Jumat, 03 Juli 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

KETIKA LANGIT MENULIS TAKDIR DI DAUN-DAUN WAKTU

Oleh: Rizal Tanjung

Jangan bertanya
kepada langit
mengapa ia membentangkan
biru dan kelam
pada lembar hari
yang sama.

Baca juga: 23 Mahasiswa Manajemen UNCRI Tuntaskan Ujian Skripsi, Wisuda Angkatan II Digelar Agustus 2026

Sebab langit
tidak pernah menulis
takdir
dengan tinta cahaya saja.

Ia mencelupkan pena-Nya
ke dalam embun
dan air mata,
ke dalam tawa
dan kehilangan,
ke dalam hujan
dan matahari,
lalu menuliskannya
di daun-daun waktu
yang terus berguguran
menuju keabadian.

Di sanalah
setiap manusia
membaca hidupnya,
meski tak pernah
benar-benar mampu
membaca
maksud Sang Penulis.

Baca juga: Suara Puisi yang Menjelajah Dunia  Catatan Boyke Sulaiman tentang Andria C. Tamsin   

Aku belajar
kepada sungai
yang tidak pernah
mengutuk batu.

Setiap benturan
adalah aksara
yang mengajari air
cara bernyanyi.

Setiap tikungan
adalah doa
yang mengajari arus
cara bersabar.

Setiap lumpur
adalah kitab
yang mengajari kejernihan
bahwa asal-usul
tak pernah keruh,
yang keruh
hanyalah perjalanan.

Maka
mengapa manusia
begitu takut
kepada luka,

padahal luka
adalah mata pena
yang dipakai Tuhan
untuk menulis
kedewasaan
di dinding jiwa?

Aku belajar
kepada hujan.

Ia turun
tanpa memilih
atap siapa
yang akan dibasahinya.

Ia memeluk
ladang yang retak,
hutan yang haus,
akar yang nyaris putus asa,
dan bunga
yang diam-diam
menunggu
kehadirannya
dalam doa.

Tidak pernah
ada hujan
yang jatuh
karena kebencian.

Ia hanya
mengantar rahmat
yang belum sempat
dikenali manusia.

Betapa sering
kita menamakan
musibah,

padahal langit
sedang mengandung
keajaiban.

Betapa sering
kita menyebut
keberuntungan,

padahal di baliknya
tersimpan ujian
yang lebih sunyi
daripada malam.

Aku belajar
kepada pohon.

Semakin tinggi
ia menjulang,

semakin dalam
akarnya
mencium bumi.

Ia tidak
membanggakan daun.

Tidak pula
membanggakan buah.

Ia hanya
diam,
bertumbuh,
bersujud
kepada angin.

Dan angin
mengajarinya,

bahwa kelenturan
lebih panjang umur
daripada kesombongan.

Betapa banyak
manusia
ingin menyentuh langit,

tetapi lupa
mencintai tanah.

Ingin menjadi puncak,

namun enggan
menjadi akar.

Padahal
setiap kemuliaan
selalu lahir
dari kerendahan
yang tak pernah
mengiklankan dirinya.

Aku belajar
kepada laut.

Ia menerima
semua sungai,

baik yang jernih
maupun yang keruh.

Ia tidak bertanya
dari gunung mana
air itu berasal.

Ia hanya memeluk.

Barangkali
itulah sebabnya
lautan
tak pernah kehilangan
keluasannya.

Hati
yang mengenal syukur
pun demikian.

Ia menerima
tawa
dan tangis
sebagai dua ombak
yang sama-sama
menuju pantai
keabadian.

Aku belajar
kepada api.

Api
tidak membenci emas.

Ia hanya
menghapus
segala yang palsu.

Besi
yang ditempa
menjadi pedang.

Tanah liat
yang dibakar
menjadi kendi.

Tebu
yang diperas
menjadi manis.

Gandum
yang dihancurkan
menjadi roti.

Demikian pula
jiwa.

