*(Oleh: Paulus Laratmase)
–
Puisi “Bolong” karya Yusuf Achmad menghadirkan suatu pengalaman puitik yang pada permukaannya tampak sederhana, namun sesungguhnya menyimpan kompleksitas ontologis dan epistemologis yang dalam. Dalam bentuknya yang repetitif, bahkan nyaris seperti mantra, puisi ini justru membangun sebuah refleksi filosofis tentang kondisi dasar manusia: ketidakutuhan. “Bolong” bukan sekadar metafora kekosongan, melainkan suatu kategori eksistensial yang menyingkap retaknya klaim tentang kesadaran universal sebagaimana dikembangkan dalam tradisi idealisme Barat. Sejak bait pembuka, penyair mengonstruksi rantai asosiasi yang bergerak secara progresif dari konkret menuju metafisik:
Baca juga: Pentingnya Pendidikan Sepanjang Hayat di Era Disrupsi Teknologi
“Bolong adalah lubang.
Lubang adalah pintu.
Pintu adalah jurang.
Jurang adalah rahim.
Rahim adalah liang.”
Rangkaian ini dapat dibaca sebagai sebuah “lintasan ontologis” di mana makna tidak pernah berhenti pada satu titik tetap, melainkan terus bergerak dan berubah. “Lubang” yang pada awalnya dipahami sebagai ketiadaan fisik, bertransformasi menjadi “pintu”, yakni medium peralihan. Namun pintu ini tidak mengantar pada ruang terang, melainkan pada “jurang” kedalaman yang gelap dan mengancam. Ironisnya, jurang ini justru mengarah pada “rahim”, simbol asal kehidupan. Dengan demikian, Yusuf Achmad menghadirkan paradoks: kehidupan lahir dari kekosongan, dari sesuatu yang secara intuitif dipahami sebagai kehampaan.
Dalam perspektif filsafat modern, struktur ini dapat dibaca sebagai kritik implisit terhadap gagasan René Descartes tentang cogito ergo sum. Descartes mengandaikan bahwa kesadaran diri adalah fondasi yang pasti, stabil, dan universal. Namun dalam “Bolong”, kesadaran tidak pernah tampil sebagai sesuatu yang utuh dan kokoh. Ia justru berkarakter “bolong” dan tidak lengkap, terpecah, dan selalu dalam proses menjadi.
Baca juga: Membangun Jembatan Literasi: Upaya Menghadirkan Pendidikan Inklusif di Pelosok Negeri
Ketegangan ini semakin diperdalam dalam bait berikut:
“Bolong adalah kosong.
Kosong adalah penuh.
Penuh adalah bolong.”
Dialektika ini mengingatkan pada kecenderungan idealisme dalam pemikiran Immanuel Kant dan Georg Wilhelm Friedrich Hegel yang menekankan universalitas rasio. Dalam kerangka Kantian, kesadaran transendental menjadi syarat kemungkinan bagi pengalaman yang berlaku umum. Sementara dalam Hegel, roh absolut bergerak menuju totalitas yang menyatukan semua kontradiksi.
Namun, Yusuf Achmad justru membongkar klaim tersebut. Dalam puisinya, “kosong” tidak pernah benar-benar dapat diisi secara final, karena setiap “kepenuhan” selalu mengandung kekosongan di dalamnya. Dengan kata lain, totalitas yang diidealkan oleh idealisme tidak pernah tercapai dalam pengalaman konkret manusia. Yang ada justru adalah fragmen-fragmen kesadaran yang saling terputus.
Kritik terhadap universalitas kesadaran ini mencapai puncaknya dalam bagian berikut:
“Kita bolong di mata.
Kita bolong di telinga.
Kita bolong di kata.
Kita bolong di jiwa.”
Di sini, penyair secara eksplisit menggeser fokus dari ontologi menuju eksistensi manusia konkret. “Kita” tidak lagi dipahami sebagai subjek universal, melainkan sebagai kumpulan individu dengan kesadaran yang berbeda-beda. “Bolong di mata” mengisyaratkan keterbatasan persepsi; “bolong di telinga” menunjukkan kegagalan mendengar; sementara “bolong di kata” dan “bolong di jiwa” menandakan krisis dalam bahasa dan batin.
Dalam konteks ini, puisi “Bolong” dapat dibaca sebagai afirmasi atas pluralitas kesadaran sebuah kenyataan bahwa “aku-aku personal” selalu berbeda satu sama lain. Hal ini sejalan dengan kritik fenomenologi kontemporer terhadap idealisme. Dan Zahavi dalam Phenomenology: The Basics (2023) menegaskan bahwa kesadaran tidak pernah bersifat monolitik, melainkan selalu terletak dalam relasi dengan kesadaran lain. Ia menyatakan:
“Kesadaran manusia tidak pernah sepenuhnya terisolasi; ia selalu berada dalam horizon intersubjektivitas” (Zahavi, 2023, hlm. 87).
