Kamis, 30 Juli 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

Ketika Cantik mulai Pamitan

Oleh : Elza Peldi Taher

Sudah hampir tiga minggu rumah kami terasa berbeda. Tidak ada lagi langkah-langkah kecil Si Cantik yang berlari menyambut ketika pintu dibuka. Tidak ada lagi suaranya yang seolah mengingatkan bahwa waktu makan telah tiba. Kucing putih yang selama delapan tahun menjadi bagian dari keluarga kami kini lebih banyak terbaring diam.

Sudah tiga minggu pula ia tak mau makan. Kami telah membawanya ke dokter hewan dan memberinya obat. Namun hingga hari ini, makanan yang masuk ke tubuhnya hanyalah vitamin dan antibiotik yang kami berikan setiap pagi dan malam. Itu pun selalu melalui perjuangan. Ia mengatupkan mulutnya rapat-rapat sehingga kami harus membujuknya dengan penuh kesabaran agar obat itu dapat tertelan.

Baca juga: MELURUSKAN NARASI ORYOIN: CATATAN KRITIS ATAS ARTIKEL "MENGALIRKAN KEDAMAIAN DARI WEYE ORYOIN" Membedakan Fakta, Interpretasi, dan Konsekuensi Hukum dalam Sengketa Sumber Daya Alam

Menurut dokter hewan, Si Cantik kemungkinan mengalami gangguan pada ginjal. Untuk memastikannya diperlukan tes darah dan perawatan khusus. Biaya tes darah saja mencapai lebih dari satu juta rupiah, belum lagi biaya perawatan berikutnya. Namun dokter juga mengatakan bahwa usia seekor kucing umumnya sekitar sepuluh tahun. Jika memang penyakitnya sudah berat, berbagai tindakan medis mungkin hanya dapat memperpanjang waktu, bukan mengembalikan kesehatannya seperti semula.

Setelah berdiskusi, kami memutuskan merawatnya di rumah. Kami ingin hari-harinya tetap dihabiskan di lingkungan yang dikenalnya, di tengah orang-orang yang selama ini menyayanginya.

Kini hampir sepanjang hari Si Cantik hanya berbaring.  Tubuhnya kurus kering. Ia  tak lagi mau diajak bermain atau bercanda seperti dulu. Sesekali ia berjalan pelan keluar rumah menuju sebuah sudut yang sama. Seorang pecinta kucing pernah bercerita kepada saya, jika seekor kucing yang sedang sakit berulang kali mendatangi satu tempat tertentu, konon ia sedang memilih tempat untuk menghabiskan hari-hari terakhirnya. Saya tidak tahu apakah itu benar atau hanya mitos. Tetapi setiap kali melihat Si Cantik berjalan perlahan ke sudut itu, hati saya selalu diliputi rasa cemas.

Baca juga: Papua Menangis, Kita Tidak Boleh Diam

Dokter mengatakan bahwa usia sepuluh tahun bagi seekor kucing memang sudah memasuki masa senja. Kalimat itu membuat saya termenung. Rupanya semua makhluk memiliki batas waktu yang telah ditentukan. Bedanya hanya angka. Kucing mungkin sepuluh atau lima belas tahun. Manusia mungkin tujuh puluh atau delapan puluh tahun. Tetapi pada akhirnya, kita semua sedang menempuh perjalanan menuju tujuan yang sama. Tidak ada yang dapat menghindari takdir itu.

Selama delapan tahun terakhir, Si Cantik bukan lagi sekadar hewan peliharaan. Ia telah menjadi anggota keluarga kami.

Setiap malam ia tidur bersama kami di lantai atas. Namun jika udara mulai dingin, ia sering memilih keluar kamar dan mencari tempat yang lebih hangat. Ketika pagi tiba, ia sudah setia menunggu di depan pintu kamar. Begitu pintu dibuka, ia akan berdiri sambil menatap kami, seolah mengucapkan selamat pagi dan menagih jatah sarapannya. Makanan favoritnya adalah ikan kembung dan ikan cue. Sesekali kami memberinya makanan olahan khusus kucing sebagai selingan. Ia selalu makan dengan lahap.

