Oleh: Johanis Kopong
Ruth Maranressy: Fasilitas Kesehatan Siaga, Masyarakat Diminta Tidak Sepelekan Kabut Asap
Saumlaki | suaraanaknegeri.com – Rabu, 28 Oktober 2026. Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Kepulauan Tanimbar mengimbau masyarakat untuk mewaspadai dampak kabut asap dan debu yang menyelimuti Kota Saumlaki dan sejumlah wilayah sekitarnya. Warga, terutama yang beraktivitas di luar ruangan, diminta menggunakan masker, memperbanyak konsumsi air putih, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gangguan kesehatan.
Baca juga: TAMPIL PERKASA DAN PENUH PERJUANGAN, BRI KC SAUMLAKI MELAJU KE FINAL TANIMBAR CUP 2026
Imbauan tersebut disampaikan Kepala Bidang Penanggulangan Penyakit (P2) Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Ruth Anthoneta Maranressy, SKM, dalam wawancara eksklusif bersama media Suara Anak Negeri dan Radio Republik Indonesia (RRI) Saumlaki di ruang kerjanya, Rabu (28/10/2026).
Menurut Ruth, langkah antisipasi telah dilakukan sejak awal Oktober melalui kampanye penggunaan masker dan pembagian masker gratis kepada masyarakat di sejumlah titik aktivitas warga.
“Kami sudah kampanye membagikan masker secara gratis di jalan poros, di pasar lama, pasar baru. Kami sudah lakukan itu dan sekaligus mempromosikan tentang bagaimana menjaga kesehatan,” ujar Ruth.
Baca juga: Pdt. Heberth Wahilaitwan Ajak Jemaat GBI Milos Setia Mengikut Tuhan

Kabut Asap Berpotensi Mengganggu Kesehatan
Ruth menjelaskan, paparan asap dan debu dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan, terutama pada saluran pernapasan. Keluhan yang mungkin muncul antara lain batuk, pilek, bersin, iritasi mata, serta gangguan pernapasan lainnya.
Ia mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap sepele kondisi udara yang terlihat berasap. Partikel kecil yang terkandung di dalam asap tidak seluruhnya dapat dilihat secara langsung oleh mata.
“Jadi untuk mengantisipasinya harus bermasker waktu di luar rumah, waktu beraktivitas di luar rumah itu sangat penting menggunakan masker dan mungkin juga kurangi aktivitas di luar rumah,” katanya.
Selain gangguan pernapasan, paparan asap dan debu juga berpotensi menyebabkan iritasi mata dan kulit. Karena itu, masyarakat yang tidak memiliki keperluan mendesak disarankan membatasi aktivitas di luar ruangan ketika kondisi udara kurang baik.
Ruth juga mengingatkan warga yang biasa berolahraga di luar ruangan agar mempertimbangkan kondisi lingkungan sebelum melakukan aktivitas fisik, terutama apabila debu dan asap masih terlihat pekat.
Data ISPA Dilaporkan Masih Nol
Mengenai perkembangan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), Ruth menyampaikan bahwa data yang dilaporkan untuk wilayah Kabupaten Kepulauan Tanimbar masih berada dalam batas normal.
Ia menjelaskan bahwa laporan ISPA dilakukan secara berkala kepada pemerintah provinsi. Namun, tidak semua keluhan batuk dan pilek secara otomatis dimasukkan sebagai kasus ISPA dalam pelaporan tersebut.
“Terakhir kami laporkan mingguan itu untuk ISPA untuk minggu kemarin, saat di tanggal 22 itu masih nol, ya masih nol,” ungkapnya.
Ruth menegaskan, penetapan kasus ISPA dalam pelaporan kesehatan mengacu pada diagnosis tenaga medis, sehingga keluhan batuk atau pilek biasa tidak serta-merta dicatat sebagai kasus ISPA. Dengan demikian, berdasarkan data yang disampaikan narasumber, belum terdapat kasus ISPA yang tercatat dalam laporan mingguan terakhir yang dirujuknya.
