Kamis, 29 Oktober 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

Dewan Juri Pesparani II Papua 2026: Gregorian Pria Dewasa  Menuntut Ketelitian Teks, Bahasa Latin, dan Penghayatan Liturgi

BIAK NUMFOR, SUARA ANAK NEGERI NEWS — Penampilan peserta kategori Paduan Suara Dewasa Pria Gregorian dalam Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani) II Tingkat Provinsi Papua Tahun 2026 tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga ruang pembelajaran untuk memperdalam pemahaman tentang musik liturgi, ketepatan pelafalan bahasa Latin, teknik vokal, serta penghayatan terhadap teks dan karakter nyanyian Gregorian.

Dua kelompok yang tampil, yakni perwakilan Kota Jayapura dan Kabupaten Biak Numfor sebagai tuan rumah, memperoleh apresiasi dari dewan juri. Keduanya dinyatakan sebagai peraih juara pertama dan kedua dalam kategori itu. Namun, di balik hasil perlombaan, para juri menegaskan bahwa masih terdapat sejumlah aspek teknis yang perlu diperbaiki agar kualitas penampilan dapat meningkat pada kompetisi berikutnya.

Evaluasi disampaikan setelah kedua kelompok menampilkan kemampuan terbaik mereka. Ketua Dewan Juri, Pastor Bernard Antonius Rahawarin, Pr., yang akrab disapa Pastor Berry, bersama anggota dewan juri Alessandro Andriano Edbertus Pinangkaan, S.Fil., M.Pd., dan Bayu Nerpiadi, memberikan catatan yang berorientasi pada peningkatan mutu musikal sekaligus pemahaman terhadap tradisi nyanyian Gregorian.

Baca juga: Bupati Waropen Franciskus Xaverius Mote: “Pesparani Bukan Soal Piala, tetapi Persatuan Umat untuk Memuji Tuhan”

Pastor Bernard Antonius Rahawarin: Ahli Liturgi dan Musik Liturgi

Pastor Bernard Antonius Rahawarin, Pr., atau Pastor Berry, merupakan imam Katolik yang memiliki keahlian di bidang liturgi dan musik liturgi. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana di Sekolah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng, Manado, kemudian melanjutkan studi magister bidang liturgi di Ateneo Sant’Anselmo, Roma, serta pendidikan doktoral bidang inkulturasi musik liturgi di STFT Widya Sasana, Malang.

Saat ini, Pastor Berry mengajar liturgi dan musik liturgi di STPAK Santo Yohanes Penginjil Ambon. Pengalamannya sebagai juri paduan suara telah dimulai sejak 1992, sedangkan kiprahnya sebagai pelatih berlangsung sejak 1997 di berbagai tingkatan kompetisi di Indonesia.

Baca juga: Satu Iman, Satu Bangsa, Satu Papua: Uskup Jayapura Ajak Masyarakat Merawat Persatuan dalam Keberagaman

Ia juga terlibat dalam Pesparawi Provinsi Maluku, Pesparani sejak 2009, serta menjadi juri Pesparawi Tanah Papua pada 2021 di Papua Barat dan Timika, kemudian pada 2024 di Merauke. Dalam kapasitasnya sebagai Ketua Bidang Lomba dan Pelatih Kepala LP3KD Maluku, ia turut berkontribusi dalam pembinaan peserta yang mengantarkan Maluku meraih prestasi sebagai juara umum Pesparani Nasional II dan III.

Dalam Pesparani II Papua 2026, Pastor Berry bertugas menilai sejumlah kategori, termasuk Paduan Suara Remaja Gregorian, Paduan Suara Dewasa Pria Gregorian, Paduan Suara Dewasa Campuran, Mazmur Orang Muda Katolik (OMK), Mazmur Dewasa, dan Paduan Suara Etnik.

Pengalaman akademik dan praktiknya menjadikan Pastor Berry salah satu figur penting dalam memberikan penilaian yang tidak hanya bertumpu pada kualitas suara, tetapi juga pada pemahaman musikal dan karakter liturgis sebuah komposisi.

