Sabtu, 25 Juli 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

Di Balik Layar BMKG Saumlaki, Ancaman Gempa Dipantau Setiap Hari

Oleh: joko

BMKG: Gempa Pasti Terjadi, Kesiapsiagaan Tak Boleh Ditunda

http://suaraanaknegeri.com| Saumlaki, Kabupaten Kepulauan Tanimbar – Kepulauan Tanimbar bukan sekadar gugusan pulau yang berada di ujung tenggara Maluku. Di balik bentang alamnya yang indah, wilayah ini menyimpan kerentanan bencana yang tidak bisa diabaikan. Gempa bumi menjadi bagian dari dinamika alam yang sewaktu-waktu dapat terjadi, sementara ancaman tsunami, longsor, cuaca ekstrem, hingga banjir rob turut menjadi risiko yang perlu diantisipasi masyarakat.

Baca juga: Bank BRI Memantapkan Diri sebagai Salah Satu Bank Terbesar di Dunia

Kepala Stasiun Geofisika Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Netty Yufita Baru, S.Si., M.Si., saat ditemui media ini di ruang kerjanya, Kamis (23/7/2026), menegaskan bahwa aktivitas kegempaan di wilayah Tanimbar merupakan fenomena yang terus berlangsung.

Gempa Terjadi Setiap Hari, Tak Selalu Dirasakan
Menurut Netty, hampir setiap hari terjadi aktivitas gempa bumi di wilayah Tanimbar. Namun, tidak seluruh gempa tersebut dirasakan masyarakat atau menimbulkan dampak langsung.

“Kalau aktivitas gempa di wilayah Tanimbar khususnya, setiap harinya ada saja kejadian gempa bumi dan banyak juga yang kita rasakan, tetapi tidak terlalu berdampak langsung ke masyarakat,” ujarnya.

Baca juga: Papua Pegunungan dan Kota Jayapura Juara Kapolda Cup U-19 2026: Sinergi TNI-Polri-Pemda Sukses Gelar Ajang Pembibitan Atlet Pra-PON

Kondisi tersebut, kata dia, tidak terlepas dari karakteristik geologi wilayah Tanimbar. Meski demikian, sejarah kegempaan menunjukkan bahwa kawasan ini memiliki potensi mengalami gempa dengan kekuatan besar yang dapat menimbulkan kerusakan.

Pengalaman gempa signifikan yang pernah terjadi pada 2023 menjadi salah satu pengingat penting bagi masyarakat dan pemerintah untuk terus memperkuat mitigasi bencana.

“Ini menjadi pengingat untuk kita kalau gempa itu akan terjadi juga di waktu yang akan datang dengan kekuatan yang bervariasi. Kita tidak tahu berapa magnitudonya dan juga intensitas kerusakannya. Yang menjadi kewajiban kita juga merencanakan mitigasi yang tepat untuk wilayah Tanimbar,” kata Netty.

Sejarah Geologi Menjadi Pengingat
Kerentanan Tanimbar terhadap bencana, menurut Netty, juga tidak dapat dilepaskan dari proses geologi yang membentuk wilayah kepulauan tersebut.

Sejarah pembentukan Pulau Tanimbar dan kondisi geologi masa lalu menunjukkan adanya dinamika alam yang harus menjadi bahan pembelajaran dalam membangun kesiapsiagaan masyarakat.

“Kalau kita melihat dari proses terbentuknya Pulau Tanimbar ini, berarti ada kejadian bencana di masa lalu yang menimbulkan bagaimana adanya Pulau Tanimbar. Nah, ini juga bisa kita lihat dari historis kejadian dengan geologi masa lalu,” jelasnya.

Karena itu, masyarakat tidak seharusnya menunggu bencana terjadi untuk mulai bersiap. Menurut Netty, pertanyaan yang tepat bukan lagi apakah gempa atau tsunami akan terjadi, melainkan sejauh mana masyarakat siap menghadapi dampaknya.

“Kita sudah tinggal di daerah yang aktif gempa bumi, jadi kita tidak bisa tanya apakah kita memang akan ada gempa atau tsunami, karena itu sudah pasti. Jadi kita harus meningkatkan kesiapsiagaan,” tegasnya.

Evakuasi Mandiri Dimulai dari Pengetahuan Diri
Netty mengatakan, edukasi kebencanaan terus dilakukan oleh BMKG. Masyarakat didorong untuk memahami kondisi lingkungan tempat tinggal masing-masing dan mengetahui risiko yang mungkin dihadapi.

“Kalau dari kami, kami sudah edukasi. Selain untuk bisa melakukan evakuasi mandiri, kita mengenali lingkungan kita di mana kita tinggal. Apakah kita tinggal di pesisir pantai, kemudian kita tinggal di daerah yang mudah longsor,” katanya.

