Jumat, 17 April 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

Yang Tak Terelakkan dalam Us

Elza Peldi Taher

Bulan lalu, satu lagi nama dalam hidup saya berpulang: kakak tertua saya, Asnizar Taher. Ia pergi dalam usia 85 tahun—usia yang panjang, tetapi tetap terasa terlalu cepat bagi yang ditinggalkan. Dari sepuluh bersaudara, kini kami tinggal tiga orang. Tujuh telah mendahului. Eyah dan emak telah lebih dulu pergi puluhan tahun silam, seakan membuka jalan sunyi yang satu per satu kini kami lewati.

Baca juga: Puing

Setiap kehilangan selalu membawa luka yang sama—meski bentuknya berbeda. Dunia mungkin hanya mencatatnya sebagai satu angka yang berkurang, satu nama yang hilang dari daftar kehidupan. Tetapi bagi mereka yang mencintai, kehilangan itu seperti runtuhnya satu bagian dari dunia. Ada ruang yang tiba-tiba kosong, ada suara yang tak lagi terdengar, ada kenangan yang kini hanya bisa dipanggil dalam diam. Dan yang paling terasa: kehilangan tidak pernah selesai dalam satu waktu. Ia tidak berhenti di hari pemakaman. Ia tinggal, mengendap, dan kadang datang kembali tanpa diundang.

Tiap kehilangan pastilah menghadirkan duka yang dalam. Tetapi ada kehilangan yang tidak hanya melukai, melainkan juga mengubah cara kita memandang hidup. Ketika emak berpulang pada tahun 2003, saya memerlukan waktu yang panjang untuk menerima kenyataan itu. Rasanya seperti ada bagian dari diri yang ikut hilang—bukan hanya seorang ibu, tetapi juga tempat pulang, tempat mengadu, dan tempat merasa utuh sebagai seorang anak. Dalam sunyi, kenangan sering datang tanpa diminta. Tiba-tiba masa lalu terlintas begitu jelas—seolah baru saja terjadi kemarin. Wajah-wajah yang dulu terasa biasa, bahkan mungkin menyimpan pahit, kini hadir dengan kehangatan yang tak tergantikan. Anehnya, masa lalu yang dulu terasa biasa saja, kini berubah menjadi manis. Seakan waktu telah menyaringnya, meninggalkan hanya cinta.

Ada keinginan yang sering muncul, sederhana tapi mustahil: mengulang kembali masa-masa itu—duduk bersama keluarga, mendengar suara emak, merasa lengkap seperti dulu. Tetapi hidup tidak memberi kita kemewahan itu. Yang bisa dilakukan hanyalah mendatangi makamnya, duduk berlama-lama di samping pusaranya dalam diam yang terasa penuh. Kadang saya berbicara, seakan emak masih ada. Saya bercerita tentang hal-hal baik yang saya alami dalam hidup—tentang perjalanan yang terus berjalan meski ia telah tiada. Dalam percakapan sunyi itu, selalu ada satu kalimat yang ingin saya sampaikan: terima kasih—atas cinta yang tak pernah putus, atas kenangan yang kini menjadi kekuatan, dan doa yang tak pernah berhenti: semoga emak damai di surga, bersama mereka yang telah lebih dulu berpulang.

Baca juga: LELEMUKU: NYANYIAN CINTA DI AKAR WAKTU

Pada usia yang semakin bertambah, saya mulai menyadari sesuatu yang dulu tak pernah terpikirkan: hidup ini bukan hanya tentang apa yang kita kumpulkan, tetapi juga tentang apa yang perlahan-lahan akan kita lepaskan. Orang tua, saudara, sahabat, bahkan kesehatan, kekuatan, dan sebagian dari diri kita sendiri. Seiring waktu, daftar yang hilang sering kali justru lebih panjang daripada yang bertambah. Dalam salah satu refleksinya, Komaruddin Hidayat pernah menulis bahwa hidup ini pada hakikatnya adalah proses belajar kehilangan. Kedewasaan seseorang tidak hanya diukur dari apa yang berhasil ia raih, tetapi dari kemampuannya menerima apa yang harus ia relakan. Kita tidak pernah benar-benar siap kehilangan, tetapi hidup terus memaksa kita untuk belajar menerima.

Dan agama, diam-diam, telah lebih dulu mengajarkan itu. Dalam Al-Qur’an disebutkan: “Kullu nafsin dza’iqatul maut”—setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian. Bukan hanya sebagai kabar tentang akhir hidup, tetapi juga pengingat bahwa kehilangan adalah hukum Tuhan, bukan sekadar peristiwa hidup. Apa yang kita cintai di dunia ini, pada akhirnya memang tidak ditakdirkan untuk kita miliki selamanya. Maka kehilangan bukanlah penyimpangan dari hidup, melainkan bagian dari rencana-Nya.

Karena kehilangan bukan hanya soal berpisah dengan orang lain, tetapi juga berpisah dengan versi diri kita yang lama. Dulu kita adalah anak yang memiliki orang tua lengkap, lalu menjadi kakak bagi adik-adik, dan perlahan menjadi yang dituakan—yang menyimpan kenangan lebih banyak daripada yang tersisa. Pada titik tertentu, kita tidak lagi hanya mengenang; kita menjadi penjaga kenangan itu sendiri. Maka ketika satu demi satu orang yang kita cintai pergi, yang tersisa bukan hanya duka, tetapi juga tanggung jawab batin: menjaga ingatan, merawat makna, dan melanjutkan hidup dengan hati yang pernah retak, tetapi tidak boleh hancur.

Jawabannya mungkin tidak pernah sederhana. Tetapi barangkali kita bisa mulai dengan menerima bahwa kehilangan adalah bagian tak terpisahkan dari mencintai, bahwa setiap pertemuan memang telah mengandung kemungkinan perpisahan, dan bahwa usia sejatinya adalah perjalanan panjang menuju kemampuan untuk melepaskan—bukan dengan mudah, tetapi dengan perlahan menjadi lebih lapang.

Dalam tradisi tasawuf, dikatakan: apa yang datang dari-Nya tidak pernah benar-benar hilang, ia hanya kembali kepada asalnya. Maka yang tersisa bagi manusia bukanlah kepemilikan, melainkan keikhlasan. Dan mungkin di situlah ketenangan itu bersemayam—ketika kita tidak lagi bertanya mengapa harus kehilangan, tetapi mulai memahami bahwa yang kita cintai tidak pernah benar-benar pergi; ia hanya lebih dahulu sampai.

Pondok Cabe Udik 17 April 2026

Elza Peldi Taher

Kategori:
Tags:

Terkini