Oleh: Era Nurza
–
Setiap 1 Oktober kita disuruh khidmat. Upacara bendera, mengheningkan cipta, baca ikrar kesaktian Pancasila. Seolah-olah pada tahun 1965 itu Pancasila hampir mati dibunuh, lalu hidup lagi dan sakti sampai sekarang.
Baca juga: 113 Tahun Minyak Bula, Mengapa Seram Timur Tetap Miskin?
Pertanyaannya di 2026 ini: sakti apanya?
Pancasila hari ini tidak dibunuh oleh musuh. Ia dibunuh oleh penggemarnya sendiri.
Kita cek satu per satu kesaktiannya di lapangan, bukan di buku PPKn.
Baca juga: MENGUAK PANDANGAN IMMANUEL KANT DALAM PUISI “NASIHAT” KARYA ANTO NARASOMA
1. Ketuhanan Yang Maha Esa: Paling Sakti untuk Menghakimi.
Tuhan kita pakai untuk semua, kecuali untuk menahan diri. Ayat dan dalil paling sakti untuk menyerang kolom komentar orang yang beda agama, beda mazhab, beda orientasi. Tapi tidak cukup sakti untuk mencegah koruptor yang habis korupsi langsung umroh dan bilang “ini ujian dari Tuhan”.
Rumah ibadah orang lain masih dipermasalahkan izinnya. Warung yang buka saat puasa masih disweeping. Tapi menipu, memfitnah, dan korupsi dianggap bukan urusan Tuhan. Urusan Tuhan hanya di hari Jumat dan Minggu saja.
2. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab: Sakti Kalau Ada Kamera.
Kita bangsa yang sangat manusiawi. Buktinya, kalau ada video orang kecelakaan, kita rekam dulu baru ditolong. Kalau ada orang miskin viral, kita nangis di TikTok, donasi Rp 5.000, lalu besoknya kita hujat dia lagi karena dianggap settingan.
Adil? Sangat adil. Hukum sangat adil menghukum pencuri ayam 2 tahun, tapi bingung menghukum perampok uang rakyat triliunan. Beradab? Sangat beradab kepada bule, kepada atasan, kepada yang punya follower banyak. Kepada sesama rakyat kecil? Klakson, makian, dan sikut-sikutan.
3. Persatuan Indonesia: Sakti Saat Final Bola Saja.
Persatuan kita sakti luar biasa, tapi musiman. Bersatu kalau Timnas main. Bersatu kalau ada musuh bersama untuk di-bully di internet. Bersatu kalau ada bencana alam dan butuh konten kemanusiaan.
Selebihnya kita ahli pecah. Beda pilihan presiden, langsung putus persaudaraan. Beda suku, langsung rasis di grup. Beda agama, langsung kafir-mengkafirkan. Beda klub motor saja bisa bacok-bacokan. Bhineka Tunggal Ika sudah berubah jadi Bhineka Tunggal Terserah.
Gotong royong? Masih ada. Gotong royong ghibahin tetangga. Gotong royong jaga gengsi di arisan. Tapi gotong royong jaga lingkungan, jaga fasilitas umum? Lihat saja patung Garuda di taman kota, penuh coretan dan sampah.
4. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan: Sakti di Sidang, Hilang di Jalan.
Permusyawaratan perwakilan kita sekarang sangat canggih. Rakyat bermusyawarah di media sosial sampai urat leher putus, wakilnya bermusyawarah di gedung ber-AC untuk menaikkan tunjangan sendiri. Hikmat kebijaksanaan sudah diganti dengan “hikmat kebijaksanaan siapa yang paling banyak modal”.
Kita disuruh musyawarah untuk mufakat, tapi kalau mufakatnya tidak sesuai keinginan penguasa, mufakatnya yang dibatalkan. Demokrasi kita sakti: bebas bicara apa saja, asal siap dibungkam setelahnya.
5. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia: Ini Puncak Kesaktiannya.
Sila ini paling sakti karena berhasil membuat kita percaya keadilan itu ada, padahal kita tidak pernah melihatnya.
Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Seluruh rakyat yang mana? Yang punya akses? Yang dekat dengan kekuasaan? Yang bisa bayar?
Harga pendidikan makin tidak adil, harga kesehatan makin tidak sosial, lapangan kerja makin tidak untuk seluruh rakyat. Tapi spanduknya tetap ada di setiap kantor kelurahan. Tulisannya besar, pelaksanaannya kecil.
Kesimpulan Pahit 1 Oktober 2026:
Pancasila itu tidak lemah. Ia sakti. Ia berhasil bertahan dari pemberontakan bersenjata tahun 1965.
Tapi ia tidak pernah dirancang untuk bertahan dari serangan yang lebih mematikan: kemunafikan, kepura-puraan, dan rasa malas kita sendiri.
Kita tidak perlu gerakan rahasia untuk mengganti Pancasila. Cukup kita biarkan saja seperti sekarang: dipuja di upacara, dibuang di kehidupan nyata.
Pancasila tidak butuh diperingati setahun sekali dengan upacara. Ia butuh dipraktekkan setiap hari tanpa upacara.
Kalau tidak, jangan salahkan sejarah kalau nanti anak cucu kita mengira Pancasila itu hanya nama gedung, nama jalan, dan nama lomba pidato di sekolah.
Selamat Hari Kesaktian Pancasila.
Semoga Pancasilanya tetap sakti. Semoga manusianya segera sadar.
Padang, 1 Oktober 2026