Menurut dia, gempa bumi tidak hanya menimbulkan guncangan. Dalam kondisi tertentu, gempa dapat memicu bencana ikutan seperti longsor maupun tsunami.
Karena itu, kesiapsiagaan masyarakat harus dibangun sebelum peringatan dini dikeluarkan.

“Ketika terjadi bencana, sebelum ada peringatan dini kita meningkatkan kesiapsiagaan. Kita harus bisa untuk segera melakukan evakuasi mandiri dan juga harus memastikan informasi yang diterima itu dari BMKG,” ujarnya.

Jangan Terjebak Informasi Palsu
Di tengah derasnya arus informasi digital, Netty mengingatkan masyarakat agar tidak mudah mempercayai informasi yang tidak jelas sumbernya ketika terjadi bencana.

BMKG, kata dia, menyediakan berbagai kanal informasi yang dapat diakses masyarakat untuk memperoleh informasi resmi mengenai gempa bumi, tsunami, cuaca, dan produk informasi kebencanaan lainnya.

“Kami sudah ada Info BMKG update langsung. Bisa mendapatkan informasi kejadian gempa, tsunami maupun informasi cuaca dan lainnya berkaitan dengan produk BMKG,” jelasnya.

Selain itu, Stasiun Geofisika Saumlaki juga berkoordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan untuk menyampaikan informasi secara berkala.

Informasi tersebut antara lain disajikan dalam bentuk infografis yang memuat perkembangan aktivitas kegempaan dan fenomena cuaca di wilayah Tanimbar.

“Biasanya kami sampaikan juga berkaitan dengan infografis. Jadi satu minggu ada berapa banyak kejadian gempa bumi, ada berapa kejadian sambaran petir. Jadi bukan hanya gempa bumi dan tsunami, tugas kami untuk yang lain juga ada,” tutur Netty.

Gempa Tidak Bisa Diprediksi
Satu hal yang perlu dipahami masyarakat, kata Netty, hingga kini belum ada teknologi yang mampu memastikan kapan tepatnya gempa bumi akan terjadi.

Karena itu, masyarakat tidak boleh menggantungkan keselamatan hanya pada kemampuan memprediksi waktu terjadinya gempa.

“Kalau melihat wilayah sebenarnya untuk semua daerah, kita patut waspada untuk tingkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan kita,” ujarnya.

Netty menambahkan, Tanimbar memiliki struktur sesar aktif dengan karakteristik yang kompleks. Karena itu, setiap wilayah memiliki tingkat kerentanan masing-masing dan tidak dapat dibandingkan secara sederhana antara satu daerah dengan daerah lainnya.

“Wilayah Tanimbar memang wilayah yang rentan terhadap gempa bumi dan tsunami. Kalau dari kami sebenarnya gempa bumi tidak bisa diprediksi kapan waktunya. Kami tidak bisa memprediksi dan ilmuwan di dunia ini belum ada juga yang bisa memprediksi kapan terjadinya gempa bumi,” tegasnya.

Namun, sejarah kegempaan dapat menjadi rujukan untuk membangun kewaspadaan. Gempa dengan kekuatan besar yang pernah terjadi di masa lalu, menurut dia, menjadi pengingat bahwa potensi serupa dapat kembali terjadi.

“Jika melihat history kejadian, kami hanya bisa menyampaikan agar kita dapat meningkatkan kesiapsiagaan. Ketika gempa yang terjadi di masa lalu, misalnya ada kekuatan 7,5 ataupun gempa signifikan yang pernah terjadi, itu bisa terjadi lagi di waktu-waktu tertentu dan itu kita harus mewaspadai kondisi tersebut karena daerah kita adalah daerah yang aktif terhadap gempa,” jelasnya.

Empat Tahapan Informasi Gempa dan Tsunami
Dalam menghadapi ancaman gempa dan tsunami, BMKG memiliki mekanisme penyampaian informasi dan peringatan dini secara bertahap.

Informasi awal dimulai dari parameter gempa bumi yang diterima oleh sistem pemantauan. Setelah itu dilakukan pemutakhiran kondisi untuk memastikan informasi yang disampaikan kepada masyarakat dan pemangku kepentingan terkait.

Apabila hasil analisis menunjukkan adanya potensi tsunami, BMKG akan menyampaikan peringatan agar masyarakat di wilayah terdampak segera melakukan evakuasi.

Tahap berikutnya adalah pemutakhiran informasi hingga kondisi tsunami dinyatakan berakhir.

“Berkaitan dengan peringatan dini, kami ada peringatan dini satu, dua dan tiga. Informasi pertama kami mendapat parameter gempa bumi, kemudian kami update kondisi tersebut. Setelah itu peringatan dini ketiga kami akan mengeluarkan informasi daerah itu berpotensi tsunami dan evakuasi. Dan yang terakhir itu pemutakhiran atau informasi tsunami berakhir,” terang Netty.

Jalur Evakuasi Belum Sepenuhnya Dipahami
Tantangan lain yang masih dihadapi adalah belum meratanya edukasi mengenai evakuasi mandiri di seluruh wilayah Tanimbar.

