Siamir Marulafau | Penulis
–
SUMUT – SUARA ANAK NEGERI | Seorang anak laki-laki yang barusan duduk di kelas lima SD Negeri di salah satu desa dekat lereng Gunung Sinabung di Dataran Tinggi Tanah Karo keluar dari dalam rumah mereka dan melihat gumpalan asap campur debu yang sangat memukau dan menakutkan perasaan tepat pada tanggal 31-08-2026.
Melihat kejadian itu, Matius Sembiring berlari ke dalam rumah dan memberitahukan pada Bapaknya apa yang dilihatnya. Kemudian, Pak Murah Sembiring juga merasa tertegun dan kaget melihat dari kejauhan sekitar 3 km dari kaki Gunung Sinabung. Menjelang beberapa menit gunung itu hampir meletus, tapi hanya dalam level tiga yang berstatus siaga.
Baca juga: FLS3N PROVINSI PAPUA BARAT DIBUKA, KOMPETISI SISWA BIDANG SENI DAN SASTRA.
Menjelang beberapa menit, Matius Sembiring bertanya kepada Bapaknya, ”Pak, apakah erupsi Gunung Sinabung ini berbahaya bagi kehidupan manusia?” Tanya Matius dengan nada yang lembut.
Kemudian, Pak Murah menjelaskan pada putranya bahwa kalau sebuah gunung dalam keadaan erupsi dan sudah mencapai level tiga, maka itu berbahaya bagi kehidupan manusia dan apabila gunung itu sudah dalam keadaan meletus dan mengeluarkan api, serta lahar panas dan dingin. Itu sangat membahayakan bagi manusia dan hewan-hewan di sekitar lereng gunung itu. Semua penduduk yang tinggal sekitar tiga kilometer dari lereng gunung yang erupsi harus pindah dan dievakuasi oleh pemerintah.
Mendengar penjelasan Pak Murah Sembiring, Matius bertanya lagi, ”Pak, kapan kita pindah karena aku takut karena gunung itu sudah mulai gemuruh dan semua orang di daerah ini hiruk-pikuk, mau pindah?” Matius bertanya serius dengan suara gemetar.
Baca juga: ANTO NARASOMA, [BUKAN] SAMPAH PERADABAN SASTRA
Dengan tiba-tiba Ibu Matius datang dari dapur, yang barusan saja pulang berbelanja dari pasar, memberitahukan pada suaminya bahwa dua jam akan datang, pemerintah setempat akan tiba di daerah kita ini, Pak, untuk mengevakuasi penduduk dan termasuk juga kita karena status Gunung Sinabung ini sudah mencapai level tiga. Aku pikir, kita lebih baik pindah untuk sementara supaya hidup kita aman, ”Apakah setuju atau bagaimana?” Tanya Ibu Elly dengan serius.
Mendengar apa yang dikatakan Ibu Elly, Pak Murah mengatakan bahwa bagaimanapun kita harus pindah dan kita tunggu kedatangan pemerintah untuk mengevakuasi kita. Kita tidak tahu entah ke mana kita dievakuasi. Kita lihat dulu sampai mana kestiaan dan tanggung jawab pemerintah kepada kita. Kita ini sudah dalam keadaan terjebak, mengapa tidak? Karena apabila Gunung Sinabung ini meletus dahsyat, maka kita akan hancur dan semua hewan-hewan di daerah ini akan mati semua.
”Waduh, aku pikir juga demikian, Pak,” sahut Ibu Elly. ”Baiklah, bila begitu mari kita berkemas-kemas dan bersiap-siap untuk pergi dari rumah kita ini.” Ibu Elly berkata sambil meneteskan air mata.
Melihat Ibunya menangis, Matius berkata, ”Ibu, kok menangis?” Ibunya terdiam sejenak dan tiba-tiba berkata pada anaknya di usiamu yang hampir satu tahun, Gunung Sinabung ini sudah pernah meletus dan semua penduduk di daerah ini dievakuasi semua. Ibu sangat trauma dengan kejadian beberapa tahun yang lalu.
Coba kau bayangkan betapa susah Bapakmu dan Ibu tinggal di penampungan walau pemerintah bertanggung jawab dan menanggulangi kebutuhan penduduk yang mengungsi, tetapi karena banyak orang yang ditampung di penampungan, Ibu tak bisa tidur nyenyak dan susah memikirkan ladang dan rumah kita yang tertinggal di lereng gunung.
Nah, ini lagi terjadi pada hari ini. Tapi syukur Alhamdulillah, pemerintah daerah Karo bersama gubernur Sumatera Utara ini, Bapak Bobby Nasution adalah gubernur yang sigap dan baik hati menanggulangi dan mengurus warganya sampai erupsi gunung ini reda dan aman serta tidak membahayakan bagi penduduk lagi.
”Mudah-mudahan erupsi Gunung Sinabung ini tak terjadi pada masa akan datang.” Pungkas Ibu Elly.
Medan, 04-09-2026


