Minggu, 28 Juni 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

IOSoP 2026 Tegaskan Puisi sebagai Suara Kemanusiaan di Era Digital, Ketua Panitia: Kualitas Seminar Tetap Terjaga Meski Digelar Sepenuhnya Daring

Laporan Paulus Laratmase

PADANG — suaraanaknegeri.com| Ketua Panitia The Second International Online Seminar on Poetry (IOSoP 2026), Yusuf Achmad, M.Pd., menegaskan bahwa pelaksanaan seminar yang tahun ini diselenggarakan sepenuhnya secara daring tidak mengurangi kualitas akademik maupun substansi kegiatan. Justru sebaliknya, format virtual menjadi ruang yang lebih luas bagi para akademisi, penyair, penulis, peneliti, guru, mahasiswa, dan pegiat literasi dari berbagai negara untuk saling bertukar gagasan mengenai peran puisi dan karya kreatif dalam membangun literasi, kemanusiaan, perdamaian, serta mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).

Baca juga: Filosofi Hidup dari Secangkir Kopi

Pernyataan ini disampaikan Yusuf Achmad dalam sambutannya pada pembukaan The Second International Online Seminar on Poetry (IOSoP 2026) yang berlangsung secara daring melalui Zoom Meeting pada Sabtu, 27 Juni 2026. Seminar internasional yang mengangkat tema “Poetry and Creative Works for Literacy, Humanity, Peace, and Sustainable Development Goals: Giving Voice to the Voiceless in the Digital Era.”

Dalam sambutannya, Yusuf Achmad menyampaikan penghormatan kepada seluruh tamu undangan, narasumber, penyair, akademisi, pemerhati sastra, serta panitia pelaksana yang telah berkontribusi menyukseskan penyelenggaraan seminar internasional tersebut. Ia juga memberikan apresiasi kepada CEO SuaraNegeri.com, Paulus Laratmase, beserta seluruh pihak yang memberikan dukungan terhadap terselenggaranya kegiatan ilmiah dan kebudayaan tersebut.

Baca juga: Cara-Nya Memeluk Semua Lukamu

Yusuf mengenang keberhasilan penyelenggaraan seminar internasional pertama yang dilaksanakan secara hibrida di Universitas Negeri Padang. Menurutnya, kegiatan tersebut memperoleh sambutan yang sangat positif dari kalangan akademisi, sastrawan, mahasiswa, hingga pemerintah daerah.

“Saya masih ingat betapa hangatnya sambutan para pecinta sastra, akademisi, sastrawan, bahkan dari Wakil Bupati Padang Pariaman. Antusiasme peserta yang hadir secara langsung maupun daring menjadi bukti bahwa puisi tetap memiliki ruang penting dalam dunia akademik dan kehidupan masyarakat,” ujarnya.

Memasuki penyelenggaraan tahun kedua, Yusuf mengakui adanya perubahan format menjadi sepenuhnya daring. Namun, ia menegaskan bahwa perubahan metode pelaksanaan sama sekali tidak mengurangi mutu seminar.

“Apakah pembelajaran tahun ini berbeda? Jawabannya ya. Berbeda karena tahun ini kita melaksanakan sepenuhnya secara daring. Namun, apakah kualitasnya menurun? Jawabannya pasti tidak,” tegasnya.

Ia menjelaskan bahwa panitia terus melakukan berbagai inovasi agar seminar tetap menghadirkan pengalaman akademik yang berkualitas. Selain mempertahankan mutu materi ilmiah yang dipresentasikan, panitia juga menghadirkan sejumlah pembaruan dalam pelaksanaan kegiatan sehingga interaksi peserta tetap berlangsung secara efektif meskipun melalui platform digital.

Menurut Yusuf, perkembangan teknologi digital justru membuka peluang yang lebih besar bagi generasi muda untuk memanfaatkan ruang virtual sebagai media penyebaran ilmu pengetahuan, sastra, dan budaya. Platform digital, katanya, tidak hanya menjadi sarana komunikasi, tetapi juga wahana membangun ekosistem literasi yang inklusif serta menjangkau masyarakat global.

