Nuyang Jaimee | Penulis
JAKARTA — Ada perjalanan panjang yang membuat Yusuf Susilo Hartono (YSH) sulit ditempatkan hanya dalam satu dunia. Ia pelukis, penyair, sekaligus jurnalis senior. Tiga bidang itu bukan berjalan sendiri-sendiri, melainkan seperti tiga aliran yang bertemu dalam satu sungai kreativitas: melihat, mencatat, lalu mengendapkannya menjadi karya.

Kini, menjelang pameran tunggalnya yang ke-14, YSH kembali membawa publik memasuki wilayah yang sejak lama menjadi perhatiannya: manusia dan kehidupannya. Bertajuk “Negosiasi Tubuh Urban: Tradisi, Warisan dan Gaya Hidup”, pameran berlangsung 9–18 Oktober 2026 di Cemara 6 Galeri-Toeti Heraty Museum, Menteng, Jakarta Pusat. Pameran menampilkan lukisan, sketsa, ilustrasi, dan gambar dengan beragam medium serta rentang tahun penciptaan.
Tetapi pameran itu bukan titik awal. Ia adalah salah satu persinggahan dari perjalanan yang dimulai sejak awal 1980-an.

Lahir di Bojonegoro, Jawa Timur, 18 Maret 1958, YSH merupakan mantan guru yang kemudian menekuni dunia jurnalistik dan seni. Sejak dekade 1980-an ia telah aktif berpameran, baik tunggal maupun bersama. Rekam jejaknya mencakup Balai Budaya Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Galeri Nasional Indonesia, Museum Nasional Indonesia, Pusat Kebudayaan Jepang-Jakarta, hingga sejumlah galeri di Jakarta dan Surabaya. Pada 2022, ia menggelar pameran tunggal “Among Jiwo”, sebagai refleksi 40 tahun berkarya, di Museum Nasional.
Salah satu ciri penting perjalanan keseniannya adalah sketsa. Bagi YSH, sketsa bukan sekadar latihan tangan atau catatan visual. Ia dapat menjadi semacam catatan jurnalistik. Pada 2013, ketika memamerkan 75 sketsa jurnalistik di Emmitan Gallery Surabaya, YSH menyebut karya-karyanya sebagai bentuk syukur atas sekitar 2.000 karya yang telah dibuat selama lebih dari tiga dekade. Tema sketsanya bergerak dari kehidupan pribadi, lingkungan, bangsa dan negeri, hingga peristiwa di luar negeri.
Baca juga: Leni Marlina's Bilingual Poems Collection: "THE TREE THAT REMEMBERS THE SEASONS"

Pengalaman tersebut kemudian dihimpun dalam buku Menangkap Momen, Memaknai Esensi (Moment and Essence) yang terbit pada 2013. Buku itu mendokumentasikan pilihan sketsa dari perjalanan panjangnya. Dengan demikian, proses menggambar bagi YSH sekaligus menjadi proses menangkap waktu: apa yang dilihat mata, dicatat tangan, kemudian dimaknai kembali oleh batin.
Di luar seni rupa, YSH menjalani perjalanan panjang sebagai wartawan. Karier jurnalistiknya bermula dari Bojonegoro, kemudian berlanjut ke Jakarta. Ia pernah menjadi wartawan Surabaya Post, termasuk di perwakilan Jakarta, dan kemudian berkarya di berbagai media seni dan kebudayaan. Ia juga pernah memimpin redaksi Visual Arts serta Majalah Galeri, yang terkait dengan Galeri Nasional Indonesia. Ia tercatat sebagai pemegang Kartu Wartawan Utama dari Dewan Pers sejak 2017 dan aktif dalam organisasi kewartawanan, termasuk PWI.
Jurnalistik tampaknya memberi YSH satu kebiasaan penting: melihat kenyataan secara dekat. Kebiasaan itu kemudian bertemu dengan naluri seorang seniman. Ia tidak hanya melihat bentuk, tetapi mencari persoalan di balik bentuk.
Hal serupa tampak dalam perjalanan kepenyairannya. YSH menulis dalam bahasa Indonesia maupun Jawa. Antologi Ombak Wengi, kumpulan 99 geguritan yang merekam puisi Jawa pilihan sepanjang 1981–2011, memperoleh Hadiah Sastra Rancage 2012 untuk karya sastra Jawa.
Ia juga menerbitkan karya-karya puisi lain, antara lain Aku Memilih Jadi Cahaya, Serat Plerok, dan Gurit Saidu. Dalam perjalanan sastra Jawanya, YSH tidak sekadar mempertahankan tradisi, tetapi mengeksplorasi bentuk dan cara ungkap yang lebih kontemporer.

