Kamis, 03 September 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

DARI RUMAH, MENYALAKAN CAHAYA RANAH MINANG

“Galeri Baca Penyala Afiqa dan Ikhtiar Menumbuhkan Generasi yang Membaca, Berpikir, dan Bermimpi”

PADANG — SUARA ANAK NEGERI | Tidak semua cahaya berasal dari matahari. Ada cahaya yang lahir dari halaman-halaman buku, dari mata yang tekun membaca, dari pikiran yang mulai bertanya, dan dari hati yang percaya bahwa pengetahuan dapat mengubah kehidupan.

Baca juga: NYALA EMAS EDRAWATI DI LANGIT BRICS

Di Koto Pulai, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, cahaya itu sedang dinyalakan.

Bukan di sebuah gedung megah. Bukan pula melalui sebuah seremoni yang berjarak dengan masyarakat.

Baca juga: 10 PENYAIR “GOLDEN FLAMES UPON THE SKY” TERPILIH MEWAKILI INDONESIA DALAM ANTOLOGI BRICS LITERATURE NETWORK 2026

Cahaya itu justru berawal dari sebuah rumah.

Rumah milik Eka Teresia, S.Pd., M.M., Founder Penyala Literacy Semesta (PLS), yang kini membuka ruangnya menjadi sebuah rumah pengetahuan bernama Galeri Baca Penyala Afiqa.

Pada 29 Agustus, rumah itu menjadi saksi sebuah peristiwa sederhana sekaligus bermakna: sebuah ruang baca resmi diperkenalkan kepada masyarakat.

Namun, di balik peresmian itu, tersimpan cita-cita yang jauh lebih besar.

Galeri ini diharapkan menjadi tempat di mana buku tidak hanya dibaca, tetapi juga diperbincangkan; tempat gagasan tidak hanya disimpan, tetapi dikembangkan; dan tempat anak-anak muda tidak hanya datang mencari pengetahuan, tetapi menemukan keberanian untuk bermimpi.

DARI SEBUAH RUMAH, SEBUAH GERAKAN

Ada sesuatu yang istimewa ketika sebuah rumah membuka pintunya untuk masyarakat.

Rumah biasanya adalah ruang paling pribadi. Tempat keluarga beristirahat, bercengkerama, dan menyimpan kisah-kisah kehidupan.

Tetapi keluarga Eka Teresia memilih memberikan sebagian ruang itu kepada sesuatu yang lebih luas: literasi.

Pilihan kata “literasi” menunjukkan bahwa gerakan mencerdaskan masyarakat tidak selalu membutuhkan fasilitas yang sempurna.

Kadang-kadang, gerakan itu hanya membutuhkan seseorang yang bersedia memulai.

Sebuah buku.

Sebuah ruangan.

Sebuah meja.

Beberapa kursi.

Dan orang-orang yang memiliki keyakinan bahwa membaca masih memiliki masa depan.

Dari sanalah sebuah gerakan dapat tumbuh.

Galeri Baca Penyala Afiqa menjadi simbol bahwa literasi dapat dimulai dari lingkungan terdekat. Dari keluarga, menuju komunitas. Dari komunitas, menuju masyarakat.

Dan apabila terus dirawat, ia dapat berkembang menjadi kebudayaan.

JUMAIDI: MEMBANGUN BUDAYA MEMBACA

Peresmian Galeri Baca Penyala Afiqa menjadi semakin istimewa karena dilakukan langsung oleh Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Sumatera Barat, Jumaidi, S.Pd., M.Pd.

Kehadiran Jumaidi sekaligus memberikan pesan bahwa gerakan literasi masyarakat memiliki posisi penting dalam membangun budaya baca di Sumatera Barat.

Dalam sambutannya, Jumaidi memberikan apresiasi terhadap inisiatif mandiri keluarga Eka Teresia.

Baginya, sebuah galeri baca seharusnya tidak berhenti pada fungsi sebagai tempat menyimpan buku.

Lebih jauh dari itu, ruang baca harus menjadi tempat masyarakat menemukan potensi dirinya.

“Kami berharap kehadiran Galeri Penyala Afiqa ini dapat menambah minat dan bakat masyarakat serta para anggota komunitas Penyala untuk terus memperluas wawasan melalui buku. Nanti akan kita usulkan untuk mendapatkan bantuan buku dari Perpusnas RI,” ujar Jumaidi.

Ungkapan Jumaidi membawa harapan baru.

