Karya: Ilhamdi Sulaiman
–
Tok!
Baca juga: "HAPPY FEET": Poem (Nursery Rhymes) Collection by Leni Marlina
Ketukan palu itu terdengar ganjil.
Hakim Arga menatap palu yang masih berada di telapak kanannya.
Sudah dua puluh delapan tahun benda itu menjadi perpanjangan tangannya. Ia hafal bunyinya. Palu yang sama bisa terdengar sebagai kemenangan, bisa pula menjadi bunyi yang mengubur hidup seseorang.
Baca juga: TISI Deklarasikan Maestro Penyair Indonesia Taufiq Ismail Calon Peraih Nobel Sastra Dunia
“Sidang diskors tiga puluh menit.”
Ia berdiri.
Tak seorang pun menyadari, telapak tangannya basah oleh keringat.
Di luar gedung pengadilan, ratusan wartawan telah memenuhi halaman.
Kamera menghadap satu pintu.
Mikrofon saling berhimpitan.
Mobil-mobil siaran langsung berjejer seperti sedang menunggu konser seorang penyanyi.
Lucunya, tak seorang pun datang untuk mencari kebenaran.
Mereka datang untuk mencari kalimat yang paling cepat menjadi judul.
“Bagaimana putusannya?”
“Apakah hakim akan mengabulkan?”
“Apakah ada intervensi?”
Pertanyaan-pertanyaan itu beterbangan di udara bahkan sebelum putusan lahir.
Di seberang jalan, penjual kopi keliling menuangkan air panas ke dalam gelas plastik.
Ia menggeleng pelan.
“Kalau semua orang sudah tahu jawabannya sebelum sidang selesai, buat apa hakim datang?”
Tak ada yang mendengar ucapannya.
Di ruang kerja, Hakim Arga menutup pintu.
Jubah hitamnya ia lepaskan.
Digantungnya perlahan.
Jubah itu selalu tampak gagah ketika dikenakan.
Aneh.
Begitu dilepas, ia hanya sepotong kain biasa.
Di atas mejanya ada tiga benda.
Kitab undang-undang.
Foto istrinya yang telah meninggal.
Dan palu.
Ia membuka kitab undang-undang.
Membaca pasal yang sama untuk entah ke berapa kali.
Kalimat-kalimatnya tetap sama.
Tidak berubah satu huruf pun sejak pagi.
Yang berubah hanyalah pikirannya.
Telepon genggamnya bergetar.
Nomor tak dikenal.
Ia menatap lama.
Lalu mematikannya.
Beberapa detik kemudian bergetar lagi.
Nomor lain.
Lalu lagi.
Dan lagi.
Akhirnya telepon itu dimasukkannya ke dalam laci.
Ada saat-saat ketika seorang hakim harus memilih.
Mendengar dunia…
atau mendengar dirinya sendiri.
Sementara itu, di ruang sidang yang kosong, Marwan mulai bekerja.
Usianya enam puluh tiga tahun.
Ia petugas kebersihan.
Tiga puluh lima tahun menyapu ruang yang sama.
Tiga puluh lima tahun menyaksikan wajah-wajah yang datang dengan keyakinan, lalu pulang dengan keraguan.
Ia mengangkat kursi yang bergeser.
Mengelap meja hakim.
Lalu mengambil palu.
Sudah menjadi kebiasaannya setiap hari.
Ia membersihkan debu yang menempel pada gagangnya dengan kain putih.
“Kasihan kau.”
Ia tersenyum sendiri.
“Semua orang marah kepadamu.”
Padahal ia tahu, palu tak pernah memilih siapa yang dipukul.
Palu hanya jatuh mengikuti tangan yang mengangkatnya.
Marwan meletakkan kembali palu itu.
Tepat di tengah meja.
Persis seperti semula.
Ia tidak pernah mengubah letaknya.
Sebab ia percaya, ada benda-benda yang tak boleh bergeser walau hanya satu jari.
Sayangnya…
keyakinan manusia tidak selalu demikian.
Di kantin pengadilan, para wartawan memenuhi meja.
Mereka tidak sedang makan.
Mereka sedang menyusun kemungkinan.
“Kalau dikabulkan, judulku sudah siap.”
“Kalau ditolak, aku juga sudah siap.”
“Kalau ditunda?”
“Ya tinggal ganti satu paragraf.”
Mereka tertawa.
Di meja sebelah, seorang mahasiswa hukum yang sedang magang menunduk membaca berkas.
Ia mendengar percakapan itu.
Lalu bertanya kepada dosennya yang kebetulan duduk di samping.
“Pak… hukum itu sebenarnya mencari kebenaran atau mencari kepastian?”
Sang dosen mengaduk kopinya lama.
“Lama saya mengajar, saya belum berani menjawab pertanyaan itu.”
Mahasiswa itu tersenyum.
Ia mengira dosennya sedang bercanda.
Padahal lelaki tua itu sedang menyelamatkan dirinya sendiri.
Bel tanda sidang berbunyi.
Semua orang kembali masuk.
