Rabu, 26 Agustus 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

RD. Domincs Baldawins Masriat: Bangkit dari Kemalasan, Hindari Kesombongan Rohani

Oleh: johanis kopong

 

RD. Domincs Baldawins Masriat Ingatkan Bahaya Kemalasan dan Kemunafikan
suaraanaknegeri.com | Central Seminary UST Manila, Filipina – Sabtu, 11 Juli 2026. Di tengah kehidupan yang menuntut setiap orang untuk terus bergerak, bekerja, dan mengambil bagian dalam kehidupan bersama, kemalasan menjadi salah satu sikap yang perlu dihindari. Bukan hanya karena dapat menghambat perkembangan pribadi, tetapi juga karena berpotensi menjadi beban bagi komunitas.

Baca juga: Bioekonomi Masyarakat Adat: Merawat Alam, Menghidupkan Ekonomi, Memastikan Manfaat Kembali ke Komunitas

Pesan tersebut menjadi bagian dari refleksi Sejenak Sabda yang disampaikan RD. Domincs Baldawins Masriat, Pastor Mahasiswa di University of Santo Tomas (UST) Manila, Filipina.

Dalam refleksinya, RD. Domincs Baldawins Masriat mengajak umat untuk melihat pekerjaan sebagai bagian dari penghargaan terhadap anugerah kehidupan yang diberikan Tuhan. Manusia, menurut refleksi tersebut, telah dianugerahi kekuatan dan kemampuan sehingga dipanggil untuk bekerja dengan sungguh-sungguh demi kebaikan bersama.

“Kemalasan tanpa alasan yang jelas adalah bagian dari melanggar nilai kristiani dan merugikan kehidupan komunitas. Oleh karena itu, bangkitlah dari kemalasan dan berusaha untuk menghargai anugerah hidup yang telah Tuhan berikan dengan bekerja demi kesejahteraan dan kebaikan bersama. Dengan kata lain, jangan hanya menjadi beban hidup yang tanpa alasan bagi orang lain. Kita diberi kekuatan sehingga harus kerja keras dan jangan menjadi orang yang malas.”

Baca juga: Jumat Aksi Seni FPS-TIM Gelar “Tumpeng Kemerdekaan” di TIM

Pesan tersebut mengandung penekanan bahwa kehidupan beriman tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab terhadap kehidupan sehari-hari. Iman tidak hanya diwujudkan melalui perkataan atau aktivitas keagamaan, tetapi juga melalui kesediaan untuk bekerja, berkontribusi, dan menghadirkan manfaat bagi sesama.

Pekerjaan Disempurnakan melalui Doa
Bekerja dengan tekun bukan berarti manusia harus menjalani seluruh aktivitas hidup hanya dengan mengandalkan kekuatan sendiri.

RD. Domincs Baldawins Masriat mengingatkan bahwa pekerjaan juga perlu ditempatkan dalam hubungan dengan Tuhan melalui doa. Dengan demikian, pekerjaan tidak semata-mata dipandang sebagai kewajiban yang melelahkan, tetapi dapat menjadi bagian dari perjalanan iman.

“Pekerjaan yang kita lakukan harus disempurnakan dalam doa agar pekerjaan tidak menjadi beban bagi kita tetapi menjadi berkat sukacita dan kedamaian bagi kita.”

Refleksi ini menempatkan doa sebagai kekuatan batin yang membantu manusia menjalani tanggung jawab dengan lebih tenang. Kerja keras dan doa bukanlah dua hal yang bertentangan, melainkan dapat menjadi satu kesatuan dalam menjalani kehidupan.

Ketika pekerjaan dilakukan dengan kesungguhan sekaligus diserahkan kepada Tuhan melalui doa, aktivitas tersebut diharapkan tidak hanya menghasilkan sesuatu secara material, tetapi juga menghadirkan sukacita, kedamaian, dan makna bagi kehidupan.

Bahaya Kesombongan Rohani
Selain berbicara tentang kemalasan dan pekerjaan, RD. Domincs Baldawins Masriat mengarahkan perhatian umat pada persoalan yang lebih dalam, yakni kesombongan rohani.

Dalam kehidupan beragama, seseorang dapat terjebak pada perasaan bahwa dirinya lebih baik, lebih suci, atau lebih benar daripada orang lain. Sikap semacam itu dapat membuat seseorang kehilangan kerendahan hati dan mulai menghakimi sesama.

“Hendaklah kita berusaha untuk menghindari kesombongan rohani dalam diri kita dan sikap menghakimi orang lain seakan-akan hidup kita yang paling suci.”
Pesan tersebut menjadi ajakan untuk melakukan pemeriksaan batin. Kehidupan rohani tidak semestinya menjadi alasan bagi seseorang untuk meninggikan diri atau merendahkan orang lain.