Meski demikian, data tersebut tidak berarti masyarakat terbebas dari risiko gangguan kesehatan akibat paparan asap. Dinas Kesehatan tetap melakukan pemantauan terhadap perkembangan penyakit yang berpotensi meningkat mengikuti perubahan kondisi lingkungan dan musim.
Pengukuran Udara dan Koordinasi Lintas Instansi
Terkait pemantauan kondisi udara, Ruth mengatakan Dinas Kesehatan telah menerima surat dari BMKG secara daring. Namun, menurut dia, koordinasi khusus secara langsung antara Dinas Kesehatan dan BMKG belum dilakukan.
Sebagai tindak lanjut, pihaknya telah berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup untuk membandingkan hasil pengukuran kondisi udara menggunakan peralatan yang tersedia.
“Kami sudah melakukan koordinasi dengan pihak Dinas Lingkungan Hidup. Karena Dinas Kesehatan punya alat untuk mengukur tekanan udara di dalam ruangan maupun di luar ruangan,” jelasnya.
Menurut Ruth, hasil pengukuran yang dilakukan di sejumlah titik, termasuk kawasan jalan poros dan pasar, masih menunjukkan kondisi dalam batas normal berdasarkan parameter yang diukur. Ia juga menyebutkan bahwa hasil pengukuran tersebut telah dilaporkan kepada pihak terkait.
Namun, hasil pengukuran yang disebutkan itu perlu dipahami sesuai jenis parameter dan kemampuan alat yang digunakan. Pengukuran tekanan udara tidak dengan sendirinya menunjukkan konsentrasi partikel asap atau tingkat pencemaran udara. Karena itu, hasil pengukuran kualitas udara yang secara khusus mengukur partikel pencemar diperlukan untuk menilai paparan asap secara lebih menyeluruh.
Puskesmas dan Rumah Sakit Tetap Siaga
Ruth memastikan puskesmas dan rumah sakit di Kabupaten Kepulauan Tanimbar pada prinsipnya siap memberikan pelayanan kepada masyarakat yang mengalami gangguan kesehatan.
Ia menyatakan, hingga wawancara berlangsung, belum ada laporan kasus gangguan kesehatan berat akibat paparan asap yang menurut pemantauan Dinas Kesehatan memerlukan penanganan khusus.
“Kalau untuk puskesmas dan rumah sakit pada prinsipnya mereka siap untuk melayani,” katanya.
Ia menambahkan, Dinas Kesehatan terus menjalankan pemantauan atau surveilans terhadap perkembangan penyakit, termasuk penyakit musiman yang berpotensi menimbulkan kejadian luar biasa (KLB).
Pemantauan dilakukan secara berkelanjutan melalui pelaporan harian, mingguan, maupun bulanan sesuai kebutuhan surveilans. Pihaknya juga menyebut tenaga kesehatan dan obat-obatan untuk pelayanan rutin telah disiapkan.
Di tingkat puskesmas, penyuluhan mengenai kebersihan lingkungan, penggunaan masker, dan upaya pencegahan gangguan kesehatan juga terus dilakukan. Perhatian khusus diberikan kepada kelompok rentan, seperti bayi, anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki riwayat asma atau penyakit paru-paru. Pemantauan dilakukan melalui wilayah kerja masing-masing puskesmas.
Layanan Cek Kesehatan Gratis Dibuka
Selain pelayanan rutin di puskesmas, Ruth menyampaikan bahwa masyarakat juga dapat memanfaatkan program Cek Kesehatan Gratis (CKG).
Menurut dia, pelayanan tersebut tersedia di puskesmas dan Dinas Kesehatan selama jam kerja. Pemeriksaan mencakup sejumlah indikator kesehatan, antara lain tekanan darah, gula darah, tinggi badan, dan berat badan, sesuai layanan yang tersedia.