Dalam evaluasinya terhadap penampilan Paduan Suara Dewasa Pria Gregorian, ia mengingatkan bahwa kedua kelompok telah mempersiapkan diri dengan baik dan membawakan lagu dengan sepenuh hati. Meski demikian, masih ada sejumlah hal yang membutuhkan kesabaran, ketelitian, dan latihan berkelanjutan.

Salah satu penekanannya adalah ketepatan pengucapan bahasa Latin. Setiap suku kata, bunyi vokal, dan susunan kata perlu diperhatikan secara cermat agar tidak terjadi kekeliruan dalam membawakan teks lagu.

Ia juga menyoroti pentingnya pengaturan napas, kejelasan artikulasi, serta kesinambungan frasa musikal. Dalam nyanyian Gregorian, pengaturan napas tidak dapat dilepaskan dari struktur teks dan alur melodi. Karena itu, penyanyi perlu menjaga agar pergantian napas tidak memutus hubungan antarkalimat musikal atau mengganggu karakter nyanyian yang mengalir.

Catatan-catatan itu, menurut semangat evaluasi yang disampaikan, bukan dimaksudkan untuk mengecilkan capaian peserta, melainkan menjadi bahan refleksi bagi para pelatih dan penyanyi dalam mempersiapkan diri menghadapi kompetisi selanjutnya.

Alessandro Andriano Edbertus Pinangkaan: Penguatan Teknik dan Tradisi Gregorian

Anggota dewan juri berikutnya adalah Alessandro Andriano Edbertus Pinangkaan, S.Fil., M.Pd., yang dalam penyampaian profil disebut Sandro. Ia lahir di Manado pada 21 Juni 1993 dan saat ini menjabat sebagai Kepala SMK Katolik Santa Familia Tomohon.

Selain menjalankan tugas sebagai kepala sekolah, Sandro aktif dalam pembinaan musik liturgi di lingkungan Keuskupan Manado. Ia berkecimpung dalam kegiatan Firi Gregoriani Musica Sacra serta menjadi bagian dari Komisi Liturgi Keuskupan Manado.

Pendidikan musiknya dimulai ketika menempuh pendidikan di Seminari Menengah Kakaskasen. Pada masa itu, ia mempelajari teori musik, dasar komposisi, dan nyanyian Gregorian dari Pater Harry Singkoh, MSC, pada periode 2008–2011.

Ia juga mengikuti kursus privat ilmu harmoni dasar bersama Profesor Feri Rumengan, M.Sn., serta berbagai pelatihan, antara lain penjurian paduan suara, pembuatan lagu misa, Kodály Teachers Training, cipta lagu, dan studi nyanyian Gregorian.

Pengalaman penjurian Sandro meliputi perlombaan paduan suara, nyanyian Gregorian, Mazmur Tanggapan, dan kegiatan Kitab Suci di tingkat paroki serta Keuskupan Manado sejak 2012. Ia juga pernah menjadi juri Pesparani tingkat Kabupaten Teluk Bintuni pada 2023, tingkat Kota Jayapura pada 2025, dan tingkat Provinsi Sulawesi Utara pada 2025.

Selain itu, ia menjadi konsultan teknis nyanyian Gregorian dan Mazmur bagi LP3K Provinsi Papua Barat serta Kabupaten Teluk Bintuni pada 2023–2024. Pada 2024–2025, ia turut menjadi pelatih dan narasumber nyanyian Gregorian bagi LP3K Provinsi Papua.

Keterlibatannya dalam pendirian kelompok musik Gregorian dan partisipasinya dalam berbagai konser Gregorian di Belanda dan Italia memperkaya pengalaman praktisnya dalam memahami tradisi tersebut.

Dalam Pesparani II Papua 2026, Sandro bertugas menilai Paduan Suara Remaja Gregorian, Paduan Suara Dewasa Pria Gregorian, Paduan Suara Dewasa Campuran, Mazmur Anak, dan Mazmur Remaja.

