Oleh Rizal Tanjung
—
I
Baca juga: "NEGARA BUKAN PANGGUNG"
NEGERI YANG BERDIRI DI DEPAN CERMIN
Pada suatu pagi
aku melihat negeri berdiri di depan cermin,
mengenakan mahkota dari kata-kata,
jubah dari pujian,
dan sepatu yang berkilau
oleh cahaya kamera.
Baca juga: SUKA-SUKA KAU LAH
Ia berkata kepada cermin:
“Lihatlah, betapa agung aku.”
Cermin tidak menjawab.
Sebab cermin hanya memantulkan wajah,
bukan perut yang lapar,
bukan dada yang sesak,
bukan mata seorang ibu
yang menghitung sisa uang
sebelum membeli beras.
Di belakang negeri itu
seorang anak duduk di ambang pintu,
memegang buku yang halamannya lebih banyak
daripada makanan di meja.
Ia bertanya kepada ibunya:
“Ibu, apakah negara itu yang sering muncul di televisi?”
Sang ibu mengusap rambutnya.
“Tidak, anakku.”
“Negara adalah ketika engkau tidur
tanpa takut esok tidak ada makanan.”
Dan malam itu
aku mengerti:
sebuah negara tidak tinggal di istana.
Ia tinggal
di dapur rakyat.
—
II
KETIKA KEKUASAAN JATUH CINTA KEPADA BAYANGANNYA
Aku pernah melihat kekuasaan
jatuh cinta kepada bayangannya sendiri.
Ia berdiri di hadapan kamera,
tersenyum kepada ribuan mata,
dan berkata:
“Lihatlah, aku bekerja.”
Tetapi ketika kamera dipadamkan,
jalan-jalan menjadi sunyi,
dan rakyat kembali menghitung uang
dengan jari-jari yang gemetar.
Wahai pemimpin,
jangan terlalu sering bercermin
kepada layar.
Sebab layar dapat membuatmu tinggi
ketika rakyatmu sedang rendah.
Layar dapat membuatmu bercahaya
ketika rumah-rumah mereka gelap.
Layar dapat menjadikan satu keberhasilan
seperti seribu kemenangan.
Dan algoritma adalah penyair
yang tidak mengenal kebenaran;
ia hanya mencintai apa
yang membuat manusia berhenti menggulir.
Maka berhati-hatilah.
Sebab suatu hari
rakyat akan mematikan telepon mereka,
dan yang tersisa hanyalah kehidupan.
Pada saat itu
tidak ada filter.
Tidak ada musik.
Tidak ada slogan.
Hanya kenyataan
yang berdiri telanjang
di hadapan kekuasaan.
—
III
PEMIMPIN DAN SERIBU LIDAH YANG BERKATA “YA”
Seorang raja bertanya kepada istananya:
“Apakah aku benar?”
Seribu lidah menjawab:
“Benar, Tuanku.”
Ia bertanya lagi:
“Apakah jalanku sempurna?”
Seribu lidah menjawab:
“Sempurna, Tuanku.”
Maka raja berjalan
semakin jauh ke dalam hutan kesombongan.
Tidak seorang pun berani berkata:
“Tuanku, engkau tersesat.”
Sebab mereka takut kehilangan tempat
di dekat api kekuasaan.
Wahai pemimpin,
jika seluruh orang di sekelilingmu
selalu berkata “ya”,
mungkin bukan karena engkau selalu benar.
Mungkin karena
mereka takut pada kesalahanmu.
Carilah seseorang
yang berani membawa cermin retak
ke hadapanmu.
Seseorang yang berkata:
“Angka ini tidak benar.”
“Program ini gagal.”
“Rakyat belum sejahtera.”
“Keputusan ini harus diperbaiki.”
Jangan bunuh pembawa kabar buruk.
Sebab sering kali
kebenaran datang dengan pakaian duka,
sedangkan kebohongan
datang memakai bunga.
Pujian adalah madu
yang dapat berubah menjadi racun
jika diminum tanpa batas.
