Laporan: Nuyang Jaimee
–
JAKARTA, SUARA ANAK NEGERI,- 28 Agustus 2026 — Front Penggerak Seni Taman Ismail Marzuki (FPS-TIM) kembali menggelar Jumat Aksi Seni (JAS) di halaman depan Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Jumat (28/8/2026). Dalam tanggapannya kepada kami, Kordinator Acara David Karo-karo menyatakan, JAS kali ini secara khusus mengangkat tema “Solidaritas untuk Flores, NTT”, sebagai bentuk kepedulian dan solidaritas terhadap masyarakat Flores, Nusa Tenggara Timur, yang tengah menghadapi dampak bencana gempa bumi.
Gempa berkekuatan M7,7 mengguncang wilayah Flores, NTT, pada Sabtu, 15 Agustus 2026 pukul 04.58 WIB. Menurut BMKG, pusat gempa berada di laut, sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo, dengan kedalaman 15 kilometer. Gempa tersebut juga memicu tsunami dan berdampak pada sejumlah wilayah di NTT serta provinsi lainnya.
Bencana tersebut menimbulkan korban jiwa, kerusakan bangunan, serta memaksa ribuan warga mengungsi. BNPB melaporkan pada 16 Agustus lebih dari 5.000 warga masih berada di pengungsian, sementara pemutakhiran data awal juga mencatat korban meninggal dan kerusakan di sejumlah wilayah terdampak.
Dalam konteks tersebut, FPS-TIM menggunakan ruang Jumat Aksi Seni sebagai tempat menyampaikan solidaritas. Kegiatan dimulai pukul 16.00 WIB hingga selesai di halaman depan TIM, dengan melibatkan seniman, pekerja seni, komunitas, dan masyarakat yang hadir. Solidaritas tidak hanya disampaikan melalui pernyataan, tetapi juga melalui ekspresi seni dan kebersamaan.
Hadir ikut mengisi acara kepedulian ini dan membacakan puisi teman-teman seniman dari Front Penggerak Seni Taman Ismail Marzuki (FPS TIM), antara lain Nuyang Jaimee, Dyah Kencono, Yogi S. Karmas, Megawati, Jack Al-Gozali, Yon Bayu, Ina SHK, Sharon, Merry Tan, Mila, Den Chupank, Tora Nyanyian Genjer dan lain-lain. Acara dipandu oleh Tia Fairuz. Beberapa rekan lainnya seperti Budi Renil, Dompak, Adith, dan kawan-kawan lainnya bertugas sebagai awak panggung.

Pesan kepedulian tersebut terlihat kuat dalam materi visual JAS 28 Agustus. Poster kegiatan menampilkan tulisan “Solidaritas untuk Flores, NTT”, dengan ilustrasi masyarakat Flores, bentang alam NTT, serta simbol kepalan tangan sebagai gambaran perlawanan dan solidaritas. Materi publikasi tersebut juga membawa identitas FPS-TIM dengan menempatkan kegiatan di halaman depan TIM.
JAS 28 Agustus juga berlangsung dalam rangkaian gerakan FPS-TIM yang selama beberapa pekan sebelumnya banyak menyoroti persoalan tata kelola dan kehidupan ekosistem seni di TIM. Melalui aksi, diskusi, pameran instalasi seni, unjuk karya, serta kegiatan Jumat Aksi Seni, FPS-TIM menggunakan TIM sebagai ruang ekspresi sekaligus ruang menyampaikan berbagai sikap terhadap persoalan sosial dan kebudayaan.
Jika sebelumnya JAS membawa isu mengenai pengelolaan TIM dan tuntutan mengembalikan marwahnya sebagai pusat kesenian, kali ini perhatian diarahkan pada persoalan kemanusiaan di Flores. Perubahan fokus tersebut memperlihatkan bahwa ruang perjuangan seni tidak hanya digunakan untuk membicarakan kepentingan internal ekosistem kesenian, tetapi juga dapat menjadi ruang solidaritas terhadap masyarakat yang mengalami bencana.
Mengangkat Flores dan NTT dalam JAS kali ini menunjukkan bahwa ruang kesenian tidak berdiri terpisah dari persoalan kemanusiaan. Bagi FPS-TIM, David Karo-karo menambahkan, seni dapat menjadi medium untuk menyatakan kepedulian, membangun kesadaran publik, sekaligus menyampaikan keberpihakan terhadap masyarakat yang sedang menghadapi bencana.

Tema “Solidaritas untuk Flores, NTT” sekaligus memperluas makna seni sebagai medium komunikasi sosial, demikian papar Merry Tan salah satu anggota FPS-TIM yang menginisiasi juga tema Solidaritas Flores NTT untuk JAS kali ini. Seni tidak hanya hadir untuk pertunjukan dan hiburan, tetapi juga dapat menjadi sarana menyuarakan kepedulian ketika masyarakat menghadapi situasi darurat, tambahnya.
Bencana gempa Flores juga masih menjadi perhatian setelah kejadian utama 15 Agustus. BMKG mencatat aktivitas gempa susulan yang tinggi pascagempa utama, sementara kajian lanjutan menunjukkan dampak bencana meliputi kerusakan rumah, fasilitas pendidikan dan kesehatan, kantor pemerintahan, serta infrastruktur transportasi.
Dengan demikian, JAS 28 Agustus tidak sekadar menjadi agenda rutin FPS-TIM, tetapi menjadi ruang pernyataan solidaritas dari komunitas seni di Jakarta kepada masyarakat Flores dan NTT. Di tengah bencana yang menimbulkan korban dan kerusakan, seni digunakan untuk menjaga ingatan publik bahwa penderitaan masyarakat di daerah merupakan persoalan kemanusiaan bersama.

Melalui “Solidaritas untuk Flores, NTT”, FPS-TIM kembali menegaskan bahwa seni dapat hadir di tengah persoalan masyarakat—bukan hanya sebagai pertunjukan, tetapi sebagai kepedulian, solidaritas, dan keberpihakan kemanusiaan, demikian disampaikan oleh Mujib Hermani selaku salah satu inisiator FPS-TIM. [PM]