Netty mengatakan, sebagian masyarakat memang memiliki pengetahuan lokal mengenai cara menyelamatkan diri ketika terjadi bencana. Namun, pemahaman mengenai jalur evakuasi yang telah ditetapkan belum sepenuhnya merata.

“Kalau masyarakat semua pasti mereka hanya menggunakan pengetahuan mereka sendiri untuk evakuasi mandiri. Karena kalau daerah dari sini selain berpotensi tsunami, kebanyakan masyarakat tinggal di pesisir pantai dan rawan untuk cuaca ekstrem dan banjir rob,” katanya.

Kondisi tersebut menjadi semakin kompleks ketika ancaman tsunami berpotensi terjadi bersamaan dengan cuaca ekstrem atau banjir rob.
Situasi seperti itu, menurut Netty, membutuhkan edukasi yang lebih intensif agar masyarakat memahami tindakan yang harus dilakukan dalam kondisi darurat.

Kesiapsiagaan Adalah Tanggung Jawab Bersama
Bagi BMKG, kesiapsiagaan bukan semata-mata tugas pemerintah atau lembaga kebencanaan. Setiap individu memiliki tanggung jawab untuk memahami risiko dan menyiapkan diri.

“Ketika terjadi bencana, pertama berkaitan dengan kita tinggal di daerah rentan terhadap bencana gempa bumi, kita wajib untuk meningkatkan kesiapsiagaan kita masing-masing,” ujarnya.

Netty menekankan, masyarakat tidak harus menunggu pihak lain untuk mulai bersiap.
“Kesiapsiagaan itu dari diri sendiri. Kita tidak harus menunggu orang lain untuk meningkatkan kesiapsiagaan,” tegasnya.

Ia kembali mengingatkan pentingnya memastikan seluruh informasi kebencanaan diperoleh melalui sumber resmi BMKG agar masyarakat tidak terjebak hoaks atau informasi yang menyesatkan.

“Untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan juga yang kedua berkaitan dengan informasi yang diterima dipastikan dari BMKG agar tidak dikasih hoaks dan sebagainya, sehingga kita ketika terjadi bencana kita melaksanakan evakuasi itu berkaitan dengan informasi yang diterima langsung dari BMKG,” pungkasnya.

Dari Ruang Pemantauan, Tanimbar Dipantau Setiap Hari
Usai wawancara, Netty mengajak awak media melihat langsung sejumlah ruangan yang menjadi pusat pemantauan dan pengolahan informasi kebencanaan di Stasiun Geofisika Saumlaki.

Di salah satu ruangan, layar monitor digunakan untuk memantau aktivitas gempa bumi dan tsunami di wilayah Indonesia, dengan perhatian khusus terhadap kawasan Maluku.

Setiap kejadian gempa yang terdeteksi akan dianalisis untuk mendapatkan parameter, lokasi, serta informasi lain yang diperlukan sebelum didiseminasikan kepada pemangku kepentingan terkait.

Perangkat pemantauan juga digunakan untuk mengamati kondisi sambaran petir serta berbagai fenomena atmosfer lainnya.

Stasiun Geofisika Saumlaki turut memanfaatkan sejumlah perangkat pengamatan yang mendukung pengumpulan data kebencanaan dan cuaca. Salah satunya adalah alat pengukur curah hujan yang digunakan untuk mencatat jumlah hujan setiap hari.

Data tersebut menjadi bagian penting dalam analisis pola hujan jangka panjang. Akumulasi data selama puluhan tahun dapat membantu menggambarkan karakteristik cuaca dan iklim di wilayah Tanimbar.

Teknologi, Data, dan Kesadaran Warga
Di balik perangkat pemantauan yang bekerja setiap hari, terdapat satu pesan yang terus berulang: teknologi tidak akan cukup tanpa kesiapsiagaan masyarakat.

Gempa bumi tidak dapat diprediksi secara tepat kapan akan terjadi. Tsunami dapat datang setelah gempa besar terjadi. Cuaca ekstrem dan banjir rob juga dapat memperbesar risiko di wilayah pesisir.

Karena itu, bagi masyarakat Tanimbar, kesiapsiagaan bukan sekadar pilihan. Ia merupakan kebutuhan yang harus dibangun melalui pengetahuan, latihan, informasi yang benar, serta keberanian untuk melakukan evakuasi mandiri ketika situasi mengharuskan.

Pada akhirnya, pesan BMKG Saumlaki sederhana namun penting: masyarakat tidak perlu hidup dalam ketakutan menghadapi bencana. Namun, masyarakat juga tidak boleh lengah.

Sebab, di wilayah yang aktif secara geologis seperti Tanimbar, bencana mungkin tidak dapat diprediksi kapan datangnya. Tetapi kesiapan untuk menghadapinya dapat dibangun mulai hari ini.

Kategori:
Tags:

Terkini