Sebaliknya, semakin seseorang mendalami kehidupan imannya, semakin besar pula panggilan untuk hidup dalam kerendahan hati, kasih, dan penghormatan terhadap sesama.

Jangan Terjebak dalam Kemunafikan
Dalam refleksi berikutnya, RD. Domincs Baldawins Masriat mengingatkan umat agar tidak terjebak pada kesalehan yang hanya tampak dari luar.

Seseorang dapat terlihat rajin beribadah, memperoleh penghormatan, dan dianggap saleh oleh masyarakat. Namun, semua itu kehilangan makna apabila dalam kehidupan sehari-hari ia mengabaikan keadilan dan belas kasih.

“Jangan menjadi orang munafik yang dilihat saleh dan dihormati karena rajin dalam beribadah tetapi mengabaikan keadilan dan belaskasih dalam hidup.”
Peringatan tersebut menegaskan bahwa kehidupan iman tidak berhenti pada ritual. Kesalehan harus memiliki konsekuensi nyata dalam cara seseorang memperlakukan orang lain.

Keadilan dan belas kasih menjadi bagian penting dari kesaksian iman. Karena itu, ukuran kehidupan rohani tidak semata-mata berada pada apa yang terlihat oleh publik, tetapi juga pada bagaimana seseorang menjalani kehidupan ketika tidak sedang mendapatkan perhatian atau pujian.

Kesucian Berawal dari Kemurnian Batin
Lebih jauh, RD. Domincs Baldawins Masriat mengingatkan bahwa kesucian tidak dapat diukur hanya melalui penampilan luar.
Pujian manusia, penghormatan publik, ataupun ketaatan lahiriah dalam menjalankan ibadah bukanlah satu-satunya ukuran kesucian. Yang lebih mendasar adalah kemurnian niat serta kasih yang hidup di dalam batin.

“Ingat selalu bahwa kesucian tidak diukur dari penampilan luar, pujian publik, atau ketaatan lahiriah pada ibadah, melainkan dari kemurnian niat dan kasih yang tersembunyi di dalam batin.”

Pesan tersebut menjadi refleksi penting bagi kehidupan umat beriman. Kesalehan yang sejati tidak membutuhkan panggung untuk terlihat, sebab nilai sebuah perbuatan tidak selalu ditentukan oleh seberapa banyak orang mengetahuinya.
Kasih yang dilakukan dalam keheningan, kepedulian yang tidak mencari pujian, serta keadilan yang dijalankan dengan tulus menjadi bagian dari kehidupan iman yang memiliki kedalaman.

Doa untuk Menjaga Hati dari Kesombongan
Pada bagian akhir refleksi, RD. Domincs Baldawins Masriat mengajak umat untuk membawa seluruh pergumulan kehidupan ke dalam doa.

Doa menjadi ruang untuk memohon kekuatan agar manusia tidak hanya mampu bekerja dengan tekun, tetapi juga mampu menjaga hati dari sikap yang dapat menjauhkan dirinya dari Tuhan dan sesama.

“Ya Allah berkatilah kami agar kami tidak menjadi orang yang memiliki kesombongan rohani.”

Doa tersebut sekaligus menjadi penutup refleksi yang merangkum pesan utama Sejenak Sabda: bangkit dari kemalasan, bekerja dengan penuh tanggung jawab, menyempurnakan pekerjaan melalui doa, menjauhi kesombongan rohani, serta tidak terjebak dalam kemunafikan.

Iman yang Terlihat dalam Kehidupan
Refleksi RD. Domincs Baldawins Masriat pada akhirnya membawa umat pada sebuah kesadaran bahwa iman tidak hanya berbicara mengenai hubungan pribadi dengan Tuhan, tetapi juga tentang bagaimana iman tersebut diwujudkan dalam kehidupan bersama.

Bekerja dengan tekun merupakan bentuk tanggung jawab. Berdoa merupakan bentuk penyerahan diri kepada Tuhan. Menjauhi kesombongan merupakan wujud kerendahan hati. Sementara keadilan dan belas kasih menjadi buah yang seharusnya lahir dari kehidupan iman.

Dari Central Seminary UST Manila, Filipina, pesan Sejenak Sabda tersebut menjadi pengingat bahwa manusia dipanggil bukan hanya untuk terlihat baik di hadapan orang lain, tetapi untuk sungguh-sungguh menjadi pribadi yang baik di hadapan Tuhan.

Pada akhirnya, kehidupan yang berkenan kepada Tuhan bukanlah kehidupan yang dibangun atas pujian manusia, melainkan kehidupan yang dijalani dengan kerja keras, doa, kerendahan hati, kasih, keadilan, dan kemurnian niat. Salam kasih dan doa, RD. Domincs Baldawins Masriat

Kategori:
Tags:

Terkini