<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>SEMAILAH KEUTAMAAN NASIHAT BAGI DIRI SENDIRI BERSAMA DUA FILSUF &#8211; Suara Anak Negeri</title>
	<atom:link href="https://www.suaraanaknegeri.com/tag/semailah-keutamaan-nasihat-bagi-diri-sendiri-bersama-dua-filsuf/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.suaraanaknegeri.com</link>
	<description>Mengulas Tuntas Kompleksitas Persoalan Politik, Ekonomi, Pendidikan, Religi, Dll</description>
	<lastBuildDate>Wed, 01 Jul 2026 00:51:10 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.2</generator>

<image>
	<url>https://www.suaraanaknegeri.com/wp-content/uploads/2024/12/favicon-150x150.png</url>
	<title>SEMAILAH KEUTAMAAN NASIHAT BAGI DIRI SENDIRI BERSAMA DUA FILSUF &#8211; Suara Anak Negeri</title>
	<link>https://www.suaraanaknegeri.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>SEMAILAH KEUTAMAAN NASIHAT BAGI DIRI SENDIRI BERSAMA DUA FILSUF</title>
		<link>https://www.suaraanaknegeri.com/pendidikan/semailah-keutamaan-nasihat-bagi-diri-sendiri-bersama-dua-filsuf</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 01 Jul 2026 00:51:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ilmiah]]></category>
		<category><![CDATA[Kolom]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[SEMAILAH KEUTAMAAN NASIHAT BAGI DIRI SENDIRI BERSAMA DUA FILSUF]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.suaraanaknegeri.com/?p=7051</guid>

					<description><![CDATA[SEMAILAH KEUTAMAAN NASIHAT BAGI DIRI SENDIRI BERSAMA DUA FILSUF oleh Reiner Emyot Ointoe „Iman itu bagaikan pohon; akarnya adalah keyakinan, cabangnya adalah amal, dan buahnya adalah akhlak.“ — Al Ghazali(1058-1111), Nasehah Al Mulk(Conseal of Kings,1964). Era, di mana orang lebih terpukau tekun, membaca diri orang lain di berbagai platform media, diri sendiri ibarat gajah tampak [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>SEMAILAH KEUTAMAAN NASIHAT BAGI DIRI SENDIRI BERSAMA DUA FILSUF</p>
<p>oleh Reiner Emyot Ointoe</p>
<p>„Iman itu bagaikan pohon; akarnya adalah keyakinan, cabangnya adalah amal, dan buahnya adalah akhlak.“ — Al Ghazali(1058-1111), Nasehah Al Mulk(Conseal of Kings,1964).</p>
<p>Era, di mana orang lebih terpukau tekun, membaca diri orang lain di berbagai platform media, diri sendiri ibarat gajah tampak jauh di seberang.</p>
<p>Gajah diri sendiri jauh di seberang, mari tengok sejenak dari literasi nasihat filsuf abad-12.</p>
<ol>
<li>Dengan demikian, menulis sedikit refleksi tentang, terutama nasihat untuk diri sendiri dengan menyeberangi dua zaman — abad ke-12 bersama Al-Ghazali dan abad ke-20 bersama Erich Fromm — seakan menyingkap jurang panjang yang ternyata tetap dihuni oleh kegelisahan yang sama: manusia mudah lupa menasihati dirinya sendiri.</li>
</ol>
<p>Kita hidup di era ketika orang lebih sibuk membaca diri orang lain di media, sementara “gajah diri sendiri” dibiarkan jauh di seberang.</p>
<p>Justru di situlah pentingnya kembali ke literasi nasihat, agar kita tidak kehilangan arah batin.</p>
<p>Al-Ghazali dalam Nasehah al-Mulk menulis untuk seorang Sultan Seljuk, Muhammad Tapar, yang sesungguhnya menulis nasihat bagi setiap manusia.</p>
<p>Ia mengingatkan bahwa iman adalah akar, amal adalah cabang, dan akhlak adalah buah.</p>
<p>Tanpa akar yang kokoh, pohon akan layu; tanpa iman yang teguh, hidup kehilangan makna.</p>
<p>Ia menegaskan, “Negara tegak dengan keadilan, bukan dengan kezaliman.”</p>
<p>Jika negara bisa runtuh karena zalim(al-dhalal), maka jiwa pun bisa hancur bila kita berlaku tidak adil terhadap diri sendiri.</p>
<p>Nasihat ini menuntun kita untuk menimbang keseimbangan batin, agar tidak membiarkan kezaliman kecil tumbuh menjadi kebiasaan yang merusak.</p>