Dalam evaluasi setelah penampilan kategori Paduan Suara Dewasa Pria Gregorian, Sandro memberikan apresiasi kepada kedua kelompok yang meraih juara pertama dan kedua. Ia menilai terdapat perbedaan kualitas di antara keduanya, tetapi sejumlah kekurangan teknis juga masih terlihat pada kedua penampilan.

Sandro mengajak peserta untuk tidak berhenti pada hasil perlombaan. Prestasi yang diperoleh hendaknya menjadi titik awal untuk meningkatkan kualitas pembinaan, memperdalam pengetahuan musik, dan memperbaiki teknik bernyanyi.

Ia menekankan sedikitnya tiga hal yang perlu mendapat perhatian.

Pertama, memperdalam pemahaman bahasa Latin. Pelatih dan penyanyi perlu mempelajari kembali pengucapan kata-kata Latin dalam teks Gregorian. Ketelitian menjadi penting karena kesalahan pengucapan dapat memengaruhi kejelasan teks dan ketepatan pembawaan lagu.

Kedua, memperbaiki kesinambungan frasa musikal. Jeda yang terlalu panjang di antara bagian-bagian lagu perlu dihindari apabila tidak sesuai dengan struktur musikalnya. Nyanyian Gregorian menuntut alur yang tertata, tenang, dan mengalir, dengan pergantian napas yang mendukung kesinambungan melodi.

Ketiga, memperdalam interpretasi teks dan notasi. Penyanyi tidak cukup hanya menguasai melodi. Mereka juga perlu memahami teks yang dinyanyikan, struktur notasi, serta karakter musikal yang hendak diwujudkan. Dengan demikian, penampilan tidak berhenti pada ketepatan nada, tetapi menghadirkan kesatuan antara teks, melodi, dan penghayatan.

Sandro juga menyoroti pentingnya penggunaan notasi balok dan kelengkapan materi lagu. Menurut catatannya, teks dan notasi yang beredar perlu diperiksa kembali karena terdapat sejumlah tanda musikal yang tidak tercantum secara lengkap.

Ia mencontohkan adanya unsur notasi Gregorian, termasuk tanda quilisma, yang perlu diperhatikan. Kelengkapan tanda tersebut penting bagi pelatih dan penyanyi agar dapat memahami arah musikal dan membawakan lagu secara lebih cermat sesuai dengan materi yang digunakan.

Bayu Nerpiadi: Pengalaman Musik dan Pembinaan Paduan Suara

Anggota dewan juri ketiga adalah Bayu Nerpiadi, seorang musisi dan pendidik musik yang aktif berkarya di Yogyakarta.

Ia dikenal sebagai penyanyi, dirigen, pelatih paduan suara, organis, dan pianis. Dalam bidang pendidikan musik, Bayu mengajar solfège, praktik organ, teori musik, dan ilmu harmoni. Ia juga aktif menulis buku musik serta menjadi narasumber dalam seminar, lokakarya, dan sarasehan yang berkaitan dengan pelatihan organis, dirigen, pemasmur, serta vokal paduan suara.

Pengalamannya dalam pendidikan dan praktik musik memberikan perspektif tambahan dalam menilai penampilan peserta, terutama terkait teknik musikal, pembacaan notasi, pembentukan frasa, dan pengolahan suara kelompok.

Dalam sesi evaluasi kategori Paduan Suara Dewasa Pria Gregorian, pandangan Bayu menjadi bagian dari proses pembelajaran bersama yang diarahkan untuk memperbaiki kualitas penampilan peserta. Namun, rincian tanggapan individual Bayu dalam transkrip yang tersedia tidak terpisah secara utuh, sehingga penilaian khusus atas aspek tertentu tidak dapat diatribusikan kepadanya tanpa konfirmasi lebih lanjut.

