Oleh Paulus Laratmase
–
BIAK, PAPUA – SUARA ANAK NEGERI | Ada puisi lahir dari kata-kata, tetapi ada pula puisi tumbuh dari pengalaman, kegelisahan, serta keberanian menyuarakan kehidupan. Dari sebuah halaman, aksara dapat menyeberangi batas geografis dan menjelma menjadi suara Indonesia di panggung dunia.
Baca juga: AIR PADA HUTAN API

Kabar membanggakan kembali datang dari keluarga besar Media Suara Anak Negeri Group. Edrawati, M.Pd., dengan nama pena Era Nurza, Redaktur Negerinews.com, terpilih sebagai salah satu dari 10 penyair Indonesia dalam Antologi BRICS Literature Network 2026 melalui program Golden Flames Upon the Sky.
Dua puisinya, “Who Will Inherit the Dust After Us?” dan “Before the Sky Learned to Hate”, berhasil melewati proses kurasi dari hampir 40 penyair dengan sekitar 80 puisi dari berbagai penjuru Indonesia. Kedua karya tersebut direncanakan menjadi bagian dari antologi internasional yang akan terbit di Tiongkok pada Oktober 2026 dan diterjemahkan ke dalam bahasa Mandarin.
Baca juga: PENULIS MEMILIKI SERIBU NYAWA
Pencapaian ini menjadi kebanggaan bagi keluarga besar Media Suara Anak Negeri Group, khususnya Negerinews.com. Dari ruang redaksi, tempat berita, gagasan, dan suara masyarakat diperjuangkan, seorang redaktur membawa puisinya melangkah menuju ruang sastra internasional.
Dari Ruang Redaksi Menuju Panggung Dunia
Perjalanan Era Nurza di dunia sastra internasional bukanlah langkah pertama. Sebelumnya, ia juga telah terlibat dalam berbagai forum dan kegiatan sastra internasional.
Sebelumnya Eka Teresia, Pimpinan Redaksi Negerinews.com, tahun 2025, berhasil meraih Juara 1 dalam sebuah ajang kepenulisan puisi internasional setelah sebelumnya terpilih bersama 50 penulis puisi internasional.
Kehadiran dua sosok dari satu ruang redaksi dalam perjalanan sastra lintas negara menjadi kebanggaan tersendiri.
Kini, giliran Era Nurza kembali menyalakan cahaya melalui dua puisinya. Namanya tercatat dalam Top Ten penyair Indonesia pada program Golden Flames Upon the Sky. Sebuah pencapaian yang menunjukkan bahwa karya dari Indonesia mampu hadir dalam perjumpaan sastra lintas bangsa.
Dua Puisi, Dua Renungan
“Who Will Inherit the Dust After Us?” menyodorkan pertanyaan tentang warisan manusia bagi generasi mendatang. Debu menjadi simbol jejak kehidupan, lingkungan, serta peradaban. Pertanyaan itu mengajak pembaca menengok kembali tanggung jawab manusia terhadap masa depan.
Sementara “Before the Sky Learned to Hate” membawa renungan tentang dunia sebelum kebencian tumbuh. Langit menjadi simbol kerinduan terhadap perdamaian, persaudaraan, dan kehidupan tanpa sekat perbedaan.
Kedua puisi tersebut menemukan ruangnya dalam semangat Golden Flames Upon the Sky: lintas peradaban, perdamaian, dan kemanusiaan.
Sebagai pimpinan Media Suara Anak Negeri Group, kami menyampaikan proficiat dan apresiasi setulus-tulusnya kepada Edrawati, M.Pd. (Era Nurza). Pencapaian ini bukan hanya kebanggaan pribadi, melainkan juga kebanggaan bagi keluarga besar Negerinews.com serta sastra Indonesia.
Jurnalisme dan puisi memiliki jalan berbeda. Jurnalisme berpijak pada fakta, puisi menyelami makna. Namun keduanya bertemu pada satu titik: suara—suara untuk menyampaikan kebenaran, kegelisahan, harapan, dan kemanusiaan.
Ada bendera dikibarkan melalui tiang. Ada pula bendera dikibarkan melalui kata-kata.
Melalui puisi, Era Nurza membawa nama Indonesia menuju panggung dunia perjalanan dari ruang redaksi Negerinews.com menjadi bukti bahwa sebuah media dapat melahirkan suara-suara kreatif yang mampu menembus batas negeri.
Proficiat, Edrawati, M.Pd. (Era Nurza).
Teruslah menulis. Teruslah menyalakan aksara. Jadikan puisi sebagai jembatan antarmanusia dan cahaya kecil bagi perdamaian dunia.
Sebab sebuah bangsa tidak hanya dikenang melalui bangunan dan sejarahnya, tetapi juga melalui kata-kata bermakna yang diwariskannya kepada dunia.
Biak, Papua, 31 Agustus 2026
Pimpinan Media Suara Anak Negeri Group
Paulus Laratmase


