Kosmologi Baru Menjembatani Krisis Ekologi, Ilmu Pengetahuan, dan Spiritualitas
Laporan: Paulus Laratmase
–
Baca juga: SAYA TAK BISA SEPERTI CHAIRIL ANWAR
SUARA ANAK NEGERI NEWS — Krisis ekologis yang melanda dunia dewasa ini bukan semata-mata persoalan kerusakan lingkungan, perubahan iklim, atau eksploitasi sumber daya alam. Lebih jauh, krisis ini juga merupakan krisis cara manusia memahami dirinya, alam semesta, dan tujuan keberadaannya di bumi.
Persoalan mendasar inilah yang menjadi perhatian dalam Diskusi Serial Esoterika ke-75 bertajuk Kosmologi Baru Thomas Berry: Menemukan Kembali Kisah Kita di Dalam Kisah Semesta, Selasa, 13 Oktober 2026, pukul 19.00–21.00 WIB, menampilkan Sr. Amelia Hendani, SEC dan Dr. Budhy Munawar Rachman dan Host Khoirotun Nisak. Pada bagian pertama ini dilaporkan pemaparan materi dari Sr. Amelia Hendani dan pada bagian kedua akan dilaporakan pemaparan materi dari Dr. Budhy Munawar Rachman.
Dalam diskusi yang dihadiri lebih dari 230 partisipan generasi “Z”, Sr. Amelia Hendani, SEC, yang dikenal sebagai Suster Amie, dari Green Mountain Monastery & Thomas Berry Sanctuary, Vermont, Amerika Serikat, memaparkan pemikiran Thomas Berry (1914–2009), seorang sejarawan budaya dan pemikir ekologi yang menawarkan cara pandang baru mengenai hubungan manusia dengan alam semesta.
Baca juga: IJAZAH GIBRAN DAN UJIAN AKAL SEHAT HUKUM: ANTARA PENDIDIKAN, PEMBUKTIAN, DAN AKUNTABILITAS KEKUASAAN
Pemikiran Berry mengajak manusia meninggalkan pandangan yang menempatkan alam semata-mata sebagai objek untuk dikuasai dan dieksploitasi. Sebaliknya, manusia perlu memahami dirinya sebagai bagian dari komunitas kehidupan yang lebih besar, yang keberlangsungannya bergantung pada hubungan saling menopang antara manusia dan bumi.
Krisis Ekologi Sekaligus Krisis Cerita
Mengawali pemaparan mengenai kosmologi baru, Suster Amie menyoroti pentingnya memahami krisis yang sedang dihadapi manusia modern. Menurut perspektif yang dibahas dalam diskusi, manusia tidak cukup hanya mengumpulkan pengetahuan tentang alam. Manusia juga perlu menemukan kembali makna keberadaannya dalam keseluruhan kisah kehidupan.
Dalam pengantar diskusi, persoalan itu dirumuskan melalui pernyataan:
“Kita hidup di zaman krisis, ekologi, tapi krisis cerita.”
Pernyataan di atas menegaskan bahwa persoalan lingkungan tidak dapat dilepaskan dari cara manusia membangun pemahaman tentang dunia. Ilmu pengetahuan memberikan fakta mengenai proses alam semesta, sedangkan tradisi keagamaan dan spiritualitas menawarkan refleksi tentang nilai, makna, dan tanggung jawab. Tantangannya adalah bagaimana berbagai sumber pengetahuan dapat berdialog tanpa kehilangan karakter masing-masing.
Dalam pemaparannya, Suster Amie menyampaikan kegembiraannya karena diskusi itu diikuti banyak peserta muda. Ia menilai ketertarikan generasi muda terhadap persoalan spiritualitas dan kosmologi merupakan hal yang menggembirakan, terutama karena tema yang dibahas sering dianggap berat dan abstrak.
“Wah, senang sekali karena saya lihat banyak wajah-wajah orang muda,” ungkapnya.
Ia melanjutkan, “Wah, saya semangat sekali kalau bicara … ada orang-orang muda yang begitu semangat atau tertarik untuk mendalami topik-topik yang sebetulnya topik spiritual ini rada berat.”