—
IV
NEGARA BUKAN PERUSAHAAN
Janganlah engkau timbang manusia
hanya dengan angka.
Sebab angka tidak menangis.
Angka tidak mempunyai ibu.
Angka tidak mengenal lapar.
Angka tidak pernah duduk
di lorong rumah sakit
sambil memeluk anak yang demam.
Boleh engkau mempunyai spreadsheet.
Boleh engkau mempunyai dashboard.
Boleh engkau mempunyai ribuan indikator.
Tetapi jangan biarkan manusia
menjadi bayangan di belakang angka.
Sebab negara bukan perusahaan.
Rakyat bukan komoditas.
Orang miskin bukan angka kerugian.
Anak yang bodoh bukan investasi gagal.
Orang sakit bukan beban neraca.
Mereka adalah manusia.
Dan manusia
adalah alasan pertama
mengapa negara diciptakan.
Jika angka mengatakan:
“Negeri ini makmur,”
tetapi seorang ibu berkata:
“Aku tidak mampu membeli susu anakku,”
maka dengarkan ibu itu.
Sebab statistik adalah peta,
sedangkan penderitaan
adalah tanah yang diinjak kaki.
—
V
KEWAJARAN
Ada sebuah kata
yang lebih tua daripada istana:
kewajaran.
Ia tidak memakai mahkota.
Tidak memiliki pasukan.
Tidak membutuhkan kamera.
Tetapi ia menjaga negeri
agar tidak jatuh
ke jurang kesombongan.
Kewajaran berkata:
jangan membangun menara
ketika rakyat belum memiliki rumah.
Jangan menghias istana
ketika sekolah kekurangan guru.
Jangan menyalakan ribuan lampu seremoni
ketika rumah sakit kekurangan obat.
Jangan membeli kemewahan
dengan uang yang berasal
dari keringat rakyat.
Kewajaran bukan kemiskinan.
Kewajaran adalah kebijaksanaan
untuk mengetahui batas.
Sebab bangsa yang besar
bukan bangsa yang membeli segala sesuatu
yang mampu dibelinya.
Bangsa yang besar
adalah bangsa yang tahu
apa yang harus didahulukan.
Dan seorang pemimpin yang bijaksana
berani berkata:
“Kita belum mampu.”
Kalimat itu mungkin sederhana,
tetapi lebih mulia
daripada seribu kemegahan
yang dibangun dari utang.
—
VI
ANAK, GURU, DAN RUMAH SAKIT
Di sebuah sekolah kecil
seorang guru menulis di papan:
MASA DEPAN.
Kemudian ia bertanya:
“Siapa yang akan membangunnya?”
Anak-anak mengangkat tangan.
Tetapi tangan mereka kecil.
Maka guru berkata:
“Negara harus membantu kalian.”
Sebab sebuah bangsa
tidak dibangun hanya oleh beton.
Ia dibangun oleh pikiran.
Setiap anak yang mampu membaca
adalah jendela baru bagi bangsa.
Setiap guru yang dihormati
adalah tiang bagi peradaban.
Setiap rumah sakit yang manusiawi
adalah doa yang telah diberi tubuh.
Apa arti jalan yang panjang
jika manusia yang melewatinya
tidak mempunyai pendidikan?
Apa arti gedung yang tinggi
jika manusia di dalamnya
tidak sehat?
Apa arti pertumbuhan ekonomi
jika anak-anak bangsa
tidak mempunyai masa depan?
Pendidikan adalah jembatan
yang tidak dapat diputuskan oleh waktu.
Kesehatan adalah tanah
tempat masa depan menanam akar.
Dan negara yang melupakan keduanya
sedang membangun istana
di atas pasir.
—
VII
MAKANAN UNTUK ANAK-ANAK
Seorang anak menerima sepiring makanan.
Ia tidak tahu
siapa yang membuat kebijakan.
Ia tidak tahu
siapa yang menandatangani anggaran.
