Laporan: Nuyang Jaimee
JAKARTA — Semangat mengenang perjuangan penyair dan aktivis Wiji Thukul kembali dihidupkan melalui kegiatan “Bertemu Wiji Thukul” yang digelar pada Minggu, 30 Agustus 2026 lalu, di Plaza/Halaman Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 15.30 WIB tersebut mengangkat tema “Seni untuk Rakyat” dan “Seni Adalah Senjata”, yang sekaligus menjadi bagian dari peringatan Hari Anti Penghilangan Paksa Internasional ini dilaksanakan oleh Masyarakat Penggiat Seni Indonesia (MPSI).

Baca juga: Di Tengah HUT ke-81, Kejari Biak Numfor Tetapkan & Tahan 2 Tersangka Korupsi Reses DPRD Supiori
Acara ini mempertemukan berbagai unsur seniman, aktivis, komunitas, dan publik untuk membicarakan kembali gagasan, perjuangan, serta legasi Wiji Thukul—penyair yang dikenal melalui karya-karyanya yang tajam dalam menyuarakan ketidakadilan, kehidupan rakyat, dan perlawanan terhadap penindasan. Kegiatan tersebut menghadirkan rangkaian diskusi, testimoni, pembacaan puisi, musik, teatrikal, pemutaran film, serta kegiatan seni dan budaya.
Rangkaian acara dibuka dengan tarian Maluku Tenggara “Samrah Modern” dari Sanggar Wandan Batavia, yang dibawakan mahasiswa asal Wandan, Maluku. Setelah pembukaan oleh MC Tia Fairuz, acara dilanjutkan dengan menyanyikan Indonesia Raya yang dipimpin Dyah Kencana Puspita, kemudian sambutan dari IKOHI oleh Jejen dan MPSI oleh Mujib Hermani.

Salah satu agenda utama adalah diskusi “Legasi Wiji Thukul” yang dimoderatori Wilson Obrigados. Diskusi menghadirkan Dolorosa Sinaga, Hilmar Farid, Alfian S. Siagian, Lilik HS, dan Lukman Dewa sebagai panelis. Pembahasan kemudian dilanjutkan dengan sesi “Testimoni Mereka yang Mengenal Wiji Thukul”, menghadirkan Linda Christanty, Wahyu Susilo, Mokhtar, dan Moh. Irvan untuk berbagi kesaksian dan pengalaman mengenai sosok Wiji Thukul.
Setelah jeda ISHOMA, acara berlanjut dalam format pertunjukan seni. Redflag, Sokras, Pandai Api, Kembang Genjer, Merata, Konsultasi Massal, dan Lingkaran Band tampil dalam rangkaian musik, diselingi pembacaan puisi oleh Andi Rustono, Hardingga, Daniel Tangkilisan, Jack Al Ghozali, Dyah Kencono, dan Nuyang Jamee. Selain musik dan puisi, David Karo Karo menghadirkan pertunjukan teatrikal sebagai bagian dari ekspresi artistik untuk menghidupkan kembali semangat perjuangan Wiji Thukul.

Rangkaian kegiatan juga menghadirkan pemutaran film “Nyanyian Akar Rumput” yang sangat menyentuh, karya sutradara Yuda Kurniawan. Sebelum pemutaran, Yuda Kurniawan memberikan pengantar mengenai konteks film yang mengangkat kehidupan, karya, serta jejak perjuangan Wiji Thukul, melalui perjalanan tokoh Fajar Merah, yakni anak kedua Wiji Thukul pasca kehilangan sang bapak, terpuruk, dendam, tak percaya pada siapapun bahkan pada diri sendiri, lalu perlahan bangkit meneruskan perjuangan sang bapak ketika perlahan Fajar Merah melihat dan menyaksikan sendiri kenyataan bahwa sang bapak dicintai dan banyak orang belajar dari semangat puisi-puisinya perlawanannya.
Pemutaran film menjadi bagian penting karena memperluas pembacaan terhadap Wiji Thukul tidak hanya melalui teks puisi, tetapi juga melalui dokumentasi visual mengenai kehidupan dan perjuangannya yang diteruskan oleh keluarganya, Sipon (istrinya), Fitri (anak pertama) dan Fajar Merah (anak kedua).

Melalui “Bertemu Wiji Thukul”, penyelenggara tidak sekadar menghadirkan sebuah acara mengenang seorang penyair yang hilang, tetapi berupaya menjadikan seni sebagai ruang untuk merawat ingatan publik. Puisi, musik, teatrikal, diskusi dan film ditempatkan sebagai medium untuk membicarakan kembali persoalan demokrasi, kebebasan berekspresi, hak asasi manusia, serta penghilangan paksa.
Kegiatan yang mengusung semangat “Seni untuk Rakyat” dan “Seni Adalah Senjata” ini pada akhirnya menegaskan bahwa karya Wiji Thukul masih memiliki relevansi untuk dibaca dalam konteks Indonesia hari ini. Acara ditutup dengan menyanyikan “Darah Juang” bersama seluruh peserta sebagai penanda berakhirnya rangkaian kegiatan.

Dengan demikian, siapa yang dipertemukan dalam “Bertemu Wiji Thukul”? Bukan hanya seniman dan aktivis, tetapi juga ingatan masa lalu dengan kegelisahan hari ini—sebuah pertemuan yang menempatkan seni sebagai cara untuk terus mengingat, bertanya, dan bersuara. [PM]