Pernyataan yang menunjukkan bahwa diskusi kosmologi tidak hanya relevan bagi kalangan akademisi atau mereka yang telah lama mendalami filsafat dan spiritualitas. Persoalan tentang asal-usul kehidupan, masa depan bumi, dan tanggung jawab manusia juga penting bagi generasi muda yang akan mewarisi dampak keputusan pembangunan hari ini.
Thomas Berry dan Kisah Baru Alam Semesta
Dalam paparan bertajuk Membangun Kembali Peradaban Bumi: Menggali Inspirasi Kisah Baru Alam Semesta dari Thomas Berry, Suster Amie mengajak peserta memahami gagasan Berry secara lebih menyeluruh.
Menurutnya, pemikiran Berry dapat terkesan abstrak apabila hanya dibaca sepintas. Padahal, gagasannya memiliki arti penting bagi kehidupan sehari-hari karena membantu manusia memahami perannya dalam alam semesta.
Suster Amie juga mengapresiasi upaya mendalami dan merumuskan pemikiran Berry agar inti gagasannya dapat dipahami serta diterapkan secara lebih konkret.
“Kalau diibaratkan Pak Budi ini mampu mengekstrak ya, mengekstrak pemikiran Thomas Berry ke dalam inti yang sangat penting,” tuturnya.
Salah satu gagasan utama Berry adalah The New Story atau kisah baru alam semesta, yang dikembangkan bersama fisikawan Brian Swimme melalui buku The Universe Story (1992).
Karya ini mengisahkan perkembangan alam semesta selama miliaran tahun, mulai dari tahap awal kosmos, pembentukan galaksi dan bumi, munculnya kehidupan, hingga berkembangnya kesadaran manusia.
Dalam perspektif ini, sejarah alam semesta menjadi kumpulan fakta ilmiah yang terpisah-pisah. Sejarah membantu manusia memahami bahwa keberadaannya merupakan bagian dari proses kosmik yang panjang dan saling berhubungan.
Manusia tidak hadir di luar alam semesta, melainkan tumbuh dari sejarah bumi dan bergantung pada jaringan kehidupan yang menopangnya.
Karena itu, kisah alam semesta memberikan perspektif yang lebih luas untuk menjawab pertanyaan mendasar: dari mana manusia berasal, bagaimana manusia menjadi bagian dari kehidupan, dan tanggung jawab apa yang menyertai keberadaannya?
Bagi Berry, pemahaman mengenai sejarah kosmik perlu mendorong perubahan cara hidup. Pengetahuan tentang alam semesta tidak berhenti pada kekaguman terhadap kebesaran kosmos, tetapi berkembang menjadi kesadaran etis untuk menjaga keberlanjutan kehidupan.
Manusia Bukan Penguasa Mutlak Alam
Salah satu pesan penting dari kosmologi baru Thomas Berry adalah perlunya mengubah hubungan manusia dengan alam.
Dalam paradigma yang berorientasi pada eksploitasi, hutan dapat dinilai terutama berdasarkan kayu yang dihasilkan, sungai berdasarkan potensi ekonominya, dan tanah berdasarkan keuntungan yang dapat diperoleh darinya. Cara pandang semacam ini berisiko mengabaikan fungsi ekologis, nilai budaya, dan arti penting alam bagi keberlangsungan berbagai bentuk kehidupan.
Berry menawarkan perspektif berbeda melalui konsep The Earth Community atau Komunitas Bumi.
Dalam kerangka itu, manusia merupakan bagian dari komunitas kehidupan yang mencakup berbagai spesies dan sistem ekologis. Kedudukan manusia tidak memberinya hak untuk merusak alam tanpa batas. Sebaliknya, kemampuan manusia untuk berpikir, menciptakan teknologi, dan membangun peradaban harus disertai tanggung jawab yang lebih besar.
Hutan, sungai, gunung, laut, dan berbagai spesies memiliki peran dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Kerusakan terhadap unsur-unsur itu, pada akhirnya dapat memengaruhi kehidupan manusia sendiri.
Oleh karena itu, pembangunan tidak semestinya hanya diukur melalui pertumbuhan ekonomi dan peningkatan produksi. Pembangunan juga perlu dinilai berdasarkan kemampuannya menjaga kesehatan lingkungan, melindungi masyarakat, dan menjamin keberlanjutan bagi generasi mendatang.