Ia tidak dilahirkan
untuk dimanja.

Ia dilahirkan
untuk disempurnakan.

Maka
setiap ujian
adalah bengkel
tempat langit
memperbaiki
retakan-retakan
yang tak terlihat
oleh mata manusia.

Aku belajar
kepada burung.

Ia tidur
di ranting rapuh,

namun bangun
dengan nyanyian.

Ia tidak memiliki
lumbung.

Tidak memiliki
jaminan hari esok.

Tetapi ia memiliki
kepercayaan.

Dan kepercayaan
lebih kuat
daripada gunung.

Lebih luas
daripada samudra.

Lebih terang
daripada matahari
yang hanya terbit
sekali sehari.

Sebab iman
adalah fajar
yang tidak pernah
ditelan malam.

Aku belajar
kepada daun.

Ia tidak menolak
gugur.

Ia tahu,

jatuh
bukanlah kehancuran.

Jatuh
adalah cara
bumi
mengubah kehidupan
menjadi kehidupan
yang baru.

Maka
setiap perpisahan
sesungguhnya
adalah musim.

Setiap kehilangan
adalah jalan pulang.

Setiap air mata
adalah benih
yang diam-diam
ditanam Tuhan
di ladang hati.

Aku belajar
kepada malam.

Malam
tidak diciptakan
untuk menakut-nakuti.

Ia hanyalah
kanvas hitam

agar cahaya
sekecil apa pun
menjadi berarti.

Bintang-bintang
tidak pernah
berteriak.

Namun
mereka cukup
untuk menunjukkan
arah
kepada pengembara.

Begitulah
orang-orang sabar.

Mereka
tidak selalu
didengar dunia.

Namun
langit
menuliskan nama mereka
dengan cahaya
yang tak pernah
dipadamkan waktu.

Aku belajar
kepada angin.

Ia tak memiliki
alamat.

Namun ia selalu
membawa doa.

Ia mengangkat
daun-daun gugur,

mengantar
aroma bunga,

membelai
keringat petani,

mengusap
air mata ibu,

lalu menerbangkan
semuanya
ke langit
tanpa pernah
meminta dikenang.

Demikian pula
amal yang ikhlas.

Ia tidak memerlukan
saksi manusia.

Karena Tuhan
tak pernah
lalai membaca
bahasa diam.

Lalu aku belajar
kepada waktu.

Waktu
tidak pernah
mencuri apa pun.

Ia hanya
mengembalikan
segala sesuatu
kepada asalnya.

Masa kecil
kepada kenangan.

Masa muda
kepada kebijaksanaan.

Tubuh
kepada tanah.

Napas
kepada Pemilik-Nya.

Dan hati
kepada cahaya
yang selama ini
diam-diam
membimbingnya.

Kini aku mengerti,

bahwa bahagia
dan sengsara

bukanlah
dua musuh
yang saling bermusuhan.

Mereka
adalah dua sungai
yang mengalir
dari mata air
kebijaksanaan
yang sama.

Yang satu
membasuh wajah.

Yang satu lagi
membasuh jiwa.

Yang satu
mengajarkan
cara tersenyum.

Yang lain
mengajarkan
cara bersujud.

Dan hanya
mereka
yang meminum
keduanya
dengan hati
yang lapang,

akan memahami,

bahwa syukur
bukanlah ucapan,

melainkan
cara jiwa
bernapas.

Maka
jika suatu hari
langitmu
dipenuhi mendung,

jangan tergesa
menyebutnya
petaka.

Barangkali
awan itu
sedang menulis
pelangi.

Jika suatu hari
jalanmu
dipenuhi duri,

jangan buru-buru
mengutuk perjalanan.

Barangkali
langkahmu
sedang diarahkan
menuju taman
yang tak pernah
kau bayangkan.

Jika suatu hari
air matamu
jatuh
ke bumi,

biarkan ia jatuh.

Sebab bahkan
awan
harus menangis
agar bumi
mampu tersenyum.