Ia tidak tahu
berapa banyak rapat yang telah dilakukan.
Ia hanya tahu:
“Apakah makanan ini aman?”
Maka jangan jadikan kelaparan
sebagai panggung.
Jangan jadikan makanan
sebagai poster kekuasaan.
Sebab perut tidak mengenal propaganda.
Nasi tidak mengenal slogan.
Gizi tidak mengenal kamera.
Jika makanan itu baik,
biarkan tubuh anak berkata:
“Terima kasih.”
Jika makanan itu buruk,
jangan sembunyikan kesalahan
di balik angka keberhasilan.
Perbaikilah.
Hentikan yang salah.
Gantilah yang gagal.
Sebab seorang anak
bukan satu persen.
Bukan nol koma sekian.
Bukan angka dalam laporan.
Ia adalah seratus persen dunia
bagi seorang ibu.
Dan ketika seorang anak terluka,
seluruh dunia ibunya
ikut runtuh.
—
VIII
PEMIMPIN YANG TAHU DIRINYA HANYA SEORANG MUSAFIR
Wahai pemimpin,
ingatlah bahwa kursi
hanya tempat duduk sementara.
Mahkota hanya logam
yang menunggu karat.
Istana hanya rumah
yang menunggu kosong.
Nama hanya suara
yang perlahan hilang
di lorong waktu.
Hari ini engkau dipanggil:
“Yang Mulia.”
Besok sejarah mungkin hanya menulis:
“Ia pernah memimpin.”
Maka jangan mabuk
oleh suara orang-orang
yang berdiri ketika engkau datang.
Kelak mereka akan duduk kembali.
Jangan terlalu percaya
kepada tangan yang bertepuk.
Kelak tangan itu akan lelah.
Jangan terlalu mencintai
wajahmu di layar.
Kelak layar itu akan gelap.
Yang tersisa hanyalah jejak.
Dan jejak seorang pemimpin
bukanlah banyaknya foto
yang ia tinggalkan,
melainkan banyaknya kehidupan
yang ia selamatkan
dari kesengsaraan.
Pemimpin hanyalah musafir
yang diberi kunci
untuk menjaga rumah rakyat
sebelum kunci itu dikembalikan
kepada waktu.
—
IX
KETIKA KAMERA DIMATIKAN
Matikan kamera.
Biarkan pemimpin berjalan
sendirian ke pasar.
Biarkan ia mendengar
harga beras tanpa pengeras suara.
Biarkan ia duduk
di bangku rumah sakit.
Biarkan ia masuk
ke ruang kelas yang sempit.
Biarkan ia berbicara
dengan petani tanpa protokol.
Biarkan ia mendengar nelayan
tanpa mikrofon.
Di sana,
di tempat yang tidak memiliki
karpet merah,
negara sedang berbicara.
Dengarkanlah.
Seorang ibu berkata:
“Harga terlalu mahal.”
Seorang guru berkata:
“Kami kekurangan fasilitas.”
Seorang pemuda berkata:
“Aku sudah lulus, tetapi tidak mendapatkan pekerjaan.”
Seorang petani berkata:
“Hasil panenku tidak membuat keluargaku sejahtera.”
Seorang pasien berkata:
“Aku takut tidak mampu membayar.”
Itulah pidato rakyat.
Tidak indah.
Tidak diplomatis.
Tidak disusun oleh penulis pidato.
Tetapi jujur.
Dan kadang-kadang
kebenaran memang tidak pandai berpakaian.
—
X
RAKYAT ADALAH PIDATO TERAKHIR
Pada akhirnya
semua podium akan kosong.
Semua bendera akan terlipat.
Semua kamera akan padam.
Semua pidato akan menjadi debu
di perpustakaan waktu.
Pemimpin akan turun
dari panggung sejarah.
Dan rakyat akan tetap tinggal
bersama kehidupan mereka.
Maka sejarah tidak akan bertanya:
“Berapa banyak pidato yang engkau ucapkan?”
