RABU 19/8/2026
Pekan Biasa XX (H)
– Yehezkiel 34:1-11
– Matius 20:1-16a
Yehezkiel adalah nabi besar pada masa pembuangan. Ia menyaksikan langsung bagaimana Yerusalem diduduki dan dihancurkan. Ia sendiri termasuk yang dibuang ke Babilon. Di Babilon mereka tidak menjadi budak seperti di Mesir, melainkan dibiarkan tinggal sebagai bangsa yang tak punya tanah air.
Maka, Yehezkiel menjadi nabi yang terus menyampaikan firman Allah yang memberi harapan bahwa Allah akan memulihkan semua kesusahan. Asalkan tetap setia berpegang pada hukum, ibadat dan tradisi para moyang. Kalau tidak taat hukum, tidak rajin beribadat dan meninggalkan tradisi para moyang maka itulah jalan menuju celaka.
Baca juga: Di Bawah Terik Matahari, Umat Santa Maria Biak Tetap Bertahan dalam Sukacita Iman
Nubuat Yehezkiel hari ini tentang para gembala yang hanya sibuk memenuhi kepentingannya. Malah memaksa para domba melengkapi kebutuhannya, tetapi tak mau memperhatikan kesusahan para dombanya. Mereka ini orang-orang celaka, yang bukan hanya mencelakakan orang lain yang tak bersalah tetapi juga mencelakakan diri sendiri.
Saudari-saudara terkasih.
1). Apa yang disampaikan Yehezkiel hari ini juga merupakan perhatian dan bahkan teguran bagi para gembala (termasuk saya) bagaimana melayani umat. Terutama yang ada dalam kesulitan, bukan memanfaatkannya untuk kepentingan diri.
2). Bila dihayati dengan benar maka akan timbul kesadaran bahwa gembala itu hanya pekerja (seperti Injil hari ini tentang orang upahan di kebun anggur), bukan pemilik domba (bukan pemilik kebun anggur), pemiliknya adalah Yesus Kristus.
Gembala itu bahasa iman untuk para pemimpin yang mengatur banyak orang (umat/ jemaat/ masyarakat/ rakyat). Artinya, para pemimpin yang melayani banyak orang juga menghayati spiritualitas gembala (apalagi pemimpin kristen – khususnya Katolik).
Seorang yang berspiritualitas gembala akan terlihat dalam sikap seperti yang disampaikan Yehezkiel 34:4 hari ini:
– orang yang lemah dikuatkan, bukan tambah dibuat tak berdaya;
– yang sakit diobati, bukan dibiarkan sakit parah sampai mati;
– yang luka dibalut, bukan tambah melukai;
– yang tersesat dibawa pulang, bukan membuatnya tambah tersesat;
– yang hilang dicari, bukan membiarkannya hilang atau bukan merasa aman-aman saja seperti tak terjadi apa-apa.
MENGAPA IRI HATI? Inijil hari ini menyadarkan kita semua bahwa orang menjadi iri hati karena membandingkan dirinya dengan orang lain dan tidak suka melihat orang lain menjadi baik. Sikap yang benar adalah LAKUKAN SAJA TUGASMU maka semua akan baik saja.
Cukupkanlah dirimu dengan apa yang didapat. Jangan menuntut lebih, karena menuntut lebih itu sama dengan membuka peluang untuk berlaku curang terhadap orang lain, terutama orang kecil yang ada dalam kesusahan. Semoga Tuhan menolong. Amin.
P. Felix Amias MSC
Biara MSC Merauke
Propinsi Papua Selatan
Wednesday, August 19, 2026


