Jumat, 28 Agustus 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

DARI SUARA ANAK NEGERI KE PANGGUNG ASEAN

Yusuf Achmad Menenun “Rahasia Anisa, Rahasia Ledang” di Johor Bahru

Oleh: Paulus Laratmase| Pimpinan Umum Suara Anak Negeri Group

Baca juga: Ringkasan reflektif-kritis atas buku Pdt. Albertus M. Patty: Patty, A. M. (2026). Mengikut Yesus di dunia yang berubah pesat: Gereja ada di mana dan mau ke mana? Grafika KreasIndo.

Ada saat ketika sebuah pena menulis untuk pemanusiaan manusia.

Ia menyeberang.

Ia meninggalkan meja kerja, ruang redaksi, dan halaman-halaman yang setiap hari menjadi tempat kata-kata dirangkai. Ia berjalan melewati batas geografis, menembus laut dan selat, lalu tiba di sebuah ruang yang lebih luas: ruang kebudayaan, ruang perjumpaan, dan ruang persahabatan antarbangsa.

Baca juga: Hakka Ngiau

Bagi kami di Suara Anak Negeri Group, salah satu momen itu hadir dari Johor Bahru, Malaysia.

Di tengah perhelatan Gelanggang Sastera 1 ASEAN, sebuah panggung sastra yang mempertemukan para penulis dari Malaysia, Indonesia, Singapura, dan Brunei Darussalam, nama Yusuf Achmad, Redaktur Media Suara Anak Negeri dari Indonesia, tercatat sebagai salah satu penulis yang berhasil mengukir prestasi.

Melalui cerpen berjudul Rahasia Anisa, Rahasia Ledang, Yusuf Achmad berhasil meraih Tempat Ketiga (Juara III) kategori Cerpen.

Bagi sebagian orang, sebuah piala mungkin hanya benda.

Sebuah sertifikat mungkin hanya selembar kertas.

Namun bagi seorang penulis, penghargaan adalah jejak.

Ia menjadi tanda bahwa kata-kata yang lahir dari kesunyian seorang penulis ternyata mampu menemukan jalannya sendiri menuju hati orang lain.

Dan bagi kami, keberhasilan Yusuf, selain sebuah kemenangan pribadi,

Ia adalah kabar baik bagi dunia literasi Indonesia.

Ia adalah kebanggaan bagi Suara Anak Negeri.

Lebih dari itu, ia adalah bukti bahwa anak-anak negeri ini memiliki kemampuan untuk berdiri sejajar, berdialog, dan berkompetisi di ruang sastra internasional.

Pena yang Menyeberangi Batas

Johor Bahru  sebuah kota, Ia seperti sebuah halaman yang mempertemukan banyak cerita.

Yusuf Achmad,M.Pd. (Kanan) dan Era Nurza, M.Pd (Kiri) dari Indonesia: Dua Redaktur Media Suara Anak Negeri Group.

Di sana, bahasa Melayu menjadi jembatan. Sastra menjadi sungai yang mengalir melewati batas-batas negara. Dan para penulis menjadi pengembara yang membawa identitas tanah kelahirannya masing-masing.

Tema besar Puteri Gunung Ledang yang diangkat dalam Gelanggang Sastera 1 ASEAN memperlihatkan bahwa mitos dan legenda tidak pernah benar-benar mati.

Legenda dapat lahir kembali dalam bentuk yang berbeda.

Ia dapat dibaca ulang oleh generasi baru.

Ia dapat ditafsirkan dengan pengalaman zaman.

Dan melalui karya Rahasia Anisa, Rahasia Ledang, Yusuf Achmad ikut memasuki ruang tafsir  dengan caranya sendiri.

Di situlah sastra menemukan kekuatannya.

Sastra tidak hanya mengingat masa lalu. Ia berbicara kepada masa kini dan, pada saat yang sama, menitipkan sesuatu kepada masa depan.

Karena itu, ketika nama Yusuf Achmad diumumkan sebagai peraih Juara III Cerpen, saya merasakan kebanggaan yang sulit diterjemahkan hanya dengan kata-kata.

Sebagai Pimpinan Umum Suara Anak Negeri Group, saya melihat keberhasilan itu bukan semata sebagai prestasi seorang redaktur.

Saya melihatnya sebagai bagian dari perjalanan panjang sebuah media yang ingin terus memberikan ruang bagi suara, pikiran, kreativitas, dan karya anak negeri.

Kebanggaan dari Ruang Redaksi

Ada kebahagiaan tersendiri ketika seseorang yang selama ini bekerja bersama dalam dunia media akhirnya mampu membawa namanya ke panggung internasional.

