Minggu, 23 Agustus 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

Jumat Aksi Seni FPS-TIM Gelar “Tumpeng Kemerdekaan” di TIM

Laporan: Nuyang Jaimee

JAKARTA, 21 Agustus 2026 — Front Penggerak Seni Taman Ismail Marzuki (FPS-TIM) kembali menggelar Jumat Aksi Seni (JAS) di kawasan Taman Ismail Marzuki (TIM), Jumat (21/8/2026). Mengangkat tema “Tumpeng Kemerdekaan” dengan semboyan “Seni Adalah Senjata”, kegiatan ini memadukan aksi simbolik, diskusi tata kelola TIM, serta pertunjukan seni dalam rangka memperingati momentum kemerdekaan Indonesia sekaligus melanjutkan perjuangan FPS-TIM terhadap persoalan pengelolaan TIM.

Baca juga: Agus Theodorus Buka Suara soal UP3 Tanimbar: “Saya Sudah Kerjakan, Selesai dan Sudah Dimanfaatkan”

Kegiatan berlangsung mulai pukul 16.00 WIB hingga selesai di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Carnaval Keranda “TIM Sudah Mati” seperti biasa tetap dilaksanakan menjadi bagian dari simbol perlawanan FPS-TIM terhadap berbagai persoalan yang mereka soroti dalam tata kelola TIM.

Acara dipandu oleh MC Tia Fairuz. Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Momentum utama kemudian ditandai dengan agenda “Tumpeng Merdeka”, tumpeng tersebut menjadi simbol perayaan kemerdekaan sekaligus ruang refleksi mengenai makna kemerdekaan bagi kehidupan seni dan kebudayaan.

Baca juga: KKN UMM di Desa Bulang Hadirkan Ruang Belajar Bersama Warga

Dalam kegiatan tersebut, tumpeng merdeka tidak ditempatkan semata sebagai seremoni peringatan kemerdekaan. Tema tersebut menjadi bagian dari pesan FPS-TIM bahwa kemerdekaan juga berkaitan dengan kebebasan seniman untuk berkarya, menggunakan ruang kebudayaan, menyampaikan kritik, serta turut menentukan arah pengelolaan pusat kesenian.

Setelah agenda tumpeng, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi bersama bertema “Tata Kelola TIM”. Diskusi menjadi ruang pembahasan terhadap persoalan yang selama beberapa pekan terakhir menjadi perhatian FPS-TIM, terutama mengenai arah pengelolaan TIM, keberadaan ruang seni, akses seniman dan komunitas, serta tuntutan agar TIM kembali berpijak pada fungsi utamanya sebagai pusat kesenian.

Diskusi tersebut merupakan bagian dari rangkaian gerakan FPS-TIM yang sebelumnya telah dilakukan melalui konsolidasi, pertemuan, aksi unjuk rasa, unjuk karya, serta Jumat Aksi Seni. Pada aksi sebelumnya, FPS-TIM membawa keranda bertuliskan “TIM Sudah Mati” sebagai simbol kritik terhadap kondisi ekosistem kesenian di TIM.

Rangkaian perjuangan tersebut juga telah dibawa ke tingkat pemerintah kota melalui penyerahan petisi dan TRITURA FPS-TIM ke Balai Kota DKI Jakarta pada 12 Agustus 2026. Tiga tuntutan tersebut adalah menolak JAKPRO mengelola dan mengkomersialisasikan TIM; mengembalikan tata kelola TIM kepada Dinas Kebudayaan, UP PKJ TIM, Dewan Kesenian Jakarta bersama komunitas-komunitas seni secara demokratis dan adil; serta mengembalikan marwah TIM sebagai Pusat Kesenian.

Setelah diskusi dan ngopi santai, acara dilanjutkan dengan Agenda Unjuk Seni kemudian kembali berlangsung melalui penampilan solo vokal Mery Tan, dilanjutkan pembacaan puisi oleh Megawati K. Nurdin, Jack Al-Gozali dan Dyah Kencono. Rangkaian malam ditutup dengan penampilan musik “SOKRS” hingga sekitar pukul 21.00 WIB.

Melalui JAS bertema “Tumpeng Kemerdekaan”, FPS-TIM kembali menempatkan seni sebagai medium ekspresi sekaligus penyampaian sikap. Kegiatan ini memperlihatkan bahwa perjuangan FPS-TIM tidak hanya dilakukan melalui aksi demonstrasi, tetapi juga melalui diskusi, musik, puisi, simbol budaya, dan ruang pertemuan seniman.

Bagi FPS-TIM, peringatan kemerdekaan di TIM menjadi momentum untuk mempertanyakan kembali makna kemerdekaan dalam kehidupan kebudayaan: kemerdekaan untuk berkarya, kemerdekaan menggunakan ruang seni, dan kemerdekaan menyampaikan kritik terhadap kebijakan kebudayaan. [PM]

 

 

Kategori:
Tags:

Terkini