Laporan: Eko Wiratno
–
BOYOLALI – SUARA ANAK NEGERI. Gelar doktor bisa menjadi puncak pencapaian akademik. Namun bagi Dr. Dwi Suci Lestariana, S.P., M.P., gelar itu justru menjadi pintu masuk menuju tanggung jawab yang jauh lebih besar: memastikan ilmu tidak berhenti di ruang sidang, jurnal, dan laboratorium, tetapi bergerak sampai ke lahan pertanian dan memberi manfaat bagi masyarakat.
Baca juga: JAS Solidaritas untuk NTT: Pembacaan Puisi, Monolog, dan Musik Menjadi Suara Kemanusiaan
Dosen Agroteknologi Universitas Boyolali yang juga Wakil Rektor Periode 2026-2030 ini menuntaskan Ujian Tertutup Program Doktor Ilmu Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta pada Rabu, 12 Agustus 2026. Capaian akademiknya terbilang istimewa. Dwi menyelesaikan studi dengan IPK sempurna 4,00 sekaligus tercatat sebagai doktor ke-102 yang diluluskan Fakultas Pertanian UNS. Di balik IPK 4,00 terdapat perjalanan penelitian hampir tiga tahun yang bersentuhan dengan salah satu persoalan besar pertanian masa depan: kekeringan dan ketidakpastian ketersediaan air.
Dalam penelitian doktoralnya, Dwi mengkaji mitigasi stres kekeringan pada kedelai hitam melalui pendekatan yang memadukan varietas toleran, bionanosilika berbahan sekam padi, serta fungi mikoriza arbuskula (AMF). Tema tersebut semakin penting ketika perubahan pola hujan dan musim kering membuat pertanian harus berhadapan dengan lingkungan yang semakin sulit diprediksi.
Bagi tanaman, kekeringan bukan sekadar tanah yang kehilangan air. Tekanan kekeringan dapat memengaruhi perkembangan akar, aktivitas stomata, fotosintesis, keseimbangan air dalam jaringan tanaman, hingga pembentukan dan pengisian hasil. Pertanyaan yang lebih penting adalah: bagaimana tanaman bertahan, beradaptasi, dan tetap berproduksi ketika air semakin terbatas?
Dalam riset tersebut, Dwi mempelajari respons beberapa genotipe kedelai hitam terhadap cekaman kekeringan. Dua kultivar yang mendapatkan perhatian lebih lanjut adalah Malika dan Detam 2. Perbedaan itu menegaskan bahwa tanaman tidak selalu menghadapi kekeringan dengan strategi biologis yang sama. Faktor genetik, kondisi tanah, ketersediaan air, aktivitas mikroorganisme, hingga teknologi budidaya dapat saling berinteraksi membentuk kemampuan adaptasi tanaman.
Yang membuat penelitian ini semakin menarik adalah penggunaan bionanosilika berbahan sekam padi.
Sekam yang selama ini dikenal sebagai hasil samping penggilingan padi justru menyimpan potensi besar karena mengandung silika yang dapat dikembangkan menjadi material bernilai tambah. Gagasan tersebut membawa pesan penting bagi pertanian berkelanjutan: limbah pertanian tidak selalu harus berakhir sebagai limbah.
Dengan sentuhan ilmu pengetahuan dan teknologi, hasil samping pertanian dapat diolah menjadi sumber daya baru. Di sinilah konsep ekonomi sirkular bertemu dengan inovasi pertanian. Bionanosilika tersebut kemudian dipadukan dengan fungi mikoriza arbuskula, mikroorganisme yang dapat berasosiasi dengan sistem perakaran tanaman dan berperan dalam mendukung penyerapan air maupun unsur hara pada kondisi tertentu.
Baca juga: Jumat Aksi Seni FPS-TIM Angkat Solidaritas untuk Flores, NTT
Di lapangan, suhu berubah, air tidak selalu terdistribusi merata, kondisi tanah beragam, dan tanaman harus berhadapan langsung dengan kompleksitas lingkungan. Teknologi pertanian tidak cukup hanya mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman. Teknologi juga harus diuji melalui komponen hasil, efisiensi penggunaan air, keamanan, biaya, kemudahan penerapan, serta peluang pengembangannya.
Perjalanan Dwi menuju doktor dimulai jauh sebelum ujian tertutup dilaksanakan. Pada November 2023, ia masih berada pada tahap seminar proposal disertasi. Setelah itu dimulailah rangkaian eksperimen, pengamatan tanaman, pengumpulan data, analisis laboratorium, pengolahan hasil, hingga pembahasan ilmiah. Apa yang dilakukan setelah menjadi doktor? Apakah penelitian berhenti setelah disertasi selesai? Apakah hasil penelitian hanya menjadi angka di tabel dan artikel ilmiah? Ataukah ilmu tersebut terus dikembangkan sampai benar-benar memberi manfaat? Bagi Dr. Dwi Suci Lestariana, jawabannya jelas.
Pertanian Indonesia membutuhkan akademisi yang mampu membawa ilmu keluar dari laboratorium. Petani membutuhkan teknologi yang realistis diterapkan. Mahasiswa membutuhkan dosen yang membawa pengalaman riset ke ruang kuliah. Perguruan tinggi membutuhkan ilmuwan yang mampu menyatukan pendidikan, penelitian, dan pengabdian. Karena itu, IPK 4,00 dan status doktor ke-102 Fakultas Pertanian UNS bukanlah garis akhir.
Nilai sebuah gelar doktor tidak akan ditentukan hanya oleh angka dalam transkrip atau panjangnya gelar di belakang nama. Nilainya akan ditentukan oleh jejak setelahnya. Apakah ilmu terus bertumbuh?Apakah riset mampu menjawab persoalan pangan? Apakah mahasiswa ikut terinspirasi? Dan yang terpenting: apakah masyarakat akhirnya merasakan manfaatnya?
Bagi Dr. Dwi Suci Lestariana, laboratorium, ruang kuliah, lahan percobaan, dan hamparan pertanian masih menjadi ruang perjalanan panjang berikutnya. Sebab ilmu pertanian pada akhirnya bukan hanya tentang memahami bagaimana tanaman tumbuh. Ilmu pertanian adalah ikhtiar menjaga kehidupan, merawat sumber daya, dan memastikan pangan tetap tersedia bagi generasi yang akan datang.


