Selasa, 25 Agustus 2026

Suara Anak Negeri News - Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll

Kritik Pedas Connie Bakrie ke Pemerintahan Prabowo soal Gempa NTT: Ke Paris Pakai APBN, Ke Flores Open Donasi

Refleksi Pagi

Oleh Paulus Laratmase

Baca juga: Leni Marlina's Poem Bilingual Poems Collection: "THE MASS THAT KNOWS NO SCALE"

Ada sebuah ironi yang terasa begitu tajam di tengah gemuruh perayaan kemerdekaan.

Di satu sisi, negara mampu menggelar perayaan besar dengan segala kemeriahan dan menghadirkan para pejabat tertinggi negeri. Di sisi lain, ketika saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur menghadapi bencana, muncul ajakan untuk membuka donasi bagi mereka.

Pertanyaan Connie Rahakundini Bakrie menjadi penting untuk direnungkan: mengapa untuk pergi ke Paris negara bisa menyediakan anggaran, sementara untuk membantu rakyat yang sedang tertimpa bencana justru harus mengandalkan sumbangan?

Baca juga: YA RASULULLAH MUHAMMAD

Kritik itu tentu tidak semata-mata soal Paris. Ini tentang rasa keadilan.

Rakyat mungkin tidak mempersoalkan seorang presiden melakukan perjalanan ke luar negeri jika memang untuk kepentingan negara. Rakyat juga tidak harus mempertentangkan diplomasi internasional dengan penanganan bencana. Keduanya dapat berjalan bersama.

Namun, ketika sebuah keluarga kehilangan rumah, ketika seorang anak kehilangan orang tuanya, ketika masyarakat kehilangan sumber penghidupan akibat gempa, negara semestinya hadir terlebih dahulu dengan seluruh kekuatannya.

Bencana bukan panggung untuk menguji kemurahan hati rakyat. Bencana adalah ujian bagi keberpihakan negara.

Donasi masyarakat adalah bentuk solidaritas yang sangat mulia. Tetapi jangan sampai solidaritas rakyat justru menjadi alasan negara mengurangi kewajibannya. Rakyat boleh membantu rakyat, tetapi negara tetap mempunyai tanggung jawab konstitusional untuk melindungi dan menyejahterakan rakyatnya.

Begitu pula soal persiapan kunjungan seorang kepala negara ke daerah bencana. Persiapan memang penting. Keselamatan presiden, keamanan, dan efektivitas kunjungan tentu harus dipertimbangkan.

Tetapi bagi korban bencana, yang mereka tunggu bukanlah rombongan pejabat dengan seremoni panjang. Mereka menunggu air bersih, makanan, obat-obatan, tempat tinggal, sekolah yang kembali berdiri, dan kepastian bahwa negara tidak melupakan mereka.

Karena itu, kritik Connie seharusnya tidak hanya dilihat sebagai serangan politik kepada pemerintahan Prabowo. Kritik tersebut dapat dibaca sebagai sebuah cermin.

Cermin bagi pemerintah: apakah anggaran negara sudah benar-benar menempatkan keselamatan rakyat sebagai prioritas?

Cermin bagi para pejabat: apakah kemewahan acara negara sebanding dengan kesulitan yang sedang dirasakan sebagian rakyat?

Dan cermin bagi kita semua: apakah kemerdekaan yang kita rayakan setiap tahun telah benar-benar dirasakan sampai ke pelosok Flores dan NTT?

Kemerdekaan bukan sekadar pesta di pusat ibu kota. Kemerdekaan adalah ketika seorang korban gempa di pelosok negeri merasa bahwa negara berdiri di sampingnya.

Jika untuk sebuah perjalanan ke luar negeri APBN dapat digunakan, maka jangan biarkan korban bencana merasa harus mengetuk pintu rakyat demi mendapatkan pertolongan.

Sebab pada akhirnya, yang paling mahal bagi sebuah pemerintahan bukanlah biaya sebuah kunjungan atau pesta kenegaraan.

Yang paling mahal adalah hilangnya kepercayaan rakyat.

Dan kepercayaan itu dibangun bukan dengan kata-kata, melainkan dengan kehadiran negara ketika rakyat sedang berada dalam kesusahan.

 

Kategori:
Tags:

Terkini