Hakim Arga melangkah pelan menuju kursinya.
Ia duduk.
Matanya menyapu wajah-wajah di hadapannya.
Ada yang berharap.
Ada yang cemas.
Ada yang sudah tersenyum sebelum putusan dibacakan.
Arga membuka map terakhir.
Tangannya berhenti pada halaman yang telah diberi tanda.
Ia menarik napas.
Lalu memandang lambang Garuda yang tergantung tinggi di dinding.
Entah mengapa, pagi itu burung itu tampak lebih berat mengepakkan sayapnya.
Arga meraih palu.
Hening memenuhi ruang sidang.
Dalam hening itu, ia tiba-tiba teringat ayahnya.
Seorang guru di kampung yang pernah berkata ketika ia diwisuda menjadi sarjana.
“Kalau suatu hari kau menjadi hakim, jangan takut pada orang besar. Takutlah pada putusan yang membuatmu tak berani bercermin.”
Tangan Arga semakin erat menggenggam palu.
Di luar gedung, sirene mobil siaran langsung mulai berbunyi.
Di dalam ruang sidang, semua orang menunggu bunyi yang lain.
Tok.
Tetapi sebelum palu itu turun…
Arga justru meletakkannya kembali di atas meja.
“Sidang…”
Ia berhenti.
Semua kepala terangkat.
“…diskors.”
Orang-orang keluar dengan wajah yang berbeda-beda.
Wartawan berlari menuju halaman.
Pengacara sibuk menjawab telepon.
Jaksa menyalakan rokok pertama hari itu.
Hanya terdakwa yang tetap duduk.
Dua petugas menghampirinya.
“Sidang diskors.”
Lelaki itu mengangguk pelan.
Ia berdiri tanpa bertanya apa pun.
Barangkali, pikirnya, nasib memang lebih sering datang terlambat daripada jadwal persidangan.
Di luar gedung, langit Jakarta mendadak redup.
Mendung bergelayut di atas kubah Mahkamah.
Puluhan kamera masih menghadap pintu utama.
Seorang reporter perempuan berbicara cepat ke arah lensa.
“…hingga saat ini majelis hakim belum membacakan amar putusan. Penundaan mendadak ini memunculkan berbagai spekulasi….”
Kata spekulasi meluncur begitu ringan.
Seolah-olah ia tidak pernah melahirkan fitnah.
Di belakang reporter itu, Marwan mendorong tong sampah.
Tak seorang pun menyadari kehadirannya.
Ia berhenti sebentar ketika mendengar siaran langsung.
“Katanya mencari fakta.”
gumamnya.
“Kok yang dijual dugaan.”
Ia kembali berjalan.
Tong sampah itu berdecit pelan.
Suaranya tenggelam oleh hiruk-pikuk berita.
Hakim Arga berdiri di depan jendela ruang kerjanya.
Dari lantai lima ia melihat manusia hanya sebesar ruas jari.
Wartawan.
Demonstran.
Polisi.
Pedagang kopi.
Semuanya tampak sama kecil.
Hanya ketika turun ke bawah, mereka kembali menjadi kubu-kubu yang saling meneriakkan kebenaran.
Tok…
Tok…
Tok…
Arga menoleh.
Suara itu berasal dari pintu.
“Masuk.”
Panitera masuk sambil membawa map.
“Yang Mulia… semua menunggu.”
“Aku tahu.”
“Mereka juga bertanya-tanya.”
Arga tersenyum tipis.
“Sejak kapan hakim bekerja untuk memuaskan rasa ingin tahu?”
Panitera terdiam.
Ia telah dua belas tahun mendampingi Arga.
Belum pernah sekali pun melihat lelaki itu menunda putusan yang sudah siap dibacakan.
“Ada yang salah, Yang Mulia?”
Arga menggeleng.
“Yang salah bukan berkasnya.”
“Lalu?”
Arga memandang kitab undang-undang di atas meja.
“Kadang-kadang…”
katanya pelan,
“…yang paling sulit bukan menemukan pasal.”
“Melainkan memastikan pasal itu masih mengenali manusia.”
Panitera tidak menjawab.
Ia membawa kembali map itu keluar.
Kalimat tadi terlalu berat untuk dicatat dalam berita acara.
Di kantin, wartawan mulai kehilangan kesabaran.
“Jangan-jangan ada tekanan.”
“Atau ada telepon.”
“Atau…”
“Atau apa?”
“…atau putusannya berubah.”
Mereka saling memandang.
Lalu tertawa kecil.
Di negeri ini, dugaan sering lebih cepat dipercaya daripada kenyataan.
Di meja paling ujung, penjual kopi menuangkan air mendidih ke dalam gelas.
“Bang.”
kata seorang wartawan.
“Menurut abang, putusannya bagaimana?”
Penjual kopi mengangkat bahu.
“Saya cuma jual kopi.”
“Tapi abang kan tiap hari di sini.”
“Makanya saya tidak berani menebak.”
“Kenapa?”
“Saya terlalu sering melihat orang yang yakin… ternyata salah.”
