Rabu, 22 Juli 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

Kumpulan Puisi Karya Leni Marlina: “UDARA PAGI DAN KOTA PEMAKAN WAJAH” –

/1/

UDARA PAGI DAN KOTA PEMAKAN WAJAH

Puisi: Leni Marlina

Baca juga: Realisasi PPDB SMK Negeri 1 Biak Capai 75 Siswa, Kepala Sekolah Masker Bora Tegaskan Prinsip Inklusivitas Tanpa Pemaksaan Biaya

Siapa memberi kota itu mulut?
Geraham kacanya mengunyah kicau burung, aroma sawah, dan susu embun dari bulu ilalang.
Setiap subuh kerongkongannya berdahak debu.
Dari sela giginya menetes bau besi dan musim yang dipetik sebelum matang.

Pagi itu udara digiring ke alun-alun.
Lehernya dililit asap; pergelangan tangannya diborgol kabel yang tumbuh dari tanah.
“Apa yang kau sembunyikan di dalam dada manusia?” tanya kota.
Dari bibir udara hanya gugur serbuk sari, desir padi, dan suara lesung yang terusir dari ingatan.

Baca juga: Muhammad Defri Andika: Mahasiswa UIN Suska Riau Sabet Top 8 & Putera Kebudayaan Photogenic Riau 2026

Maka dada bening itu dibelah.
Mesin-mesin menggali, berharap menemukan emas, minyak, dan angka.
Yang terangkat justru pipi anak berbau capung, telapak petani beraroma gabah, dan mata tua yang semalaman menjaga gelap.
Kota tertawa; tawanya berpantul dari kaca ke kaca seperti baut yang lepas.

Lalu segumpal embun pecah di ujung rumput.
Akar-akar tipis merayap ke trotoar, fondasi, arsip, buku hitung, dan jam-jam yang mengunyah waktu.
Menjelang siang:
lumut membuka mata; padi muda tumbuh dari retakan kaca.
Udara pagi berjalan menjauh;
pada sebutir embun di bahu kupu-kupu,
sebuah sawah masih terhampar luas.

Padang, Sumbar, 2026

—–

/2/

TIMBANGAN YANG MEMAMAH MALAM

Puisi: Leni Marlina

Lihatlah sekelilingmu!
Dari sela-sela marmer,
malam mengelupas seperti cat tua
yang menyembunyikan musim lain.
Di ruang yang selalu berbau pendingin udara,
sebuah timbangan turun dari pigura.
Lidah logamnya menjulur.
Ia menjilat angka-angka rontok seperti telur serangga
dari lipatan kertas yang demam.

Bukalah matamu lebih lebar!
Kertas-kertas mendadak keropos,
seperti daun diam-diam
dikunyah musim.
Di luar,
orang-orang menggantung pagi
pada kabel melintang di atas gang.
Yang mengering hanya seragam sekolah.

Bukalah mata hatimu!
Pada ujung jemuran,
sebutir telur terus berayun,
mengerami kesunyiannya sendiri.
Sementara itu,
beberapa tangan mengebor napas bukit,
lalu menampungnya
dalam tong-tong yang tak mengenal akar.

Apakah kau masih menyangkal?
Dari luka yang menganga,
mengalir cairan kuning pucat
berbau tanah yang kehilangan ingatan.
Cairan itu mengeras
menjadi gagang-gagang kuasa
yang tak pernah disentuh tanah,
menjadi dinding-dinding tinggi
yang memantulkan wajah langit
tanpa menyimpan awan.

Bagaimana mungkin kau membiarkannya?
Mereka memanen sesuatu
yang bahkan belum tumbuh sempurna.
Musim dipetik saat masih berupa tunas.
Hujan dilipat
ke dalam kotak-kotak besi.
Muara sungai dipelintir
hingga muat dimasukkan
ke dalam laci.

Lihatlah gagak yang hinggap
di bahu perempuan batu.
Paruhnya menarik sehelai kain hitam
dari wajah patung itu.
Kain tersebut membentang di udara,
berubah menjadi meja panjang.

Di atasnya,
stempel-stempel itu bertelur.
Dari cangkangnya keluar
cap-cap baru
yang baru saja memiliki tinta.
Tinta menetes.
Beberapa nama tenggelam.
Beberapa nama lain
mengapung seperti gabus.

Lihatlah di lorong itu!
Seorang ibu masih duduk di bawah lampu yang berkedip.
Ia memungut malam yang tercerai-berai
dari lantai.
Potongan-potongan gelap itu
ia satukan dengan helaian rambutnya.
Jarum terakhir patah.
Ia menjahit malam
dengan serpihan kukunya sendiri.

Tidakkah kau melihat?
Di dekatnya,
seorang anak tertidur.
Buku yang dipeluknya terbuka.
Dari sela halaman,
baut-baut kecil
memanjat keluar dari buku
sambil membawa potongan taman bermain.
Di belakangnya,
suara mesin berputar
tanpa pernah menemukan wajahnya.

