Oleh: Johanis Kopong
Melihat yang Tersirat: Kasih yang Mengubah dan Rahmat yang Mengalir
Kepulauan Tanimbar | suaraanaknegeri.com – Rabu, 16 September 2026
Di tengah keheningan Central Seminary UST Manila, Filipina, terhampar sebuah pesan yang mengundang setiap insan untuk sejenak melepaskan diri dari riuk-pikuk keseharian. Hari ini, dalam peringatan wajib Santo Kornelius dan Santo Siprianus, para martir yang menyerahkan hidup demi iman, panggilan untuk merenungkan makna kebajikan yang sejati terasa kian bergema.
Spiritualitas dan pelayanan sejati kerap kali tidak diukur dari megahnya penampilan lahiriah atau besarnya talenta yang kasat mata, melainkan dari kedalaman kasih yang melandasinya. Kasih yang bersumber dari ketulusan adalah kasih yang sabar, murah hati, serta jauh dari prasangka dan amarah. Kasih sejati senantiasa memilih jalan pengorbanan daripada menumpuk keangkuhan egois.
Baca juga: Menemukan Makna Keselamatan di Bawah Kaki Salib
Kecenderungan untuk menghakimi dan mencari celah kesalahan sesama, layaknya sikap yang menutup diri dari kebaikan, hanya akan membatasi mengalirnya rahmat pertobatan. Ketika hati terbuka untuk mengapresiasi kebaikan yang ditaburkan orang lain, di situlah iman menemukan ruang untuk bertumbuh semakin subur dan menyejukkan.
Sebagaimana yang diungkapkan oleh RD. Domincs Baldawins Masriat, Pastor Mahasiswa di UST Manila, kehendak Ilahi bekerja melalui beragam cara yang tak terbatas oleh sudut pandang yang sempit.
“Kebenaran iman tidak dibuktikan melalui perdebatan atau penilaian lahiriah yang sempit, melainkan melalui ‘anak-anak hikmat’ yaitu buah-buah kebaikan, kasih, pertobatan, dan perubahan hidup yang nyata dalam keseharian.”
Kehidupan iman yang mengakar pada akhirnya terpancar dari buah keteladanan yang dihadirkan dalam interaksi sehari-hari. Merawat kasih yang bersedia berkorban dan menjaga kerendahan hati menjadi jalan luhur untuk menghadirkan kebaikan bagi sesama di mana pun berada.
(Sumber: RD. Domincs Baldawins Masriat, Pastor Mahasiswa UST Manila – Filipina)


