Oleh: joko
http://suaraanaknegeri.com | Saumlaki, Jumat, 12 Juni 2026 – Di tengah berbagai pergumulan hidup yang kerap membebani langkah manusia, Pastor Pius Heljanan MSC mengajak umat untuk kembali menemukan sumber kekuatan sejati dalam kasih Allah yang tidak pernah dibatasi oleh syarat apa pun.
Dalam refleksi pagi yang disampaikan di Kuasi Paroki Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Lauran, Desa Lauran, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Pastor Pius menegaskan bahwa Yesus selalu membuka pintu bagi siapa saja yang datang kepada-Nya dengan hati yang letih dan berbeban berat.
Mengawali permenungannya dengan kutipan Injil Matius 11:25–30, Pastor Pius mengingatkan sabda Yesus yang menjadi sumber penghiburan bagi banyak orang sepanjang zaman. “Datanglah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat.”
Menurutnya, undangan tersebut menunjukkan bahwa Tuhan memahami seluruh pergumulan manusia, baik yang tampak maupun yang tersembunyi di dalam hati.
Dalam kehidupan sehari-hari, kata Pastor Pius, tidak sedikit orang yang memikul beban batin yang berat. Kemarahan, dendam, kebencian, iri hati, persaingan yang tidak sehat, kesombongan, hingga niat jahat terhadap sesama sering kali menjadi beban yang menghalangi seseorang mengalami damai sejati.
“Dia tahu persoalan dan pergumulan hidupmu. Dia tahu terkadang beban hidup yang kita pikul melumpuhkan langkah kita,” ungkap Pastor Pius dalam refleksinya.
Karena itu, umat diajak untuk belajar dari pribadi Yesus yang penuh kelembutan, kesabaran, kerelaan mengampuni, dan pengorbanan tanpa pamrih. Nilai-nilai tersebut, menurutnya, menjadi jalan menuju pembaruan hati dan kehidupan yang lebih bermakna.
Pastor Pius Heljanan MSC juga menegaskan bahwa kasih Allah bukan sekadar rasa iba atau simpati yang berhenti pada perasaan, melainkan kasih yang diwujudkan melalui tindakan nyata untuk menyelamatkan manusia.
“Kasih Allah pada kita tidak berhenti di perasaan iba, tetapi bermuara pada tindakan kasih dan penyelamatan nyata.”
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kehadiran Tuhan selalu nyata dalam setiap perjalanan hidup manusia, terutama ketika seseorang merasa lemah, terluka, atau kehilangan harapan.
Lebih jauh, Pastor Pius mengajak umat untuk membangun relasi dengan Tuhan yang berakar pada cinta, bukan ketakutan.
“Jangan cari Tuhan karena takut dihukum, tetapi karena merindukan curahan kasih dan pengampunan tanpa syarat.”
Menurutnya, iman yang bertumbuh dari pengalaman kasih akan melahirkan kehidupan yang lebih damai, penuh syukur, dan mampu menghadirkan kasih kepada sesama tanpa memandang perbedaan.
Menutup refleksinya, Pastor Pius Heljanan MSC mengajak umat untuk terus memohon pembaruan hati agar semakin menyerupai hati Yesus yang penuh kasih. “Hati Kudus Yesus, jadikan hati kami serupa dengan Hati-Mu.”
Melalui permenungan ini, umat diingatkan bahwa di tengah segala kelemahan dan keterbatasan manusia, kasih Allah tetap hadir tanpa syarat dan tanpa batas, selalu menanti setiap orang yang datang kepada-Nya dengan kerendahan hati.