<p>Lebih jauh, ia menulis, “Hendaklah engkau bersyukur atas nikmat Allah dan menjauhi kemewahan yang berlebihan.”</p>
<p>Kutipan sederhana ini menjadi peringatan agar kita tidak terjebak dalam kerakusan dan kemewahan fasilitas dunia yang gemerlap.</p>
<p>Syukur adalah jalan menuju rasa cukup, sementara berlebihan adalah pintu menuju kehampaan.</p>
<p>Ini nasehat abad-12, ketika kemaruk kekuasaan dunia Islam di abad pertengahan sedang mengalami kemerosotan daulah.</p>
<p>Tanpa tanggung-tanggung, di tengah ketenarannya sebagai rektor Nizamiyah dan Jaksa Agung(Kadi), Ghazali memilih mundur dari seluruh fasilitas kemewahan jabatan dunia.</p>
<p>Datang di awal abad-20.<br />
Ketika Nazi di Jerman sedang kalap dsn eforia Hitler menguasai hampir seluruh daratan Eropa, para cendekiawan turunan Yahudi banyak yang merasa terancam ditimpa holocaust.</p>
<p>Dari banyak kisah eksil politik, salah satunya, Erich Fromm, kelahiran Jerman 1900.</p>
<p>Berabad-abad kelak setelah Al Ghazali, Fromm yang juga eksil ke Amerika — setelah mengalami krisis humanisme Eropa perang dunia kedua, dalam Man for Himself: An Inquiry into the Psychology of Ethics(1947), menyuarakan kegelisahan yang serupa, meski dalam krisis bahasa psikologi modern.</p>
<p>Ia melihat manusia modern kehilangan arah etis, terjebak dalam struktur sosial yang menekankan kepemilikan dan konsumsi.</p>
<p>Ia menulis tentang tipe nekrofilia:</p>
<p>“The necrophilous person loves control, the mechanical, the lifeless; he is fascinated by death rather than life.”</p>
<p>Ketika kita lebih terpikat pada benda mati daripada kehidupan, kita sedang menutup pintu bagi pertumbuhan batin.</p>
<p>Ia pun menegaskan, “Greed is a bottomless pit which exhausts the person in an endless effort to satisfy the need without ever reaching satisfaction.”</p>
<p>Rakus dan penumpukan tidak pernah membawa rasa cukup, melainkan justru menguras energi dan menjauhkan manusia dari kebebasan sejati.</p>
<p>Orientasi non-produktif, bagi Fromm, adalah karakter hidup untuk memiliki(das Haben), bukan untuk menjadi(das Seien).</p>
<p>Jika Al-Ghazali menasihati agar iman, amal, akhlak, dan syukur menjadi cahaya yang menuntun langkah, maka Fromm menasihati agar kita tidak jatuh dalam nekrofilia, egoisme, kerakusan, dan penumpukan yang sia-sia.</p>
<p>Keduanya, meski dipisahkan oleh delapan abad, sama-sama mengingatkan bahwa nasihat diri adalah jalan menuju keberadaan yang otentik.</p>
<p>Membaca mereka berarti menasihati diri sendiri: jangan biarkan diri hancur oleh kezaliman batin atau jurang keserakahan dalam godaan atau seduksi zama likuid, licin dan licik.</p>
<p>Namun, keutamaan nasihat dua filsuf dua era yang terlampau jauh, tumbuhkan orientasi produktif, hidup dengan cinta, keberanian, dan kesadaran penuh.</p>
<p>Dengan demikian, nasihat dari Al-Ghazali dan Fromm bukan sekadar warisan teks, melainkan cermin yang memantulkan wajah kita hari ini.</p>
<p>Mereka mengajak dan menasihati kita untuk menyeberangi “gajah diri sendiri” yang jauh di seberang, agar kita kembali pulang ke pusat diri, menegakkan keadilan batin, dan menumbuhkan kehidupan yang sejati.</p>
<p>Otentik, empatik sekaligus welas asih!</p>
<p>ReO Biblothek Kokima Hill<br />
Manado, 26/06/2026.</p>
<p>#coversongs:<br />
„Ebony and Ivory” dirilis pada 29 Maret 1982 sebagai single utama Paul McCartney bersama Stevie Wonder dari album Tug of War.</p>
<p>Lagu ini menggunakan metafora tuts piano hitam (ebony) dan putih(ivory) sebagai simbol harmoni rasial, dan segera menjadi nomor satu di tangga lagu Inggris dan Amerika Serikat.</p>
<p>#credit foto dibantu AI, Al Ghazali dan Erich Fromm sedang berpose di depan sebuah gedung parlemen, setelah keduanya memberi studium generale imajiner.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
