Senin, 14 September 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

KOPI PAHIT

Secangkir Kopi Cak Mus – 14.09.26

Oleh : Nasih Widya Yuwono

Baca juga: Ketika Padel Mempertemukan dua Generasi

Kopi, dalam banyak kisah manusia modern, telah menjadi simbol perjuangan melawan kantuk, teman setia para pelajar yang begadang, dan sahabat para pekerja malam yang mengejar tenggat. Namun bagiku, kopi—sekalipun yang paling pahit dan paling kental—tidak pernah benar-benar mampu menahan kantuk yang datang perlahan, seperti kabut yang jatuh di pagi hari. Ini bukan karena kopi kehilangan kandungan kafeinnya, atau karena tubuhku telah menjadi kebal terhadap stimulan. Ini adalah soal hubungan yang lebih dalam, lebih psikologis, antara huruf-huruf di layar atau buku, dan keinginan untuk tidur yang menyeruak seperti panggilan dari masa kanak-kanak.

Fenomena ini tampaknya sepele, namun justru menyimpan kompleksitas yang menarik untuk diurai secara ilmiah dan populer. Mengapa seseorang yang sehat, dengan cukup tidur dan tubuh segar, bisa tiba-tiba dilanda kantuk hanya karena mulai membaca atau menulis? Apakah karena teks itu membosankan? Apakah karena aktivitas membaca menurunkan level adrenalin dan mengundang relaksasi? Ataukah karena sistem otak kita telah membentuk hubungan bawah sadar bahwa huruf adalah isyarat untuk tidur, seperti lagu nina bobo bagi bayi?

Baca juga: EXPA Luncurkan Buku Perdana "'Ruang Belajar Menjadi Manusia'" Antologi Kisah Perjalanan Pecinta Alam

Pertama-tama, mari kita telaah dari sisi neurologi. Membaca adalah aktivitas kompleks yang melibatkan beberapa bagian otak: visual cortex untuk mengenali bentuk huruf, Broca’s area dan Wernicke’s area untuk memahami dan membentuk bahasa, serta hippocampus yang bekerja untuk menyimpan informasi baru ke dalam memori jangka panjang. Aktivitas ini, terutama bila dilakukan berulang dengan intensitas rendah dan dalam suasana hening, justru memicu kondisi otak yang mirip dengan keadaan menjelang tidur, yakni gelombang otak bergerak dari beta ke arah alfa, bahkan theta. Ini adalah pola yang identik dengan kondisi rileks, bahkan setengah tertidur. Jadi, membaca atau menatap huruf bisa secara literal membawa otak ke mode istirahat.

Sementara itu, kopi—terutama yang mengandung kafein tinggi—bekerja dengan menghambat adenosin, senyawa di otak yang bertugas memberi sinyal bahwa tubuh lelah. Dalam kondisi normal, kafein akan mengikat reseptor adenosin dan mencegah kantuk. Namun, ketika seseorang membaca dalam suasana sunyi, monoton, dan tidak merangsang emosi secara intens, tubuh bisa masuk ke mode parasimpatik: tekanan darah menurun, detak jantung melambat, dan kantuk pun muncul meski kafein masih beredar di sistem saraf. Inilah paradoksnya: tubuh ingin terjaga, tetapi aktivitas yang dilakukan tidak cukup menggairahkan untuk menyalakan sistem siaga (arousal system).

Aku menyadari hal ini dari pengalamanku sendiri, yang bisa menjadi bahan refleksi bagi para pembaca yang juga kerap mengalami hal serupa. Setiap kali aku duduk di meja kerja, membuka buku referensi atau naskah yang perlu disunting, tubuhku seperti menafsirkan huruf demi huruf sebagai isyarat tidur. Bahkan, semakin berat topik yang kubaca—misalnya tentang fisika kuantum atau regulasi pupuk nasional—semakin cepat mataku berat. Ini bukan soal niat atau komitmen, melainkan respons biologis yang sulit dicegah.

Faktor kedua yang memperkuat fenomena ini adalah psikologi kebiasaan. Banyak dari kita sejak kecil diajak tidur dengan dibacakan cerita. Buku dan tidur, sejak awal hidup kita, telah menjadi pasangan yang harmonis. Di kemudian hari, ketika kita dewasa dan mulai membaca bukan untuk tidur, tapi untuk belajar atau bekerja, asosiasi itu tetap melekat dalam otak bawah sadar. Jadi, bukan hanya fisiologi otak yang menyuruh kita mengantuk saat membaca, tapi juga ingatan emosional yang menempel sejak masa kanak-kanak. Huruf demi huruf, seolah seperti lagu pengantar tidur.

Dalam kasusku, kopi hanya menjadi semacam ritual simbolik. Aku menyiapkan kopi hitam tanpa gula, menuangnya ke cangkir keramik yang retak sedikit di pinggirnya, dan duduk di kursi kayu dekat jendela. Kudekati layar laptop, kubuka file teks, dan mulai membaca. Lima menit pertama masih sadar. Sepuluh menit berikutnya, mulai menguap. Dua puluh menit kemudian, kepala menunduk tanpa izin. Ini pola yang terjadi berulang, tanpa gagal. Anehnya, bila kegiatan diganti dengan menonton film, bermain gim strategi, atau berdiskusi dengan teman lewat Zoom, kantuk tidak datang. Artinya, huruflah yang menjadi pemicu utama, bukan monotonitas aktivitas secara umum.