Wartawan itu tersenyum hambar.
Jawaban sederhana kadang lebih memalukan daripada analisis panjang.
Marwan kembali memasuki ruang sidang.
Ia melihat kursi hakim masih kosong.
Palu tetap berada di tempatnya.
Ia mendekat.
Tangannya hampir menyentuh gagang palu.
Lalu berhenti.
Seumur hidup ia tidak pernah berani mengangkatnya.
Bukan karena takut.
Melainkan karena merasa dirinya tidak pantas.
“Aneh…”
bisiknya.
“Orang yang tak berhak menyentuhnya justru paling takut.”
Ia memandang ruang sidang yang lengang.
Di kursi-kursi itu tadi pagi orang saling menatap dengan curiga.
Sebentar lagi mereka akan kembali.
Membawa harapan yang sama.
Bahwa putusan selalu berpihak kepada dirinya.
Tak seorang pun datang ke pengadilan untuk kalah.
Bel berbunyi.
Semua kembali ke tempat masing-masing.
Hakim Arga melangkah masuk.
Kali ini wajahnya lebih tenang.
Ia duduk.
Membuka map.
Mengambil kacamata.
Lalu memandang seluruh ruangan.
“Terdakwa…”
lelaki itu berdiri.
“Penasihat hukum…”
mereka berdiri.
“Jaksa Penuntut Umum…”
berdiri.
Semua menunggu.
Arga meraih palu.
Tangannya mantap.
Tetapi sebelum mengetukkannya, matanya menangkap sesuatu.
Di bangku paling belakang…
Marwan masih berdiri.
Bukan sebagai petugas kebersihan.
Melainkan sebagai manusia yang diam-diam sedang berharap…
agar hari itu, untuk sekali saja…
bunyi palu lebih keras daripada suara ketakutan.
Arga memejamkan mata sesaat.
Lalu…
Tok!
Ketukan pertama akhirnya jatuh.
Dan pada detik yang sama…
seluruh negeri merasa berhak menjadi hakim.
Tok!
Ketukan itu meluncur pendek.
Namun gaungnya menjalar lebih cepat daripada kilat.
Belum sampai hakim membuka halaman pertama amar putusan, telepon-telepon genggam di luar ruang sidang telah lebih dulu bergetar.
“Sudah mulai!”
Seseorang berteriak di halaman.
Puluhan kamera serentak mengarah ke pintu.
Seolah-olah putusan telah keluar, padahal yang baru terdengar hanyalah bunyi palu.
Hakim Arga membuka lembar pertama.
Ruangan menjadi sunyi.
Sunyi yang aneh.
Sunyi yang bukan lahir karena hormat, melainkan karena semua orang sedang menghitung kemungkinan menang dan kalah.
“Atas nama keadilan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa…”
Kalimat pembuka itu meluncur datar.
Begitu sering diucapkan, hingga sebagian orang tak lagi mendengar maknanya.
Arga membacanya perlahan.
Matanya sesekali terangkat.
Ia melihat jaksa.
Melihat pengacara.
Melihat terdakwa.
Tak satu pun wajah benar-benar tenang.
Di bangku pengunjung, beberapa orang menggenggam tasbih.
Yang lain menggenggam telepon.
Entah mana yang lebih dipercaya untuk menyelamatkan hari itu.
Di luar gedung, hujan turun.
Tidak deras.
Hanya gerimis.
Namun cukup untuk membuat para juru kamera membungkus alat mereka dengan plastik bening.
Seorang penjual payung datang menawarkan dagangannya.
Tak ada yang membeli.
Mereka lebih takut kehilangan momen daripada kehilangan kesehatan.
Penjual kopi keliling menghampiri Marwan yang baru keluar sebentar untuk membuang sampah.
“Masih lama?”
Marwan mengangkat bahu.
“Kalau mencari putusan, mungkin sebentar.”
“Kalau mencari keadilan…”
Ia tidak melanjutkan kalimatnya.
Penjual kopi tersenyum pahit.
Mereka sama-sama mengerti.
Di dalam ruang sidang, Arga sampai pada halaman terakhir.
Tangannya berhenti.
Ia menutup map perlahan.
Ruangan terasa semakin sempit.
Pendingin udara tetap bekerja.
Namun beberapa orang mulai mengusap keringat.
Arga memandang palu di depannya.
Benda itu diam.
Tak pernah meminta dipakai.
Tak pernah menolak diketukkan.
Tiba-tiba ia teringat hari pertama dilantik menjadi hakim.
Ketua Mahkamah waktu itu berkata,
“Palu bukan lambang kekuasaan.”
“Palu adalah pengingat bahwa setiap ketukan akan dimintai pertanggungjawaban.”
Kalimat itu dulu terdengar seperti nasihat.
Kini terdengar seperti peringatan.
“Majelis telah mempertimbangkan…”
Arga kembali membaca.
Tak ada satu kata pun yang keluar dari naskah.
Tak ada improvisasi.
Tak ada pidato.
Semuanya telah ditulis.
