Oleh Among Kurnia Ebo
–
SURABAYA – SUARA ANAK NEGERI| Indonesia memang sedang ruwet-ruwetnya. Bahkan, itu pernah diucapkan Cak Nun dalam suatu acara Maiyah. Katanya, akan datang masa kehidupan bernegara dan pemerintahan yang lebih parah dari sekarang. Pejabatnya semakin parah korupsinya. Masyarakatnya makin miskin dan makin terpuruk hidupnya.
Baca juga: George Matus: Anak yang Menyentuh Langit, Menjadi Obor Semangat Wirausaha Generasi Muda
Lantas, bagaimana caranya bisa keluar dari penderitaan seperti itu? Bagaimana pula mengubah pemerintahnya agar peduli dan berpihak kepada rakyatnya? Mencerdaskan rakyatnya, menyejahterakan rakyatnya…
Seperti benang kusut memang. Lingkaran setan yang sudah tak tahu ujung pangkalnya. Ada jutaan intelektual hebat di negeri ini tapi kalau disodori sebuah pertanyaan: dari mana memulai perbaikan negeri ini?, jawabannya tak pernah sama. Bahkan ada yang sangat radikal memberikan solusinya: potong satu generasi. Hilangkan generasi Old yang sudah karatan memegang kendali negeri ini. Tapi balik lagi ke pertanyaan: bagaimana caranya?
Menurut saya sih, salah satu cara memperbaiki pelan-pelan sekaligus salam rangka memotong perilaku generasi Old yang busuk tadi adalah dimulai dengan afirmasi. Apa bentuknya? Afirmasi positif yang secara serentak dinyatakan oleh jutaan anak bangsa yang masih polos dan setidaknya afirmasi positif itu akan diulang-ulang setiap minggu. Ya, seminggu sekali cukup, seminggu dua kali lebih bagus. Afirmasi lewat apa?
Baca juga: Mendengar Pidato Prabowo Dalam Sidang Tahunan MPR 2026
Paling mudah adalah lewat lagu. Lagu kebangsaan Indonesia Raya. Itu adalah lagu wajib anak SD, SMP, SMA setiap hari Senin saat mereka melakukan upacara bendera. Atau saat Jumat / Sabtu ketika ada upacara penurunan bendera. Lagi Indonesia Raya yang sekarang ini dinyanyikan dan dihapal di luar kepala itu saatnya diganti. Diganti apa?
Saatnya nyanyi bersama lagu Indonesia Raya itu diganti dengan lirik Indonesia Raya Stanza 2. Bukan Stanza 1 seperti yang selama ini kita nyanyikan. Stanza itu tidak terlalu kuat pesannya, terutama pesan moralnya. Stanza 1 mungkin hanya cocok saat Indonesia baru merdeka dan beberapa dekade kemudian. Tapi untuk sekarang liriknya tidak cocok lagi dengan relevansi kebutuhan jaman.
Kalau kita percaya pada adagium bahwa kata adalah doa dan setiap doa akan merealita maka kita harus percaya bahwa lirik Indonesia Raya Stanza 2 adalah doa-doa yang jauh lebih positif untuk bangsa ini. Dan harapannya semua vibe positif Stanza 2 yang jika dinyanyikan secara serentak bersama oleh puluhan juta siswa itu nantinya akan menjadi kenyataan. Isi liriknya masuk ke alam bawah sadar, dihayati secara mendalam, dan kelak sepuluh duapuluh tahun lagi, isi pesan di dalamnya itulah yang akan selalu diingat. Saat anak-anak itu telah menjadi pemimpin-pemimpin negeri ini.
Setidaknya ada sembilan vibe positif di lirik lagu Indonesia Raya Stanza 2. Antara lain, menekankan Indonesia ini adalah pusaka yang harus dijaga. Mengajak selalu berdoa agar rakyat negeri ini bahagia. Mengingatkan penyelenggara negaranya harus sadar diri dan sadar budi sehingga akan selalu terjaga dari keinginan untuk korupsi dan perbuatan buruk semacamnya. Dalam lirik Stanza 2 ini juga ada doa agar tanah Indonesia ini selalu subur sehingga selalu memberi kemakmuran pada rakyatnya. Bayangkan jika sejak sekarang semua hal itu dimasukkan ke alam bawah sadar mereka, apa yang akan berubah di 20 tahun yang akan datang?