Gagasan ini sangat relevan bagi Indonesia, yang memiliki kekayaan hutan, laut, keanekaragaman hayati, serta kehidupan masyarakat adat yang erat kaitannya dengan wilayah leluhur.
Pengelolaan sumber daya alam yang bertanggung jawab membutuhkan keseimbangan antara kebutuhan pembangunan, perlindungan ekosistem, penghormatan terhadap hak masyarakat adat, dan kepentingan generasi mendatang.
Hak Alam dan Tanggung Jawab Hukum
Kosmologi baru Thomas Berry juga memiliki hubungan pemikiran dengan berkembangnya gagasan Rights of Nature atau Hak Alam dan Earth Jurisprudence, yakni pendekatan yang mendorong pengakuan lebih kuat terhadap nilai dan keberlangsungan ekosistem dalam hukum.
Gagasan Hak Alam menantang pandangan bahwa alam hanya layak dilindungi sejauh memberikan manfaat langsung kepada manusia. Sebaliknya, keberadaan ekosistem dan spesies perlu dipertimbangkan dalam kerangka perlindungan yang lebih luas.
Salah satu contoh penting ialah Konstitusi Ekuador tahun 2008 yang mengakui hak-hak alam. Perkembangan yang menunjukkan bahwa gagasan mengenai hubungan manusia dan alam dapat memperoleh bentuk dalam sistem hukum dan kebijakan publik.
Meskipun demikian, perkembangan Hak Alam tidak dapat dikaitkan hanya dengan satu tokoh. Gagasan itu juga tumbuh melalui kontribusi masyarakat adat, pemikiran hukum lingkungan, gerakan sosial, dan berbagai tradisi filosofis.
Relevansi pemikiran Berry terletak pada dorongannya untuk meninjau kembali dasar etis hubungan manusia dengan bumi. Hukum dan kebijakan lingkungan seharusnya tidak berhenti pada pengendalian kerusakan setelah terjadi, tetapi juga mengutamakan pencegahan, pemulihan ekosistem, transparansi, serta pertanggungjawaban pihak yang menimbulkan dampak lingkungan.
Dalam konteks pembangunan di wilayah Indonesia, perspektif ini mengingatkan bahwa hutan dan sungai bukan tidak dikonversi semata pada komoditas ekonomi. Keduanya merupakan bagian dari sistem kehidupan yang menopang penghidupan masyarakat, identitas budaya, dan keberlanjutan lingkungan.
Membangun Peradaban Bumi
Gagasan Thomas Berry tidak berhenti pada kritik terhadap paradigma pembangunan yang eksploitatif. Ia juga menawarkan visi perubahan peradaban melalui gagasan Ecozoic Era atau Era Ekosoik.
Visi yang menggambarkan harapan akan suatu tatanan kehidupan ketika manusia membangun hubungan yang lebih harmonis dan saling mendukung dengan komunitas bumi.
Perwujudan visi ini memerlukan perubahan pada berbagai bidang kehidupan. Pendidikan perlu menumbuhkan literasi ekologis dan kesadaran etis. Kebijakan publik perlu memperhitungkan daya dukung lingkungan. Dunia usaha harus bertanggung jawab terhadap dampak kegiatannya. Sementara itu, masyarakat perlu mengembangkan pola konsumsi dan kebiasaan hidup yang tidak merusak sistem penopang kehidupan.
Pemikiran Berry juga membuka ruang dialog antara ilmu pengetahuan modern, tradisi masyarakat adat, kebijaksanaan filosofis, dan pengalaman perempuan dalam merawat kehidupan. Berbagai sumber pengetahuan itu dapat saling memperkaya dalam membangun kesadaran ekologis yang lebih menyeluruh.
Dalam pendidikan, misalnya, pemahaman tentang perubahan iklim akan menjadi lebih bermakna apabila dihubungkan dengan etika, tanggung jawab kewarganegaraan, budaya lokal, dan tindakan nyata menjaga lingkungan.
Demikian pula dalam pembangunan, keberhasilan tidak cukup ditentukan oleh besarnya investasi atau pertumbuhan ekonomi. Keberhasilan perlu diukur pula dari terjaganya sumber air, berkurangnya kerusakan hutan, terlindunginya keanekaragaman hayati, serta meningkatnya kesejahteraan masyarakat.