Namun setiap kalimat yang keluar dari mulutnya terasa lebih berat daripada tinta yang mencetaknya.
Di bangku terdakwa, lelaki itu menunduk.
Tak berdoa.
Tak menangis.
Ia hanya menunggu.
Sebab setelah bertahun-tahun menghadapi pemeriksaan, ia belajar satu hal.
Harapan yang terlalu tinggi sering kali lebih menyakitkan daripada hukuman.
Ketika amar putusan selesai dibacakan, tak seorang pun langsung bergerak.
Sunyi.
Benar-benar sunyi.
Lalu suara itu datang.
Bukan dari hakim.
Bukan dari jaksa.
Bukan pula dari pengacara.
Melainkan dari seorang perempuan tua di bangku pengunjung.
Ia menghela napas panjang.
Hanya itu.
Namun napas itu terdengar lebih jujur daripada semua kalimat hukum yang baru saja dibacakan.
Barulah setelah itu ruang sidang pecah.
Ada yang tersenyum.
Ada yang menunduk.
Ada yang berpelukan.
Ada yang segera menelepon seseorang.
Ada pula yang berlari keluar sebelum sidang benar-benar ditutup.
Mereka membawa putusan yang sama.
Tetapi pulang dengan cerita yang berbeda.
Tok!
Arga mengetukkan palu untuk terakhir kalinya.
“Sidang selesai.”
Kalimat itu terdengar resmi.
Tetapi di dalam dadanya, tak ada satu pun perkara yang benar-benar selesai.
Ia berdiri.
Jubah hitam itu kembali bergoyang mengikuti langkahnya.
Di pintu belakang, sebelum memasuki ruang kerja, ia berhenti.
Marwan sedang mengepel lantai.
Air pel menghapus jejak sepatu yang tadi memenuhi ruang sidang.
“Capek, Wan?” tanya Arga.
Marwan tersenyum.
“Membersihkan lantai tidak terlalu capek, Yang Mulia.”
“Lalu?”
Marwan memeras kain pelan-pelan.
“Yang berat itu kalau yang harus dibersihkan bukan lantainya.”
Arga menatapnya.
“Apa maksudmu?”
Marwan menggeleng.
“Saya cuma petugas kebersihan.”
“Tugas saya membersihkan yang kelihatan.”
“Kalau yang tidak kelihatan…”
Ia tersenyum tipis.
“…itu bukan pekerjaan saya.”
Arga tidak menjawab.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun mereka saling mengenal, ia merasa petugas kebersihan itu baru saja mengadilinya.
Dan anehnya…
tak ada pasal yang bisa ia gunakan untuk membela diri.
Sudah hampir pukul sebelas malam.
Gedung pengadilan hanya menyisakan beberapa lampu yang masih menyala. Lorong-lorong panjang itu seperti kehilangan suaranya. Tak ada lagi langkah tergesa, tak ada lagi kilatan kamera, tak ada lagi mikrofon yang berebut mencari kalimat paling keras.
Yang tersisa hanya gema.
Marwan menyapu anak tangga menuju ruang sidang utama.
Setiap malam ia melakukan pekerjaan yang sama.
Namun setiap malam pula ia merasa sedang menyapu sesuatu yang tak pernah habis.
Debu selalu datang lagi.
Bekas telapak sepatu selalu muncul lagi.
Seperti juga perkara.
Seperti juga manusia.
Di ujung lorong terdengar suara pelan.
“Masih di sini, Wan?”
Hakim Arga.
Masih mengenakan kemeja putih tanpa jubah.
Tangannya membawa map cokelat yang tadi siang memenuhi seluruh layar televisi.
Marwan mengangguk.
“Kalau saya pulang sebelum gedung ini bersih, besok pagi orang mengira semalam tidak ada yang bekerja.”
Arga tersenyum tipis.
“Lalu kalau gedung ini bersih, apa orang mengira keadilan juga bersih?”
Marwan menghentikan sapunya.
Ia menatap wajah hakim itu.
Selama tiga puluh lima tahun bekerja, baru malam itu seorang hakim mengajaknya berbicara seperti seorang teman.
“Boleh saya menjawab jujur?”
“Tentu.”
“Saya tidak tahu.”
“Tapi saya percaya…”
Marwan memandang ruang sidang yang pintunya telah terkunci.
“…lantai hanya memantulkan bayangan.”
“Kalau bayangannya bengkok…”
Ia tidak melanjutkan.
Arga mengangguk perlahan.
Kalimat yang tidak selesai sering kali lebih tajam daripada pidato satu jam.
Di halaman depan, hujan mulai reda.
Penjual kopi sedang membereskan termosnya.
Ia melihat Arga keluar sendirian.
“Pak Hakim.”
Arga menoleh.
“Mau kopi?”
“Sudah malam.”
“Justru karena sudah malam.”
Arga menerima segelas kopi hitam.
“Aslinya saya ingin memberi gratis.”
“Tapi nanti Bapak tersinggung.”
Arga tertawa kecil.
“Kenapa?”
