Kamis, 10 September 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

Kasih Tanpa Syarat: Meniti Keheningan Sabda bersama RD. Domincs Baldawins Masriat di UST Manila

Mengukur Ketulusan Hati: Catatan Refleksi Ilahi dari Kota Manila

​Oleh: johanis kopong

Baca juga: Mendorong Transparansi Anggaran Otsus: Pokkus DPR Papua dan DPRK Supiori-Biak Numfor Sepakat Bentuk Aliansi Strategis Pengawasan

Kepulauan Tanimbar | suaraanaknegeri.com – Kamis, 10 September 2026

Meretas Ego dalam Keheningan Sabda

​Di tengah dinamika intelektual dan spiritual di Central Seminary University of Santo Tomas (UST) Manila, Filipina, keheningan perenungan iman senantiasa menghadirkan penyejuk bagi jiwa. Melalui keheningan tersebut, pesan-pesan moral gereja disuarakan untuk menuntun nurani umat dalam menjalani kehidupan bermasyarakat yang serba kompleks.

Baca juga: Langkah Visioner CU AHA: Menanam Batang Bangunan, Meneguhkan Kemandirian Ekonomi di Bumi Duan Lolat

​Menghayati Perayaan Liturgi Pekan Biasa XXIII, dengan permenungan Surat Pertama Rasul Paulus kepada Jemaat di Korintus serta Injil Lukas, kehidupan iman diajak untuk kembali pada intisari terbesarnya: kasih yang melampaui batas-batas egosentrisme.

Tingginya Pengetahuan dan Kerendahan Hati

​Pengetahuan teologis dan kebebasan berpikir sering kali menjadi kebanggaan manusia modern. Namun, tanpa balutan kasih, keunggulan intelektual tersebut berisiko tergelincir menjadi kesombongan intelektual yang memisahkan, bahkan menjatuhkan sesama. Penegasan ini menjadi pengingat mulia bahwa kebenaran sejati tidak diukur dari kehebatan berdebat, melainkan dari sejauh mana iman itu membangun kehidupan orang lain.

​RD. Domincs Baldawins Masriat, Pastor Mahasiswa di UST Manila, Filipina, menegaskan pentingnya menjadikan kasih sebagai fondasi utama dalam berelasi.

​”Pengetahuan atau pemahaman teologis tanpa kasih hanya membuat seseorang merasa bangga dan tinggi hati. Oleh karena itu, hendaklah kita jadikan kasih sebagai dasar yang dalam kehidupan bersama,” ujar RD. Domincs Baldawins Masriat.

​Beliau juga mengingatkan agar kebebasan pribadi tidak dijadikan alat untuk merendahkan orang lain.

​”Jangan memakai pemahaman atau kebebasan pribadi untuk menjatuhkan orang lain. Kebaikan dan pertumbuhan iman sesama jauh lebih penting daripada membuktikan bahwa diri kita benar,” lanjutnya.

Menabur Dulu, Memetik Kemudian

​Etika kehidupan beriman menuntut inisiatif moral yang melampaui kalkulasi untung-rugi. Sebelum menuntut rasa hormat, pengampunan, atau kasih dari lingkungan sekitar, langkah pertama senantiasa dimulai dari dalam diri sendiri. Mengharapkan kebaikan tanpa pernah menanamnya hanya akan melahirkan kekecewaan.

​Prinsip perlakuan timbal balik ini ditegaskan kembali oleh RD. Domincs Baldawins Masriat sebagai inti dari tindakan kasih sehari-hari.

​”Sebagaimana kamu kehendaki supaya orang berbuat kepadamu, berbuatlah juga demikian kepada mereka. Dengan kata lain, jangan menuntut supaya orang mengasihi kita sedangkan kita sendiri tidak mau mengasihi. Oleh karena itu, jika mau untuk dikasihi, kasihilah terlebih dahulu. Jika mau untuk dihargai, hargailah terlebih dahulu. Jika mau untuk diampuni, ampunilah terlebih dahulu,” jelasnya.

Panggilan Mengasihi Tanpa Syarat

​Puncak dari keutamaan Kristiani tercermin dalam keberanian untuk mengasihi tanpa memilah. Mengasihi sahabat adalah hal yang lumrah, namun meluaskan hati bagi mereka yang membenci, mengutuk, atau mencaci merupakan panggilan spiritual yang sejati. Di sinilah letak transformasi iman yang mengubah ketegangan menjadi kedamaian.

​Mengakhiri pesan refleksinya, RD. Domincs Baldawins Masriat mengajak seluruh umat untuk berani melangkah lebih jauh dalam mengamalkan kasih universal tersebut.

​”Hendaklah kita berusaha untuk mengasihi tanpa syarat. Dengan kata lain, mengasihi bukan hanya kepada mereka yang mengasihi kita. Mengasihi tanpa syarat berarti kita dipanggil untuk mengasihi musuh, berbuat baik kepada yang membenci, memberkati yang mengutuk, dan mendoakan yang mencaci,” pungkasnya seraya memanjatkan doa, “Ya Allah berkatilah kami agar kami mampu mengasihi.”

​(Sumber: Keterangan RD. Domincs Baldawins Masriat, Pastor Mahasiswa UST Manila, bertempat di Central Seminary UST Manila, Filipina)

Kategori:
Tags:

Terkini