BIAK NUMFOR, Selasa, 27 Oktober 2026 — Di Biak Numfor, toleransi tidak saja tumbuh dalam kata-kata yang indah. Ia hadir dalam langkah-langkah kecil yang bermakna: ketika pemuda Muslim membantu umat Katolik, ketika Pemuda Kristen berdiri bersama saudara-saudaranya yang berbeda keyakinan, dan ketika perbedaan tidak menjadi tembok pemisah, melainkan jembatan yang mempertemukan hati.

Pemandangan itulah yang menarik perhatian Uskup Jayapura, Mgr. Dr. Yanuarius Theofilus Matopai You, Pr., ketika meninjau penyelenggaraan Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani) II Provinsi Papua, Selasa (27/10/2026). Kegiatan yang berpusat di Hotel Swiss-Bel, Jalan Imam Bonjol Biak, itu bukan hanya menjadi panggung bagi suara-suara yang memuliakan Tuhan, tetapi juga ruang perjumpaan bagi nilai-nilai kemanusiaan.
Di ruang utama perlombaan, para pemuda dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Biak Numfor bersama Pemuda Kristen mengambil bagian dalam menjaga ketertiban dan kelancaran mobilitas peserta serta pengunjung. Semangat pelayanan serupa juga terlihat di tempat-tempat penginapan peserta yang datang dari berbagai kabupaten dan kota di Provinsi Papua.
Bagi Uskup Yanuarius, keterlibatan pemuda lintas agama menghadirkan pesan yang melampaui batas-batas ritual keagamaan. Iman tidak hanya menemukan maknanya di dalam rumah ibadat, tetapi juga ketika manusia membuka tangan untuk menolong sesamanya, sekalipun mereka berbeda keyakinan.
Ia berharap kebersamaan itu terus dipelihara dan diwariskan kepada generasi muda dijadikan kebiasaan hidup yang dibangun melalui penghormatan, kepedulian, dan kerja sama setiap hari.
Perbedaan Bukan Penghalang untuk Bekerja Bersama
Baca juga: GANDHI DAN CAHAYA KEBENARAN: KEMENANGAN ADALAH MENAKLUKKAN DIRI SENDIRI
Kehadiran Drs. Abubakar Watimena, mantan staf ahli Bupati Biak Numfor yang telah purna tugas, bersama Awaluddin, S.Sos., menambah makna perjumpaan lintas iman. Keduanya merupakan tokoh Muslim di Kabupaten Biak Numfor yang turut hadir bersama mahasiswa HMI dan anggota Organisasi Amatir Radio Indonesia (ORARI) Biak Numfor.

Abubakar Watimena menegaskan makna kebersamaan yang terbangun di tengah penyelenggaraan Pesparani II Papua.
“Kebersamaan umat Islam dan umat Kristen dalam kegiatan ini menunjukkan bahwa perbedaan keyakinan tidak menghalangi masyarakat untuk bekerja bersama demi kepentingan bersama,” ungkap Abubakar Watimena.
Pernyataan itu menggambarkan kenyataan sosial yang penting bagi masyarakat Biak Numfor. Kerukunan tidak selalu lahir dari peristiwa besar atau pidato yang panjang. Terkadang, ia tumbuh melalui kesediaan menjaga pintu, mengarahkan peserta, membantu tamu, dan memastikan setiap orang merasa diterima.
Di balik tugas-tugas sederhana itu, terdapat pengakuan bahwa setiap manusia memiliki martabat yang patut dihormati. Agama tidak kehilangan keagungannya ketika seseorang membantu pemeluk agama lain. Sebaliknya, nilai-nilai luhur agama menemukan wujud konkretnya ketika kasih, kepedulian, dan tanggung jawab sosial diterjemahkan menjadi tindakan.
Biak Numfor dan Pelajaran tentang Persaudaraan
Mendapatkan fenomena yang baik dan terus ditularkan, demikian Uskup Jayapura, Mgr. Dr. Yanuarius Theofilus Matopai You, Pr., menegaskan, “Keterlibatan HMI, Pemuda Kristen, tokoh Muslim, serta berbagai unsur masyarakat lainnya memperlihatkan bahwa kerukunan merupakan tanggung jawab kita bersama. Kerukunan tidak cukup diserahkan kepada pemimpin agama atau pemerintah, tetapi harus terus dirawat melalui perjumpaan, kepedulian, dan kerja nyata, terutama oleh generasi muda.