“Orang yang terbiasa menerima yang gratis…”
Penjual kopi mengangkat bahu.
“…kadang lupa cara membayar.”
Arga terdiam.
Ia mengeluarkan uang dari dompetnya.
Penjual kopi menerima tanpa menghitung.
“Bapak tahu?”
katanya.
“Saya sudah lima belas tahun jualan di sini.”
“Setiap kali ada perkara besar…”
“Yang paling laris bukan kopi.”
“Lalu?”
“Pendapat.”
Arga tersenyum.
“Dan semua orang merasa pendapatnya paling benar.”
“Padahal…”
Penjual kopi menatap gedung pengadilan.
“…belum tentu mereka membaca berkasnya.”
Malam semakin larut.
Arga memilih berjalan kaki menuju tempat parkir.
Udara masih basah oleh hujan.
Di sebuah genangan, ia melihat bayangan dirinya sendiri.
Bayangan itu bergoyang ketika tersentuh tetesan air.
Mendadak ia teringat ayahnya.
Ayahnya pernah menjadi guru sekolah dasar di sebuah desa kecil.
Suatu hari seorang murid datang mengadu.
“Pak Guru, saya dihukum padahal bukan saya yang mencuri.”
Ayahnya tidak langsung menjawab.
Beliau mengumpulkan seluruh murid.
Tidak bertanya siapa yang mencuri.
Beliau hanya meletakkan sepotong kapur di atas meja.
“Siapa yang merasa bersalah, ambil kapur ini.”
Tak seorang pun bergerak.
Beliau lalu berkata,
“Kalau begitu hari ini tak ada yang saya hukum.”
Malam itu Arga bertanya kepada ayahnya,
“Kenapa?”
Ayahnya menjawab,
“Karena menghukum orang yang salah lebih ringan dosanya daripada menghukum orang yang tidak bersalah.”
Kalimat itu tiba-tiba terdengar kembali.
Padahal ayahnya telah lama meninggal.
Keesokan paginya surat kabar memuat wajah Arga di halaman depan.
Ada yang memujinya.
Ada yang mencelanya.
Ada yang menyebutnya pemberani.
Ada pula yang menyebutnya pengkhianat.
Arga membaca semuanya.
Lalu melipat koran itu.
Marwan datang membawa sapu.
“Beritanya ramai ya, Yang Mulia.”
Arga menyerahkan koran itu kepadanya.
“Coba kau baca.”
Marwan menerima.
Beberapa saat kemudian ia mengembalikannya.
“Saya tidak tamat sekolah.”
Arga baru teringat.
Marwan memang hanya lulus sekolah dasar.
“Lalu bagaimana kau tahu mana yang benar?”
Marwan tersenyum.
“Saya tidak tahu.”
“Tapi saya tahu…”
Ia memandang ruang sidang.
“…kalau setiap orang sudah berteriak dirinya paling benar, biasanya yang pertama keluar dari ruangan adalah kebenaran itu sendiri.”
Arga tidak menjawab.
Untuk kedua kalinya, petugas kebersihan itu membuatnya merasa lebih kecil daripada jabatannya.
Di kejauhan, bel sidang berbunyi lagi.
Perkara baru telah menunggu.
Dan seperti biasa…
tak ada satu pun perkara yang mengaku dirinya sederhana.
(Bersambung)
Menulis
SUKA-SUKA KAU LAH
VI
Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa.
Atau setidaknya begitulah kelihatannya.
Bel sidang tetap berbunyi.
Panitera tetap memanggil nama.
Jaksa tetap menyusun tuntutan.
Pengacara tetap mencari celah.
Hakim tetap mengetukkan palu.
Dan Marwan tetap menyapu.
Gedung pengadilan tidak pernah benar-benar mengenal kata “kemarin”. Baginya, setiap hari adalah perkara baru.
Tetapi bagi Arga, ada sesuatu yang berubah.
Sejak putusan itu dibacakan, setiap kali tangannya menyentuh palu, ia merasa sedang menggenggam beban yang tidak tampak.
Suatu siang, seorang hakim muda menghampirinya.
“Yang Mulia, boleh saya bertanya?”
“Silakan.”
“Bagaimana caranya agar tidak dipengaruhi tekanan?”
Arga tersenyum.
“Dulu aku juga bertanya seperti itu.”
“Lalu apa jawabannya?”
“Tidak ada.”
Hakim muda mengernyit.
“Maksudnya?”
Arga memandang ruang sidang yang kosong.
“Tekanan itu tidak pernah bisa dihilangkan.”
“Yang bisa dijaga hanyalah jangan sampai tekanan itu pindah ke dalam hati.”
Hakim muda mengangguk.
Ia merasa mendapat pelajaran.
Padahal Arga sedang mengingatkan dirinya sendiri.
Di halaman gedung, penjual kopi kedatangan pelanggan baru.
Seorang sopir angkutan yang baru selesai mengantar penumpang.
“Bang, benar ya…”
katanya sambil menyeruput kopi.
“…di pengadilan orang kecil selalu kalah?”
