Cerpen: Mustiar Ar
–
Hujan turun perlahan di kota kecil itu. Langit menggantung kelabu, seolah memikul kenangan yang tak pernah benar-benar selesai. Di sebuah warung kopi tua yang nyaris tak berubah dimakan waktu, Arga duduk sendiri. Secangkir kopi hitam di hadapannya telah kehilangan uap, tetapi ingatan di kepalanya tetap hangat. Dari balik jendela, ia memandang jalan yang basah, tempat orang-orang datang dan pergi, sementara dirinya seakan tetap tinggal di musim yang sama.
Sudah delapan tahun sejak Lestari pergi.
Mereka pernah saling mencintai tanpa banyak janji. Cukup dengan saling percaya, mereka merasa masa depan akan menemukan jalannya sendiri. Di tepi pantai, mereka pernah menyusun mimpi-mimpi sederhana; sebuah rumah kecil yang menghadap laut, halaman yang dipenuhi bunga, dan senja yang akan mereka nikmati bersama hingga rambut memutih.
Namun hidup memiliki caranya sendiri untuk menguji manusia.
Ketika ayah Lestari dipindahtugaskan ke kota lain, seluruh keluarganya harus ikut pindah. Tak ada pertengkaran, tak ada pengkhianatan. Yang ada hanyalah keadaan yang memaksa dua hati menerima perpisahan. Mereka sempat berjanji akan saling menunggu, tetapi waktu adalah laut yang perlahan menghapus jejak di pasir.
Malam sebelum keberangkatan itu masih tersimpan utuh di ingatan Arga. Mereka duduk di bibir pantai tanpa banyak bicara. Ombak datang silih berganti, seolah ingin menghapus jejak kaki mereka sebelum fajar benar-benar tiba. Lestari menggenggam sebuah kerang kecil, lalu menyelipkannya ke tangan Arga.
“Kalau suatu hari kita tak lagi saling menemukan, simpanlah ini,” ucapnya lirih. “Bukan untuk mengingat aku, tetapi untuk mengingat bahwa kita pernah saling menguatkan.”
Baca juga: Papua Menangis, Kita Tidak Boleh Diam
Arga mengangguk tanpa mampu menjawab. Ia tahu, ada kalimat yang tak akan pernah cukup kuat mengalahkan kenyataan. Sejak malam itu, kerang kecil itu selalu tersimpan di antara halaman buku puisinya, menjadi saksi bahwa cinta yang tulus tidak selalu berakhir dengan kebersamaan.
Sejak hari itu, Arga menjadi lelaki yang lebih akrab dengan kesunyian.
Pagi-pagi ia membantu ibunya merawat rumah tua peninggalan ayahnya. Sore hari ia duduk di warung kopi membaca buku atau menulis catatan kecil di buku lusuh yang selalu dibawanya. Ketika malam datang, kata-kata menjadi teman yang paling setia. Di sanalah ia menitipkan rindu yang tak pernah menemukan alamat.
Orang-orang mengenalnya sebagai penyair yang pendiam. Ia lebih sering mendengarkan daripada berbicara. Baginya, hujan, angin, dan langkah kaki orang-orang adalah puisi yang belum selesai ditulis. Dari kesunyian itulah lahir tulisan-tulisan yang diam-diam menyentuh banyak hati. Beberapa puisinya dimuat di surat kabar, tetapi tak seorang pun tahu bahwa hampir setiap bait sesungguhnya berangkat dari satu nama yang tak pernah lagi ia sebut.
Suatu malam, Rahman, sahabat lamanya, bertanya, “Mengapa kau masih menulis tentang seseorang yang mungkin telah melupakanmu?”
Arga tersenyum tipis.
“Karena rindu tidak meminta untuk dimiliki. Ia hanya ingin dikenang dengan jujur.”
Rahman tak lagi bertanya. Ia tahu, ada luka yang hanya bisa dipeluk oleh waktu.
Musim berganti. Tahun-tahun berlalu tanpa kabar. Arga tetap menjalani hidup sebagaimana mestinya. Ia tidak lagi menunggu, tetapi juga tidak pernah benar-benar melupakan. Rindu itu tumbuh seperti lumut pada dinding tua; tak mencolok, namun selalu ada.
