Jumat, 28 Agustus 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

POHON-POHON DI KALIMANTAN TERBAKAR DAN MEMBUAT LANGIT JADI ABU

Oleh: Siamir Marulafau

Alangkah terkejutnya seorang anak perempuan melihat keadaan langit di Kalimantan pada siang hari. Mengapa tidak? Sebaik keluar dari pintu rumahnya dan memandang langit, perasaannya tidak mengenakkan karena langit di Kalimantan penuh dengan abu. Karena diliputi perasaan yang amat mengejutkan, anak perempuan ini berlari masuk ke dalam rumah dan memberitahukan kepada kakaknya. Lantas, kakaknya menutup pintu dan jendela. Namun, asap tetap mencari celah. Rumah mereka terbuat dari kayu dengan dinding papan yang diolah dari pohon-pohon yang ditebang sekitar lima tahun yang silam.

Baca juga: AKU KEHILANGAN ANAKKU KETIKA HUTAN TERBAKAR

Setelah anak perempuan ini masuk ke dalam rumah, sang anak bertanya kepada kakaknya mengapa langit merah seolah-olah ikut membakar pohon-pohon.

“Kak Sus?”

Kakaknya bernama Susmiaty, yang baru tamat SMU, menjelaskan kepadanya bahwa hutan di sekeliling daerah ini dilahap api dan api itu sukar sekali dipadamkan.

Baca juga: Uji Kompetensi Penata Pertanahan Batch 1 2026, Langkah Strategis Memperkuat Profesionalisme ASN Pertanahan

“Gus.”

Di luar rumah, banyak sekali orang berkerumun dan ada yang berlari mengambil selang dan air guna memadamkan api itu. Sementara itu, ada beberapa keluarga yang masih berkurung di dalam rumah dan berkemas-kemas untuk menyelamatkan barang-barang berharga mereka. Situasi semakin tidak keruan karena orang-orang di sekitar itu juga menangis dan ada sebagian yang berdoa.

Langit semakin mencekam karena abu ditiup angin yang agak kuat dan membuat pohon-pohon semakin terbakar. Agustina, yang duduk di bangku SMP kelas dua, bertanya-tanya dalam hatinya. Ini pasti ulah orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Tidak mungkin hutan ini terbakar bila tidak ada pelakunya.

Penyebab kebakaran ini menyangkut kerentanan ekologis. Hal ini tentu menjadi tanggung jawab manusia dan persoalan kebijakan publik yang kemudian ditangani pemerintah setempat. Bila hutan terbakar, dampaknya akan mengenai beberapa wilayah atau daerah terdekat, bahkan negara-negara tetangga akan terkena imbas dari asap yang ditularkan oleh kobaran api di hutan Kalimantan ini.

Kemudian, Susmiaty berkata kepada adiknya, “Ini ulah manusia yang tidak punya akal. Ada otak, tetapi tak jalan.”

Sus berkata dengan lantang dan marah. Mengapa aku marah? Karena hutan di Kalimantan ini sangat lebat dan inilah satu-satunya kebanggaan orang Kalimantan di seluruh Nusantara ini. Namun, sekarang ternyata menjadi abu dan akan menimbulkan dampak pada masyarakat, seperti banjir bandang. Akhirnya, sungai-sungai yang besar pun meluap.

“Coba bayangkan betapa hebatnya kobaran api membakar hutan ini dan asapnya menutup langit biru. Matahari pun tak nampak lagi. Semua debu terbang di udara. Udara semakin mencekam dan aroma udaranya pun tidak mengenakkan. Aku yakin negara tetangga seperti Brunei Darussalam, Singapura, dan bahkan Malaysia akan terkena dampak terbakarnya hutan ini. Ini namanya tidak menghargai alam. Alam itu penting bagi kehidupan manusia. Apabila tidak bersahabat dengan alam, alam itu akan murka kepada manusia. Ini sudah terjadi di Pulau Sumatera, yaitu di Sumatera Utara, Aceh, dan Padang. Apakah kau tak tahu, Gus?” pungkasnya.

Mendengar apa yang dikatakan Susmiaty, semakin jelas bahwa hutan itu adalah pelindung bagi manusia, apalagi masyarakat pedesaan yang tempat tinggal mereka tidak berapa jauh dari hutan dan sungai. Pohon-pohon yang menjulang tinggi dengan akar yang kuat akan musnah dan mengakibatkan banjir besar. Apalagi, di Kalimantan ini banyak sungai-sungai yang besar.

Inilah salah satu masalah yang harus ditanggulangi oleh publik dan pemerintah. Maka, pemerintah pusat sangat marah kepada mereka yang membakar hutan di Kalimantan ini.

Medan, 26 Agustus 2026

Foto: Penulis – Siamir Marulafau. Sumber gambar: IoSoP 2026 via SAN Group.

Tentang Penulis – Siamir Marulafau

Siamir Marulafau merupakan penyair, penulis cerpen, esais, dan akademisi Indonesia. Ia merupakan lulusan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara (USU) dan meraih Magister Humaniora dalam Linguistik Umum dari USU. Pada 2024, ia memperoleh gelar Dr. (H.C.) dari The Thames International University, Prancis, dalam bidang Seni, Budaya, Sastra, dan Bahasa. Ia mengabdi dosen Fakultas Vokasi USU dan kini telah pensiun. Selain aktif menulis, ia memiliki minat pada pengajaran bahasa dan sastra serta menguasai bahasa Indonesia, Inggris, dan Nias.

Kategori:
Tags:

Terkini