Penjual kopi tidak langsung menjawab.
Ia menuangkan kopi ke gelas lain.
“Dari mana kau dengar begitu?”
“Dari orang-orang.”
Penjual kopi tersenyum.
“Orang-orang juga pernah bilang matahari mengelilingi bumi.”
Sopir itu tertawa.
“Lalu menurut abang?”
Penjual kopi menatap gedung pengadilan.
“Yang sering kalah bukan orang kecil.”
“Lalu siapa?”
“Orang yang sendirian.”
Sopir itu terdiam.
Jawaban itu terasa lebih dekat dengan hidupnya.
Marwan sedang mengepel lorong ketika menemukan sebuah dompet.
Isinya uang.
Banyak.
Juga beberapa kartu identitas.
Ia menyerahkannya kepada petugas keamanan.
“Tak tergoda, Wan?”
tanya petugas itu.
Marwan tertawa kecil.
“Saya ini petugas kebersihan.”
“Justru itu.”
“Kalau saya mulai mengambil yang bukan milik saya…”
Ia mengangkat embernya.
“…apa bedanya saya dengan debu yang setiap hari saya sapu?”
Petugas keamanan terdiam.
Ucapan itu sederhana.
Tetapi menampar.
Sore harinya pemilik dompet datang.
Seorang pengacara terkenal.
Ia menghitung seluruh isi dompet.
Tak kurang selembar pun.
“Siapa yang menemukannya?”
“Petugas kebersihan.”
Pengacara itu mencari Marwan.
Ketika bertemu, ia mengeluarkan beberapa lembar uang.
“Terima kasih, Pak.”
Marwan menolak halus.
“Tidak usah.”
“Ambillah.”
“Saya tidak sedang menjual kejujuran.”
Pengacara itu tersenyum canggung.
Untuk pertama kalinya hari itu, ia kehabisan argumentasi.
Malamnya, Arga mendengar cerita itu.
“Kenapa kau tolak?”
tanyanya.
Marwan mengangkat bahu.
“Kalau saya terima, besok saya berharap ada lagi dompet yang hilang.”
Arga tertawa pelan.
“Kau ini aneh.”
“Bukan saya yang aneh.”
“Lalu?”
“Kita terlalu sering menganggap kejujuran harus dibayar.”
Arga terdiam.
Kalimat itu terus mengikutinya sampai ke rumah.
Di rumah, Arga membuka lemari tua.
Di sudut paling bawah masih tersimpan sebuah kotak kayu.
Kotak itu berisi benda-benda peninggalan ayahnya.
Kapur tulis.
Jam tangan rusak.
Buku rapor.
Dan sebuah surat.
Surat itu ditulis ayahnya beberapa hari sebelum meninggal.
Arga membacanya kembali.
“Nak…”
“Kalau kelak orang memujimu sebagai hakim yang adil, jangan cepat percaya.”
“Kalau mereka mencacimu sebagai hakim yang zalim, jangan cepat marah.”
“Karena pujian dan cacian sama-sama suka menyamar menjadi kebenaran.”
“Yang harus paling kau takuti adalah saat kau mulai memuji dirimu sendiri.”
Arga melipat surat itu perlahan.
Matanya basah.
Sudah bertahun-tahun ia menjadi hakim.
Tetapi baru malam itu ia merasa masih menjadi murid ayahnya.
Esok paginya, ruang sidang kembali penuh.
Perkara baru.
Wajah-wajah baru.
Harapan-harapan baru.
Marwan berdiri di dekat pintu.
Tangannya memegang sapu.
Ia memandang palu di atas meja hakim.
Entah mengapa, pagi itu ia teringat sebuah peribahasa lama yang pernah didengarnya di kampung.
“Kayu yang paling keras pun akan lapuk.”
Ia tersenyum sendiri.
“Yang jangan sampai lapuk…”
bisiknya.
“…adalah hati orang yang memegangnya.”
Bel sidang berbunyi.
Semua berdiri.
Hakim Arga memasuki ruangan.
Untuk sesaat, mata mereka bertemu.
Tak ada salam.
Tak ada senyum.
Hanya sebuah anggukan kecil.
Seolah-olah mereka sama-sama tahu bahwa hari itu bukan hanya sebuah perkara yang akan disidangkan.
Melainkan juga sesuatu yang jauh lebih sunyi.
Nurani.
(Bersambung)
Menulis
SUKA-SUKA KAU LAH
VII
Ruang sidang kembali penuh.
Tak ada kursi yang kosong.
Sebagian orang bahkan rela berdiri di lorong. Mereka datang bukan karena mengenal terdakwa. Mereka datang karena ingin menyaksikan sejarah. Padahal sejarah sering kali baru diketahui bertahun-tahun setelah orang-orang pulang.
Hari itu perkara yang disidangkan tidak sebesar perkara minggu lalu.
Tak ada siaran langsung.
Tak ada pagar betis.
Tak ada pejabat.
Hanya seorang lelaki tua.
Usianya hampir tujuh puluh tahun.
Bajunya lusuh.