Dan apabila
kelak

seluruh musim
telah selesai,

daun-daun usia
telah gugur,

burung-burung waktu
telah kembali
ke sarangnya,

ombak
telah meletakkan
gelisahnya,

matahari
telah memadamkan
api senjanya,

dan malam
membuka
gerbang keabadian,

aku ingin pulang

bukan
membawa mahkota,

bukan
membawa pujian,

bukan
membawa nama
yang diagungkan dunia.

Aku ingin pulang
membawa
sehelai hati,

yang telah belajar
mengubah
setiap luka
menjadi hikmah,

setiap kehilangan
menjadi keikhlasan,

setiap tangis
menjadi doa,

setiap derita
menjadi kasih,

setiap langkah
menjadi ibadah,

dan setiap
hela napas

menjadi syukur.

Karena akhirnya
aku mengerti,

bahwa seluruh perjalanan
di bawah langit,

seluruh hujan
yang pernah membasahi jiwa,

seluruh api
yang pernah menempa dada,

seluruh angin
yang menggugurkan
daun-daun usia,

seluruh sungai
yang menyerahkan dirinya
kepada laut,

seluruh bintang
yang menyalakan
malam-malam panjang,

seluruh fajar
yang menghafal
nama harapan,

seluruh bumi
yang memeluk
jejak-jejak kaki,

dan seluruh waktu
yang terus
menggugurkan musim,

hanyalah jalan-jalan sunyi
yang diam-diam
menuntun manusia
untuk mengenal
Pemilik Cahaya.

Maka ketika
langit akhirnya
menutup
kitab kehidupan,

aku tak ingin berkata,

“Ya Tuhan,
aku telah memiliki dunia.”

Aku hanya ingin
tersenyum
dengan seluruh
kerendahan cintaku,

lalu berbisik,

“Ya Tuhan,
aku telah menemukan-Mu
di setiap musim
yang Engkau tuliskan
di daun-daun waktu.

Dan kini,
izinkanlah
jiwaku
pulang,

seperti sungai
yang akhirnya
kembali
kepada laut-Mu
yang tak bertepi.”


Sumatera Barat, Indonesia, 2026

Oleh: Rizal Tanjung

Jangan bertanya
kepada langit
mengapa ia membentangkan
biru dan kelam
pada lembar hari
yang sama.

Sebab langit
tidak pernah menulis
takdir
dengan tinta cahaya saja.

Ia mencelupkan pena-Nya
ke dalam embun
dan air mata,
ke dalam tawa
dan kehilangan,
ke dalam hujan
dan matahari,
lalu menuliskannya
di daun-daun waktu
yang terus berguguran
menuju keabadian.

Di sanalah
setiap manusia
membaca hidupnya,
meski tak pernah
benar-benar mampu
membaca
maksud Sang Penulis.

Aku belajar
kepada sungai
yang tidak pernah
mengutuk batu.

Setiap benturan
adalah aksara
yang mengajari air
cara bernyanyi.

Setiap tikungan
adalah doa
yang mengajari arus
cara bersabar.

Setiap lumpur
adalah kitab
yang mengajari kejernihan
bahwa asal-usul
tak pernah keruh,
yang keruh
hanyalah perjalanan.

Maka
mengapa manusia
begitu takut
kepada luka,

padahal luka
adalah mata pena
yang dipakai Tuhan
untuk menulis
kedewasaan
di dinding jiwa?

Aku belajar
kepada hujan.

Ia turun
tanpa memilih
atap siapa
yang akan dibasahinya.

Ia memeluk
ladang yang retak,
hutan yang haus,
akar yang nyaris putus asa,
dan bunga
yang diam-diam
menunggu
kehadirannya
dalam doa.

Tidak pernah
ada hujan
yang jatuh
karena kebencian.

Ia hanya
mengantar rahmat
yang belum sempat
dikenali manusia.

Betapa sering
kita menamakan
musibah,

padahal langit
sedang mengandung
keajaiban.

