Felix Imbang| Penulis
–
Hari ini, 18 April 2026, sepuluh orang muda menerima tahbisan suci, Sakramen Imamat. Sebuah peristiwa yang tidak hanya menandai lahirnya 10 imam baru, tetapi juga menjadi puncak dari sebuah perjalanan panjang yang ditempuh dengan ketekunan, disiplin, dan kesetiaan. Dari sepuluh imam tersebut, tujuh adalah imam diosesan Keuskupan Manado, dan tiga lainnya adalah imam dari tarekat MSC (Missionarius Sacratissimi Cordis Iesu).
Baca juga: Bercinta dengan Matahari
Secara sederhana, imam diosesan adalah mereka yang berkarya langsung di dalam wilayah keuskupan (diosis), dalam hal ini Keuskupan Manado, di bawah kepemimpinan seorang uskup. Mereka kerap dikenal umat sebagai “pastor projo”, dengan singkatan “Pr” di belakang nama. Berbeda dengan imam tarekat, imam diosesan tidak mengucapkan tiga kaul religius (kemiskinan, ketaatan, dan kemurnian), melainkan mengabdikan diri dalam pelayanan pastoral di tengah umat.
Sementara itu, imam MSC tidak hanya menjadi imam, tetapi juga biarawan. Mereka mengucapkan tiga kaul religius dan hidup dalam komunitas tarekat. Tarekat MSC di Indonesia dipimpin oleh seorang provinsial, yang juga disebut sebagai superior daerah. Jalan hidup mereka tidak hanya terikat pada pelayanan sakramental, tetapi juga pada spiritualitas khas tarekat.
Namun, baik imam diosesan maupun imam tarekat, keduanya menempuh satu jalan awal yang sama: seminari.
Baca juga: Hujan Gerimis
Perjalanan itu dimulai dari yang paling dasar: seminari dasar, yaitu keluarga. Di sinilah benih panggilan ditanam, sejak dalam kandungan hingga seorang anak menyelesaikan pendidikan SMP. Nilai-nilai iman, kedisiplinan, dan kehidupan rohani pertama-tama dibentuk dalam lingkungan keluarga.
Setelah itu, perjalanan berlanjut ke Seminari Menengah Kakaskasen, yang ditempuh selama empat tahun. Tiga tahun pertama setara dengan pendidikan SMA, sementara satu tahun tambahan disebut sebagai Kelas Persiapan Atas (KPA). Pada tahap ini, seorang calon mulai mengambil keputusan penting: memilih jalan sebagai calon imam diosesan atau imam biarawan.
Bagi calon imam diosesan, tahap berikutnya adalah Seminari Tahun Rohani “Pondok Emaus” Tateli, yang dijalani selama satu tahun. Fokus utama di sini adalah pembinaan rohani dan pendalaman spiritualitas, sebuah fase penting untuk memurnikan motivasi dan memperdalam relasi dengan Tuhan.
Sementara itu, calon imam tarekat MSC menempuh jalur yang berbeda, yaitu melalui tahap pra-novisiat dan novisiat. Pada tahap ini, mereka mulai mengenakan pakaian rohani (jubah) dan disapa sebagai “Frater”. Ini adalah masa pembentukan identitas sebagai anggota tarekat, sekaligus pendalaman hidup religius.
Tahap berikutnya, yang menjadi inti pembinaan intelektual dan pastoral, adalah Seminari Tinggi Pineleng, yang ditempuh selama delapan tahun. Empat tahun pertama diisi dengan studi filsafat setara sarjana, dengan gelar akademik S.Fils. (dulu S.S.). Setelah itu, para frater menjalani satu tahun Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di paroki, tanpa perkuliahan formal, tetapi belajar langsung dari kehidupan umat.
Kemudian dilanjutkan dengan dua tahun studi tingkat lanjut (tingkat 5 dan 6). Meski sebelumnya tidak menghasilkan gelar magister, kini terdapat perkembangan baru: para frater tingkat lima mulai menjalani program magister, sehingga saat ditahbiskan dapat memperoleh gelar M.Fils., meskipun dalam praktiknya gelar tersebut tidak dicantumkan dalam nama sebagai pastor.
Setelah menyelesaikan tingkat enam, para calon ditahbiskan menjadi diakon dan menjalani tahun diakonal selama kurang lebih satu tahun di paroki. Di sinilah mereka semakin dipersiapkan secara nyata untuk kehidupan pelayanan sebagai imam.
Jika dihitung sejak tamat SMP, seluruh proses ini memakan waktu sekitar 13 tahun. Sebuah perjalanan yang panjang, penuh tantangan, dan menuntut ketangguhan diri. Tidak semua yang memulai akan sampai pada garis akhir. Karena itu, kualitas tetap menjadi prioritas utama.
Hari ini, sepuluh orang ditahbiskan menjadi imam. Jumlah yang bisa dikatakan banyak, mengingat ada masa-masa ketika hanya satu atau dua orang yang mencapai tahbisan. Ini bukan sekadar angka, melainkan tanda harapan bagi Gereja dan umat.
Menjadi imam bukanlah jalan singkat. Ia adalah panggilan yang diuji oleh waktu, dibentuk oleh proses, dan diteguhkan oleh doa. Maka, di balik tahbisan hari ini, ada perjalanan panjang yang sunyi, penuh perjuangan, dan sarat makna.
Jalan panjang itu kini mencapai satu titik: bukan akhir, melainkan awal dari sebuah pengabdian seumur hidup.
Mau coba?

