Karya: Ilhamdi Sulaiman.
Setiap menjelang subuh, ketika malam belum benar-benar pergi dan azan masih berupa gema yang menunggu lahir dari langit, seorang lelaki tua berdiri di depan warung kecil di sebuah tikungan jalan. Warung itu menempel pada pagar bangunan tua.
Ia selalu membeli sebatang rokok.
Bukan karena masih menikmati tembakau.
Melainkan karena hanya dengan cara itu ia mempunyai alasan untuk berdiri lebih lama di sana.
Asap rokok melayang tipis, lalu lenyap ditelan udara. Lelaki tua itu memandangnya tanpa berkedip. Sejak keluar dari penjara tiga bulan lalu, ia merasa hidupnya tak ubahnya asap, lalu hilang tanpa meninggalkan jejak.
Dua belas tahun ia menghuni sel sempit karena membunuh istrinya sendiri.
Orang-orang mengatakan ia telah menebus dosanya.
Ia tahu, tidak.
Hukuman penjara hanya mengurung tubuh. Penyesalan mengurung jiwa, dan penjara itu tak mempunyai pintu.
Kini ia hidup sebagai gelandangan. Siang mencari pekerjaan yang tak pernah diberikan orang kepadanya. Malam tidur di jembatan penyeberangan bersama angin, nyamuk, dan dengung kendaraan yang tak pernah mengenal lelah.
Namun ada satu alasan yang membuatnya bertahan hidup.
Seorang anak perempuan.
Ketika ia dibawa polisi dua belas tahun silam, anak itu baru berumur empat tahun. Malam itu, sebelum pintu rumah dipenuhi tetangga dan sirene, ia sempat melihat anaknya berdiri di sudut ruang tamu. Wajah kecil itu pucat. Boneka kain terlepas dari pelukannya. Matanya menatap ayahnya tanpa menangis, seolah ketakutan telah lebih dulu membunuh air matanya.
Sejak malam itu ia tak pernah lagi mengetahui nasib anaknya.
Masih hidupkah?
Masih ingatkah?
Ataukah sudah mengganti nama agar tak lagi mewarisi aib seorang pembunuh?
“Seperti biasa, Bang.”
Suara perempuan itu memutus lamunannya.
Seorang perempuan muda berdiri di depan warung. Jaket tipis membungkus tubuhnya yang letih. Rambutnya diikat asal. Di wajahnya ada kecantikan yang telah lama berdamai dengan luka.
“Rokok setengah. Gula seperempat. Kopi satu bungkus.”
Yono, pemilik warung, mengangguk tanpa banyak bertanya. Perempuan itu memang selalu datang menjelang subuh.
Lelaki tua itu tak sengaja menatap wajahnya.
Dadanya bergetar.
Ada sesuatu pada mata perempuan itu.
Bukan wajahnya.
Bukan bentuk bibirnya.
Melainkan tatapannya.
Tatapan yang pernah dilihatnya dua belas tahun silam, ketika seorang anak kecil berdiri membeku di sudut rumah sambil memeluk boneka.
Perempuan itu merasakan tatapan itu.
Baca juga: Piala Dunia dan Cermin Keberagamaan Kita
Keesokan subuh ia datang lebih awal.
Warung masih setengah tertutup. Yono baru saja menyapu halaman ketika lelaki tua itu sudah duduk di bangku kayu, memandangi tikungan yang perlahan diterangi cahaya fajar.
“Menunggu seseorang, Pak?” tanya Yono sambil tersenyum.
Lelaki tua itu menggeleng kecil.
“Mungkin.”
Yono tidak bertanya lagi. Di kota sebesar ini, setiap orang menyimpan rahasia, dan rahasia lebih baik dibiarkan tinggal di dalam dada.
Tak lama kemudian perempuan itu datang.
Langkahnya pelan, seolah semalam ia berjalan terlalu jauh. Ada lingkar hitam di bawah matanya. Bibirnya pecah-pecah. Ia memesan barang seperti biasa, membayar, lalu berbalik.
Ketika melewati bangku, tanpa sengaja matanya kembali bertemu dengan mata lelaki tua itu.
Kali ini perempuan itu tidak segera berpaling.
“Apa kita pernah bertemu?” tanyanya.
Lelaki tua itu tercekat. Bibirnya bergerak, tetapi tak satupun kata berhasil keluar. Ia hanya menggeleng pelan.
“Mungkin saya keliru,” ujar perempuan itu, lalu pergi.