Sebab sebuah perpustakaan atau galeri baca yang hidup bukanlah tempat yang sunyi karena tidak ada aktivitas.

Ia justru menjadi ruang yang ramai oleh pikiran.

Anak-anak membaca.

Remaja berdiskusi.

Orang dewasa berbagi pengalaman.

Penulis membacakan karya.

Komunitas bertukar gagasan.

Dan dari perjumpaan-perjumpaan kecil itulah pengetahuan berkembang.

LITERASI DI TENGAH BANJIR INFORMASI

Zaman berubah.

Dulu, orang harus mendatangi perpustakaan untuk mencari informasi.

Kini, informasi justru datang tanpa diundang.

Ia masuk melalui telepon genggam, media sosial, mesin pencari, video pendek, dan berbagai platform digital.

Dalam hitungan detik, seseorang dapat mengetahui apa yang sedang terjadi di belahan dunia lain.

Namun, kemudahan memperoleh informasi menghadirkan tantangan baru.

Tidak semua informasi adalah pengetahuan.

Tidak semua berita adalah kebenaran.

Tidak semua yang viral layak dipercaya.

Di tengah situasi semacam itu, literasi menjadi semakin penting.

Literasi bukan saja kemampuan membaca huruf dan kalimat.

Literasi adalah kemampuan memahami, menimbang, mempertanyakan, mengolah, dan menggunakan informasi secara bijaksana.

Karena itu, ruang baca seperti Galeri Baca Penyala Afiqa memiliki relevansi yang jauh lebih besar.

Ia dapat menjadi tempat masyarakat belajar membedakan informasi dengan pengetahuan, opini dengan fakta, serta popularitas dengan kebenaran.

EKA TERESIA DAN SEBUAH HADIAH UNTUK RANAH MINANG

Bagi Eka Teresia dan keluarga, 29 Agustus akan selalu menjadi tanggal yang memiliki cerita tersendiri.

Hari itu bukan hanya tentang peresmian sebuah galeri baca.

Ia adalah hari ketika sebuah keluarga mencoba meninggalkan sesuatu yang dapat dirasakan manfaatnya oleh orang lain.

“Tanggal 29 Agustus merupakan momen sangat berharga bagi kami dan keluarga karena bisa memberikan sesuatu yang berarti untuk kemajuan literasi Ranah Minang,” tutur Eka Teresia.

Ada ketulusan dalam pernyataan ini.

Sebab ketika seseorang membangun sesuatu untuk kepentingan bersama, yang diberikan bukan hanya materi.

Ada waktu.

Ada tenaga.

Ada perhatian.

Ada kesediaan untuk merawat.

Dan yang paling penting, ada keyakinan.

Keyakinan bahwa apa yang dilakukan hari ini mungkin baru akan terlihat hasilnya bertahun-tahun kemudian.

Seorang anak yang hari ini membuka buku mungkin baru akan menemukan makna buku itu ketika ia dewasa.

Seorang remaja yang hari ini belajar menulis mungkin suatu hari menjadi penulis.

Seorang anak muda yang hari ini mengikuti diskusi mungkin kelak menjadi pemimpin yang mampu mengambil keputusan dengan pikiran yang matang.

Itulah cara kerja literasi.

Ia tidak selalu menghasilkan perubahan secara seketika.

Tetapi ia menanam sesuatu di dalam pikiran manusia.

Dan sesuatu yang tumbuh di dalam pikiran dapat mengubah dunia.

MENJADIKAN RUANG SEBAGAI TITIK TEMU

Sebagai Sekretariat Penyala Literacy Sumatera Barat, Galeri Baca Penyala Afiqa memiliki peluang untuk berkembang.

Ia dapat menjadi titik temu berbagai komunitas.

Ruang untuk kelas menulis.

Ruang untuk diskusi buku.

Ruang untuk pelatihan literasi digital.

Ruang untuk pameran karya.

Ruang bagi anak-anak mengenal sastra.

Ruang bagi generasi muda untuk menyampaikan gagasan.

Dan ruang bagi masyarakat untuk kembali menikmati percakapan yang bermakna.

Di era ketika banyak percakapan berlangsung melalui layar, perjumpaan fisik semacam itu menjadi semakin berharga.

Sebab pengetahuan bukan hanya lahir dari membaca.

Pengetahuan juga lahir dari mendengarkan orang lain.

Dari perbedaan pendapat.

Dari pengalaman.

Dari kegagalan.

Dari dialog.

Dan dari keberanian mengakui bahwa kita masih memiliki banyak hal untuk dipelajari.

