:
Tanimbar masih mengenal dirinya sendiri.
Dan dari sanalah masa depan sebuah negeri kecil di kepulauan dapat tumbuh, bukan dengan melupakan masa lalu, melainkan dengan menjadikan warisan leluhur sebagai akar untuk berdiri lebih tegak di hadapan dunia.
Biak-Papua, 7 Oktober 2026