Tangannya gemetar.
Ia dituduh mencuri tiga karung pupuk dari gudang koperasi.
Ketika hakim menanyakan identitasnya, lelaki itu menjawab pelan.
“Pekerjaan?”
“Buruh tani.”
“Penghasilan?”
“Kalau hujan… tidak ada.”
Ruang sidang hening.
Arga memandang berkas.
Nilai kerugian yang tertulis di sana bahkan lebih kecil daripada harga jas yang dikenakannya.
Jaksa membacakan dakwaan.
Bahasanya rapi.
Setiap kalimat memiliki dasar hukum.
Tak ada satu kata pun yang salah.
Tetapi entah mengapa, ketika selesai dibacakan, ruangan terasa semakin dingin.
“Apakah saudara mengerti?”
Lelaki tua itu mengangguk.
“Mengerti, Yang Mulia.”
“Saudara akan didampingi penasihat hukum.”
Lelaki itu menggeleng.
“Saya tidak punya uang.”
Seorang pengacara muda yang sedang menunggu perkara berikutnya tiba-tiba berdiri.
“Izin, Yang Mulia.”
“Saya bersedia mendampinginya.”
Ruangan menoleh.
Arga mengangguk.
“Silakan.”
Pengacara muda itu duduk di samping lelaki tua tersebut.
Ia membuka map.
Kosong.
Tak ada strategi.
Tak ada siasat.
Yang ada hanya keinginan agar orang tua itu tidak sendirian.
Marwan yang berdiri di dekat pintu tersenyum kecil.
Penjual kopi ternyata benar.
Yang paling sering kalah bukan orang kecil.
Yang paling sering kalah adalah orang yang sendirian.
Sidang berjalan singkat.
Fakta-fakta dibacakan.
Saksi-saksi didengar.
Tak ada yang membantah bahwa pupuk itu memang dibawa pulang.
Arga bertanya pelan.
“Kenapa Saudara mengambilnya?”
Lelaki tua itu menunduk.
“Saya sudah tiga musim gagal panen.”
“Anak saya sakit.”
“Cucu saya berhenti sekolah.”
“Saya berniat mengganti setelah panen berikutnya.”
“Tapi saya keburu ditangkap.”
Tak ada tangis.
Tak ada drama.
Hanya suara seorang lelaki yang terlalu lama akrab dengan kekalahan.
Arga menutup berkas.
Ia memandang lelaki tua itu.
Lalu tanpa sengaja matanya beralih kepada Marwan.
Petugas kebersihan itu sedang menyapu daun kering yang terbawa angin ke dalam ruang sidang.
Daun-daun itu terus masuk.
Terus disapu.
Masuk lagi.
Disapu lagi.
Arga tiba-tiba merasa pekerjaannya tak jauh berbeda.
Keadilan ternyata seperti halaman di musim kemarau.
Tak pernah selesai dibersihkan.
Saat waktu istirahat tiba, Arga memanggil pengacara muda itu.
“Kenapa kau mau mendampingi orang yang bahkan tak sanggup membayarmu?”
Pengacara muda itu tersenyum.
“Dulu ayah saya pernah menjadi terdakwa.”
Arga terdiam.
“Beliau bebas.”
“Karena tidak bersalah?”
“Bukan.”
“Lalu?”
“Karena ada pengacara yang membela tanpa meminta bayaran.”
Pengacara muda itu menutup mapnya.
“Saya hanya sedang membayar utang.”
Arga memandangnya lama.
Dalam dunia yang sibuk menghitung untung rugi, ternyata masih ada orang yang menghitung budi.
Menjelang sore, sidang ditutup.
Putusan akan dibacakan minggu depan.
Lelaki tua itu berdiri.
Sebelum keluar, ia membungkukkan badan ke arah hakim.
“Terima kasih, Yang Mulia.”
Arga terkejut.
“Untuk apa?”
“Karena hari ini saya didengar.”
Lelaki tua itu pergi.
Arga masih duduk.
Kalimat itu terus berputar di kepalanya.
Bertahun-tahun ia mengira tugas hakim adalah memutus.
Hari itu ia sadar…
kadang-kadang tugas seorang hakim hanyalah mendengarkan.
Ketika semua orang telah pulang, Marwan kembali mengepel lantai.
Arga menghampirinya.
“Wan.”
“Iya, Yang Mulia.”
“Menurutmu…”
Arga berhenti.
“Orang datang ke pengadilan mencari apa?”
Marwan memeras kain pel.
Air keruh menetes perlahan ke ember.
“Saya tidak tahu.”
“Tapi selama tiga puluh lima tahun…”
Ia menatap air yang mulai tenang.
“…belum pernah saya melihat orang datang membawa keadilan.”
“Lalu?”
“Mereka datang membawa luka.”
“Sebagian pulang lukanya berkurang.”
“Sebagian lagi…”
Marwan mengangkat embernya.
“…membawa luka baru.”
Arga menunduk.
Di luar gedung, matahari tenggelam di balik gedung-gedung tinggi.
