Rabu, 28 Oktober 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

Bupati Waropen Franciskus Xaverius Mote: “Pesparani Bukan Soal Piala, tetapi Persatuan Umat untuk Memuji Tuhan”

BIAK NUMFOR, SUARA ANAK NEGERI NEWS — Di tengah semarak Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani) II Tingkat Provinsi Papua, Rabu, 28 Oktober 2026, sebuah pesan tentang persaudaraan mengalir dari Bupati Kabupaten Waropen, Drs. Franciskus Xaverius Mote, M.Si. Baginya, Pesparani bukan semata-mata panggung perlombaan untuk memperebutkan gelar juara, piala, atau hadiah. Lebih dari itu, Pesparani merupakan ruang perjumpaan iman, tempat umat Katolik dari berbagai kabupaten menautkan hati, menyatukan suara, dan bersama-sama memuji Tuhan.

 

Baca juga: Ketika Iman Merajut Persaudaraan: Uskup Jayapura Apresiasi HMI dan Pemuda Kristen dalam Pesparani II Papua di Biak

Pesan itu disampaikan Bupati Waropen ketika memberikan tanggapan mengenai kesiapan penyelenggaraan dan antusiasme masyarakat dalam pembukaan Pesparani II Tingkat Provinsi Papua yang berlangsung di Gedung KSL, Jalan Sriwijaya, Kabupaten Biak Numfor.

Di hadapan semangat kebersamaan yang mewarnai perhelatan ini, Bupati F.X. Mote menegaskan bahwa Pesparani merupakan kegiatan umat Katolik yang diselenggarakan secara berjenjang, mulai dari tingkat provinsi hingga nasional, dalam kerangka pembinaan dan pengembangan kehidupan menggereja di Indonesia.

“Pesparani ini adalah sebuah kegiatan yang dilaksanakan oleh umat Katolik secara menyeluruh di seluruh Indonesia. Ini sudah ditetapkan oleh Kementerian Agama bahwa penyelenggaraan tingkat nasional, tingkat provinsi, dan tingkat kabupaten/ kota,” ujarnya.

Baca juga: Islam, Dialog Antaragama, dan Pencerahan Kemanusiaan: Merajut Ilmu, Toleransi, Keadilan, dan Peradaban dalam Pemikiran M. Amin Abdullah

Ia menjelaskan bahwa Pesparani II di Biak Numfor merupakan ajang tingkat Provinsi Papua yang menjadi bagian dari perjalanan menuju penyelenggaraan Pesparani nasional pada 2027 di Sulawesi Utara.

Menurut Bupati F.X. Mote, Papua memiliki kesempatan untuk menunjukkan kemampuan sekaligus memperkuat persaudaraan melalui kompetisi ini. Provinsi Papua sendiri memiliki delapan kabupaten dan satu kota. Namun, dalam perhelatan kali ini, enam kabupaten hadir dan mengambil bagian dalam perlombaan.

“Yang hadir di sini hanya enam kabupaten yang mengikuti, tidak semua kabupaten mengikuti. Nah, enam kabupaten yang mengikuti ini berjumlah sekitar hampir 700 sampai 800 orang peserta plus ofisial,” tuturnya.

Angka dimaksud menggambarkan lebih dari hanya jumlah peserta. Di balik setiap kontingen terdapat perjalanan, persiapan, latihan, pengorbanan waktu, dan harapan untuk memberikan yang terbaik bagi daerah masing-masing. Setiap suara yang kelak berpadu dalam perlombaan membawa cerita tentang kesungguhan umat dalam merawat iman melalui seni liturgi.

Bagi Mote, kompetisi memang memiliki tempatnya sendiri. Setiap peserta tentu ingin tampil baik, setiap kontingen berharap memperoleh hasil terbaik, dan setiap daerah ingin mengharumkan namanya. Namun, kemenangan tidak boleh membuat makna utama Pesparani kehilangan cahaya.

“Bagi kami, semua sudah sepakat dalam perayaan ini, bukan persoalan siapa pemenangnya. Tetapi persoalan atau Pesparani ini adalah sebuah event bersama untuk berkumpulnya orang-orang Katolik bersama-sama untuk memuji Tuhan,” tegasnya.

Pernyataan itu menjadi inti refleksi Bupati F.X. Mote tentang arti sebuah perayaan iman. Dalam pandangannya, piala hanyalah simbol pencapaian, sedangkan persatuan merupakan warisan yang nilainya melampaui hasil perlombaan. Hadiah dapat disimpan dan gelar dapat dikenang, tetapi pengalaman berjalan bersama sebagai saudara akan terus hidup dalam ingatan umat.

