Kita merapal ikrar dari masa lalu,
tetapi hari ini, sumpah itu dikunyah di meja-meja rapat
oleh mereka yang berwajah rapi, tetapi berhati celaka.
Satu nusa, satu bangsa, satu bahasa—
tetapi tanah air telah dipetak-petak menjadi sertifikat kuasa,
milik segelintir oligarki
yang kenyang di atas lapar semesta.
“Tidakkah kalian dengar, zaman edan telah datang?”
Bisik Ranggawarsita dari balik abad yang remuk.
Orang-orang bijak kini memilih bungkam,
sebab bicara menjadi dosa di hadapan singgasana tawa.
Yang menang adalah mereka yang lihai merampok,
yang berkuasa adalah mereka yang pandai bersandiwara.
Hukum dibeli, keadilan dilipat dalam amplop cokelat,
dan nurani bangsa digadaikan
demi kursi dan kerabat.
Pemuda hari ini berdiri di simpang jalan,
menatap gawai di tangan,
sementara republik runtuh pelan-pelan.
Apakah kita akan terus menjadi penonton yang patuh,
menyaksikan negeri ini diobrak-abrik oleh syahwat kuasa?
Ataukah Sumpah Pemuda bukan lagi janji suci,
melainkan fosil sejarah
yang kita pajang untuk menutupi duri?
Bangunlah!
Sebab zaman edan bukan takdir yang abadi,
ia hanya ujian bagi nyali yang belum mati.
Jika pena dan suara dipasung rantai besi,
maka diam adalah pengkhianatan
yang paling keji!
Kota Batu 28 Oktober 2026
https://www.facebook.com/share/v/1A3keU9kAr/



