Senin, 19 Oktober 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

Pdt. Yunus Malihu: Jemaat Harus Teguh Berpegang pada Firman Allah

Oleh: Johanis Kopong

Firman Allah Menjadi Pedoman Hidup dan Pelayanan Jemaat. Saumlaki | suaraanaknegeri.com – Minggu, 18 Oktober 2026. ​Jemaat Tuhan diingatkan untuk tetap berpegang teguh pada firman Allah sebagai dasar utama dalam menjalani kehidupan dan pelayanan. Setiap pemahaman, penafsiran, maupun pandangan terhadap persoalan kehidupan perlu diuji berdasarkan Alkitab, bukan semata-mata asumsi atau informasi yang beredar di tengah masyarakat.

​Pesan tersebut disampaikan Pdt. Yunus Amet Malihu, S.Th., Gembala GBI Mawar Saron di Desa Lingat, Kecamatan Selaru, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku, saat melayani sebagai pengkhotbah dalam ibadah Minggu di GBI MILOS Saumlaki, Minggu (18/10/2026), pukul 09.00 WIT. Dalam khotbahnya, ia menekankan pentingnya menjadikan Alkitab sebagai otoritas tertinggi dalam memahami kebenaran dan membimbing kehidupan orang percaya.

Baca juga: RD Ponsianus Ongirwalu: Berbagi Kasih untuk 12 Anak Hebat

​“Jemaat Tuhan yang ada di gereja harus teguh berdiri atas firman Allah. Karena setiap sesuatu itu dasarnya adalah firman,” demikian pesan yang disampaikan dalam khotbah tersebut.

​Ia juga mengingatkan agar jemaat tidak mudah menerima setiap informasi atau penafsiran tanpa mengujinya terlebih dahulu berdasarkan firman Tuhan. Menurutnya, kehati-hatian diperlukan agar umat tidak tersesat dalam memahami ajaran maupun menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

​Mengulas Matius 19 tentang Pernikahan dan Perceraian

​Dalam pelayanan firman tersebut, Pdt. Yunus mengajak jemaat membuka Injil Matius pasal 19, khususnya ayat 1–12, yang membahas pengajaran Yesus mengenai pernikahan, perceraian, dan hidup tidak menikah.

Baca juga: Bupati Tanimbar Tegaskan Pengawasan Guru dan Nakes di Desa

​Bagian Alkitab tersebut mengisahkan kedatangan orang-orang Farisi yang bertanya kepada Yesus mengenai diperbolehkannya seorang suami menceraikan istrinya dengan berbagai alasan. Yesus kemudian mengarahkan mereka kembali kepada maksud Allah sejak penciptaan, yakni bahwa laki-laki dan perempuan dipersatukan dalam ikatan pernikahan.

​Matius 19:6 menegaskan: ​“Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.”

​Ayat tersebut menjadi salah satu pokok penting dalam pembahasan mengenai kesatuan pernikahan dan tanggung jawab suami istri di hadapan Allah.

​Dalam penjelasannya, Pdt. Yunus juga menguraikan konteks pertanyaan orang-orang Farisi. Pertanyaan mereka bukan sekadar persoalan rumah tangga, melainkan juga merupakan upaya untuk mencobai Yesus melalui persoalan yang sensitif dalam kehidupan masyarakat pada masa itu.

Ia mengingatkan bahwa memahami firman Tuhan membutuhkan ketelitian, termasuk memperhatikan konteks ayat dan maksud pengajaran Yesus, sehingga umat tidak menarik kesimpulan hanya berdasarkan pemahaman yang terbatas.

​Menjaga Sikap dan Menghormati Pasangan

​Pembahasan selanjutnya menyinggung perilaku, sikap, dan tanggung jawab dalam relasi laki-laki dan perempuan. Pesan yang disampaikan mengarah pada pentingnya menjaga kekudusan, menghormati pasangan, serta memperhatikan perilaku dan cara berpakaian secara sopan.

​Dalam konteks kehidupan orang percaya, penampilan dan tindakan hendaknya mencerminkan penghormatan terhadap diri sendiri maupun orang lain. Namun, penerapan nasihat tersebut perlu disertai pemahaman yang tepat terhadap firman Tuhan dan tanggung jawab setiap individu dalam menjaga perilakunya.

​Pengajaran Yesus dalam Matius 19 juga memperlihatkan bahwa persoalan pernikahan tidak dapat dipandang hanya dari sisi keinginan manusia. Terdapat nilai kesetiaan, komitmen, dan tanggung jawab yang perlu dijaga dalam kehidupan rumah tangga.

Karena itu, jemaat diajak untuk tidak terburu-buru mengambil kesimpulan dalam menghadapi persoalan relasi, melainkan mencari pemahaman yang benar berdasarkan firman Allah.

​Ibadah Ditutup dengan Berkat Damai Sejahtera

​Rangkaian ibadah Minggu GBI MILOS Saumlaki tersebut diakhiri dengan penyampaian berkat damai sejahtera oleh Pdt. Daniel Batmanlussy, S.Th.

​Melalui pelayanan firman itu, jemaat diharapkan semakin memahami pentingnya menjadikan Alkitab sebagai pedoman kehidupan, menjaga kesetiaan dalam hubungan pernikahan, serta menjalankan kehidupan sehari-hari dengan sikap yang bertanggung jawab.

​(Sumber: Narasi khotbah Pdt. Yunus Amet Malihu, S.Th., dan keterangan kegiatan ibadah GBI MILOS Saumlaki, Minggu, 18 Oktober 2026.)

Kategori:
Tags:

Terkini