Rabu, 09 September 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

HARI APA?

Ilhamdi Sulaiman

Pagi itu, pintu HCU telah dibuka.
Keluarga pasien yang sejak tadi menunggu di luar diperbolehkan masuk. Satu per satu mereka melangkah dengan wajah yang menyimpan kecemasan masing-masing. Ada yang membawa doa. Ada yang membawa makanan. Ada pula yang datang hanya membawa harapan, karena memang tidak ada lagi yang bisa dibawa.
Aku berjalan menuju ranjang nomor enam.
Anakku terbaring di sana.
Tubuhnya tampak lemah. Selang infus menjuntai dari tangannya. Selang oksigen terpasang. Kabel-kabel monitor melekat pada tubuhnya, seperti tangan-tangan asing yang sedang berusaha mempertahankan hidupnya.
Matanya terpejam.
Aku berdiri di samping ranjangnya beberapa saat. Entah mengapa aku takut menyentuhnya. Seolah dengan menyentuhnya aku akan menemukan sesuatu yang tidak ingin kutemukan.
Tetapi aku adalah ayahnya.
Aku harus memastikan bahwa ia tahu aku datang.
Kusap keningnya perlahan.
Matanya bergerak.
Kemudian terbuka sedikit.
Ia menatapku.
Tatapan yang samar, seperti seseorang yang baru saja kembali dari perjalanan yang sangat jauh.
Bibirnya bergerak.
Aku mendekatkan telingaku.
Suaranya begitu pelan, nyaris tenggelam di antara bunyi monitor dan desis oksigen.
“…Hari apa?”
Aku terdiam.
“Hari apa?”
Pertanyaan itu terdengar sederhana.
Tetapi pagi itu, pertanyaan tersebut seperti sebuah jarum yang menusuk berkali-kali ke dalam pikiranku.
Hari apa?
Aku menatap wajahnya.
Aku ingin menjawab cepat.
Selasa.
Atau Rabu.
Atau Kamis.
Tetapi tiba-tiba aku tidak yakin.
Bukan karena aku lupa hari.
Aku hanya tidak tahu hari seperti apa yang sedang kami jalani.
Hari ketika seorang anak terbaring di HCU dan seorang ayah berdiri di sampingnya dengan doa yang tak pernah selesai?
Hari ketika kehidupan hanya berjarak beberapa angka di layar monitor?
Ataukah hari ketika aku harus belajar bahwa waktu tidak selalu berjalan bersama manusia?
Aku menggenggam tangannya.
“Ini hari Selasa, Nak.”
Ia tidak menjawab.
Matanya kembali terpejam.
Aku tetap menggenggam tangannya.
Di luar ruangan, dunia mungkin sedang berjalan seperti biasa.
Orang-orang pergi bekerja.
Anak-anak berangkat sekolah.
Bus-bus memenuhi jalan.
Pedagang membuka warung.
Burung-burung mungkin sedang mencari tempat untuk hinggap.
Tetapi bagiku, dunia berhenti di ranjang nomor enam.
Aku baru sadar, selama anakku sakit, aku tidak lagi menghitung hari berdasarkan kalender.
Aku menghitungnya berdasarkan napas.
Satu napas.
Kemudian napas berikutnya.
Satu kali monitor berbunyi.
Kemudian bunyi berikutnya.
Aku menghitung berapa kali matanya terbuka.
Berapa kali ia mampu menelan.
Berapa kali ia meminta air.
Berapa kali lendir harus disedot.
Berapa kali dokter datang memeriksa.
Dan setiap malam, sebelum meninggalkan rumah sakit, aku selalu membawa satu pertanyaan yang sama:
“Besok anakku masih ada?”
Mungkin itulah sebabnya ketika ia bertanya, “Hari apa?”, aku tidak segera menjawab.
Sebab aku tiba-tiba ingin bertanya kepadanya:
“Nak, kau tahu hari apa sekarang?”
Hari ketika ayahmu semakin tua?
Hari ketika rambut ayahmu semakin banyak putihnya?
Hari ketika ayahmu belajar menangis tanpa suara?
Hari ketika doa menjadi satu-satunya percakapan yang bisa dilakukan seorang ayah kepada Tuhan?
Atau…
hari ketika kita masih diberi kesempatan untuk bersama?
Aku menunduk.
Kucium keningnya.
“Selasa, Nak.”
Kali ini suaraku bergetar.
“Dan kalau besok kau tanya lagi…”
Aku berhenti.
Dadaku sesak.
“…ayah akan jawab lagi.”
Monitor di samping ranjang tetap berbunyi.
Teratur.
Seperti seseorang yang sedang mengetuk pintu kehidupan.
Aku duduk di kursi kecil di sampingnya.
Tangannya masih kugenggam.
Dan pagi itu aku mengerti sesuatu.
Selama ini aku mengira yang paling menakutkan dari rumah sakit adalah kematian.
Ternyata bukan.
Yang paling menakutkan adalah ketika seseorang yang kita cintai mulai kehilangan hitungan hari, sementara kita yang berada di sampingnya justru mulai menghitung setiap detik agar ia tetap tinggal.
Aku menatap wajah anakku.
Matanya masih terpejam.
Aku berbisik:
“Tidurlah, Nak.”
“Tidak perlu tahu hari apa.”
“Yang penting…”
“Besok masih ada.”

Baca juga: SUKA-SUKA KAU LAH

Kategori:
Tags:

Terkini