Senin, 24 Agustus 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

Guru Layak Konsumsi

Secangkir Kopi Cak Mus -22.08.26

Baca juga: MERDEKA !

Pengetahuan yang disampaikan guru kepada murid hari ini mungkin saja sudah tidak terlalu berguna saat mereka lulus nanti.

Bukan karena pengetahuan itu salah, melainkan karena sebagian besar pengetahuan yang dahulu hanya dapat diperoleh dari guru, kini tersedia dalam hitungan detik melalui mesin pencari dan kecerdasan buatan.

Di sinilah “masa berlaku” guru mulai diuji. Sudah kedaluwarsa atau masih dan sangat “layak konsumsi”.

Baca juga: Menyambut Proklamasi 2026 MERENUNGKAN BUMN DI PIDATO PRESIDEN

Dahulu, guru mempunyai keunggulan karena menguasai informasi yang tidak dimiliki murid. Guru mengetahui sejarah, rumus, definisi, teori, dan berbagai fakta yang harus dipelajari siswa. Murid datang ke sekolah untuk mendapatkan pengetahuan tersebut.

Sekarang situasinya berubah. Seorang murid yang ingin mengetahui ibu kota suatu negara tidak perlu menunggu penjelasan guru. Ia dapat mencarinya dalam hitungan beberapa detik.

Ketika tidak memahami konsep fotosintesis, ia dapat meminta penjelasan dari mesin pencari atau AI dengan bahasa yang lebih sederhana.

Ketika ingin mengetahui cara menghitung luas lingkaran, ia tidak harus menunggu pelajaran matematika berikutnya.

Bahkan AI dapat memberikan penjelasan dalam berbagai gaya. Seperti guru SD bahkan sanggup menyerupai sosok dosen, dengan analogi maupun contoh kehidupan sehari-hari.

Karena itu, guru yang hari ini “hanya puas” sebagai penyampai informasi, sejatinya sedang menghadapi persoalan serius.

Guru yang hari ini mengajarkan ilmu yang sama persis seperti lima atau sepuluh puluh tahun lalu tanpa memperbarui pengetahuannya akan tertinggal oleh perkembangan zaman.

Ilmu terus bergerak, teknologi berubah, persoalan masyarakat berkembang, dan peserta didik yang datang ke ruang kelas pun merupakan generasi berbeda.

Karena itu, proses menuju guru yang layak konsumsi sesungguhnya memaksa seorang guru untuk terus mengasah diri.

Jika demikian, lalu peran guru yang realistis untuk saat ini?

Peran guru harus bergeser dari sekadar “pembawa pengetahuan” menjadi pembimbing dalam menggunakan pengetahuan. Ini hanya satu dari sekian alternatif yang bisa dipilih.

Tak boleh menganggap bahwa tujuan akhir pendidikan berhenti pada penguasaan pengetahuan.

Penguasaan pengetahuan bukanlah garis finish.

Pengetahuan perlu dimaknai salah satunya sebagai bahan baku untuk berpikir kritis atau bernalar pada tingkat yang memadai.

Dan untuk mendapatkan kemampuan berpikir seperti itu hanya mudah didapat saat guru mau “memberesi” dirinya sendiri. Caranya?

Di antaranya mau untuk terus belajar. Mau menjadi guru pembelajar. Baik melalui diskusi ringan ataupun sharing tulisan sederhana penuh nuansa analitis tentang lingkungan terdekat.

Menariknya, kedua kegiatan simplistis ini bisa mempercantik kontruksi pikiran pelakunya.

Saat konstruksi nalar analitis dan kritisnya terbangun, maka ia bisa memberi pengimbasan ke muridnya.

Dan ini tak bisa ditandingi oleh mesin atau teknologi yang hanya bergerak jika diberi stimulus. Itu pun sangat terbatas. Sementara guru, memiliki kreativitas yang hampir tak terbatas.

Kategori:
Tags:

Terkini