Penulis: Anis Rumaropen
–
BIAK-PAPUA|SUARA ANAK NEGERI– Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Tahun Ajaran 2026/2027 di SMK Negeri 1 Biak mencatat realisasi 75 siswa aktif dari target kapasitas 160 siswa. Kepala Sekolah SMK Negeri 1 Biak, Masker Bora, menegaskan bahwa institusi menerapkan prinsip inklusivitas dengan menjamin akses pendidikan bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa diskriminasi ekonomi. Hal tersebut disampaikan Masker Bora saat dijumpai Media SAN di ruang kerjanya, pada Senin, 21 Juli 2026. Ia menyatakan secara tegas tidak ada pemaksaan pembelian seragam atau atribut sekolah bagi siswa dari keluarga kurang mampu maupun wilayah kepulauan, dengan prioritas utama pada kelengkapan administrasi akademik sebagai syarat mutlak penerimaan.
Dinamika Data Pendaftaran dan Distribusi Jurusan
Berdasarkan data administratif periode pendaftaran 13–15 Juni 2026, tercatat sebanyak 90–98 calon siswa melakukan registrasi awal. Namun, hanya 75 siswa yang menyelesaikan proses verifikasi dokumen dan mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Selisih data tersebut masih dalam tahap pendataan lebih lanjut terkait status alih ke sekolah lain atau pilihan jalur pendidikan alternatif.
“Yang mengikuti MPLS dan terdaftar sebagai siswa sekarang ada 75 siswa yang kami bagi dalam 5 jurusan, di mana setiap jurusan mendapatkan 15 siswa,” jelas Masker Bora saat dikonfirmasi Media SAN di ruang kerjanya. Meskipun angka ini berada di bawah target ideal 32 siswa per kelas, operasional pembelajaran tetap berjalan efektif sesuai kurikulum yang berlaku sambil menunggu potensi penambahan siswa di masa mendatang.
Baca juga: Kedaulatan Keret Menjadi Dasar Sah Pelepasan Hak Ulayat untuk Pembangunan Bandar Antariksa Biak
Analisis Faktor Penurunan Minat dan Transformasi Citra Institusi
Dalam wawancaranya, Masker Bora mengidentifikasi dinamika persaingan antar-lembaga pendidikan sebagai faktor dominan penurunan jumlah pendaftar. Pergeseran preferensi masyarakat dari pendidikan vokasi (SMK) menuju pendidikan umum, khususnya seiring dengan berkembangnya SMA Negeri 1 Biak Timur, berdampak signifikan terhadap kuota pendaftaran. Selain itu, upaya pemulihan citra institusi terus dilakukan untuk mengubah persepsi publik mengenai kondisi fisik sekolah yang sempat menjadi kendala di masa lalu.
Revitalisasi Infrastruktur Berbasis Bantuan Pemerintah
Sebagai bukti komitmen peningkatan mutu layanan pendidikan, SMK Negeri 1 Biak menerima alokasi bantuan rehabilitasi sarana prasarana melalui program pemerintah (Fiat 3T). Renovasi tahun ini mencakup perbaikan empat ruang kelas, dua unit sanitasi, serta tiga laboratorium (Komputer, IPA, dan Mengetik). Selain itu, dilakukan rehabilitasi atap klapon untuk ruang keahlian Perhotelan dan Pariwisata yang kondisinya telah mengalami kerusakan. Pembenahan infrastruktur ini bertujuan menciptakan ekosistem belajar yang kondusif dan meningkatkan daya tarik institusi.
Kebijakan Humanis dan Aksesibilitas Pendidikan
Menanggapi isu keterjangkauan biaya, Masker Bora menekankan pendekatan humanis dalam manajemen sekolah. Pembelian seragam (putih abu-abu, batik, dan atribut pendukung) bersifat sukarela dan tidak dijadikan prasyarat administratif.
“Kami tidak memaksakan kalau anak itu punya saudara dan layak pakaiannya… Kalau orang tuanya tidak mampu, ya tidak bisa kami memaksakan. Yang penting mereka lengkapi biodatanya, ijazahnya, dan aktenya,” tegas Masker Bora kepada Media SAN. Kebijakan ini dirancang untuk memastikan bahwa hambatan finansial tidak menjadi penghalang bagi siswa, khususnya dari daerah kepulauan, untuk mengakses pendidikan berkualitas.
Harapan Strategis Jangka Panjang
Di tengah tantangan demografis dan persaingan sektor pendidikan, pihak manajemen SMK Negeri 1 Biak optimis bahwa revitalisasi fasilitas dan kebijakan inklusif akan memperkuat kepercayaan masyarakat. “Mudah-mudahan berseiring waktu ada tambahan siswa,” ungkap Masker Bora. Institusi berkomitmen mencetak lulusan vokasi yang kompeten dan berkarakter, sehingga pendidikan kejuruan kembali menjadi pilihan strategis bagi generasi muda Biak Numfor dalam menghadapi tuntutan dunia kerja dan kewirausahaan global.