Salah satu bentuk inovasi penyelenggaraan IOSoP 2026 adalah pemberian kesempatan kepada lebih banyak presenter untuk berpartisipasi. Mengingat keterbatasan waktu seminar, hanya sebagian presenter yang menyampaikan makalah secara langsung melalui Zoom Meeting. Sementara presenter lainnya tetap memperoleh kesempatan menyampaikan gagasannya melalui video presentasi yang ditayangkan pada kanal YouTube resmi seminar. Skema tersebut memungkinkan lebih banyak karya ilmiah dan kreatif dapat dipublikasikan kepada peserta dari berbagai negara.

Dalam kesempatan itu Yusuf juga memberikan penghargaan khusus kepada mahasiswa Universitas Negeri Padang yang menjadi tulang punggung kepanitiaan. Menurutnya, dedikasi para mahasiswa menunjukkan bahwa generasi muda memiliki kapasitas untuk mengelola kegiatan ilmiah bertaraf internasional dengan profesional.

Ia secara khusus menyampaikan apresiasi kepada Sekretaris Panitia, Leni Marlina, dosen Universitas Negeri Padang yang dikenal sebagai akademisi dan sastrawan, atas bimbingan yang diberikan kepada mahasiswa selama proses persiapan hingga pelaksanaan seminar.

“Saya tidak lupa menyampaikan terima kasih kepada panitia pelaksana yang bekerja keras menjaga mutu dan performa acara ini. Mereka adalah mahasiswa Universitas Negeri Padang yang dibimbing oleh Ibu Leni Marlina. Atas nama Ketua Panitia, saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya dan mendoakan semoga seluruh panitia senantiasa diberikan kesehatan, kebahagiaan, serta terus berkarya bagi kemajuan sastra Indonesia,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Yusuf menilai bahwa seminar internasional semacam IOSoP selain forum presentasi ilmiah, tetapi juga menjadi ruang kolaborasi lintas negara yang mempertemukan ilmu pengetahuan, kebudayaan, sastra, dan nilai-nilai kemanusiaan. Melalui dialog akademik tersebut, para peserta diajak untuk memahami bagaimana puisi mampu menjadi medium refleksi sosial sekaligus instrumen transformasi budaya.

Ia juga memberikan apresiasi kepada seluruh penyair, penulis, komunitas sastra, guru, dosen, peneliti, dan akademisi dari dalam maupun luar negeri yang telah berpartisipasi melalui pembacaan puisi, presentasi ilmiah, maupun diskusi akademik selama seminar berlangsung.

Menurut Yusuf, keberagaman perspektif yang hadir dalam seminar internasional dua tahun ini,  memperlihatkan bahwa sastra memiliki kemampuan melampaui batas geografis, bahasa, dan latar belakang budaya. Puisi tidak hanya dipahami sebagai karya estetis, tetapi juga sebagai media advokasi yang mampu menyuarakan kelompok-kelompok yang selama ini kurang memperoleh ruang dalam wacana publik.

Sejalan dengan tema seminar, Yusuf mengajak seluruh peserta untuk terus menjaga keberlangsungan budaya literasi melalui karya-karya kreatif yang berpihak pada nilai-nilai kemanusiaan, perdamaian, dan pembangunan berkelanjutan.

“Mari kita nyalakan terus napas kebudayaan bangsa agar tetap bersinar dan tidak pernah padam. Sastra harus terus menjadi ruang yang menyatukan manusia, memperkuat literasi, serta membangun peradaban yang lebih damai dan berkeadilan,” pungkasnya.

Penyelenggaraan The Second International Online Seminar on Poetry (IOSoP 2026) kembali menegaskan bahwa perkembangan teknologi digital tidak menjadi penghalang bagi pengembangan sastra dan budaya. Sebaliknya, ruang digital justru memperluas akses kolaborasi internasional, memperkuat jejaring akademik, serta menghadirkan kesempatan yang lebih luas bagi lahirnya berbagai gagasan kreatif yang berkontribusi terhadap literasi global, kemanusiaan, perdamaian, dan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).

 

Kategori:
Tags:

Terkini