Dunia redaksi sering kali identik dengan berita, deadline, koreksi, fakta, dan tanggung jawab jurnalistik.

Tetapi di balik semua itu, ada manusia-manusia yang memiliki dunia batin yang luas.

Ada yang menyimpan puisi.

Ada yang merawat cerita.

Ada yang mencintai kata-kata.

Ada pula yang diam-diam menulis cerita panjang setelah pekerjaan jurnalistik selesai.

Yusuf Achmad adalah salah satu di antaranya.

Ia membuktikan bahwa seorang pekerja media tidak harus berhenti pada berita. Seorang redaktur dapat menjadi penjaga fakta sekaligus pengembara imajinasi.

Berita mengajarkan kita melihat kenyataan.

Sastra mengajarkan kita memahami manusia di balik kenyataan.

Keduanya dapat berjalan berdampingan.

Karena itu, kemenangan Yusuf Achmad di Johor Bahru menjadi sesuatu yang memiliki makna khusus bagi keluarga besar Suara Anak Negeri Group.

Kami tidak hanya melihat seorang redaktur membawa pulang penghargaan.

Kami melihat seorang anak negeri membawa nama Indonesia ke panggung ASEAN.

Dari Satu Cerita Menjadi Jembatan

Gelanggang Sastera 1 ASEAN memperlihatkan satu hal penting: bahwa perbedaan negara tidak harus menjadi tembok.

Malaysia memiliki cerita.

Indonesia memiliki cerita.

Singapura memiliki cerita.

Brunei Darussalam memiliki cerita.

Tetapi ketika cerita-cerita itu dipertemukan, yang lahir bukanlah perpisahan.

Yang lahir adalah percakapan.

Sastra membuat manusia duduk bersama tanpa harus terlebih dahulu bertanya dari negara mana seseorang berasal.

Sastra mengajarkan kita bahwa sebelum menjadi warga negara tertentu, kita adalah manusia yang memiliki kegembiraan, kesedihan, cinta, kehilangan, harapan, dan impian.

Dalam konteks itulah prestasi Yusuf Achmad menjadi lebih berarti.

Rahasia Anisa, Rahasia Ledang tidak berhenti sebagai sebuah judul cerpen.

Ia menjadi bagian dari percakapan sastra di kawasan ASEAN.

Ia menjadi salah satu benang yang ikut menenun jembatan kebudayaan serantau.

Dan di balik sebuah karya, selalu ada keberanian.

Keberanian untuk menulis.

Keberanian untuk mengirimkan karya.

Keberanian untuk membiarkan tulisan dibaca orang lain.

Serta keberanian untuk menerima bahwa karya kita akan bertemu dengan karya-karya terbaik dari tempat lain.

Yusuf telah melewati semuanya.

Dan hari ini, kita boleh mengatakan dengan bangga:

Pena Anak Negeri telah sampai di Johor Bahru.

Selamat, Yusuf Achmad

Atas nama pribadi dan keluarga besar Suara Anak Negeri Group, saya menyampaikan rasa bangga dan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Yusuf Achmad, Redaktur Media Suara Anak Negeri dari Indonesia, atas keberhasilannya meraih Juara III Cerpen dalam Gelanggang Sastera 1 ASEAN di Johor Bahru, Malaysia.

Prestasi ini adalah milikmu.

Tetapi kebanggaan ini adalah kebanggaan kita bersama.

Teruslah menulis.

Teruslah merawat kata.

Jangan pernah menganggap kecil sebuah cerita yang lahir dari hati.

Sebab kita tidak pernah tahu, ke mana sebuah kata akan pergi setelah meninggalkan halaman.

Mungkin ia hanya tinggal di meja seorang pembaca.

Mungkin ia menjadi percakapan di sebuah ruang sastra.

Atau mungkin, seperti yang terjadi di Johor Bahru, ia menyeberangi laut dan tiba di panggung internasional.

Di sana, sebuah nama disebut.

Yusuf Achmad.

Di sana, sebuah karya diapresiasi.

Rahasia Anisa, Rahasia Ledang.

Dan di sana pula, dari sebuah sudut Indonesia, kami tersenyum dengan penuh kebanggaan.

Sebab sekali lagi, Suara Anak Negeri telah menemukan jalannya untuk didengar di negeri orang.

Selamat, Yusuf.

Teruslah menulis.

Sebab selama pena masih bergerak, selalu ada kemungkinan sebuah cerita menjadi jembatan bagi manusia, budaya, dan bangsa-bangsa.

Biak, 28 Agustus 2026,

Paulus Laratmase

 

 

Kategori:
Tags:

Terkini