Oleh Paulus Laratmase
–
BIAK – SUARA ANAK NEGERI | Pendidikan tidak selalu dimulai dari ruang kelas. Kadang, ia dimulai dari sebuah perjalanan, dari pintu bandara, dari meja pertemuan, atau dari seorang pemimpin yang memilih untuk datang dan mendengar.
Pada 25 Agustus 2025, Bupati Waropen, Drs. F.X. Mote, M.Si, tiba di Manokwari. Ia dijemput oleh Asisten III Sekda yang mewakili Gubernur Papua Barat. Perjalanan kemudian berlanjut menuju Swiss-Belhotel Manokwari untuk sebuah pertemuan yang didampingi Rektor Universitas Papua, Prof. Dr. Hugo Warami.
Pertemuan itu bukan sekadar agenda pemerintahan. Di baliknya tersimpan sebuah komitmen: bagaimana membangun sumber daya manusia Waropen dan bagaimana memastikan anak-anak Waropen yang menempuh pendidikan tinggi di luar daerah tidak berjalan sendirian.
Bagi sebuah daerah, membangun manusia adalah pekerjaan panjang. Jalan dan gedung dapat dibangun dalam hitungan tahun, tetapi manusia membutuhkan perhatian, kesempatan, dan keberpihakan yang terus-menerus.
Baca juga: Hakka Ngiau
Sejak dilantik sebagai Bupati Kabupaten Waropen bersama Wakil Bupati Yoel Boari, perhatian terhadap dunia pendidikan menjadi salah satu bagian penting dari perjalanan pemerintahan mereka. Perhatian itu tidak berhenti pada pendidikan dasar dan menengah, tetapi menjangkau pendidikan tinggi—tempat anak-anak muda Waropen sedang mempersiapkan diri untuk kembali membangun tanah kelahirannya.
Bagi banyak anak asli Waropen, perjalanan menuju perguruan tinggi bukanlah perjalanan yang ringan. Jarak yang jauh dari kampung halaman membawa serta persoalan baru: biaya kuliah, tempat tinggal, kebutuhan sehari-hari, hingga berbagai kebutuhan akademik lainnya.
Di situlah kehadiran pemerintah daerah menjadi penting.
Bupati F.X. Mote tampaknya memahami bahwa seorang pemimpin tidak cukup hanya menunggu laporan di atas meja. Ia perlu melihat sendiri bagaimana anak-anak daerahnya menjalani kehidupan di tanah rantau. Karena itu, dalam berbagai perjalanan tugas, baik ke ibu kota negara maupun ke berbagai daerah di Papua yang menjadi tempat anak-anak Waropen menempuh pendidikan, ia menyempatkan diri untuk menemui mereka.
Kali ini, Universitas Papua di Manokwari menjadi bagian dari perhatian itu.
Pertemuan dengan Rektor dan jajaran akademisi UNIPA menjadi langkah untuk membangun kerja sama antara Pemerintah Kabupaten Waropen dan perguruan tinggi. Tujuannya sederhana, tetapi maknanya besar: membuka ruang yang lebih luas bagi putra-putri Waropen untuk memperoleh pendidikan tinggi sekaligus mencari jalan keluar atas berbagai persoalan yang mereka hadapi.
Asrama mahasiswa, tempat tinggal, kebutuhan harian, hingga pembiayaan pendidikan bukan sekadar angka dalam sebuah laporan. Di balik setiap persoalan itu ada wajah seorang mahasiswa yang sedang menggantungkan harapan pada masa depan.
Ada anak kampung yang datang membawa mimpi. Ada orang tua di Waropen yang mungkin menjual hasil kebun, ikan, atau ternak untuk membiayai kuliah anaknya. Ada pula keluarga yang harus bertahan dengan keterbatasan, sembari berharap suatu hari anak mereka pulang membawa ilmu untuk membangun negeri.
Karena itu, perhatian terhadap mahasiswa bukan hanya soal pendidikan. Ia adalah investasi sosial, investasi kebudayaan, dan investasi masa depan.
Waropen tidak hanya membutuhkan gedung pemerintahan yang megah. Waropen membutuhkan manusia-manusia terdidik yang kelak mampu berdiri di berbagai bidang dan kembali mengabdi kepada masyarakat.
Mungkin itulah makna terdalam dari perjalanan Bupati F.X. Mote ke Manokwari: menjemput masa depan sebelum masa depan itu pergi terlalu jauh.
Sebab, seorang pemimpin pada akhirnya bukan hanya dinilai dari apa yang dibangunnya dengan beton dan anggaran, tetapi juga dari berapa banyak anak muda yang berhasil ia bantu menemukan jalan menuju cita-citanya.
Dan bagi anak-anak Waropen yang sedang belajar jauh dari tanah leluhur, perhatian itu mungkin terasa seperti sebuah pesan sederhana:
Kalian tidak sedang berjalan sendirian. Waropen masih mengingat kalian, menunggu kalian pulang, dan berharap suatu hari ilmu yang kalian bawa menjadi cahaya bagi tanah yang membesarkan kalian.
Tuhan memberkati Waropen dan anak-anak negerinya.