Dengan demikian, membangun peradaban bumi bukan berarti menolak kemajuan. Sebaliknya, sebuah gagasan yang mengajak manusia mengarahkan kemajuan agar tidak menghancurkan fondasi ekologis yang menopang kehidupan.
Dari Gagasan Menuju Tindakan
Salah satu tantangan terbesar pemikiran kosmologi baru ialah menerjemahkan refleksi filosofis menjadi tindakan konkret.
Kesadaran bahwa manusia merupakan bagian dari komunitas bumi harus tercermin dalam keputusan sehari-hari, kebijakan pemerintah, praktik pendidikan, dan pengelolaan sumber daya alam.
Masyarakat tidak cukup hanya mengetahui bahwa hutan penting bagi iklim. Kesadaran itu perlu diwujudkan dalam dukungan terhadap perlindungan hutan dan pengawasan kegiatan yang berpotensi merusak lingkungan.
Demikian pula, pendidikan lingkungan tidak cukup disampaikan sebagai materi hafalan. Pendidikan perlu membantu peserta didik mengembangkan kemampuan berpikir kritis, memahami hubungan sebab-akibat, dan mengambil keputusan yang bertanggung jawab.
Pemerintah, lembaga pendidikan, komunitas keagamaan, media, organisasi masyarakat sipil, dunia usaha, serta masyarakat adat dapat mengambil peran masing-masing dalam membangun budaya ekologis.
Dalam kerangka pemikiran Berry, masa depan bumi tidak hanya ditentukan oleh seberapa jauh manusia mampu menguasai alam, tetapi juga oleh kemampuannya memahami batas, membangun relasi yang sehat, dan bertanggung jawab atas dampak tindakannya.
Kesimpulan
Diskusi Serial Esoterika ke-75 menghadirkan refleksi penting tentang hubungan antara manusia, alam semesta, ilmu pengetahuan, dan spiritualitas melalui pemikiran Thomas Berry.
Paparan Suster Amie Hendani, SEC, mengajak peserta memahami bahwa krisis ekologis perlu dibaca lebih dalam sebagai persoalan cara pandang dan orientasi kehidupan. Manusia tidak cukup hanya memiliki pengetahuan tentang alam; manusia juga harus membangun kesadaran mengenai tanggung jawabnya terhadap seluruh komunitas kehidupan.
Melalui The Universe Story, Berry mengajak manusia melihat dirinya sebagai bagian dari sejarah alam semesta yang panjang. Kesadaran ini membuka kemungkinan perubahan paradigma: dari alam sebagai objek eksploitasi menjadi komunitas kehidupan yang harus dijaga bersama.
Pemikiran ini relevan bagi dunia pendidikan, kebijakan publik, pengembangan hukum lingkungan, pengelolaan sumber daya alam, dan kehidupan masyarakat. Namun, relevansinya baru memperoleh makna nyata apabila diterjemahkan ke dalam tindakan yang dapat dinilai, dipertanggungjawabkan, dan memberikan manfaat bagi keberlanjutan kehidupan.
Pesan mendasar dari kosmologi baru Thomas Berry ialah bahwa manusia tidak dapat membangun masa depan yang baik dengan menghancurkan rumah yang menopang kehidupannya sendiri. Kemajuan sejati bukanlah kemenangan manusia atas alam, melainkan kemampuan manusia untuk hidup secara bertanggung jawab di dalamnya.
Pada akhirnya, membangun peradaban bumi berarti menyadari bahwa kita bukan satu-satunya tokoh dalam kisah kehidupan. Kita adalah bagian dari kisah semesta yang telah berlangsung jauh sebelum kita lahir dan akan terus berlanjut setelah kita tiada. Tanggung jawab kita adalah memastikan bahwa kisah ini tetap menyediakan ruang bagi kehidupan, keadilan, dan harapan bagi generasi mendatang.
Sebab, menemukan kembali kisah kita di dalam kisah semesta berarti belajar mengenali asal-usul kita, memahami tanggung jawab kita, dan memilih masa depan yang tidak memisahkan kemajuan manusia dari keberlangsungan bumi.
Biak, Papua 14 Oktober 2026