Fenomena ini juga diamini oleh banyak mahasiswa dan dosen yang kukenal. Dalam forum informal kampus, sering kali muncul keluhan yang serupa. “Pak, saya niat belajar jam delapan malam, baru baca dua halaman langsung ketiduran,” ujar seorang mahasiswa. Bahkan, beberapa teman sejawatku di dunia akademik menyatakan bahwa saat merevisi artikel jurnal atau membaca laporan mahasiswa, kantuk datang lebih cepat dibanding saat mereka mengajar di kelas atau menonton berita politik. Ini menunjukkan bahwa fenomena ini bersifat umum, bukan kasus individual.

Apakah ada solusinya? Secara teoretis, tentu ada. Pertama, mengubah posisi membaca: jangan di kursi malas atau di tempat tidur. Kedua, gunakan teknik membaca aktif seperti mencatat, bertanya, dan berdiskusi. Ketiga, atur waktu membaca pada jam tubuh paling waspada, yakni sekitar pukul 9 hingga 11 pagi atau 2 hingga 4 sore. Keempat, gunakan pencahayaan yang terang dan hindari suasana terlalu nyaman. Namun dalam praktiknya, semua tips ini sering kali tumbang di hadapan satu kekuatan besar: kantuk yang datang dari dalam hati.

Aku pernah mencoba berbagai strategi. Membaca sambil berdiri. Membaca sambil mengunyah permen mint. Membaca sambil mendengarkan musik klasik atau white noise. Namun tetap saja, ketika huruf demi huruf muncul di layar, dan paragraf panjang mulai mendesak retina untuk fokus, mataku seperti kehilangan energi untuk bertahan. Ini bukan soal malas, tapi tentang bagaimana tubuh dan pikiran bekerja sama menciptakan kondisi menyerupai tidur—meski di tengah upaya keras untuk tetap bangun.

Ada pula teori menarik dari sisi ergonomi kognitif. Aktivitas membaca memerlukan kerja fokus mikro yang konstan. Artinya, mata dan otak harus terus menyinkronkan informasi dalam rentang sempit, tanpa variasi gerakan atau perubahan fokus. Hal ini berbeda dengan menonton, di mana gambar dan suara terus berubah dan menarik perhatian. Jadi, tubuh merespons membaca seperti halnya ia merespons kegiatan meditatif: rileks, hening, dan akhirnya… tidur.

Dalam ranah psikologi eksperimental, ada istilah yang disebut cognitive load—beban kognitif yang dirasakan seseorang saat melakukan tugas mental. Bila bacaan yang ditelaah terlalu berat, dan pembaca tidak memiliki cukup pengetahuan latar, maka terjadi kelelahan kognitif yang cepat. Ini bisa memicu keinginan tubuh untuk berhenti sejenak, yang dimanifestasikan sebagai kantuk. Jadi, mungkin bukan kopi yang gagal, tapi otakku yang kalah oleh beban informasi yang melampaui kapasitas jangka pendek.

Di sisi lain, bila materi bacaan terlalu ringan dan berulang, otak menganggapnya sebagai stimulus yang bisa diabaikan. Maka, datanglah efek boredom-induced sleepiness—kantuk karena kebosanan. Dalam dua kondisi ekstrem ini—terlalu sulit dan terlalu mudah—membaca selalu mengarah ke satu muara: mengantuk. Maka tak heran jika membaca buku puisi berat bisa sama menidurkan dengan membaca manual mesin fotokopi.

Pada akhirnya, saya mulai berdamai. Mungkin memang tidak semua orang terjaga karena kopi. Mungkin, dalam tubuhku, kafein hanya mengaktifkan separuh sistem siaga, sementara separuh lainnya telah terprogram untuk menyerah ketika berhadapan dengan deretan huruf. Maka, saya tidak lagi terlalu berharap pada kopi. Saya mencoba mengatur waktu kerja berdasarkan jam tubuh, membaca dengan diselingi aktivitas ringan, dan mengakui satu hal penting: bahwa tubuh memiliki cara bijaknya sendiri untuk menjaga keseimbangan antara produktivitas dan istirahat.

Narasi ini bukan sekadar curhat personal, tetapi cermin bagi kita semua yang hidup dalam budaya literasi namun diam-diam ditaklukkan oleh kantuk. Ini adalah ajakan untuk memahami tubuh, menghormati ritme sirkadian, dan merancang ulang cara kita membaca dan bekerja. Mungkin memang saatnya kita berhenti menyalahkan kopi pahit, dan mulai bertanya: apakah huruf-huruf ini terlalu akrab dengan tidur kita?

Dan malam ini, seperti biasa, aku menyeduh kopi pahit, menatap layar, dan bersiap menatap huruf demi huruf. Bukan untuk berjaga, tapi mungkin untuk berdamai. Karena dalam setiap huruf, ada janji tidur yang lebih manis daripada gula.

Kategori:
Tags:

Terkini