Ia akan bertanya:
“Berapa banyak anak yang menjadi sehat?”
“Berapa banyak manusia yang menjadi terdidik?”
“Berapa banyak pekerjaan yang lahir?”
“Berapa banyak keluarga yang keluar dari kemiskinan?”
“Berapa banyak orang sakit yang diselamatkan?”
“Berapa banyak petani yang memperoleh keadilan?”
“Berapa banyak rakyat yang tidur
tanpa takut kepada hari esok?”
Dan apabila jawabannya adalah:
banyak,
maka engkau tidak perlu membangun patung untuk dirimu.
Rakyat akan menjadi patungmu.
Anak-anak yang tumbuh sehat
akan menjadi monumenmu.
Guru yang mengajar dengan bermartabat
akan menjadi monumenmu.
Orang miskin yang bangkit
akan menjadi monumenmu.
Rumah sakit yang menyelamatkan manusia
akan menjadi monumenmu.
Sekolah yang menyalakan pikiran
akan menjadi monumenmu.
Dan sebuah negeri
yang rakyatnya tidak lagi takut kepada masa depan
akan menjadi batu nisan
bagi kesombonganmu.
Sebab pemimpin yang sejati
tidak meninggalkan wajahnya
di setiap dinding.
Ia meninggalkan kehidupan.
—
XI
DOA UNTUK NEGERI YANG TIDAK INGIN BERBOHONG
Tuhan,
jauhkan negeri ini
dari pemimpin yang mencintai cermin
lebih daripada rakyatnya.
Jauhkan kami
dari kekuasaan yang mabuk
oleh tepuk tangan.
Jauhkan kami
dari angka-angka yang dibuat indah
untuk menyembunyikan luka.
Jauhkan kami
dari pembangunan yang megah
tetapi kosong dari manusia.
Berikan kami pemimpin
yang mampu bermimpi tinggi
tanpa kehilangan kaki di tanah.
Berikan kami pemimpin
yang berani berbicara kepada dunia
tetapi lebih berani
mendengar rakyatnya sendiri.
Berikan kami pemimpin
yang tidak malu berkata:
“Aku salah.”
“Aku belum mampu.”
“Aku akan memperbaikinya.”
Berikan kami pemimpin
yang mengerti bahwa kekuasaan
bukan mahkota,
melainkan amanah
yang beratnya hanya diketahui
oleh mereka yang benar-benar mencintai manusia.
Dan apabila suatu hari
ia berdiri di hadapan cermin,
semoga ia tidak melihat
seorang penguasa.
Semoga ia melihat
seorang manusia.
Seorang manusia
yang hanya diberi waktu sebentar
untuk menjaga jutaan kehidupan.
Sebab pada akhirnya,
negara bukanlah wajah yang terpampang di layar.
Negara adalah wajah anak
yang tersenyum karena kenyang.
Negara adalah mata seorang ibu
yang tidak lagi takut kepada esok.
Negara adalah tangan seorang guru
yang menyalakan ilmu.
Negara adalah tubuh orang sakit
yang diselamatkan.
Negara adalah petani
yang pulang membawa hasil yang adil.
Negara adalah pemuda
yang menemukan pekerjaan dan harga dirinya.
Dan jika semua itu telah tumbuh,
maka biarlah pemimpin menghilang
seperti matahari di ujung senja.
Sebab ia telah melakukan
pekerjaan yang paling mulia:
membuat rakyat mampu hidup
tanpa harus terus-menerus
mengingat siapa yang memerintah mereka.
Itulah ketika negara menjadi dewasa.
Itulah ketika kekuasaan menjadi sunyi.
Dan itulah ketika seorang pemimpin
akhirnya mengerti—
bahwa kebesaran bukanlah
seberapa tinggi ia berdiri
di hadapan dunia,
melainkan seberapa sedikit
rakyatnya harus berlutut
di hadapan kemiskinan.
—-
Sumatera Barat, Indonesia, 2026.