Tak ada lagi terdengar kata Indonesia tumpah darah seperti di lirik Stanza 1. Lalu tanah tumpah. Tanah air. Yang jika dikontekakan dengan semiotika tertentu bisa bermakna berencana dan musibah. Banjir bandang, tsunami, gempa bumi, perkelahian massal, perang antar geng, permusuhan bebuyutan antar suporter bola, dan semacamnya bisa diasosiasikan befasal dari kata-kata tumpah tumpah yang selalu dinyanyikan setiap hari Senin dalam upacara bendera itu
Sebagai pembanding, coba telaah saja nasib para penyanyi lagu di Indonesia ini. Kebanyakan nasibnya nyaris sama dengan lirik lagu yang dinyanyikan. Mulai Nia Daniati, Ifan Seventeen, Desi Kempot, Maia Estianty, Ariel Peterpan, Kris Dayanti, Hamdan ATT, dan banyak lagi yang bisa disebutkan, realita hidupnya tak jauh dari lirik lagu (yang sekaligus doa secara tidak langsung) yang dinyanyikannya berulang-ulang.
Makanya orang-orang tua dulu seringkali memarahi kita kalau kita keceplosan mengucapkan kata-kata jelek ke orang lain. Kita disuruh menarik kata-kata itu, meminta maaf, dan mengucapkan istighfar. Tujuannya, agar kata-kata buruk itu tidak merealita terjadi. Baik pada orang lain maupun diri sendiri. Sebab, mereka percaya, semua kata yang terucap ke orang lain, itu akan memantul ke diri sendiri. Yang secara sederhana ini disebut hukum tabur tuai itu. Siapa yang menabur angin dia juga akan menuai badai.
Saya pernah menawarkan solusi ini kepada sebuah sekolah SD swasta di Lamongan saat saya mudik lebaran kemaren. Alhamdulillah, pak Guru mau open mind. Dia membenarkan bahwa apa yang saya pikirkan ini bisa jadi benar. Kita bisa mulai dari langkah kecil dengan cara mengubah lirik Lagu Kebangsaan Indonesia Raya itu untuk dinyanyikan ke adik-adik kita yang masih kecil dan polos itu. Saat upacara bendera sudah menyanyikan Lagu Indonesia Raya Stanza 2. Semoga masih istikamah dijalankan sampai sekarang. Dan diikuti oleh sekolah-sekolah lainnya. Karena vibe-nya yang sangat positif dan semoga ke depannya merealita menjadi hal-hal positif dalam kehidupan bangsa.
Ya, meskipun saya seringkali merasa sedih dan perih melihat arah perjalanan bangsa ini selayang, apalagi di tengah semua pejabatnya yang dari pusat hingga daerah seperti berlomba-lomba korupsi dan dulu-duluan ketangkap KPP, saya masih punya secercah harapan dan sedikit optimisme bahwa kerusakan negara yang parah ini masih bisa diperbaiki di masa depan. Dengan mencetak generasi-generasi yang sadar diri, sadar budi, punya Budi pekerti, yang indoktrinasi itu dimasukkan secara sublim lewat bernyanyi bersama. Bernyanyi lagu Indonesia Raya Stanza 2.
Jadi, kalau di desamu besok pagi ada acara Upacara Bendera HUT RI, maukah untuk mengganti lirik lagu kebangsaan Indonesia Raya yang dinyanyikan itu ke Indonesia Raya Stanza 2?! Saya yakin, WR Supratman bukan kebetulan menciptakan lirik lagu Indonesia Raya itu bukan satu Stanza. Sayangnya kita lupa bahwa justru di Stanza 2 itulah harapan -harapan tentang Indonesia yang ideal dan indah itu dirapalkan. Ya, kita melupakannya. Maka saatnya untuk memulai langkah baru mulai esok hari, 17 Agustus 2026.
Hari ini ada 25 juta anak SD di seluruh Indonesia Mereka wajib melakukan upacara bendera setiap hari Senin. Mari menaruh harapan mengubah nasib negeri ini ke pundak bocil-bocil itu. Panennya nanti dua puluh tahun lagi. Kalau kita tidak bisa mengubah negeri ini lewat generasi tuanya yang sudah kelewat rusak kelakuannya, maka solusinya kita mulai dari tunas-tunas baru. Kita rawat dan tumbuhkan mereka dengan asupan-asupan moral yang positif. Sejak dini!(Among Kurnia Ebo)


