Selasa, 20 Oktober 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

Dari Biak untuk Papua: Pesparani II Menyalakan Api Iman, Persaudaraan, dan Harapan

BIAK NUMFOR — SUARA ANAK NEGERI| Di tengah semarak Festival Budaya Biak Melanesia 2026, sebuah peristiwa penuh sukacita berlangsung di Biak Numfor. Pelepasan kontingen menuju arena perlombaan, menjadi perutusan iman, persaudaraan, dan harapan melalui Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani) II Provinsi Papua Tahun 2026 di Biak Numfor.

Dalam suasana penuh semangat, Bupati Biak Numfor secara resmi melepas kontingen Pesparani II Kabupaten Biak Numfor yang akan berlaga di tingkat Provinsi Papua. Momentum ini menjadi penanda bahwa seni suara rohani bukan hanya tentang keindahan nada, tetapi juga tentang keteguhan iman, kedisiplinan, dan kebersamaan dalam keberagaman.

Baca juga: Wakil Gubernur Papua, Resmi Membuka Festival Budaya Biak Melanesia 2026, Dua Festival Internasional dalam Setahun, Menandai Kebangkitan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Biak Numfor

Ketua LPKD Biak Numfor, Gunadi, S.Sos., M.Si., dalam sambutannya,  pada Minggu, 18 Oktober di Hotel Swissbel Biak, menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada Bupati Biak Numfor yang berkenan hadir di tengah padatnya agenda pemerintahan dan rangkaian Festival Budaya Biak Melanesia.

Ia juga menyampaikan penghargaan kepada Sekretaris Daerah, Z. Mailoa, ST.,M.M., Ketua Pesparawi, Kepala Kantor Kementerian Agama, Kepala Stasiun RRI, para pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD), pendamping, pelatih, serta seluruh pengurus yang telah mengambil bagian dalam mempersiapkan kontingen.

Baginya, kehadiran para pemimpin dan dukungan seluruh unsur masyarakat merupakan energi yang menguatkan langkah para peserta. Sebab, di balik setiap suara yang kelak berpadu di panggung perlombaan, ada ketekunan para pelatih, kesabaran para pembina, dan pengorbanan banyak orang yang bekerja tanpa selalu terlihat.

Baca juga: PETA AGAMA DUNIA 2026: Islam Tumbuh Paling Cepat, Bagaimana Komposisinya pada 2036?

Merawat Prestasi, Meneguhkan Tradisi

Perjalanan Pesparani Biak Numfor memiliki jejak perjuangan yang patut dibanggakan. Ketua LPKD mengungkapkan bahwa organisasi tersebut telah terbentuk sejak 2019. Pada masa awal perkembangannya, Bupati Biak Numfor, yang saat itu menjabat sebagai Sekretaris Daerah, telah hadir memberikan motivasi kepada para peserta di Jayapura.

Perjuangan itu membuahkan hasil. Dalam kompetisi sebelumnya, perwakilan Papua tersebut berhasil meraih peringkat kedua pada tingkat nasional. Capaian itu menjadi kenangan sekaligus sumber inspirasi untuk terus memperbaiki kualitas dan memperkuat kesiapan menghadapi kompetisi berikutnya.

Kini, tantangan baru menanti. Kontingen Biak Numfor mengikuti seluruh 14 kategori yang diperlombakan dalam Pesparani II Provinsi Papua. Setiap kategori menghadirkan tuntutan kemampuan, disiplin, dan penghayatan yang berbeda, tetapi semuanya bertemu dalam satu tujuan: memberikan penampilan terbaik bagi daerah.

Apabila berhasil meraih juara pada kategori yang dipertandingkan, para peserta berpeluang mewakili Papua ke tingkat nasional di Manado pada tahun mendatang.

Di hadapan para peserta, harapan itu terasa seperti sebuah nyala kecil yang dijaga bersama. Ia tumbuh melalui latihan berulang, keberanian menghadapi panggung, dan keyakinan bahwa prestasi lahir dari kerja keras yang tidak mengenal jalan pintas.