Kini, semua pengalaman itu seperti kembali bertemu di atas kanvas.
Kurator pameran, Dr. Citra Smara Dewi, melihat Negosiasi Tubuh Urban bukan sekadar pameran tentang tubuh. Menurutnya, karya-karya YSH merupakan muara perenungan batin dan perjalanan spiritual yang panjang. Melukis dan menulis, kata Citra, telah menyatu sebagai tarikan napas kontemplatif untuk mengendapkan nilai moral dan kebajikan.
Dalam karya-karya terbarunya, “tubuh” tidak semata-mata dipahami sebagai anatomi manusia. Tubuh menjadi medan negosiasi antara modernitas, tradisi, warisan, dan gaya hidup konsumtif. Jakarta dan kehidupan metropolitan menjadi ruang tempat manusia berhadapan dengan tekanan sosial, ekonomi, politik, sekaligus godaan konsumsi.

Gagasan itu terlihat antara lain melalui konsep “Tubuh Konsumtif”, berdampingan dengan “Tubuh Sekuler”, “Tubuh Adaptif/Kreatif”, “Tubuh Religius”, dan “Tubuh Mengalam”. Wajah-wajah manusia yang tertutup makanan—ikan, telur, sate hingga minuman—menjadi metafora tentang manusia urban yang artikulasinya dapat dibungkam oleh kenikmatan konsumsi.
Di sinilah pengalaman seorang wartawan, penyair, dan pelukis bertemu. Wartawan merekam kenyataan. Penyair merasakan kedalaman makna. Pelukis mengubah pengalaman itu menjadi bahasa visual.

Maka perjalanan YSH sesungguhnya bukan sekadar perjalanan seorang pelukis dari satu pameran ke pameran berikutnya. Ia adalah perjalanan seseorang yang terus mengamati manusia, kota, zaman, tradisi, dan perubahan. Dari sketsa jurnalistik hingga puisi Jawa, dari catatan kehidupan hingga tubuh urban, YSH terus melakukan hal yang sama: menangkap momen, mencari esensi, lalu mempertanyakannya kembali melalui seni.
Pada usia ketika banyak orang mulai mengurangi langkah, YSH justru kembali membuka ruang dialog melalui karya. Kali ini tubuh urban menjadi pintunya. Dan di balik tubuh itu, yang sebenarnya sedang ia ajak bicara adalah manusia: tentang siapa dirinya, apa yang diwarisinya, apa yang dikonsumsinya, dan ke mana ia akan membawa dirinya di tengah kota yang terus berubah. [PM]

Tentang Penulis:
Nuyang Jaimee adalah pegiat seni dan budaya. Ia aktif di seni sastra dan teater. Direktur lembaga Cakra Budaya Indonesia (CBI). Pendiri komunitas Keluarga Besar Penyar Seksih (KBPS) dan Kampung Seni Jakarta (KSJ). Ia juga bergabung di Komunitas WPI dan MKJ. Karya-karyanya, baik fiksi dan nonfiksi masuk di beberapa media massa di Jakarta dan daerah, selain masuk dalam portal online dan majalah sastra, juga dalam antologi bersama dalam dan luar negeri. Menginisiasi dan aktif mengikuti berbagai kegiatan, acara dan pertemuan seni, sastra dan budaya. Sebagai pembaca puisi, monolog, dan sutradara teater. Pernah bekerja di production house dan bermain beberapa FTV, Sinetron dan Channal Youtube. Pernah menjadi kontributor di harian Madina, Bulletin H.B. Jassin dan terakhir bergabung di Suara Anak Negeri Media Group. Sampai sekarang menulis cerpen, puisi, esai, artikel, feature, juga naskah drama dan skenario. Menjadi guru/pengajar/pelatih/narasumber seni sastra dan teater baik pelatihan/workshop umum maupun sekolah. Menjuarai lomba baca puisi se-Asia Tenggara di acara ZKMUA-Malaysia dan menjuarai lomba cipta puisi elaborasi karya senirupa, Satarupa. Buku Puisi tunggalnya “Pendoa yang Lupa Nama Tuhannya” terbit 2023.