“Kalau ada yang mau dicek kesehatan gratis, boleh datang ke sini. Bapak juga boleh datang ke sini, gratis,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pelaksanaan CKG tidak hanya dilakukan di fasilitas kesehatan. Petugas juga menjangkau masyarakat melalui jadwal pelayanan di desa, dusun, hingga lingkungan permukiman sesuai wilayah kerja puskesmas.
Upaya tersebut diharapkan memudahkan masyarakat yang memiliki keterbatasan waktu atau tinggal jauh dari fasilitas pelayanan kesehatan untuk memperoleh pemeriksaan. Ruth mengajak masyarakat memanfaatkan layanan tersebut, terutama apabila mulai merasakan keluhan kesehatan yang mengganggu aktivitas sehari-hari.

Masker Medis dan Air Putih untuk Mengurangi Risiko
Bagi warga yang setiap hari bekerja di luar ruangan, Ruth menekankan pentingnya menggunakan masker yang memenuhi standar dan tidak membiarkan keluhan kesehatan berlangsung tanpa pemeriksaan.
Ia menyebut masker medis sebagai salah satu pilihan untuk membantu mengurangi paparan partikel di udara. Sementara itu, masker N95 merupakan jenis respirator yang memiliki kemampuan penyaringan lebih tinggi apabila digunakan dengan benar dan sesuai kebutuhan.
Masyarakat sebaiknya memilih masker yang sesuai standar, memasangnya dengan benar, serta memastikan masker menutup hidung dan mulut. Masker tidak sepenuhnya menghilangkan risiko paparan, terutama ketika konsentrasi asap tinggi.
Selain menggunakan masker, masyarakat dianjurkan memperbanyak konsumsi air putih untuk menjaga kecukupan cairan tubuh.
“Imbauan saya untuk mengantisipasi dampaknya, dampak dari kabut ini sebaiknya bagi bapak-ibu yang bekerja di luar ruangan harus menggunakan masker. Kemudian banyak minum air putih,” kata Ruth.
Ia juga meminta warga yang mengalami batuk berkepanjangan, sesak napas, atau keluhan lain yang memburuk agar segera mendatangi puskesmas maupun fasilitas kesehatan terdekat. Menurutnya, batuk yang berlangsung lebih dari dua minggu perlu diperiksa oleh tenaga kesehatan untuk mengetahui penyebabnya, termasuk kemungkinan penyakit yang membutuhkan penanganan khusus.
Masyarakat Diminta Menghindari Pembakaran Sampah dan Lahan
Pada bagian akhir wawancara, Ruth mengingatkan bahwa upaya menjaga kesehatan masyarakat tidak dapat hanya dibebankan kepada sektor kesehatan. Pencegahan kabut asap memerlukan kerja sama lintas instansi dan partisipasi masyarakat.
Ia mengimbau warga mengurangi pembakaran sampah, rumput, maupun lahan yang berpotensi menambah asap dan debu di lingkungan sekitar.
“Pesan saya mungkin kurangi bakar-bakar ya, bakar-bakar lingkungan, bakar-bakar rumput. Sebaiknya itu sampah dikumpulkan lalu dikasih ke Dinas Lingkungan Hidup,” ujarnya.
Ruth menilai koordinasi antara Dinas Kesehatan, Dinas Lingkungan Hidup, sektor pertanian, dan pihak terkait lainnya penting untuk mengendalikan sumber pencemaran sekaligus melindungi kesehatan masyarakat. Ia juga berharap warga mengikuti anjuran petugas kesehatan dan tidak mengabaikan langkah pencegahan meskipun belum merasakan gejala.
“Jadi mungkin pesan saya tolong untuk masyarakat dengarlah anjuran yang disampaikan oleh tugas kesehatan. Karena ini bicara dampak, dampak,” tutupnya.
(Sumber: Wawancara eksklusif Suara Anak Negeri dan RRI Saumlaki dengan Ruth Anthoneta Maranressy, SKM, Kabid P2 Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Rabu, 28 Oktober 2026.)



