Minggu, 13 September 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

EXPA Luncurkan Buku Perdana “‘Ruang Belajar Menjadi Manusia'” Antologi Kisah Perjalanan Pecinta Alam

Lasman Simanjuntak| Penulis

JAKARTA – SUARA ANAK NEGERI| Perhimpunan pencinta alam dan lingkungan EXPA meluncurkan buku berjudul “EXPA Ruang Belajar Menjadi Manusia: Perjalanan Pecinta Alam” (RBMM) di Ruang Sasana Krida SMAN 8 Jakarta, Sabtu (12/9/2026).

Baca juga: PUISI ESAI DI MEJA BEDAH

Peluncuran buku ditandai dengan menurunkan mock-up buku dari wall climbing setinggi 15 meter, oleh dua siswa SMAN 8 Jakarta, yang tergabung dalam putra-putri pencinta alam (Puapala).

Secara simbolis, launching buku ini menurunkan ide dan cita-cita EXPA untuk menerbitkan buku, yang sebelumnya masih wacana menjadi kenyataan.

Baca juga: Lampaui Kewenangan, Bubarkan AJ Mengemuka dalam Diskusi Terbuka FKSTIM

Acara dilanjutkan dengan bedah buku yang diikuti kurang lebih 100 peserta terdiri dari sejumlah tokoh senior pegiat pecinta alam, seperti Don Hasman, Heryus Saputro, “Ciwo” Siswoyo Adi, dan Krisna Purwana.

Selain itu ketua dan perwakilan berbagai komunitas pecinta alam di Indonesia, antara lain MAPALA UI, Kerabat Pencinta Alam (KPA), Federasi Mountaineering Insonesia (FMI), Sispala DKI Jakarta, Forum Pendaki Jabodetabek, Big Advanture Indonesia, KAPA UI dan sebagainya.

Hadir sebagai penanggap adalah Prof. Wahyu Wibowo (jurnalis senior dan guru besar filsafat bahasa) Agus Rusono (professional trainer) dan Didiek Pranowo (trip creator), yang merupakan Sekjen EXPA, Don Hasman (jurnalis fotografer), Fariska (pegiat pencinta alam muda).

Ada 27 penulis untuk buku tersebut, dengan tim redaksi, Didot Mpu Diantoro, Endang Mariani, Raditya Padmawangaa, Sulistya Pribadi dan Suradi.

Refleksi Pencinta Alam

Buku ini mendokumentasikan sejarah, perjalanan, dan dinamika EXPA melalui kisah aktivitas di alam, sebagai refleksi diri para pencinta alam dalam.proses belajar sebagai manusia.

Pengalaman di alam dalam buku tersebut dipaparkan sebagai proses pembelajaran yang membentuk karakter, mempererat persahabatan, dan mengembangkan kepedulian terhadap lingkungan.

Salah satu penulis dan editor, yang bertindak sebagai moderator bedah buku, Endang Mariani mengatakan, peluncuran buku ini dapat menjadi titik awal untuk menerbitkan buku-buku lainnya, seperti buku panduan teknis cara berkegiatan di alam, seperti susur gua, panjat tebing, panjat dinding, arung jeram, bahkan hingga penangan bencana, sesuai bidang keahlian masing-masing jenis kegiatan ruang luar.

“Buku perdana EXPA ini diharapkan dapat dilanjutkan dengan penerbitan seri buku tentang panduan teknis bagaimana cara melakukan kegiatan di alam. Karena banyak anggota EXPA yang memiliki prestasi dan keahlian seperti caving, rafting, wall climbing, rock climbing, hiking, mountaineering, dan lain sebagainya,” ujarnya.

Prof. Wahyu Wibowo (Sastrawan, Penyair, serta Guru Besar dan Pengajar Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Nasional) dalam tanggapannya memberikan apresiasi yang tinggi terhadap hadirnya buku EXPA.

Prof.Wahyu Wibowo mengulas dari sisi filosofis dan post-truth.

Hadir sebagai salah satu peserta bedah buku, Don Hasman, jurnalis dan fotografer terkemuka -yang juga anggota kehormatan MAPALA UI- ikut menyampaikan apresiasi.

“Saya bangga diundang dan bersyukur bahwa ternyata SMAN 8 para pegiat di alamnya itu mampu membuat terobosan yang sangat istimewa dan tekun secara konsisten sampai bisa menerbitkan buku. Semua pengalaman mereka yang mereka lakukan selama di Puapala itu dibukukan. Sepengetahuan saya, ini buku pertama yang diterbitkan oleh komunitas pencinta alam sebuah sekolah (SMA). Mudah-mudahan bisa menjadi pegangan para pegiat di alam lainnya. Buku ini ditulis oleh orang-orang hebat,” ujar Don usai acara bedah buku ruang belajar menjadi manusia.

Salah satu anggota Federasi Mountaineering Indonesia DKI Jakarta, Umar Freudo, juga turut hadir dan memberikan apresiasi kepada para penulis.

“Buku ini bagus banget karena memang enggak banyak yang bicara buku tentang mountaineering, pendakian dikaitkan dengan pengembangan karakter. Alam itu ruang belajar paling jujur. Alam itu ruang Prabahasa, tempat kita belajar sebelum sempat dibentuk oleh kata-kata orang lain. Pantai itu menyenangkan, gunung itu menenangkan. Nah, buku ini saya lihat arahnya ke situ. Judulnya Ruang Belajar Menjadi Manusia, artinya manusia itu belajar mencari ketenangan dengan tenang dia bisa berpikir jernih, berprilaku dengan baik. Temen-temen wajib baca, beli, karena buku-buku ini berbeda dari yang pernah saya baca,” kata Umar.

Sementara Darius Krisdanu (Ketua EXPA) berharap buku ini bukan sekedar menjadi arsip perjalanan EXPA, tapi sekaligus sumber pengetahuan dan inspirasi bagi para pencinta alam lintas generasi.

Sebuah dokumentasi yang merekam bagaimana alam menjadi guru sekaligus ruang belajar menjadi manusia.

Nilai serta pengalaman, sebagai pencinta alam berpengaruh terhadap proses pembentukan karakter yang berkembang dalam komunitas pecinta alam SMAN 8 Jakarta, yang setelah lulus dari bangku sekolah tetap memiliki keterikatan dan kepedulian dengan alam.(*)

Kontributor : Lasman Simanjuntak

Kategori:
Tags:

Terkini