Lelaki tua itu menunduk. Jantungnya berdegup lebih keras daripada biasanya.
“Aneh, ya?” kata Yono setelah perempuan itu menghilang. “Dia biasanya tidak pernah menyapa orang.”
Lelaki tua itu tidak menjawab.
Ia takut, jika terlalu lama memandangi perempuan itu, kenangan yang selama ini di kuburnya akan bangkit satu per satu.
Hari-hari berikutnya menjadi serupa.
Ia datang.
Menunggu.
Memandangi tikungan.
Perempuan itu datang menjelang subuh, membeli kebutuhan sehari-hari, lalu pulang.
Tak pernah lebih dari lima menit.
Namun lima menit itu cukup membuat lelaki tua merasa hidupnya masih mempunyai tujuan.
Pada pagi kelima, perempuan itu tak datang.
Lelaki tua itu gelisah.
“Belum datang?” tanyanya.
Yono menggeleng.
“Biasanya diantar seseorang.”
“Suaminya?”
Yono tersenyum pahit.
“Bukan.”
Lelaki tua itu menunggu penjelasan.
“Itu germonya.”
Lelaki tua itu mengernyit.
“Dia bekerja di rumah kuning.”
Kalimat itu membuat udara di sekelilingnya mendadak terasa sesak.
Rumah kuning.
Ia tahu arti sebutan itu.
Tempat perempuan menjual tubuhnya kepada orang-orang yang bahkan tak ingin mengingat namanya ketika pagi datang.
Lelaki tua itu memejamkan mata.
Entah mengapa dadanya terasa nyeri.
Ia tidak mengenal perempuan itu.
Tetapi mendengar hidupnya hancur terasa seperti mendengar nasib seseorang yang sangat dekat dengannya.
“Mungkin beginilah cara Tuhan menghukum manusia,” bisiknya.
“Bukan dengan cambuk, tetapi dengan memperlihatkan penderitaan yang tak sanggup kita hentikan.”
Yono memandang lelaki tua itu sekilas, lalu kembali melayani pembeli.
Sementara itu, di ujung tikungan, matahari mulai muncul perlahan.
Cahayanya jatuh ke jalan yang basah oleh embun.
Tetapi bagi lelaki tua itu, pagi tetap terasa gelap.
Santi tinggal di sebuah kamar kontrakan yang sempit di belakang terminal.
Dindingnya lembap. Catnya mengelupas. Bila hujan turun, air menetes dari atap seng ke dalam ember plastik yang telah lama kehilangan warna.
Di atas meja kecil tergeletak sebuah pigura kusam.
Seorang anak perempuan tersenyum di dalamnya.
Regina.
Setiap pulang menjelang subuh, Santi selalu mengusap bingkai foto itu sebelum berganti pakaian. Tak ada lagi yang dapat diusapnya. Tubuh kecil itu telah lama berbaring di dalam tanah.
Regina meninggal setahun yang lalu.
Polisi menyebutnya korban pembunuhan.
Surat kabar hanya menulis dua baris berita.
Seorang anak perempuan ditemukan meninggal setelah diduga menjadi korban kekerasan seksual.
Sesudah itu, dunia kembali sibuk oleh berita-berita lain.
Tak ada yang bertanya siapa ibunya.
Tak ada yang peduli bagaimana seorang perempuan menguburkan anak semata wayangnya dengan uang pinjaman tetangga.
Malam itu juga Santi merasa hidupnya telah selesai.
Ia tetap bernafas, tetapi hanya karena kematian tidak datang ketika dipanggil.
Pagi itu ia kembali singgah di warung Yono.
“Orang tua itu belum datang lagi?” tanyanya.
Yono menggeleng.
“Katanya sakit. Sudah beberapa hari tidur di jembatan penyeberangan.”
Entah mengapa dada Santi berdesir.
Tatapan lelaki tua itu terus mengikutinya.
Tatapan yang tidak pernah meminta apa-apa.
Tatapan yang justru seperti sedang memohon maaf.
“Aku mau melihatnya,” kata Santi tiba-tiba.
Yono menunjuk ke arah jembatan yang menjulang tak jauh dari terminal.
“Kalau masih hidup, biasanya di sana.”
Menjelang malam hujan turun rintik-rintik.
Lampu kendaraan memantulkan cahaya kuning di jalan yang basah.
Santi menaiki tangga jembatan penyeberangan dengan langkah pelan.
Di sudut jembatan itu, seorang lelaki tua terbaring meringkuk.