Namun, menariknya, Yusuf Achmad tidak saja menegaskan adanya intersubjektivitas. Ia justru memperlihatkan kegagalannya. “Bolong di telinga” dan “bolong di kata” menunjukkan bahwa komunikasi antar subjek tidak berjalan secara utuh. Dengan demikian, puisi ini tidak hanya mengkritik idealisme, tetapi juga mengungkap krisis relasional dalam kehidupan manusia modern.
Krisis ini diperkuat oleh refleksi Dermot Moran dalam The Phenomenology Reader (2024), yang menekankan bahwa intersubjektivitas merupakan kondisi dasar pengalaman manusia. Namun dalam kenyataan, relasi antar subjek sering kali terdistorsi oleh keterbatasan masing-masing individu. Apa yang ditunjukkan oleh puisi “Bolong” adalah kondisi di mana intersubjektivitas itu sendiri “berlubang” tidak sempurna, bahkan cenderung rapuh.
Lebih jauh, puisi ini memperluas makna “bolong” ke dalam spektrum pengalaman manusia:
“Bolong adalah tawa.
Bolong adalah luka.
Bolong adalah doa.
Bolong adalah sia-sia.”
Di sini, “bolong” merupakan fenomena eksistensial. Ia hadir dalam seluruh dimensi kehidupan manusia, baik yang menyenangkan maupun yang menyakitkan. Tawa, luka, doa, dan kesia-siaan semuanya berakar pada kondisi dasar yang sama: ketidakutuhan.
Pemikiran ini sejalan dengan refleksi Shaun Gallagher dalam The Self and Its Disorders (2022), yang menyatakan bahwa diri manusia bukanlah entitas yang stabil, melainkan struktur yang selalu terbuka dan rentan terhadap fragmentasi. Dengan demikian, “bolong” dalam puisi ini dapat dipahami sebagai metafora bagi kondisi ontologis manusia yang selalu berada dalam ketegangan antara kekurangan dan kemungkinan.
Akhirnya, puisi ini ditutup dengan pengulangan yang bersifat siklikal:
“Lubang adalah bolong.
Bolong adalah lubang.
Bolong adalah abadi.
Abadi adalah bolong.”
Pengulangan ini menegaskan bahwa makna tidak pernah final. “Bolong” menjadi simbol keabadian yang paradoksal, sesuatu yang terus ada justru karena ketidakutuhannya. Dalam konteks filsafat, ini dapat dibaca sebagai pengakuan atas dualitas dan unitas dalam diri manusia. Manusia adalah makhluk yang sekaligus utuh dan tidak utuh, satu namun terpecah, hadir namun selalu kurang.
Sebagaimana ditegaskan oleh Matthew Ratcliffe dalam Real Hallucinations (2024), pengalaman manusia selalu mengandung celah yang tidak dapat dijembatani sepenuhnya. Celah inilah yang justru memungkinkan refleksi, pencarian, dan makna.
Dengan demikian, puisi “Bolong” karya Yusuf Achmad dapat dibaca sebagai sebuah kritik puitik terhadap idealisme yang menekankan universalitas kesadaran dan mengabaikan pluralitas pengalaman manusia. Ia mengingatkan bahwa realitas manusia tidak pernah sepenuhnya dapat diringkus dalam konsep-konsep abstrak. Yang ada adalah pengalaman konkret yang selalu “berlubang” terbuka terhadap perbedaan, ketegangan, dan kemungkinan.
Dalam “bolong”, kita tidak hanya menemukan kekosongan, tetapi juga ruang bagi makna untuk terus lahir. Ia adalah simbol dari kondisi manusia yang tidak pernah selesai, selalu dalam proses menjadi, selalu dalam pencarian, dan selalu dalam ketidakpastian.
Lebaran Hari Ke-2
Biak, 12 April 2026
*( Paulus Laratmase adalah Dosen filsafat Pendidikan pada Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Biak Papua.
Referensi
- Zahavi, Dan. Phenomenology: The Basics. London: Routledge, 2023, hlm. 87.
- Moran, Dermot. The Phenomenology Reader (Revised Edition). London: Routledge, 2024, hlm. 142.
- Gallagher, Shaun. The Self and Its Disorders. Oxford: Oxford University Press, 2022, hlm. 59.
- Ratcliffe, Matthew. Real Hallucinations (Updated Edition). Cambridge: MIT Press, 2024, hlm. 103.
- Teks Puisi dapat diakses di :https://suaraanaknegerinews.com/bolong/