Menjelang subuh,
langit mengeluarkan bunyi
seperti kendi pecah di dasar sumur.
Tak ada cahaya tumpah.
Yang berhamburan justru
lembar-lembar tipis
yang menyimpan denyut nadi asing.
Lembar itu beterbangan
masuk ke jendela,
ke saku,
ke bawah bantal,
hingga ke liang yang belum selesai digali .

Ketika matahari muncul,
patung perempuan batu itu
masih berdiri di tempatnya.
Namun kini,
akar-akar tipis keluar dari bibirnya,
mencari kata-kata
yang pernah dikuburkan.
Timbangan itu
tergantung miring di udara,
terus memamah gelap.
Dari sela giginya
lahir malam yang baru.
Malam itu membawa
timbangan yang lain.
Apakah kau masih berdiam diri di sana?

Padang, Sumbar, 2026

—–

/3/

SUNGAI YANG KEHILANGAN MUARANYA

Puisi: Leni Marlina

Kita adalah sungai
yang muaranya dicabut dari tubuh laut
seperti gigi emas dari rahang raksasa.

Sejak itu,
air berjalan pincang
dan ombak kecil belajar menjadi debu.
Ikan-ikan membawa sisa laut di bawah sisiknya
seperti foto keluarga yang hangus terbakar.

Malam demi malam,
kita mengumpulkan sisa-sisa asin
yang tercecer di antara batu,
lalu menyembunyikannya
di bawah lidah ikan,
di sela akar bakau,
dan di kantong-kantong hujan yang belum ditemukan.

Ketika musim berganti, dari retakan batu
kita menumbuhkan muara yang baru.

Padang, Sumbar, 2026

—–
/4/

BULAN YANG DITAMBANG DARI DALAM SUMUR

Puisi: Leni Marlina

Di kampung kami,
bulan tidak tinggal di langit.
Ia tidur
di dasar sumur tua,
di antara akar beringin
dan doa-doa yang belum selesai diaminkan.

Wahai sumur tua,
berapa banyak malam
yang kau simpan
di dasar matamu?

Setiap malam,
nenek menimba sedikit cahaya
untuk menambal robekan
pada kain gelap.

Anak-anak mencelupkan telapak tangan
ke dalam airmu,
lalu pulang
dengan jari-jari berkilau.

Bulan, bulan,
kepada siapa kau titipkan cahaya
ketika manusia mulai lapar
pada segala yang bersinar?
Ed
Suatu musim,
orang-orang datang
membawa bor yang lebih keras
daripada petir.

Siapa yang mengajari besi
cara melukai cahaya?
Siapa yang membisikkan pada mata bor
bahwa bulan dapat diperah
seperti sumur minyak?

Ketika besi menyentuh tulang bulan,
langit mengeluarkan bunyi
seperti kendi pecah
di dada seorang ibu.

Bukankah burung-burung malam
berhak memiliki arah pulang?
Bukankah kunang-kunang
berhak menyimpan bintang kecilnya sendiri?

Pagi berikutnya,
yang terangkat dari sumur
bukan lagi cahaya,
melainkan gema,
potongan gelap,
dan bau logam
yang menempel lama
di telapak tangan.

Namun dengarlah:
hujan yang jatuh
masih mengetuk dasar sumur.
Akar beringin
masih mengirimkan kabar
kepada batu-batu tua.

Dan saat
seekor katak bernyanyi,
kami percaya
sebutir cahaya
masih berdenyut
di bawah tanah.
Sebab siapa dapat membunuh bulan
seluruhnya?
Bukankah cahaya selalu menemukan
cara lain untuk tumbuh?

Maka diam-diam
kami menjatuhkan biji-biji beringin,
doa-doa kecil,
dan sisa-sisa kunang-kunang
ke dasar sumur.

Barangkali suatu hari,
dari sana akan tumbuh
pohon cahaya.
Pada cabang-cabangnya,
bulan yang baru belajar berbuah.

Padang, Sumbar, 2026

—-

/5/

LEMARI MENYIMPAN TAHUN-TAHUN YANG DITANGKAP

Puisi: Leni Marlina

Tengah malam.
Lemari tua itu terjaga
oleh suara engselnya sendiri.
Wahai kayu yang dipaksa menghafal,
berapa dekade kau menyimpan napas
yang bukan milikmu?

Tak ada jawaban.
Hanya bau debu
yang perlahan berubah
menjadi bau hujan.
Lalu sesuatu terjadi.
Dari laci paling bawah,
tahun-tahun mulai keluar.
Tahun 1945 muncul terlebih dahulu.
Di punggungnya
masih menempel awan
yang belum sempat pecah.
Menyusul sesudahnya
tahun-tahun lain:
tahun yang dipaku,
tahun yang dibungkam,
tahun yang disimpan
seperti pisau di bawah meja.