Gregorian Membutuhkan Ketelitian dan Harmoni Suara

Dari keseluruhan evaluasi yang disampaikan, tampak bahwa nyanyian Gregorian memiliki tuntutan tersendiri. Kualitasnya tidak semata-mata diukur melalui kekompakan suara atau kemampuan menghasilkan harmoni, tetapi juga melalui ketepatan teks, penguasaan bahasa Latin, pengaturan napas, kesinambungan melodi, serta pemahaman terhadap notasi dan karakter nyanyian.

Bahasa Latin, misalnya, memerlukan perhatian pada pengucapan dan penempatan suku kata. Sementara itu, frasa musikal membutuhkan pengaturan napas yang terencana agar alur lagu tidak terputus oleh jeda yang tidak diperlukan.

Pada saat yang sama, penggunaan notasi yang lengkap menjadi fondasi penting dalam proses latihan. Apabila materi yang digunakan tidak memuat seluruh tanda musikal, pelatih perlu melakukan verifikasi dan berkonsultasi dengan pihak yang memiliki kompetensi di bidang musik Gregorian.

Dalam konteks ini, evaluasi dewan juri bukan hanya ditujukan kepada para penyanyi. Panitia penyelenggara dan tim pembinaan juga memiliki peran penting dalam memastikan bahwa materi lomba disiapkan secara cermat, konsisten, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Sandro secara khusus mendorong panitia agar berkonsultasi dengan para ahli musik Gregorian ketika menyiapkan materi untuk penyelenggaraan berikutnya. Ia menyebut bahwa pelatih, pakar musik liturgi, dan pihak yang berpengalaman dalam pembinaan Gregorian dapat menjadi sumber konsultasi untuk memeriksa teks, notasi, serta teknik pembawaan lagu.

Langkah ini penting agar peserta tidak hanya berlatih berdasarkan materi yang tersedia, tetapi memperoleh bahan yang sesuai dengan kebutuhan pembelajaran dan karakter lagu yang akan dilombakan.

Dari Biak Menuju Pembinaan yang Lebih Baik

Penampilan peserta dari Kota Jayapura dan Kabupaten Biak Numfor menunjukkan bahwa pembinaan nyanyian Gregorian di Papua memiliki landasan yang dapat terus dikembangkan. Keberhasilan meraih juara pertama dan kedua patut diapresiasi, tetapi capaian itu tidak boleh menjadi alasan untuk menghentikan proses belajar.

Justru melalui evaluasi yang terbuka, para pelatih dan penyanyi dapat mengenali aspek yang sudah baik sekaligus memperbaiki bagian yang masih memerlukan perhatian.

Bagi para pelatih, pekerjaan berikutnya adalah memastikan bahwa latihan tidak hanya berorientasi pada penguasaan lagu menjelang perlombaan. Pembinaan perlu dilakukan secara berkelanjutan, mulai dari pengenalan bahasa Latin, pembacaan notasi, teknik vokal, pengaturan napas, hingga pemahaman makna teks dan karakter liturgis nyanyian Gregorian.

Bagi panitia, tantangannya adalah menyediakan materi yang lengkap dan berkonsultasi dengan tenaga ahli agar proses persiapan berlangsung lebih terarah.

Sementara bagi peserta, hasil perlombaan hendaknya dipahami sebagai bagian dari perjalanan panjang untuk meningkatkan mutu pelayanan melalui musik liturgi.

Pesparani pada akhirnya merupakan ruang perjumpaan, pembinaan, dan pertukaran pengalaman yang memungkinkan setiap peserta bertumbuh dalam kemampuan bermusik sekaligus memperdalam penghayatan iman.

Dari Biak, pesan dewan juri menjadi jelas: prestasi patut dirayakan, tetapi kualitas harus terus diperjuangkan. Dalam nyanyian Gregorian, ketelitian terhadap teks, ketepatan musikal, dan penghayatan yang mendalam merupakan bagian penting dari upaya menghadirkan nyanyian yang bermutu dan bermakna bagi kehidupan liturgi Gereja.

 

Kategori:
Tags:

Terkini