Selasa, 18 Agustus 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

*Guru Hilang jika Tak Menulis*

Banyak guru yang telah mengajar selama puluhan tahun. Ia telah menjelaskan ribuan konsep, menghadapi berbagai karakter murid, menyaksikan perubahan kurikulum, melewati pergantian zaman, dan mungkin telah mengantarkan ratusan bahkan ribuan anak menuju kehidupan mereka masing-masing.

Namun, setelah masa pengabdiannya berakhir, muncul pertanyaan sederhana yang cukup mengusik: Apa yang tersisa dari seluruh pengalaman itu selain ingatan orang-orang yang pernah diajarinya?

Jika tidak ada catatan, tulisan, artikel, penelitian, modul, atau buku, sebagian besar pengalaman tersebut berisiko hilang bersama ingatan pemiliknya.

Baca juga: TIDURLAH ANAKKU

Di sinilah menulis menjadi lebih dari sekadar aktivitas literasi.

Bagi guru, menulis adalah cara mengubah pengalaman pribadi menjadi pengetahuan yang dapat diwariskan sebagai peradaban.

Karena itu, rasanya tidak berlebihan jika seorang guru, setidaknya sekali dalam perjalanan hidup profesionalnya, berusaha melahirkan sebuah buku.

Baca juga: Ketika Kita Berhenti Mencari Kepastian: Ulasan Buku The Wisdom of Insecurity Karya Alan Watts

Satu guru satu buku. Bukan ambisi, melainkan tradisi intelektual saat masih hidup.

Bukan untuk pamer. Bukan untuk mengejar gelar sebagai penulis. Bukan pula semata-mata untuk mendapatkan keuntungan ekonomi. Melainkan agar pernah ada jejak tertulis bahwa seorang guru pernah berpikir, mengamati, mengalami, menemukan, dan berkontribusi terhadap pendidikan pada zamannya.

Mengajar adalah pengalaman; menulis membuat pengalaman menjadi pengetahuan sekaligus jejak peradaban.

Guru “mengajar” anak-anak pada zamannya. Sementara guru yang “menulis” berbicara kepada generasi yang belum lahir.

Kategori:
Tags:

Terkini