Dalam masyarakat yang majemuk, toleransi tidak boleh berhenti pada kesediaan membiarkan orang lain menjalankan keyakinannya. Toleransi harus bertumbuh menjadi solidaritas, yakni kesediaan untuk berdiri bersama, saling membantu, dan menjaga ruang kehidupan yang aman serta bermartabat bagi semua orang.
Pesparani II Provinsi Papua di Biak Numfor menghadirkan makna yang lebih luas daripada hanya sebuah kompetisi paduan suara gerejani. Di tengah lantunan lagu-lagu rohani, terdapat harmoni lain yang tidak selalu terdengar oleh telinga, tetapi dapat dirasakan melalui tindakan nyata: harmoni manusia yang memilih persaudaraan daripada prasangka, kasih daripada kebencian, dan kerja sama daripada perpecahan.
Di sinilah keteladanan generasi muda memperoleh arti penting. Mereka tidak hanya mewarisi kisah kerukunan dari generasi sebelumnya, tetapi juga menuliskan sejarahnya melalui tindakan nyata. Mereka menunjukkan bahwa masa depan Papua yang damai, bahkan masa depan seluruh umat manusia, tidak dibangun dengan menyeragamkan keyakinan, melainkan dengan menghormati perbedaan dan menemukan tujuan bersama dalam kemanusiaan.
Saya berharap semangat persaudaraan seperti yang kita saksikan di Biak Numfor ini terus tumbuh dan menjadi inspirasi bagi seluruh umat manusia. Rumah ibadat boleh berbeda, doa boleh dilantunkan dengan cara yang berlainan, dan keyakinan boleh memiliki jalan penghayatan masing-masing, tetapi kemanusiaan tetap menjadi ruang perjumpaan bersama.
Sebab, pada akhirnya, keagungan iman tidak hanya tercermin dalam kata-kata dan ritual, tetapi juga dalam kesediaan kita untuk mengasihi, menghormati, dan melayani sesama tanpa membedakan agama, suku, maupun latar belakang. Inilah semangat persaudaraan yang harus kita wariskan kepada generasi mendatang demi kehidupan yang damai, rukun, dan bermartabat bagi semua.”

Keterlibatan HMI, Pemuda Kristen, tokoh Muslim, serta unsur masyarakat lainnya memperlihatkan bahwa kerukunan merupakan tanggung jawab bersama. Ia tidak cukup diserahkan kepada pemimpin agama atau pemerintah, tetapi perlu dirawat melalui perjumpaan dan kerja nyata, terutama oleh generasi muda.
Dalam masyarakat yang majemuk, toleransi tidak berhenti pada kesediaan membiarkan orang lain menjalankan keyakinannya. Toleransi bertumbuh lebih jauh menjadi solidaritas: kesediaan berdiri bersama, saling membantu, dan menjaga ruang kehidupan yang aman bagi semua.
Pesparani II Papua di Biak Numfor pun menghadirkan makna yang lebih luas daripada sebuah kompetisi paduan suara gerejani. Di tengah lantunan lagu-lagu rohani, terdapat harmoni lain yang tidak selalu terdengar oleh telinga, tetapi dapat dirasakan melalui tindakan: harmoni manusia yang memilih persaudaraan di atas prasangka.
Di sinilah keteladanan generasi muda memperoleh arti penting. Mereka tidak hanya mewarisi cerita tentang kerukunan dari generasi sebelumnya, tetapi ikut menuliskannya melalui tindakan nyata. Mereka menunjukkan bahwa masa depan Papua yang damai tidak dibangun dengan menyeragamkan keyakinan, melainkan dengan menghormati perbedaan dan menemukan tujuan bersama.
Biak Numfor memberikan sebuah pelajaran sederhana, tetapi mendalam: rumah ibadat boleh berbeda, doa boleh dilantunkan dengan cara yang berlainan, tetapi kemanusiaan tetap menjadi ruang perjumpaan bersama.
Sebab, ketika iman melahirkan kepedulian dan perbedaan menumbuhkan persaudaraan, toleransi tidak lagi sekadar menjadi wacana. Ia menjelma menjadi kehidupan.