RANAH MINANG DAN TRADISI BERPIKIR

Sumatera Barat memiliki sejarah panjang dalam dunia pendidikan, sastra, pers, dan pemikiran.

Tradisi membaca, menulis, berdiskusi, dan berdebat telah menjadi bagian penting dalam perjalanan intelektual masyarakatnya.

Karena itu, gerakan literasi di Ranah Minang bukanlah upaya menciptakan sesuatu dari ruang kosong.

Ia adalah usaha merawat kembali sebuah tradisi.

Galeri Baca Penyala Afiqa hadir di tengah arus zaman yang berbeda.

Generasi sekarang hidup dengan tantangan yang tidak sama dengan generasi sebelumnya.

Mereka berhadapan dengan kecerdasan buatan, banjir informasi, perubahan dunia kerja, perkembangan teknologi, dan perubahan sosial yang begitu cepat.

Maka kemampuan membaca masa depan menjadi sama pentingnya dengan kemampuan membaca buku.

Anak-anak muda perlu memiliki kemampuan berpikir kritis.

Mereka perlu mampu memahami perubahan.

Mereka perlu berani bertanya.

Dan mereka perlu memiliki imajinasi.

Sebab masa depan tidak hanya membutuhkan orang-orang yang mampu bekerja.

Masa depan membutuhkan manusia yang mampu berpikir.

API KECIL YANG HARUS DIJAGA

Galeri Baca Penyala Afiqa mungkin baru sebuah titik kecil di peta literasi Sumatera Barat.

Tetapi semua perjalanan panjang selalu dimulai dari sebuah titik.

Tidak ada gerakan yang langsung menjadi besar.

Ia tumbuh melalui kesetiaan orang-orang yang terus menjaganya.

Karena itu, pertanyaan berikutnya, bagaimana kontinuitasnya?

Tantangannya adalah menghidupkannya.

Membuat buku-buku di dalamnya benar-benar disentuh.

Membuat ruangnya benar-benar dipakai.

Membuat anak-anak datang bukan karena diwajibkan, tetapi karena mereka merasa menemukan sesuatu yang menyenangkan.

Membuat orang dewasa merasa bahwa belajar tidak mengenal usia.

Dan membuat komunitas menjadikan Galeri Afiqa sebagai rumah bersama.

Jika semua itu dapat diwujudkan, maka Galeri Baca Penyala Afiqa bukan hanya sebuah ruang baca.

Ia akan menjadi ruang tumbuh.

DARI KOTO PULAI UNTUK MASA DEPAN

Pada akhirnya

Literasi adalah tentang bagaimana buku dan pengetahuan mengubah manusia.

Satu buku dapat mengubah satu pikiran.

Satu pikiran dapat mengubah satu keputusan.

Satu keputusan dapat mengubah satu kehidupan.

Dan satu kehidupan yang berubah dapat memberi pengaruh kepada kehidupan-kehidupan lainnya.

Maka, ketika Galeri Baca Penyala Afiqa membuka pintunya di Koto Pulai, sesungguhnya yang dibuka bukan hanya pintu sebuah ruangan.

Yang dibuka adalah pintu kemungkinan.

Kemungkinan bagi seorang anak untuk menemukan cita-cita.

Kemungkinan bagi seorang remaja menemukan bakatnya.

Kemungkinan bagi seorang ibu menemukan pengetahuan baru.

Kemungkinan bagi seorang penulis menemukan pembacanya.

Dan kemungkinan bagi sebuah komunitas untuk tumbuh bersama.

Dari rumah Eka Teresia, sebuah cahaya kecil kini menyala.

Semoga cahaya itu tidak berhenti di Koto Pulai.

Semoga ia berjalan dari rumah ke rumah, dari sekolah ke sekolah, dari komunitas ke komunitas, hingga menjadi cahaya yang lebih besar bagi Ranah Minang.

Sebab pada akhirnya, bangsa yang gemar membaca bukan hanya bangsa yang mengetahui banyak hal, tetapi bangsa yang memiliki kemampuan untuk memahami ke mana ia harus melangkah.

Dan mungkin, masa depan Ranah Minang memang sedang dimulai dari hal yang sederhana:

sebuah rumah yang membuka pintunya, sebuah buku yang dibuka halamannya, dan sebuah generasi yang mulai berani bermimpi.

Biak, Papua, 2 September 2026

Opa dan Oma

Paulus dan Lusia

 

Kategori:
Tags:

Terkini