Rabu, 22 April 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

62 Tahun Mengabdi Tanpa Henti: P. Lambertus Somar MSC, Jejak Imam dari Tanimbar untuk Nusantara

P. Anton Fanumbi, MSC

Saumlaki, 21 April 2026 — Sebuah perjalanan panjang penuh iman, pengabdian, dan cinta kasih dirayakan hari ini. P. Lambertus Somar, MSC, genap merayakan 62 tahun tahbisan imamatnya sebagai seorang presbiter dalam Gereja Katolik sekaligus anggota Kongregasi Misionaris Hati Kudus Yesus (MSC). Ia bukan hanya seorang imam, tetapi juga saksi hidup dari kesetiaan panggilan yang melintasi zaman, generasi, dan batas geografis.

Baca juga: Penutupan MTQ XXXI Biak Numfor: Seruan Bupati Markus Mansnembra Melahirkan Generasi Qur’ani di Tanah Papua

Ditahbiskan pada 21 April 1964 di Manado, P. Lambertus Somar tercatat sebagai imam pertama yang berasal dari Kepulauan Tanimbar, tepatnya dari Desa Awear Rumngewur, Fordata. Sebuah tonggak sejarah yang tidak hanya membanggakan tanah Duan Lolat/Kida Bela, tetapi juga menjadi inspirasi panggilan bagi banyak generasi muda di wilayah tersebut. Kini, pada usia imamatnya yang ke-62, beliau juga dikenal sebagai imam tertua dalam Tarekat MSC Provinsi Indonesia.

Kisah hidupnya berakar pada perjalanan keluarga yang sarat dedikasi. Ayahnya, Eusebius Somar, adalah seorang guru yang diutus pada masa pemerintahan Belanda ke Kampung Senam, Kaiburse, di Tanah Marind, Kabupaten Merauke. Di tanah perut bumi Papua itulah P. Lambertus Somar dilahirkan. Meski demikian, identitas kulturalnya tetap kuat tertanam sebagai putra asli Tanimbar Fordata—sebuah perpaduan antara misi pendidikan, iman, dan warisan leluhur yang membentuk karakter pelayanannya.

Lebih dari sekadar menjalankan tugas pastoral, P. Lambertus Somar juga meninggalkan jejak konkret sebagai bentuk cintanya terhadap tarekat MSC dan tanah kelahirannya. Salah satu warisan pentingnya adalah pembangunan Biara MSC Urayana di Saumlaki. Biara ini menjadi rumah rohani bagi para imam MSC, tempat bernaung, berdoa, dan merayakan Ekaristi sebagai sumber kekuatan dalam menjalani karya pelayanan.

Baca juga: SURAT UNTUK ANAK MUDA (2): Tanya Kenapa?

Biara tersebut juga memiliki peran penting sebagai ruang pembinaan spiritualitas Hati Kudus Yesus, yang menjadi inti karisma MSC. Dari tempat ini, nilai-nilai kasih, pengorbanan, dan pelayanan terus ditransmisikan kepada umat Katolik di Tanimbar. Tidak hanya itu, Biara MSC Urayana juga menjadi tempat penuh makna bagi para imam lansia yang telah menyelesaikan masa tugas aktifnya. Dalam suasana persaudaraan, kasih, dan damai, mereka menikmati masa tua dengan sukacita, sembari tetap menjadi sumber inspirasi bagi para imam muda yang sedang berkarya.

Dedikasi panjang P. Lambertus Somar menjadi simbol kesinambungan misi Gereja: dari para misionaris awal hingga generasi penerus. Dalam konteks sejarah, kehadiran para misionaris MSC di Tanimbar, seperti P. Mathias Neyens MSC sebagai penjelajah pertama, menjadi fondasi yang kini dilanjutkan dan diperkokoh oleh figur-figur seperti P. Lambertus.

Momentum 62 tahun imamat ini bukan hanya perayaan personal, tetapi juga perayaan iman komunitas. Ia menjadi cermin dari kesetiaan yang tidak lekang oleh waktu—bahwa panggilan imamat bukan sekadar status, melainkan jalan hidup yang terus diperjuangkan dalam kerendahan hati dan pengorbanan.

Ucapan syukur dan terima kasih mengalir dari berbagai pihak—umat, sesama imam, hingga keluarga besar—atas pengabdian yang telah diberikan. Dalam ungkapan lokal yang sarat makna, terselip doa dan harapan: “Ubilaa norang ita ditinemun, Ratu nberkat kit monuk dedesar.” Sebuah harapan agar berkat Tuhan senantiasa melimpah dalam perjalanan hidup sang yubilaris.

Perayaan ini juga diiringi dengan kenangan visual yang menggambarkan perjalanan hidup dan karya beliau: mulai dari Gereja Sofyanin, Gereja Awear Rumngewur, hingga suasana Biara MSC Saumlaki yang menjadi pusat kehidupan rohani. Ada pula potret kebersamaan para imam MSC di Merauke, kunjungan persaudaraan di Fordata, serta panorama Pantai Kelaan Larat di Selat Worafruan yang menjadi saksi bisu akar budaya dan iman yang menyatu dalam hidupnya.

P. Lambertus Somar MSC bukan hanya seorang imam, tetapi juga warisan hidup Gereja di tanah Tanimbar dan Indonesia. Dalam kesederhanaannya, ia mengajarkan bahwa kesetiaan kecil yang dijalani setiap hari mampu membentuk sejarah besar.

Salve.

Editor: Paulus Laratmase

Kategori:
Tags:

Terkini