Yang paling saya kagumi, Si Cantik adalah kucing yang “jujur”. Walaupun di atas meja sering ada makanan, ia tidak pernah mencurinya. Ia hanya duduk menunggu kami memberinya makan. Kesabaran dan kebiasaannya itu sering membuat kami tersenyum. Seolah ia mengerti bahwa setiap rezeki ada waktunya.

Ada satu kebiasaan lain yang selalu kami kenang. Setiap kali kami salat, ia seperti ingin ikut bersama. Kami bahkan sering menyiapkan sajadah kecil khusus untuknya. Kalau tidak, ia akan datang mengganggu, berjalan di depan kami, atau duduk di samping seolah ingin menjadi bagian dari suasana yang khusyuk itu. Tingkahnya sederhana, tetapi selalu membuat rumah terasa lebih hidup.

Sejak delapan tahun lalu, setiap Hari Raya Idulfitri kami selalu berfoto bersama keluarga. Dan Si Cantik hampir tidak pernah absen. Entah bagaimana, ia selalu muncul ketika kamera mulai disiapkan. Kini kami memiliki delapan foto Lebaran yang di dalamnya selalu ada Si Cantik. Ketika membuka kembali album-album itu, saya baru menyadari bahwa ia telah tumbuh bersama perjalanan keluarga kami. Wajah anak-anak berubah, rambut kami mulai memutih, tetapi Si Cantik selalu ada di sana, menjadi bagian dari cerita yang kami abadikan setiap tahun.

Beberapa minggu terakhir saya sering menjenguk tetangga yang sakit, menghadiri pemakaman, dan menyaksikan orang-orang yang saya kenal memasuki penghujung hidupnya. Kini pelajaran yang sama datang dari rumah sendiri. Seekor kucing yang selama delapan tahun menemani keluarga kami sedang menjalani fase yang mungkin sama. Ternyata perpisahan tidak memilih kepada siapa ia datang. Kepada manusia ataupun seekor kucing, ia selalu mengajarkan pelajaran yang sama: cintailah selagi masih ada waktu.

Selama ini saya sering mendengar bahwa menyayangi binatang adalah bagian dari akhlak yang baik. Baru sekarang saya benar-benar merasakannya. Ketika kita merawat seekor makhluk selama bertahun-tahun, ia perlahan tidak lagi menjadi peliharaan. Ia menjadi keluarga. Ia ikut mengisi hari-hari kita, menghadirkan tawa, dan tanpa disadari meninggalkan jejak yang begitu dalam.

Kini melihat Si Cantik berjalan tertatih-tatih saja rasanya hati ini ikut lemah. Ia sama sekali tidak mau makan. Kami hanya bisa memaksanya minum obat dan sedikit cairan agar tubuhnya tetap bertahan. Selebihnya, kami hanya bisa membelainya, menemaninya, dan berdoa agar apa pun yang menjadi kehendak Tuhan adalah yang terbaik baginya.

Jika suatu hari nanti Si Cantik benar-benar pergi, yang hilang bukan sekadar seekor kucing. Yang pergi adalah delapan tahun kenangan yang tumbuh bersama keluarga kami. Tetapi saya percaya, kasih sayang tidak pernah sia-sia. Setiap belaian, setiap makanan yang kami berikan, setiap pagi ketika ia setia menunggu di depan pintu, setiap sajadah kecil yang kami siapkan, dan setiap foto Lebaran yang kami abadikan bersama akan tetap hidup dalam ingatan kami.

Terima kasih, Si Cantik, telah menjadi bagian dari keluarga kami selama delapan tahun terakhir. Terima kasih telah mengajarkan kami arti kesetiaan tanpa kata-kata, kasih sayang tanpa syarat, dan kebersamaan yang tulus. Maaf, jika di saat-saat terakhirmu kami tidak mampu berbuat lebih banyak. Kami hanya bisa menemanimu, mencintaimu, dan menyerahkan semuanya kepada kehendak Tuhan.

Pondok Cabe udik 29 Juli 2026

Tentang Penulis

Elza peldi Taher

Kategori:
Tags:

Terkini