Karena itu, ia mengingatkan bahwa tujuan terpenting Pesparani bukanlah mengejar kemenangan dengan segala cara, melainkan membangun kebersamaan dalam pujian kepada Tuhan.

“Jadi bukan pada persoalan juara atau pada piala atau pada hadiah yang diperoleh, tapi kebersamaan umat Katolik itu bisa bersatu, berkumpul untuk memuji Tuhan. Jadi itulah yang utama mau diraih melalui Pesparani itu,” katanya.

Satu Nada, Satu Iman, Satu Papua

Semangat persaudaraan seperti digambarkan di atas,  menemukan ungkapannya dalam tema yang diusung, yakni “Satu Nada, Satu Iman, dan Satu Papua.” Bagi F.X. Mote, tema ini bukan merupakan  rangkaian kata yang menghiasi spanduk atau panggung perayaan. Dan di dalamnya tersimpan ajakan untuk menjadikan iman sebagai jembatan yang mempertemukan manusia dalam kehidupan bersama.

Satu nada mengajarkan kesediaan untuk mendengarkan. Satu iman meneguhkan keyakinan yang menyatukan. Sementara itu, satu Papua menggemakan cita-cita tentang masyarakat yang mampu berdiri bersama di tengah keragaman wilayah, budaya, dan pengalaman hidup.

F.X. Mote menghubungkan semangat itu dengan empat sifat Gereja Katolik yang dikenal sebagai satu, kudus, katolik, dan apostolik.

“Itu sama seperti semangat orang Katolik, yaitu satu, kudus, Katolik, dan apostolik. Jadi satu, kudus, Katolik, dan apostolik itu menjadi kekuatan kita umat Katolik untuk hidup dengan sesama di mana pun kita berada,” ungkapnya.

Pesan ini memperluas makna Pesparani dari ruang perlombaan menuju kehidupan sosial. Persatuan tidak berhenti ketika lagu terakhir selesai dinyanyikan atau ketika para pemenang menerima penghargaan. Persatuan justru diuji dalam kehidupan sehari-hari: bagaimana manusia menghormati perbedaan, menjaga kerukunan, dan menghadirkan kasih di tengah masyarakat yang majemuk.

Sebagai Bupati Waropen, F.X. Mote juga menegaskan keterlibatan daerahnya dalam perhelatan Pesparani II tinkgap provinsi Papua. Kabupaten Waropen turut mengikutsertakan peserta untuk berlomba bersama kontingen dari kabupaten lainnya. Keikutsertaan ini sekaligus menjadi bentuk dukungan terhadap pengembangan kehidupan iman dan kebersamaan umat Katolik di Papua.

Ia berharap kontingen yang meraih hasil terbaik di tingkat provinsi dapat melanjutkan perjuangan dengan mewakili Provinsi Papua pada Pesparani nasional 2027 di Sulawesi Utara. Ajang nasional itu akan mempertemukan peserta dari berbagai provinsi di Indonesia, termasuk provinsi-provinsi di Tanah Papua.

Namun, apa pun hasil akhirnya, pesan Mote tetap berpijak pada nilai yang sama: kemenangan sejati tidak hanya diukur melalui medali atau piala, tetapi juga melalui persaudaraan yang berhasil dirawat.

Di Biak, pada 28 Oktober 2026, ketika bangsa Indonesia memperingati Hari Sumpah Pemuda, semangat persatuan itu memperoleh gaung yang lebih luas. Jika Sumpah Pemuda mengajarkan bangsa untuk mengikat perbedaan dalam cita-cita bersama, Pesparani mengajak umat untuk merajut keberagaman dalam pujian dan persaudaraan.

Pada akhirnya, suara-suara yang berpadu dalam Pesparani bukan hanya hendak menghasilkan harmoni musikal. Suara itu diharapkan menjelma menjadi harmoni kehidupan: ketika umat berbeda daerah berjalan bersama, ketika persaingan tidak memutus persaudaraan, dan ketika iman mendorong manusia untuk saling menghormati.

Sebab, sebagaimana pesan Bupati Waropen F.X. Mote, Pesparani bukan semata-mata tentang siapa yang membawa pulang piala. Pesparani adalah tentang siapa yang bersedia berjalan bersama, menjaga persatuan, dan menjadikan pujian kepada Tuhan sebagai kekuatan untuk hidup berdampingan.

Satu nada boleh berakhir, tetapi persaudaraan jangan pernah berhenti. Satu perlombaan boleh melahirkan juara, tetapi satu iman dan satu Papua harus terus menumbuhkan harapan.

 

Kategori:
Tags:

Terkini