Dukungan Pemerintah, Kekuatan bagi Kontingen

Ketua LPKD Gunadi, Sos.,M.Si juga menyampaikan apresiasi atas dukungan Pemerintah Kabupaten Biak Numfor melalui bantuan hibah sebesar Rp1,5 miliar untuk mendukung penyelenggaraan dan persiapan kontingen.

Dukungan tersebut dimanfaatkan untuk kebutuhan peserta serta persiapan akomodasi selama kegiatan berlangsung. Bahkan, meskipun para peserta akan ditampung di lingkungan sekolah, kebutuhan tempat istirahat turut dipersiapkan agar mereka dapat menjalani perlombaan dengan lebih baik.

Di balik persiapan itu, tersimpan pesan bahwa perjuangan di panggung kompetisi tidak berdiri sendiri. Ada tanggung jawab pemerintah, pengabdian para pembina, ketulusan pelatih, dan dukungan masyarakat yang saling menguatkan.

Ketua LPKD menyampaikan terima kasih kepada seluruh pelatih yang dengan kesabaran dan semangat tanpa padam telah membimbing para peserta. Ia juga mengapresiasi para pengurus dan semua pihak yang bekerja mempersiapkan kontingen Biak Numfor.

Ia berharap Bupati memberikan restu, dukungan moral, dan arahan bagi para peserta sebelum mereka melangkah menuju arena perlombaan.

Satu Nada, Satu Iman, Satu Persaudaraan

Ada sesuatu yang istimewa ketika suara-suara berbeda dipertemukan dalam satu paduan. Setiap suara memiliki warna, setiap penyanyi membawa kemampuan, dan setiap kelompok memiliki tantangan. Namun, harmoni hanya akan lahir ketika semua bersedia mendengarkan, menyesuaikan diri, dan berjalan menuju tujuan yang sama.

Demikian pula Pesparani. Kemenangan bukan semata-mata tentang piala atau kedudukan di atas podium. Lebih jauh, ia merupakan perjalanan untuk memperdalam penghayatan iman, membangun persaudaraan, dan menunjukkan bahwa perbedaan dapat dirangkai menjadi keindahan.

Dalam konteks Biak Numfor, penyelenggaraan Pesparani II Provinsi Papua juga berlangsung beriringan dengan Festival Budaya Biak Melanesia 2026. Dua momentum ini menghadirkan pesan yang saling melengkapi: budaya menjaga akar identitas, sementara iman menguatkan nilai-nilai kemanusiaan dan persaudaraan.

Di tanah Biak, keduanya bertemu dalam semangat kebersamaan. Tradisi tidak kehilangan tempatnya, iman tidak kehilangan suaranya, dan generasi muda memperoleh ruang untuk belajar tentang tanggung jawab serta pengabdian.

Menutup sambutannya, Ketua LPKD mengajak seluruh pihak memohon penyertaan Tuhan Yang Maha Kuasa bagi kontingen, para pelatih, dan seluruh penyelenggara Pesparani II Provinsi Papua Tahun 2026. Doa juga dipanjatkan bagi Bupati, Wakil Bupati, Sekretaris Daerah, dan seluruh jajaran pemerintah daerah agar senantiasa diberi kekuatan dalam menjalankan tugas serta menyukseskan agenda daerah.

Kini, perjalanan itu berlanjut. Para peserta akan membawa hasil latihan, doa keluarga, harapan para pelatih, dan kepercayaan masyarakat ke panggung perlombaan.

Sebab, pada akhirnya, kemenangan terbesar bukan hanya ketika sebuah paduan suara memperoleh nilai tertinggi, melainkan ketika setiap suara mampu menyampaikan pesan damai, setiap langkah mempererat persaudaraan, dan setiap prestasi mengangkat martabat daerah.

Dari Biak untuk Papua, biarlah setiap nada menjadi doa, setiap harmoni menjadi jembatan persaudaraan, dan setiap perjuangan menjadi kesaksian bahwa iman yang dirawat bersama akan selalu melahirkan harapan.

 

Kategori:
Tags:

Terkini