Kamis, 17 September 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

Air Mata di Kaki Sang Guru: Sebuah Pengakuan Tulus dari Pesisir Lauran

Oleh: Johanis Kopong

Baca juga: Polres Kepulauan Tanimbar Serahkan Tersangka Dugaan Penganiayaan kepada Jaksa

Minyak Wangi dan Ampunan: Ketika Ketulusan Hati Meluluhkan Penghakiman

Kepulauan Tanimbar | suaraanaknegeri.com – Kamis, 17 September 2026

​Di sudut Desa Lauran, Kecamatan Tanimbar Selatan, hembusan angin laut Kepulauan Tanimbar membawa kedamaian yang sunyi. Di sinilah, dari Kuasi Paroki Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Lauran, sebuah pesan kemanusiaan yang begitu hangat bergema. Pastor Pius Heljanan, MSC, membagikan sebuah perenungan mendalam tentang penerimaan, pengampunan, dan keberanian untuk jujur pada diri sendiri—sebuah kisah klasik dari rumah Simon sang Farisi yang senantiasa relevan menembus zaman.

Baca juga: Menimbang Buah-Buah Hikmat: Renungan Kasih dan Kerendahan Hati dari Manila

​Ruang Bagi Jiwa yang Terluka

​Kisah bermula ketika seorang wanita yang dicap pendosa melangkah masuk ke rumah Simon. Tanpa kata-kata indah, ia hanya membawa air mata yang menetes membasahi kaki Yesus, mengusapnya dengan helaian rambut, lalu mengoleskan minyak wangi terbaik yang miliknya. Di tengah pandangan sinis orang-orang yang merasa suci, tindakan wanita itu justru disambut dengan kehangatan yang meluluhkan.

​Pastor Pius Heljanan, MSC, menyentuh sisi paling manusiawi dari peristiwa tersebut. Beliau menuturkan betapa besarnya arti sebuah penerimaan tanpa syarat. “Dosanya yang banyak telah diampuni, karena ia telah banyak berbuat kasih,” ungkap Pastor Pius mengutip petikan Injil Lukas, menggambarkan bagaimana kasih mampu memulihkan jiwa yang hancur.

​Cermin Diri dan Keberanian Menunduk

​Melalui narasi ini, kita diajak bertatap muka dengan cermin kehidupan. Betapa sering manusia berlaku seperti Simon—merasa bersih, berdiri di atas mimbar kebenaran diri, lalu dengan mudah melayangkan penghakiman atas cela sesamanya. Padahal, di hadapan Sang Pencipta, tak ada satu pun manusia yang benar-benar bersih dari kelemahan.

​Mengajak setiap insan untuk berani merendahkan hati dan melepaskan prasangka, Pastor Pius memberikan refleksi yang menggetarkan sanubari: “Kita tidak berbuat baik supaya dikasihi dan diampuni, tapi kita mengasihi dan berbuat baik karena telah mengalami kasih dan pengampunan Tuhan.”

​Mempersembahkan Minyak Wangi Kehidupan

​Pada akhirnya, kisah ini bukan sekadar tentang penyesalan, melainkan tentang keberanian untuk mempersembahkan yang terbaik dari dalam diri. Minyak wangi wanita itu adalah wujud perbuatan baik yang lahir dari ketulusan hati. Dari bumi Tanimbar, pesan ini hadir menyapa nurani: berdiri berserah dengan jujur, menumpahkan segala luka, dan berhenti menghakimi. Sebab pada kepasrahan yang tulus, selalu ada ruang pengampunan yang memulihkan.

​(Sumber: Pastor Pius Heljanan, MSC, sebagai Pastor Umat di Kuasi Paroki Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Lauran, Desa Lauran, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku)

Kategori:
Tags:

Terkini