Tubuhnya menggigil.
Wajahnya pucat.
Tak ada seorang pun yang berhenti.
Orang-orang melangkah melewatinya seolah tubuh renta itu hanyalah karung bekas yang dibuang seseorang.
Santi mendekat.
“Pak…”
Lelaki tua itu membuka mata.
Lama sekali ia menatap wajah perempuan di hadapannya.
Dua butir air mata mengalir perlahan di pipinya yang cekung.
Dengan suara nyaris tak terdengar ia berbisik,
“…maafkan Ayah…”
Santi membeku.
Dadanya bergemuruh.
Ia belum pernah menceritakan masa lalunya kepada siapa pun.
Tak mungkin lelaki itu mengenalnya.
Namun kata Ayah meluncur begitu saja dari bibir yang sedang direnggut demam.
Perlahan Santi duduk di sampingnya.
Tangannya menyentuh dahi lelaki tua itu yang panas.
Lalu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia memberanikan diri bertanya,
“Siapa nama anak Bapak?”
Lelaki tua itu menarik napas panjang. Dadanya turun naik seperti hendak mengangkat beban yang terlalu berat untuk ditanggung seorang diri.
“Santi…” bisiknya. “Namanya… Santi.”
Perempuan itu memejamkan mata.
Hujan masih turun, tipis seperti tirai yang menggantung di antara masa lalu dan masa kini.
“Siapa nama istri Bapak?” tanyanya lagi.
“Maria…”
Suara itu patah.
“…aku membunuhnya.”
Tak ada lagi yang perlu dijelaskan.
Dua belas tahun, penjara, tikungan, dan tatapan yang selama berhari-hari terasa akrab, tiba-tiba menjelma menjadi satu kenyataan yang tak dapat diingkari.
Santi memandang wajah renta itu. Wajah yang selama puluhan tahun hanya dikenalnya lewat sebuah foto usang dengan sudut yang robek. Wajah yang selama ini dibencinya tanpa pernah benar-benar diingat.
“Aku Santi,” katanya pelan.
Lelaki tua itu mencoba bangkit. Tubuhnya gemetar. Bibirnya terbuka, tetapi tak satu pun kata keluar. Air mata mengalir tanpa suara.
“Ayah…”
Hanya satu kata itu yang mampu diucapkannya.
Namun Santi mengangkat tangan, menghentikan kalimat yang belum sempat lahir.
“Jangan.”
Suara perempuan itu tenang. Terlalu tenang untuk ukuran seseorang yang baru menemukan ayahnya.
“Dua belas tahun yang lalu Ayah kehilangan seorang anak.”
Ia berhenti sejenak.
“Setahun yang lalu… aku kehilangan seorang anak.”
Lelaki tua itu menatapnya.
“Namanya Regina.”
Nama itu jatuh seperti batu yang menghantam dasar jiwa.
“Dia diperkosa. Lalu dibunuh.”
Lelaki tua itu memejamkan mata. Nafasnya tersengal.
Santi mengeluarkan beberapa lembar uang dari tasnya. Diselipkannya uang itu ke dalam telapak tangan lelaki tua tersebut.
“Bukan untuk menebus masa lalu,” katanya lirih. “Tak ada uang yang mampu melakukan itu.”
Ia berdiri.
“Regina sekarang bersama neneknya.”
Matanya menatap langit yang mulai memucat di ufuk timur.
“Semoga… suatu hari nanti Tuhan mempertemukan mereka dengan seorang laki-laki yang sudah benar-benar bertobat.”
Santi berbalik.
Langkahnya perlahan menuruni tangga jembatan.
Tak sekalipun ia menoleh.
Lelaki tua itu memandang punggung perempuan itu hingga hilang di balik tikungan jalan, tempat pertama kali ia melihatnya beberapa hari yang lalu.
Di tangannya, beberapa lembar uang telah basah oleh hujan dan air mata.
Subuh pun datang.
Azan berkumandang dari surau yang tak terlihat.
Lelaki tua itu menengadah.
Untuk pertama kalinya setelah dua belas tahun, ia tidak meminta agar dosanya diampuni.
Ia hanya memohon agar luka yang diwariskannya tidak lagi beranak-pinak pada kehidupan orang lain.
Di bawah langit yang mulai terang, tikungan itu kembali lengang.
Seolah tak pernah menjadi tempat dua kehidupan yang saling mencari,
Jakarta mei 2025.