Betapa sering
kita menyebut
keberuntungan,

padahal di baliknya
tersimpan ujian
yang lebih sunyi
daripada malam.

Aku belajar
kepada pohon.

Semakin tinggi
ia menjulang,

semakin dalam
akarnya
mencium bumi.

Ia tidak
membanggakan daun.

Tidak pula
membanggakan buah.

Ia hanya
diam,
bertumbuh,
bersujud
kepada angin.

Dan angin
mengajarinya,

bahwa kelenturan
lebih panjang umur
daripada kesombongan.

Betapa banyak
manusia
ingin menyentuh langit,

tetapi lupa
mencintai tanah.

Ingin menjadi puncak,

namun enggan
menjadi akar.

Padahal
setiap kemuliaan
selalu lahir
dari kerendahan
yang tak pernah
mengiklankan dirinya.

Aku belajar
kepada laut.

Ia menerima
semua sungai,

baik yang jernih
maupun yang keruh.

Ia tidak bertanya
dari gunung mana
air itu berasal.

Ia hanya memeluk.

Barangkali
itulah sebabnya
lautan
tak pernah kehilangan
keluasannya.

Hati
yang mengenal syukur
pun demikian.

Ia menerima
tawa
dan tangis
sebagai dua ombak
yang sama-sama
menuju pantai
keabadian.

Aku belajar
kepada api.

Api
tidak membenci emas.

Ia hanya
menghapus
segala yang palsu.

Besi
yang ditempa
menjadi pedang.

Tanah liat
yang dibakar
menjadi kendi.

Tebu
yang diperas
menjadi manis.

Gandum
yang dihancurkan
menjadi roti.

Demikian pula
jiwa.

Ia tidak dilahirkan
untuk dimanja.

Ia dilahirkan
untuk disempurnakan.

Maka
setiap ujian
adalah bengkel
tempat langit
memperbaiki
retakan-retakan
yang tak terlihat
oleh mata manusia.

Aku belajar
kepada burung.

Ia tidur
di ranting rapuh,

namun bangun
dengan nyanyian.

Ia tidak memiliki
lumbung.

Tidak memiliki
jaminan hari esok.

Tetapi ia memiliki
kepercayaan.

Dan kepercayaan
lebih kuat
daripada gunung.

Lebih luas
daripada samudra.

Lebih terang
daripada matahari
yang hanya terbit
sekali sehari.

Sebab iman
adalah fajar
yang tidak pernah
ditelan malam.

Aku belajar
kepada daun.

Ia tidak menolak
gugur.

Ia tahu,

jatuh
bukanlah kehancuran.

Jatuh
adalah cara
bumi
mengubah kehidupan
menjadi kehidupan
yang baru.

Maka
setiap perpisahan
sesungguhnya
adalah musim.

Setiap kehilangan
adalah jalan pulang.

Setiap air mata
adalah benih
yang diam-diam
ditanam Tuhan
di ladang hati.

Aku belajar
kepada malam.

Malam
tidak diciptakan
untuk menakut-nakuti.

Ia hanyalah
kanvas hitam

agar cahaya
sekecil apa pun
menjadi berarti.

Bintang-bintang
tidak pernah
berteriak.

Namun
mereka cukup
untuk menunjukkan
arah
kepada pengembara.

Begitulah
orang-orang sabar.

Mereka
tidak selalu
didengar dunia.

Namun
langit
menuliskan nama mereka
dengan cahaya
yang tak pernah
dipadamkan waktu.

Aku belajar
kepada angin.

Ia tak memiliki
alamat.

Namun ia selalu
membawa doa.

Ia mengangkat
daun-daun gugur,

mengantar
aroma bunga,

membelai
keringat petani,

mengusap
air mata ibu,

lalu menerbangkan
semuanya
ke langit
tanpa pernah
meminta dikenang.

Demikian pula
amal yang ikhlas.

Ia tidak memerlukan
saksi manusia.