Hingga suatu sore, setelah hujan reda, pintu warung kopi terbuka perlahan.
Seorang perempuan berdiri di ambangnya.
Rambutnya tak lagi sepanjang dulu. Wajahnya telah disentuh usia. Namun mata itu tetap sama—mata yang pernah menjadi rumah bagi seluruh mimpi Arga.
“Lestari…” bisiknya nyaris tak terdengar.
Perempuan itu tersenyum.
“Apa kabar, Arga?”
“Baik… atau mungkin sedang belajar menjadi baik.”
Mereka duduk berhadapan. Tidak ada kecanggungan, hanya keheningan yang dipenuhi kenangan. Mereka berbicara tentang hidup yang telah membawa masing-masing ke jalan berbeda. Lestari bercerita bahwa suaminya telah meninggal dua tahun lalu karena sakit. Kini ia kembali ke kota itu untuk merawat ibunya yang mulai renta. Ada kesedihan di matanya, tetapi juga ketabahan yang membuat Arga memahami bahwa hidup tidak hanya mengajarinya kehilangan.
Sebelum senja benar-benar tenggelam, Lestari mengeluarkan sebuah buku kecil dari tasnya.
“Aku menyimpannya selama ini.”
Arga menerimanya dengan tangan gemetar.
Itu buku puisi pertamanya. Sampulnya mulai pudar. Di sela-sela halamannya masih tersimpan bunga kering dan kerang kecil yang pernah mereka bawa pulang dari pantai pada malam perpisahan.
“Aku tak pernah sanggup membuangnya,” kata Lestari lirih.
Arga membuka halaman terakhir. Di sana masih tertulis kalimat yang pernah ia tulis dengan tinta biru:
“Jika suatu hari kita dipisahkan waktu, biarkan rindu menjadi jembatan yang tak terlihat.”
Mata Arga basah. Ia akhirnya mengerti bahwa kenangan tidak selalu meminta untuk dihidupkan kembali. Kadang, ia hanya ingin diakui bahwa ia pernah menjadi bagian paling indah dalam kehidupan seseorang.
Senja mulai tenggelam.
Lestari berdiri.
“Aku harus pulang.”
Arga mengangguk.
“Terima kasih sudah kembali, meski hanya untuk sesaat.”
“Dan terima kasih… karena kau tidak pernah mengubah kenangan kita menjadi kebencian.”
Mereka saling tersenyum. Tak ada pelukan. Tak ada janji baru. Hanya dua hati yang akhirnya menerima bahwa cinta tidak selalu berakhir dalam kebersamaan. Ada cinta yang memilih tinggal sebagai doa, tumbuh diam-diam di sela retakan waktu, namun tak pernah kehilangan cahayanya.
Arga memandang langkah Lestari hingga menghilang di tikungan jalan. Ia membuka kembali buku puisinya, lalu pada halaman kosong paling belakang menulis pelan:
“Sepotong rindu tak pernah benar-benar hilang. Ia memilih tinggal di pinggir retak, menjaga kenangan agar tidak runtuh oleh lupa.”
Di luar, hujan kembali turun dengan tenang.
Arga menutup buku itu perlahan. Kini ia mengerti, tidak semua yang retak harus disatukan kembali. Sebagian memang ditakdirkan menjadi ruang tempat rindu bersemayam, agar manusia belajar bahwa kehilangan bukanlah akhir dari cinta, melainkan cara paling sunyi untuk menjaganya tetap hidup.
Warung kopi kembali lengang. Aroma kopi bercampur tanah yang dibasahi hujan memenuhi udara. Arga tersenyum tipis, bukan karena semua lukanya telah sembuh, melainkan karena ia akhirnya berdamai dengan waktu. Di antara rintik hujan yang jatuh satu demi satu, ia merasa setiap kenangan telah menemukan tempatnya sendiri: bukan lagi sebagai beban, melainkan sebagai cahaya kecil yang akan terus menuntunnya melangkah.
Tentang penulis

Gambar: Mustiar Ar. Sumber Gambar: MA’s doc. via LM-SAN media Group.