Dari sela map,
keluar sore-sore
yang selama ini gagal tenggelam.
Mereka berkeliaran
di sepanjang lorong
sambil membawa warna jingga
yang mulai berkarat.

Segaris sungai
melompat dari lembar berita acara.
Tubuhnya penuh cap merah.
Airnya berbau tinta.
Di belakangnya,
seorang lelaki berjalan keluar
dari halaman yang menguning.
Di sakunya,
seekor burung kecil
terus mencoba berubah
kembali menjadi langit.

Siapa yang mengira
bahwa waktu dapat dipenjara?
Siapa yang percaya
bahwa kertas mampu menelan musim?
Namun lihatlah:
hujan-hujan yang disita
kini turun sekaligus.
Membasahi lantai.
Membasahi nama.
Membasahi stempel-stempel
yang selama ini mengira
dirinya batu.

Menjelang fajar,
lemari itu pecah.
Bukan karena usia.
Bukan karena rayap.
Melainkan karena terlalu banyak hari
yang ingin dilahirkan kembali.
Dari retakannya,
keluar anak-anak matahari,
anak-anak hujan,
anak-anak sungai,
membawa tahun-tahun yang berhasil mereka selamatkan.

Sekarang gedung itu telah kosong,
dapatkah kau melihat laci terbuka
berisi satu musim kecil
yang akhirnya pulang.

Padang, Sumbar, 2026

—–

/6/

GUDANG YANG MENYIMPAN MUSIM DEPAN

Puisi: Leni Marlina

Di pinggir kota ini,
berdiri sebuah gudang
yang dibangun dari kalender hangus.
Wahai dinding,
berapa musim
yang dipaksa tidur
di dalam perutmu?
Tak ada jawaban.
Hanya bau tanah basah
yang sesekali lolos
dari retakan semen.

Suatu malam,
angin menemukan celah.
Dari sana
ia melihat hujan
digantung seperti baju anak-anak.
Panen dilipat
ke dalam peti besi.
Bunga-bunga dibungkam
di bawah gembok.
Dan permainan
dirantai bersama layang-layang.

Siapa yang takut
pada tunas?
Siapa yang menyita daun
sebelum sempat menjadi rindang?
Diam-diam,
angin mencuri serbuk sari.
Embun menyelundupkan benih.
Burung pipit membawa musim
di bawah paruhnya.

Tahun demi tahun,
akar-akar tipis
menulis namanya sendiri
pada lantai gudang.
Mula-mula seperti retakan.
Lalu seperti sungai.
Lalu seperti jalan pulang.
Hingga suatu pagi,
pintu itu roboh
oleh dorongan bunga.
Dari dalamnya
berhamburan hujan,
panen,
dan suara anak-anak
yang selama ini dikurung.

Di tengah cahaya yang pecah,
masa depan berjalan keluar
dengan kaki berlumpur,
membawa segenggam benih.
“Masih adakah tanah,” tanyanya,
“yang belum dijadikan gudang?”

Padang, Sumbar, 2026

———

Tentang Penyair

Leni Marlina

Leni Marlina merupakan penulis, penyair, dan akademisi asal Sumatera Barat yang menetap di Padang. Kecintaannya pada dunia literasi tumbuh sejak masa sekolah dan terus menemaninya hingga kini. Ketertarikannya pada sastra semakin berkembang ketika menempuh studi Master of Arts (Writing and Literature) di Australia.

Sejak tahun 2006, ia mengajar sebagai dosen tetap di Departemen Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang. Di sela-sela aktivitas akademiknya, ia menulis puisi, cerpen, esai, artikel ilmiah, serta terlibat dalam sejumlah kegiatan penerjemahan dan penyuntingan. Leni juga mengabdikan diri sebagai redaktur di beberapa media online termasuk SAN Media Group.

Bagi Leni, menulis bukan sekadar kegiatan kreatif, melainkan juga cara untuk belajar memahami kehidupan, merawat kemanusiaan, dan berbagi harapan. Karena itu, selain berkarya, ia aktif dalam berbagai komunitas literasi dan kepenulisan serta turut mengelola sejumlah ruang belajar dan berbagi bagi para pencinta edukasi, literasi dan sastra, termasuk PPIC (Poetry Pen International Community), Litttalk-C (Literary Talk Community) & Starcom Indonesia (Starmoonsun Edupreneur Community).

Melalui kata-kata dan kegiatan literasi yang dijalaninya, ia berusaha memberi sumbangsih, sekecil apa pun, bagi tumbuhnya budaya membaca, menulis, dan apresiasi sastra. Beberapa penghargaan di bidang kepenulisan pada tingkat lokal, nasional, dan internasional pernah diterimanya, yang ia syukuri sebagai bagian dari perjalanan panjang untuk terus belajar dan berkarya.

Email: lenimarlina@fbs.unp.ac.id
Wattpad: @lenimarlina_write
Instagram: @lenimarlina_starmoonsun

Kategori:
Tags:

Terkini