Karena Tuhan
tak pernah
lalai membaca
bahasa diam.

Lalu aku belajar
kepada waktu.

Waktu
tidak pernah
mencuri apa pun.

Ia hanya
mengembalikan
segala sesuatu
kepada asalnya.

Masa kecil
kepada kenangan.

Masa muda
kepada kebijaksanaan.

Tubuh
kepada tanah.

Napas
kepada Pemilik-Nya.

Dan hati
kepada cahaya
yang selama ini
diam-diam
membimbingnya.

Kini aku mengerti,

bahwa bahagia
dan sengsara

bukanlah
dua musuh
yang saling bermusuhan.

Mereka
adalah dua sungai
yang mengalir
dari mata air
kebijaksanaan
yang sama.

Yang satu
membasuh wajah.

Yang satu lagi
membasuh jiwa.

Yang satu
mengajarkan
cara tersenyum.

Yang lain
mengajarkan
cara bersujud.

Dan hanya
mereka
yang meminum
keduanya
dengan hati
yang lapang,

akan memahami,

bahwa syukur
bukanlah ucapan,

melainkan
cara jiwa
bernapas.

Maka
jika suatu hari
langitmu
dipenuhi mendung,

jangan tergesa
menyebutnya
petaka.

Barangkali
awan itu
sedang menulis
pelangi.

Jika suatu hari
jalanmu
dipenuhi duri,

jangan buru-buru
mengutuk perjalanan.

Barangkali
langkahmu
sedang diarahkan
menuju taman
yang tak pernah
kau bayangkan.

Jika suatu hari
air matamu
jatuh
ke bumi,

biarkan ia jatuh.

Sebab bahkan
awan
harus menangis
agar bumi
mampu tersenyum.

Dan apabila
kelak

seluruh musim
telah selesai,

daun-daun usia
telah gugur,

burung-burung waktu
telah kembali
ke sarangnya,

ombak
telah meletakkan
gelisahnya,

matahari
telah memadamkan
api senjanya,

dan malam
membuka
gerbang keabadian,

aku ingin pulang

bukan
membawa mahkota,

bukan
membawa pujian,

bukan
membawa nama
yang diagungkan dunia.

Aku ingin pulang
membawa
sehelai hati,

yang telah belajar
mengubah
setiap luka
menjadi hikmah,

setiap kehilangan
menjadi keikhlasan,

setiap tangis
menjadi doa,

setiap derita
menjadi kasih,

setiap langkah
menjadi ibadah,

dan setiap
hela napas

menjadi syukur.

Karena akhirnya
aku mengerti,

bahwa seluruh perjalanan
di bawah langit,

seluruh hujan
yang pernah membasahi jiwa,

seluruh api
yang pernah menempa dada,

seluruh angin
yang menggugurkan
daun-daun usia,

seluruh sungai
yang menyerahkan dirinya
kepada laut,

seluruh bintang
yang menyalakan
malam-malam panjang,

seluruh fajar
yang menghafal
nama harapan,

seluruh bumi
yang memeluk
jejak-jejak kaki,

dan seluruh waktu
yang terus
menggugurkan musim,

hanyalah jalan-jalan sunyi
yang diam-diam
menuntun manusia
untuk mengenal
Pemilik Cahaya.

Maka ketika
langit akhirnya
menutup
kitab kehidupan,

aku tak ingin berkata,

“Ya Tuhan,
aku telah memiliki dunia.”

Aku hanya ingin
tersenyum
dengan seluruh
kerendahan cintaku,

lalu berbisik,

“Ya Tuhan,
aku telah menemukan-Mu
di setiap musim
yang Engkau tuliskan
di daun-daun waktu.

Dan kini,
izinkanlah
jiwaku
pulang,

seperti sungai
yang akhirnya
kembali
kepada laut-Mu
yang tak bertepi.”


Sumatera Barat, Indonesia, 2026

Kategori:
Tags:

Terkini