Bayangan ruang sidang memanjang sampai ke halaman.
Dan di tengah bayangan itu…
sebuah palu masih tergeletak di atas meja.
Diam.
Menunggu tangan yang akan menggenggamnya esok hari.
Seminggu kemudian ruang sidang kembali penuh.
Perkara lelaki tua itu memasuki babak akhir.
Tak ada kamera televisi.
Tak ada siaran langsung.
Tak ada perdebatan para pakar hukum.
Hanya beberapa anggota keluarga yang duduk berdekatan di bangku belakang.
Mereka tidak mengerti pasal-pasal.
Mereka hanya ingin tahu apakah lelaki tua itu masih bisa pulang bersama mereka.
Hakim Arga memasuki ruang sidang seperti biasa.
Jubah hitam.
Berkas perkara.
Palu kayu.
Tak ada yang berubah.
Namun Marwan melihat sesuatu yang berbeda.
Langkah hakim itu lebih lambat.
Bukan karena usia.
Melainkan karena ia sadar, setiap langkah menuju kursi hakim selalu berarti satu langkah menjauh dari kehidupan orang yang akan diputusnya.
“Sidang dibuka.”
Tok!
Suara palu memantul ke seluruh ruangan.
Jaksa membacakan tuntutannya.
Pengacara muda menyampaikan pembelaannya.
Tidak berapi-api.
Ia hanya berkata,
“Yang Mulia, hukum memang harus ditegakkan. Tetapi hukum yang kehilangan manusia, lambat laun hanya akan menjadi kumpulan kalimat yang pandai menghukum dan lupa memahami.”
Ia duduk kembali.
Tak ada tepuk tangan.
Ruang sidang bukan panggung sandiwara.
Yang dipertaruhkan di sana bukan tepuk tangan, melainkan hidup seseorang.
Arga membuka amar putusan.
Ia membaca perlahan.
Tak satu kata pun berubah dari naskah yang telah disusun majelis.
Namun setiap kalimat terdengar seperti sedang ditimbang ulang oleh hatinya sendiri.
Putusan selesai dibacakan.
Lelaki tua itu menunduk.
Matanya berkaca-kaca.
Ia tidak menang sepenuhnya.
Ia juga tidak kalah sepenuhnya.
Yang ia dapatkan hanyalah kesempatan untuk pulang dan memperbaiki hidupnya.
Mungkin itulah bentuk keadilan yang paling sederhana.
Memberi seseorang kesempatan menjadi manusia lagi.
Sidang ditutup.
Tok!
Palu diketukkan untuk terakhir kalinya hari itu.
Orang-orang mulai keluar.
Pengacara muda menyalami kliennya.
Jaksa merapikan berkas.
Panitera mematikan mikrofon.
Tak lama kemudian ruang sidang kembali lengang.
Marwan masuk membawa sapu.
Seperti biasa.
Ia menyapu lantai.
Mengangkat gelas plastik yang tertinggal.
Meluruskan kursi.
Mengelap meja hakim.
Ketika tangannya sampai pada palu kayu itu, ia berhenti.
Ia mengangkatnya perlahan.
Retak kecil tampak pada bagian bawah gagangnya.
Entah sejak kapan.
Marwan mengusap retakan itu dengan ibu jarinya.
“Hampir semua orang mengira yang paling berat di ruang ini adalah putusan.”
gumamnya pelan.
“Padahal…”
Ia memandang kursi hakim yang telah kosong.
“…yang paling berat adalah memikulnya setelah semua orang pulang.”
Ia meletakkan kembali palu itu.
Tepat di tempat semula.
Lampu ruang sidang dipadamkan satu per satu.
Gelap merayap dari sudut-sudut ruangan.
Hanya cahaya dari jendela yang masih menyisakan bayangan meja hakim.
Di luar gedung, kehidupan berjalan seperti biasa.
Klakson kendaraan bersahutan.
Pedagang kopi kembali menawarkan dagangannya.
Wartawan memburu berita baru.
Demonstran menyiapkan spanduk baru.
Negeri ini tak pernah kehabisan perkara.
Dan pengadilan tak pernah kehabisan putusan.
Marwan mengunci pintu ruang sidang.
Sebelum melangkah pergi, ia menoleh sekali lagi ke arah meja hakim.
Lalu tersenyum tipis.
“Besi bisa berkarat.”
“Kayu bisa lapuk.”
“Kitab undang-undang bisa direvisi.”
“Tapi mudah-mudahan…”
Ia menarik napas panjang.
“…nurani jangan pernah diserahkan kepada siapa pun untuk diputuskan.”
Ia mematikan lampu terakhir.
Gelap.
Hanya terdengar bunyi kunci berputar.
Klik.
Lalu sunyi.
Dari kejauhan, samar-samar terdengar suara seorang lelaki tua yang baru keluar dari gedung pengadilan. Ia tidak marah. Ia tidak berteriak. Ia hanya bergumam lirih, entah kepada dirinya sendiri, entah kepada negeri ini.
“Suka-suka kau lah.”


